#Postcardfiction – Hadiah Buat Ibu

mothers loveDua hari lagi, aku akan pulang kampung. Dan, tepat di hari itu pula, adalah hari ibu. Aku  masih belum terpikir untuk membeli hadiah apa pun. Di rumah kami, tak ada tradisi untuk memberikan hadiah, baik itu pada saat ulang tahun maupun saat hari ibu. Jika aku membawa sesuatu untuk ibuku, beliau akan bilang, “Lain kali kamu tidak usah belikan ibu oleh-oleh. Tak perlu repot-repot!”

 

Tapi, aku tetap saja ingin membawa sesuatu pulang ke rumah. Jadi, aku pergi ke toko oleh-oleh lalu membeli  beberapa jenis makanan tradisional. ‘Ini adalah hadiah yang aman untuk diberikan,’ pikirku. Karena, jika ibuku tidak mau menerimanya, hadiah ini bisa diberikan kepada orang lain atau bisa kumakan sendiri.

 

Hari yang ditunggu pun tiba. Aku pulang naik bus. Bus melaju kencang. Dan tanpa terasa aku tertidur dalam perjalanan.

 

Entah sudah berapa lama aku tertidur, tiba-tiba suara keras membangunkanku. BRAKKK!!! Bus yang aku naiki menabrak truk. Bus oleng dan jatuh ke dalam parit besar. Kepalaku terantuk kaca dan aku tak sadarkan diri.

 

Suara bisikan menyadarkanku. “Wina… Bangun, Win…”

 

Saat aku membuka mata, ibuku ada di sampingku. “Untunglah kamu selamat, Nak,” katanya.

 

“Ibu, kenapa bisa ada di sini?” tanyaku kebingungan.

 

“Beberapa jam yang lalu, ponsel ibu berdering. Ada panggilan masuk dari nomormu. Tapi saat ibu jawab teleponnya, hanya ada suara histeris berteriak. Karena khawatir, ibu menelepon stasiun bus. Rupanya bus yang kamu tumpangi mengalami kecelakaan. Ibu bisa ke mari karena informasi dari sana.”

 

“Ibu, hari ini adalah hari ibu. Wina membawa oleh-oleh untuk ibu. Tapi, barang itu entah terpental ke mana saat bus kecelakaan. Maafkan Wina, Bu, karena barang itu hilang.”

 

“Nak, hadiah barang itu tak penting. Bisa melihatmu selamat merupakan hadiah terindah bagi ibu.”

 

Lalu, ibu memelukku dan kubisikkan di telinganya, “Terima kasih, Bu. Selamat hari ibu. Wina sayang Ibu…”

Advertisements

#Postcardfiction – Aku Masih Ingin Bebas

Life without LibertyLady sedang berkumpul bersama teman-temannya dalam kegiatan koor kampus ketika ponselnya berbunyi tanda ada pesan masuk. Ia langsung mengambil ponselnya dan membaca pesan yang baru masuk.

‘Hai! Lagi apa dan lagi ada di mana?’ Begitu bunyi pesan yang ia terima.

Hufft… Lady menghela napas panjang. Ini adalah pesan yang ketiga dalam satu hari ini, dan ini adalah hari kesepuluh Lady mendapat pesan seperti itu dari orang yang sama. Lady segera menghapus pesan tersebut tanpa membalasnya. Ia sudah merasa sangat risih dengan orang yang mengirim pesan itu. Gimana nggak, orang itu mengirim pesan seperti itu sehari tiga kali, kayak makan obat saja. Memangnya nggak ada kalimat lain yang bisa ditulis selain kalimat ‘lagi apa dan lagi di mana’?

Pikiran Lady melayang ke hari saat ia diperkenalkan dengan Boy, orang yang mengirim pesan tadi. Mereka bisa berkenalan karena Tante Nita, saudara mamanya, yang memperkenalkan. Dan, Boy diperkenalkan kepadanya sebagai orang yang sedang mencari istri, bukan mencari pacar! Dengan kata lain, mereka dijodohkan!!

‘Tidak! Aku masih ingin bebas! Aku masih ingin bernyanyi dan berkumpul dengan teman-temanku. Aku masih mau jalan-jalan ke mana pun aku suka. Aku nggak mau jadi istri orang sekarang!!’ teriak Lady dalam hati. Cepat-cepat ia mengambil ponselnya dan mengetik sebuah pesan untuk Boy.

“Hai, Boy! Maaf sudah tiga hari aku nggak balas pesanmu. Kalau boