[Review Buku] Scheduled Suicide Day

Teaser:
Ruri yakin ibu tirinya telah membunuh ayahnya. Tak sanggup hidup bersama ibu tirinya, Ruri bertekad bunuh diri untuk menyusul ayahnya.
Ruri akhirnya pergi ke desa yang terkenal sebagai tempat bunuh diri. Tapi dia malah bertemu dengan hantu seorang pemuda yang menghentikan niatnya. Hantu itu berjanji akan membantu Ruri menemukan bukti yang disembunyikan oleh ibu tirinya, dengan janji ia akan membiarkan Ruri mencabut nyawanya seminggu kemudian jika bukti tersebut tidak ditemukan.
Itulah jadwal bunuh diri Ruri: satu minggu, terhitung dari hari itu.

Review:
Satu lagi novel dari Penerbit Haru yang bergenre misteri. Ceritanya tentang Ruri, siswa SMA yang tak punya teman. Sebelum ayahnya meninggal, ibu Ruri terlebih dahulu meninggal. Dua tahun sesudahnya, ayahnya mempekerjakan seorang wanita muda bernama Reiko. Mengaku sebagai penggemar berat Tuan Watanabe, Reiko pun dapat mengambil hati ayah Ruri tersebut, hingga akhirnya mereka menikah.

Namun Ruri tentu saja tidak suka dengan ibu tirinya ini. Ia merasa ada yang aneh dengan wanita modis tersebut. Suatu hari Ruri melihat Reiko sedang berada di ruang kerja ayahnya. Yang terjadi saat itu ternyata ayah Ruri tak bernapas. Ayah Ruri dinyatakan meninggal oleh pihak rumah sakit. Namun Ruri tidak percaya begitu saja omongan dari dokter. Ia pun mencari Paman Tanabe, sahabat ayahnya yang berprofesi sebagai dokter. Setelah mendengar penjelasan Paman Tanabe, Ruri masih tak percaya. Ia yakin ibu tirinyalah yang membunuh ayahnya. Karena di saat ayahnya meninggal di ruang kerjanya, Ruri melihat Reiko memegang sebuah botol kecil. Tetapi setelah kematian ayahnya, botol itu tidak dia temukan di mana pun, bahkan jurnal harian milik ayahnya ikut hilang.

Ruri tak tahan dengan tingkah Reiko yang semakin lama semakin jadi. Reiko bahkan bisa dengan mudah tersenyum dan mengisi acara di televisi menggunakan bisnis ayahnya. Uang asuransi ayahnyapun entah ke mana walaupun Reiko mengatakan uang tersebut masuk ke perusahanaan. Akhirnya Ruri memutuskan untuk bunuh diri di sebuah desa. Sebelum pergi ke desa itu, ia telah browsing di internet tentang apa saja yang dibutuhkannya untuk bunuh diri dan di mana letak hutan yang terkenal sebagai tempat bunuh diri itu.

Suatu hari saat liburan musim panas, tibalah Ruri di Desa Sagamino, tempat ia akan melakukan bunuh diri. Ruri menginap di sebuah penginapan tradisional yang nyaman. Setelah meninggalkan surat wasiat, ia pun menuju hutan pada malam hari. Di hutang, ia mulai melancarkan aksinya, melilitkan tali ke sebuah dahan pohon, membuat simpul untuk dikalungkan di lehernya, lalu berdiri di sebuah bangku kecil.

Ruri menendang bangku kecilnya. Lehernya terjerat tali. Tak lama kemudian, ia merasa sekelilingnya putih. Tapi… ternyata rencananya gagal. Ia tidak mati melainkan terjatuh ke tanah. Di hadapannya ada hantu pemuda. Hantu yang mengaku telah meninggal dua tahun yang lalu karena bunuh diri itu membujuknya untuk tidak bunuh diri. Ia bercerita bahwa ia menyesal karena telah bunuh diri. Bunuh diri menyebabkannya menjadi hantu gentayangan yang tidak bisa apa-apa dan terikat di tanah desa itu selamanya. Karena itulah hantu itu tidak ingin Ruri bernasib sama dengannya. Tapi Ruri masih bersikeras untuk bunuh diri.

Akhirnya Ruri dan hantu itu membuat kesepakatan. Jika Ruri tidak berhasil menemukan bukti bahwa Reiko membunuh ayahnya maka ia boleh bunuh diri. Waktunya seminggu.

Ruri yang percaya pada ramalan fengshui melakukan segala cara untuk menemukan bukti bahwa ibu tirinya benar-benar jahat dan telah membunuh ayahnya. Sambil melihat perhitungan hari baik dan hari sial, Ruri bolak-balik dari Desa Sagamino-Tokyo untuk mencari bukti. Ia mengatakan pada ibu tirinya bahwa ia menginap di rumah teman agar ibunya itu tidak curiga.

Tetapi, mendekati hari terakhir, aksi Ruri ketahuan oleh ibu tirinya. Saat Ruri sedang mencari bukti di rumahnya, ibu tirinya pulang ke rumah. Mereka bertemu. Ruri tak dapat mengelak lagi.

JRENG! JRENG!

Selanjutnya baca sendiri bukunya ya…. Pokoknya ceritanya sangat seru!

Dari buku ini kita bisa belajar kata-kata dalam bahasa Jepang, dan macam-macam jenis masakan yang enak. Bacanya bikin baper (bawaan laper) karena deskripsi makanannya yang oke banget. Selain itu buku ini juga mengajarkan kita agar menghargai kehidupan, jangan terlalu percaya pada ramalan, lebih baik percaya diri saja, dan jangan berpikir buruk tentang orang lain.

Rating dari saya untuk novel remaja ini adalah 4 dari skala 5 bintang.

Informasi Buku
Judul Buku: Scheduled Suicide Day
Pengarang: Akiyoshi Rikako
Penerbit: Penerbit Haru
Kategori Buku: J-Lit
Genre: Misteri
Tahun Terbit: 2017
Jumlah halaman: 280
ISBN: 978-602-6383-19-8

[Review Buku] Golden

Hai semua, jumpa lagi dengan saya di sesi Review Buku. Kali ini buku yang akan saya review berjudul Golden. Pertama kali saya lihat buku ini di Twitter dan IG. Beberapa teman gencar banget membagikan foto buku ini dengan berbagai gaya. Bikin penasaran banget, tuh! Makanya saya cari bukunya di toko buku. Trus baca teasernya:

Parker Frost belum pernah mengambil risiko. Dia akan lulus dari SMA sebelum sempat mencium cowok yang dia sukai. Jadi, saat nasib menjatuhkan buku catatan Julianna Farnetti ke pangkuannya – buku catatan yang mungkin bisa membongkar misteri kota tempat tinggalnya- Parker memutuskan untuk mengambil kesempatan itu.

Julianna Farnetti dan Shane Cruz dikenang sebagai pasangan ideal di SMA Summit Lakes, sempurna dalam segala hal. Mereka meninggal dalam kecelakaan di malam bersalju, meninggalkan hanya sebuah kalung, dan tanpa jenazah. Tidak ada yang tahu apa yang sebenarnya terjadi malam itu.

Hanya saja, tidak semua kebenaran ingin ditemukan….

Wow banget, kan? Setelah baca teasernya, makin penasaran sama isinya. Deg-degan banget sama misteri hilangnya Julianna Farnetti, dan menebak-nebak apa yang sebenarnya terjadi dengan sang Ratu tersebut. Buku ini mesti dibeli banget dan…. Kebetulan ada program diskon 10% + 6% di Gramed. Yeayyy!! Harga aslinya Rp 87.000. Setelah didiskon jadinya Rp 73.602. Lumayan bingits atuh….

Buku beralur maju-mundur ini sangat membuat penasaran. Ceritanya tentang Parker, siswi SMA tingkat akhir yang otaknya lumayan pintar. Hidupnya datar-datar saja. Jadi, sahabatnya, Kat, menyuruhnya melakukan sesuatu yang lain dari biasanya sebelum kelulusan mereka. Tentu saja Parker yang ‘anak baik’ menolak. Awalnya…. Lalu, saat ia mengerjakan tugas menempel alamat di buku harian siswa-siswa lama dari gurunya, Mr. Kinney, Parker mendapati buku harian Julianna Farnetti. Yang ia ketahui saat itu adalah Julianna telah meninggal. Ia merasa bingung mau diapakan buku tersebut. Tapi… Ia juga penasaran dengan apa yang ditulis Julianna dalam bukunya. Lalu Parker teringat kata-kata sahabatnya: “Carpe Diem!” yang berarti manfaatkan waktumu hari ini, lakukan hari ini karena kita tidak tahu hari esok. Akhirnya ia membawa buku itu pulang dan mulai membacanya.

Halaman demi halaman dibacanya. Sedikit demi sedikit, Parker mengetahui rahasia hidup Julianna. Karena membaca buku harian itu, Parker ingin sekali mengunjungi tempat-tempat yang pernah didatangi Julianna. Ia pun dibantu Kat dan cowok yang disukainya, Trevor, yang diajak dengan sengaja oleh Kat agar Parker bisa dekat dengan cowok itu.

Masa-masa di mana Parker ingin ‘menemukan’ Julianna adalah masa-masa di mana ia juga harus membuat pidato penerimaan beasiswa. Ibu Parker yang keras dan over-protective menginginkan Parker membuat pidato sebagus mungkin agar Parker bisa mendapatkan beasiswa kedokteran di Stanford. Parker pun harus menghadapi ketatnya jadwal yang diberikan ibunya ditambah ia ingin ‘membuktikan’ hal-hal dari rasa penasarannya akan misteri hilangnya Julianna Farnetti dan pacarnya Shane Cruz. Dalam pencariannya, seseorang dari cafe yang biasa dikunjungi Parker dan Kat rupanya membuatnya penasaran juga. Cowok yang aneh dari cafe itu nampak menyimpan sebuah rahasia. Nah, lho!

Nggak butuh waktu lama untuk baca buku ini saking serunya, cukup 3 hari! Ini benar-benar rekor dalam dunia persilatan, Sodara-sodara! Aselik bikin nggak pengen ngelepasin buku ini dari tangan begitu baca dari halaman pertama. Walaupun ceritanya tentang tokoh yang berusia SMA, saya pikir pembaca dari segala umur bakal suka sama buku ini. Penulisnya hebat banget bikin ceritanya. “Daebakk, Ms Kirby! Buku ini keren banget!!”

Saya juga suka kata-kata yang ada di buku ini: Beberapa di antaranya sebagai berikut:

Hidup terdiri atas banyak momen, dan pilihan. Tidak semuanya penting, atau memiliki dampak yang kekal. Tapi ada jenis momen yang berbeda. Momen yang membuat segalanya berubah karena pilihan yang kita ambil. Terkadang dunia kita bergantung kepada pilihan-pilihan yang kita ambil….. (halaman 5-6)

Seringkali seseorang bertemu takdirnya di jalan yang ia lalui untuk menghindarinya. ~Petuah Kue Keberuntungan (halaman 96)

Seandainya tiada arah di dalam dirimu, Tiada jalan selain berjalan lurus. ~Untuk Seorang Pemikir, 1936 (halaman 263)

Dalam tiga kata, aku bisa menyimpulkan semua yang telah kupelajari tentang hidup: Hidup terus berjalan. ~Robert Frost (halaman 305)

Sooo.…. Untuk buku yang endingnya oke banget ini, saya beri rating 4,8 dari skala 5. Iyesss…. buku ini wajib kamu baca, terutama buat kamu yang suka genre misteri!

Info buku:
Judul Buku: Golden
Pengarang: Jessi Kirby
Penerjemah: Wisnu Wardhana
Penerbit: Penerbit Spring
Tahun Terbit: 2017
Jumlah halaman: 308
ISBN: 978-602-74322-7-7

[Review Buku] Minaudiere

 

Minaudiere…
Aku telah lama menunggumu
Hingga akhirnya
Suatu ketika kau tiba di hadapanku
Penampilanmu begitu sederhana
Namun seperti yang dikatakan orang bijak:
Don’t judge a book by its cover
Karena itulah kucoba mengenalmu lebih jauh
Tak butuh waktu lama
Sebentar saja kaubuat aku terpikat
Bahasamu mengalir lancar
Kisahmu seru, sedih, juga menyenangkan
Memang…
Di dunia ini tak ada yang sempurna
Namun kau sempurna di mataku
Dan ingin kukatakan padaku
Sungguh kujatuh hati padamu

* * *

 

Begitulah kesan yang saya dapat setelah membaca novel Minaudiere ini.

Sinopsis Singkat

Novel ini menceritakan tentang Adia Putri, seorang mahasiswi Pasca Sarjana sekaligus editor naskah novel, yang ingin melupakan masa lalunya. Namun mimpi-mimpi buruk itu selalu hadir. Suatu ketika ia menerima sebuah hadiah ulang tahun, berisi sebuah gaun, sepatu, dan Minaudiere. Di dalam dompet pesta cantik itu terdapat pesan dari si pengirim kado misterius, Mr. May, yang sudah empat tahun terakhir mengirimkan kado untuknya. Ia meminta Adia mengenakan hadiah pemberiannya dan bertemu dengannya di suatu tempat.

Tyas Miranti, sahabat Adia menawarkan diri untuk bertukar tempat dengan Adia. Ia akan menjadi Adia dan Adia menjadi dirinya. Mereka bersama-sama menemui Mr. May di tempat yang telah ditentukan oleh pria tersebut. Pada pertemuan itu, Mr. May menyerahkan sebuah naskah novel untuk diperiksa oleh Adia. Adia kemudian membacanya setelah tiba di rumah. Namun apa yang tertulis dalam naskah itu sungguh mengejutkan Adia.

Mr. May atau Troy Myraz awalnya tak menyangka akan permainan sandiwara antara Adia dan Tyas. Sejak pertemuan pertama, ia telah melihat bahwa Tyas palsu sungguh menarik. Benar saja dugaanya, Tyas palsu adalah Adia. Ia pun mencoba mendekati wanita itu.

Di sisi lain, ada sorang pria bernama Jaden. Ia kuliah di luar negeri sekaligus bekerja menjadi seorang penulis novel. Walaupun ia sudah tinggal jauh dari Tanah Air, ia masih mengingat kejadian yang membuatnya menyesal dan mengutuk dirinya. Suatu ketika pihak penerbit bukunya memintanya pulang ke Indonesia karena ada proyek pembuatan film. Mau tak mau ia harus pulang walaupun ragu-ragu. Ia bertekad untuk menghadapi rasa takutnya akan bertemu kembali dengan orang dari masa lalunya. Ia ingin menyelesaikan masalahnya dengan orang tersebut.

Setelah pertemuan Adia, Tyas, dan Troy, Adia juga bertemu kembali dengan orang-orang dari masa lalunya. Satu per satu masalah muncul. Kisah hidupnya terbongkar. Ia pun harus menghadapi semuanya.

* * *

Quotes Buku

Ada beberapa kalimat yang saya suka dari novel ini:
1. Sebagai perempuan yang dianugerahi banyak kelebihan, seharusnya Adia menikmati saja hidupnya. (hlm.7). Seharusnya, Adia mensyukuri semua itu! (hlm.8)
2. Kehidupan nyata seringkali tak seindah naskah novel… (hlm.22)
3. Mungkin sudah saatnya ia meninggalkan masa lalunya yang kelam. … Pemuda itu bahkan bersedia menerima dirinya apa adanya. Itulah yang ia butuhkan saat ini. Seseorang yang menuntunnya keluar dari kepahitan. Memberinya perasaan tenang yang melegakan. Ia harus memberi dirinya sendiri kesempatan. (hlm.93)
4. Berkatmu aku mengerti, cinta harus diperjuangkan. (hlm.175)
5. Setelah kepahitan, akan ada hal-hal membahagiakan yang menantiku. Saat ini, esok, hari, pun di masa depan. (hlm.175)

Rating

Walaupun ada beberapa typo, namun novel ini tetap asyik dibaca. Ceritanya mengalir. Bahasanya ringan dan enak dibaca. Drama kehidupan tapi tetap oke dan keren. Rating dari saya untuk buku adalah 4 dari skala 5.

* * *

Informasi buku

Pengarang: Fitri Manalu
Penerbit: Kobar-sa Media
Tahun terbit: 2017
Jumlah halaman: 177
Genre: romance, drama
ISBN: 978-602-72874-4-0

[Review Buku] All She Was Worth: Misteri Satu Nama Dua Orang

Bulan Desember tahun lalu, ada diskon di salah satu toko buku terbesar di kota saya. Setelah pilih-pilih buku, akhirnya saya memutuskan untuk membeli buku ini. All She Was Worth. Saya pilih buku ini karena genrenya saya suka, misteri. Trus pas baca sinopsis di halaman belakang buku, kayaknya sih oke.

Seorang perempuan cantik lenyap tanpa jejak, namun hasil penyelidikan menunjukkan dia bukanlah sosok seperti yang ditampilkannya selama ini. Apakah dia korban, pembunuh, atau kedua-duanya? Di negara yang melacak para penduduknya dengan saksama, bagaimana bisa dua perempuan memiliki identitas yang sama, lalu menghilang tanpa jejak? Di tengah masyarakat Jepang yang serba konsumtif, banyak orang terjebak utang, lalu jatuh ke dalam jerat para rentenir gelap yang sangat berbahaya, sehingga kadang-kadang pembunuhan menjadi satu-satunya jalan keluar.

Tokoh utama dalam buku ini adalah Honma, seorang detektif yang sedang mengambil cuti karena kecelakaan. Suatu hari ia didatangi keponakannya, Jun, yang meminta bantuannya untuk mencarikan tunangannya, Shoko Sekine, yang tiba-tiba menghilang. Awalnya Honma mengira ini kasus biasa karena Jun menceritakan bahwa setelah ia menanyakan tentang kartu kredit kepada tunangannya, tiba-tiba saja tunangannya menghilang tanpa jejak. Honma yang masih cuti dari kepolisian sempat dibantu oleh Isaka, pembantu yang bekerja mengurus rumahnya dan mengasuh anaknya, Makoto. Istri Isaka juga turut membantu mencarikan data tentang Shoko Sekine di kantor kependudukan.

Setelah mendapatkan data dari istri Isaka, Honma mencari informasi di tempat kerja Shoko yang terakhir. Ia juga pergi ke pengacara yang khusus menangani hutang-piutang. Dari kedua tempat tersebut, Honma menemukan kejanggalan. Shoko Sekine ternyata ada dua orang. Shoko yang dikenal oleh pengacara adalah wanita yang mempunyai gingsul sedangkan tunangan Jun tidak seperti yang digambarkan oleh pengacara itu. Di data yang diberikan oleh istri Isaka pun ada kejanggalan. Yaitu tempat tinggal Shoko yang lama dan tempat tinggal yang diberitahukan tunangan Jun kepada Jun. Honma memberitahukan hal yang ditemukannya kepada keponakannya, namun Jun tidak mau terima dan membatalkan pencariannya.

Walaupun Jun sudah tidak mau tahu lagi, Honma bersikeras mencari tahu siapa Shoko Sekine yang asli. Ia mendatangi kota tempat Shoko Sekine tinggal, mencari teman-teman masa kecilnya, dan menyelidiki sebab kematian ibunya yang dianggapnya ada kaitannya dengan hilangnya si Shoko ini.

Dengan setting awal tahun 1990, pembaca diajak menebak-nebak siapakah Shoko yang asli. Alur majunya membuat pembaca serasa mengikuti perkembangan penemuan detektif Honma dalam kasus yang rumit ini. Di bab awal buku, alurnya terasa cepat, namun di bagian pertengahan terasa agak membosankan karena banyak sekali teori-teori tentang ekonomi dan politik di Jepang. Bagi yang nggak suka politik dan ekonomi (seperti saya) rasanya ngantuk baca buku ini. Kayak baca buku pelajaran aja, jadinya cocok banget dibaca sebelum tidur, apalagi kalau lagi insomnia. Pas banget! Hehehe.

Walaupun agak ngebosenin karena ada teori-teori ekonomi dan politik di buku ini, buku ini mengajarkan banyak hal:

1. Menggunakan kartu kredit tuh harus bijak. Jangan beli barang hanya untuk memenuhi gaya hidup. Juga jangan menggunakan kartu kredit untuk menarik uang karena bunganya besar. Seperti Shoko Sekine, ia pindah ke Tokyo untuk bekerja. Tapi karena kehidupan kota besar yang sulit, ia terjerumus dalam pemakaian kartu kredit untuk memenuhi kebutuhannya. Shoko menarik uang tunai menggunakan kartu kredit. Karena tidak bisa membayar tagihan kartu, ia pun mencari pinjaman ke rentenir. Akhirnya malah jadi gali lubang tutup lubang, nggak ada hentinya. Fatal banget kan akibatnya!

2. Kita tidak bisa mengubah hidup kita dengan mudahnya. Butuh usaha yang keras untuk menjadi sukses dan kaya. Seperti yang dikatakan tokoh Tomie, sahabat Shoko. Ia menceritakan bahwa Shoko berangkat ke Tokyo untuk mengubah kehidupannya. Tapi ternyata gajinya di kota besar itu kecil dan biaya sewa apartemennya mahal. Semua hal benar-benar di luar dugaan Shoko.

3. Jangan karena cinta, kamu rela melakukan apa saja untuk orang yang kamu cintai. Bijaklah dalam bertindak. Ini seperti Wada, teman sekantor Shoko yang tunangannya Jun. Wada jatuh cinta pada Shokonya Jun. Ia sampai-sampai rela melakukan permintaan Shoko, memberikan data pelanggan yang seharusnya tidak boleh dilihat oleh orang yang tidak berkepentingan. Tindakan Wada inilah yang akhirnya membuat masalah jadi ruwet.

Saya beri rating 3 dari skala 5 untuk novel yang endingnya bikin greget ini. Soalnya benar-benar nggak sesuai harapan! Maunya si Shoko yang asli itu begini eh taunya begitu. Kalau bisa ketemu sama penulisnya, saya pengen banget bilang, “Duh, kok bisa sih bikin novel yang tebal banget kayak kamus, trus endingnya …. ya ampun nggak disangka! Apa nggak bisa bikin endingnya model yang lain? Kenapa harus begitu?? Gw capek banget udah baca setebal itu tapi endingnya begitu…”

Kamu penasaran nggak sama buku ini? Atau… ada yang pernah baca buku ini?

* * *

Jpeg

Info Buku:

Judul: All She Was Worth (Melacak Jejak)
Pengarang: Miyuki Miyabe
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: 2016
Jumlah halaman: 480
ISBN: 978-602-03-2686-3

[Review Buku] The Girl on Paper

Sebelumnya, Tom Boyd adalah seorang penulis terkenal yang kaya raya. Namun setelah putus cinta dengan seorang pianis terkenal, Aurore, hidupnya berubah. Tom tenggelam dalam obat-obat terlarang dan alkohol. Ia mengalami writer’s block parah, padahal penggemarnya menunggu terbitnya novel ketiganya yang sangat terkenal, Trilogie des Anges.

Tom sempat memohon pada Aurore agar kembali kepadanya. Ia bahkan sampai mempermalukan dirinya di depan publik. Berita tentang kehancuran hubungan cintanya diekspos di media cetak. Kemudian Tom mengetahui bahwa dirinya bangkrut. Ia bahkan tidak dapat menggunakan ponselnya. Hal itu membuatnya semakin terpuruk. Ia pun mengurung diri dalam rumahnya.

Suatu ketika, saat badai terjadi di daerah pemukiman rumah Tom, Tom menemukan seorang gadis berambut pirang di dalam rumahnya. Gadis itu mengaku sebagai Billie Donely, tokoh dalam novel Tom. Tentu saja Tom tak mempercayai begitu saja kata-kata gadis itu. Ia mengetes gadis itu tentang apa saja mengenai tokoh cerita yang dibuat Tom, yang tidak pernah ia publikasikan karena data para tokoh novelnya tersimpan di laptopnya yang berpassword. Anehnya jawaban yang diberikan gadis itu benar semua.

Kemudian datanglah Milo dan Carole, sahabat baik Tom, ke rumahnya untuk mengajak Tom ke psikiater. Mereka bermaksud menyembuhkan Tom dengan terapi tidur. Di saat itu, Tom menceritakan perihal Billie kepada kedua sahabatnya dan tentu saja mereka tidak percaya. Malahan hal itu memperkuat mereka untuk membawa Tom ke psikiater.

Tom memberontak saat berada di klinik psikiater. Ia nekad menjatuhkan diri dari lantai dua klinik tersebut. Namun untunglah ia selamat. Billie datang menolongnya melarikan diri dari klinik tersebut. Kemudian mereka membuat kesepakatan. Billie meminta Tom menyelesaikan novelnya agar ia bisa kembali ke dunianya, sedangkan ia sendiri akan membantu Tom mendapatkan kembali Aurore. Melalui cerita-cerita Billie, mau tak mau Tom percaya bahwa gadis itu benar-benar jatuh dari novelnya karena kesalahan cetak.

Tom dan Billie melakukan perjalanan menuju Mexico, tempat Aurore dan pacar barunya berlibur. Mereka menggunakan mobil Milo yang sebenarnya saat itu seharusnya disita oleh bank. Di perjalanan, mereka dihentikan oleh polisi karena Billie mengendarai mobil terlalu kencang dan ia tidak punya SIM. Tapi mereka dapat meloloskan diri dengan berhenti di hutan.

Merasa kehilangan Tom, Milo dan Carole tidak tinggal diam. Carole yang seorang polisi melacak keberadaan Tom melalui kantor polisi. Setelah menemukan lokasinya, ia dan Milo menyusul Tom.

Petualangan Tom dan Billie serta Milo dan Carole pun dimulai. Tom akhirnya bertemu dengan Aurore. Namun di saat yang sama Billie mendadak sakit. Ia mengeluarkan cairan tinta dari mulutnya. Setelah melalui berbagai tes kesehatan, ditemukan kadar selulose dan jaringan pembuat kertas dalam tubuhnya. Ternyata novel Tom yang salah cetak telah dimusnahkan, jumlahnya 99.999 kopi. Beruntungnya, ada satu cetakan lagi yang belum dimusnahkan. Itu yang membuat Billie bertahan hidup. Tom, Milo, dan Carole pun akhirnya berusaha menyelamatkan Billie.

* * *

Novel ini sangat oke. Ceritanya mengalir cepat. Bikin penasaran. Bikin lupa waktu kalau sudah baca. Nggak bisa berhenti baca setelah setengah buku saking seru ceritanya. Satu hal lagi yang menarik dari novel ini adalah kata-kata bijak di setiap babnya, contohnya:

1. Teman-teman adalah para malaikat yang mengangkat kita ketika sayap kita tak ingat lagi cara untuk terbang. ~Anonim (Bab 11)

2. Cinta itu seperti air raksa di tangan. Jika tangan tetap terbuka, cinta akan tetap berada di sana; cengkeramlah, dan cinta akan tergelincir melalui jari-jarimu. ~Dorothy Parker (Bab 24)

3. Hari ketika kau bisa menunjukkan kelemahanmu tanpa orang lain memanfaatkannya untuk menunjukkan kekuatannya adalah hari ketika kau dicintai. ~Cesare Pavese (Bab 31)

Lalu ada juga kata-kata dari penulis novel ini yang sangat bagus menurut saya:

1. Aku tidak menginginkan terapi yang tidak melibatkan tanggung jawabku sendiri dalam kesembuhanku. Sekarang aku bertekad untuk menghadapi langsung realitaku sendiri, meskipun itu bisa membunuhku. ~Tom Boyd (hlm.109)

2. Kau harus berhenti berkubang dalam penderitaanmu! Kalau kau tidak segera keluar dari sana, kau akan tenggelam untuk selamanya. Memang lebih mudah menghancurkan dirimu sedikit demi sedikit daripada mengumpulkan keberanian untuk kembali berjuang, kan? ~Billie Donely (hlm.125)

3. Santailah sedikit. Untuk apa begitu cemas. Biarkan hidup memberimu hal-hal baik, dan jangan selalu takut kehidupan akan menyakitimu. ~Billie Donely (hlm.192)

4. Seiring berjalannya waktu, semua akan berakhir. ~nyanyian Leo Ferre (hlm.416)

Setelah baca cuku ini, saya berpikir: ‘Pasti keren banget kalau novel ini dijadikan film!’ Soalnya novel ini beneran keren! Lo semua harus baca! 5 bintang deh buat novel ini!

photogrid_1478081387379

Judul Buku: The Girl on Paper (La Fille de Papier)
Pengarang: Guillaume Musso
Penerbit: Penerbit Spring
Tahun: 2016, September
Jumlah halaman: 448
ISBN: 978-602-74322-4-6

* * *

Buku ini adalah hadiah menang Giveaway yang diadakan oleh Kak Zulfy S. Rahendra dan Penerbit Spring bulan Oktober 2016. Terima kasih kak Zulfy dan Penerbit Spring atas kiriman bukunya. 🙂

[Review Buku] Sharp Objects

Judul buku: Sharp Objects
Pengarang: Gillian Flynn
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: 2006
Jumlah halaman: 336
Genre: thriller, mistery

Jpeg

Komentar:
Lagi-lagi buku bergenre thriller ya pemirsaaah! Yoi, maklum lagi suka. Walopun ini buku tergolong terbitan sudah lama banget, 10 tahun yang lalu! Iya! Apa nggak ada buku yang lebih jadul?? Gapapa deh yang penting eikeh senang bisa baca buku yang sangat bagus ini. Mari bercerita tentang kita

Buku ini mengisahkan tentang Camille Preaker, seorang reporter dari Daily Post Chicago, yang mendapat tugas meliput berita pembunuhan di kota kelahirannya, Wind Gap. Bosnya, Curry, ingin agar koran mereka bisa jadi terkenal dengan liputan berita pembunuhan di kota kecil tersebut. Camille yang sudah bertahun-tahun tidak pulang kampung merasa enggan untuk kembali ke Wind Gap, bukan hanya karena ibunya yang jarang berkomunikasi dengannya, tapi juga adik tirinya yang berumur tiga belas tahun, kematian adik tirinya yang sudah bertahun-tahun lewat, dan kesan yang tidak ingin dirasakannya.

Benar saja apa yang dipikirnya, setelah kembali tinggal di rumah besarnya yang bergaya Victoria, ia mendapati adik tirinya, Amma, bersikap sangat aneh; kadang sangat menyebalkan kadang menyenangkan. Adiknya yang populer di Wind Gap ternyata berteman dengan kedua korban pembunuhan berantai. Ann dan Natalie, kedua korban pembunuhan ditemukan kehilangan gigi mereka.

Camille berusaha keras mencari-tahu tentang pembunuhan tersebut, baik dari polisi maupun keluarga korban. Namun usahanya tidak berjalan mulus. Ada polisi dari daerah lain, Richard Willis, yang sedikit sekali memberi informasi. Keluarga korbanpun tidak terlalu banyak memberi informasi. Saat mencari data tentang pembunuhan tersebut, Camille berhadapan dengan fakta bahwa adik tirinya sedikit mirip dengan mendiang adiknya, Marian.

Penyelidikan Camille mengenai pembunuh berantai mendorongnya menggali dan membongkar masa kecilnya yang suram. Ia banyak menemukan hal-hal aneh di kota kelahirannya itu.

Penulis novel yang juga menulis best-seller Gone Girl yang sudah difilmkan begitu tajam menggambarkan suasana kota Wind Gap yang sedikit kelam, suasana khas pedesaan yang didominasi peternakan, anak-anak remaja yang bertingkah dewasa dan kehidupan para orang-orang dunia barat. Banyak sekali gambaran tentang anak-anak remaja yang terlibat kehidupan seks bebas, rokok, obat terlarang, minuman beralkohol, dan pesta ala barat. Biarpun novelnya ala Barat yang tak sesuai dengan budaya Indo, ya tetep seru aja bacanya.

Alurnya maju-mundur, menceritakan tentang masa lalu Camille dan masa sekarang saat ia bertugas menjadi reporter. Penggambaran tentang tokohnya juga sangat oke: Camille yang menutupi masa lalunya, Amma yang menyebalkan, Adora yang sok ngebos, Allan yang terlalu santai, sampai Ricahrd si polisi yang katanya ganteng tapi nyebelin karena pelit info. Endingnya sangat tak terduga. Dari awal, pembaca diajak menerka-nerka siapa pembunuh kedua gadis kecil itu. Dan ternyata… Ah, sungguh di luar dugaan! *Saya sampe teriak dalam hatiWhatttt?? Si itu adalah pembunuhnya? Ya ampun…!!*

Baca buku ini dari halaman pertama sampai akhir rasanya pengen nggak ada jeda ini-itu, maunya lanjutkan terus bacanya. Biasanya saya bisa baca buku sampai berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan, tapi untuk buku yang satu ini… NO! Seru banget! *Dalam hati bertanya, kira-kira novel yang satu ini bakal dijadikan film juga nggak ya? Soalnya ceritanya benar-benar bikin penasaran, sih!*

Okeiii pemirsah, saya kasih rating tinggi deh untuk buku ini, 4,8 dari skala 5!

Oh, ya, bukunya yang bercover warna pink nggak bikin para cowok yang bacanya jadi pinky boy, kok! *ini apa sih?? abaikan saja!

[Review Buku] The Girl on The Train

Judul buku: The Girl on The Train
Pengarang: Paula Hawkins
Genre: misteri, thriller
Penerbit: Noura Books
Tahun terbit: 2015
Jumlah halaman: 431

Komentar:
Buku ini saya beli karena dapat info dari sebuah situs majalah di internet. Situs tersebut menyebutkan bahwa novel ini akan difilmkan. Nah, kata “difilmkan” itu yang bikin tertarik untuk baca. Biasanya buku yang bagus kan akan dibuat filmnya, contohnya Harry Potter, serialnya Bella Swan dan Edward Cullen, serial Divergent, Carrie, dll.

Pas awal baca buku ini, jujur saya nggak nyambung en nggak ngerti ceritanya apa. Serasa berat di bab pertama. Setelah bab kedua dan seterusnya, ceritanya makin seru. Apalagi setelah seperempat buku, rasanya nggak mau tidur karena penasaran dengan ceritanya.

Tokoh utama di buku ini adalah Rachel, seorang wanita umur 30an yang sudah bercerai. Dia tinggal di apartemen sahabatnya dan bekerja di sebuah perusahaan yang mengharuskannya naik kereta api setiap hari. Dalam perjalanannya di kereta api, Rachel melewati rumah lamanya, rumah tempat ia dan mantan suaminya tinggal. Namun bukan rumah lamanya yang menariknya untuk melihat. Ada sebuah rumah yang isinya sepasang suami istri, yang dinamai Rachel dengan Jason dan Jess. Bagi Rachel, Jason dan Jess adalah contoh keluarga bahagia.

Suatu ketika, Rachel melihat sesuatu yang berbeda dari rumah Jason dan Jess. Tak hanya itu, ia juga melihat sesuatu di terowongan di bawah kereta api, sesuatu yang menyeretnya ke sebuah misteri yang sangat memusingkan, apalagi ia hilang ingatan dan harus bertemu dengan istri baru mantan suaminya.

Tokoh kedua dari buku ini adalah Megan, seorang ibu rumah tangga yang dulunya pekerja seni. Megan pernah mengalami trauma akibat kematian kakaknya. Suami Megan, Scott, menyarankan Megan mencari aktivitas yang akan melupakannya pada masa lalunya yang buruk. Scott juga menyarankan Megan untuk pergi berobat ke psikolog. Namun pertemuan Megan ke psikolog dan ke tempat kerja barunya mengubah kehidupannya.

Berikutnya ada tokoh Anna. Anna digambarkan sebagai wanita menyebalkan. Ia merebut suami Rachel dan sangat membenci mantan istri suaminya. Ia akan melakukan apapun untuk menjauhkan Rachel dari suaminya. Selama pernikahannya dengan Tom, ia selalu merasa terganggu dengan Rachel yang ia selalu ‘beredar’ di dekatnya, Tom, dan anaknya, Evie.

Ketiga tokoh wanita di buku ini berhubungan dengan suatu misteri. Rachel, si tokoh utama, yang kecanduan alkohol, berusaha memulihkan ingatannya saat ia dalam pengaruh alkohol. Misteri yang dihadapinya ada hubungannya dengan peristiwa saat ia dalam pengaruh alkohol. Fakta terungkap satu-per satu. Ada tentang cinta, obsesi, juga kekerasan.

Alur cerita yang maju mundur nggak bikin pembaca jadi pusing,malah makin penasaran. Trus, penulis novel bercerita dari sudut pandang ketiga wanita di atas. Jadi pembaca merasa jadi seperti tokoh tersebut. Kita seolah sedang menonton film sekaligus menjadi tokoh dalam film yang kita tonton.

Buku ini oke banget. Biarpun tebal, nggak terasa bacanya. Seru!! Komentar-komentar yang dicantumkan di belakang buku juga sesuai dengan isinya. Ada komentar dari Vanity Fair, Publisher’s Weekly, New York Daily News, dll.   Karena itu,  buku ini saya beri rating 4,5 dari skala 5.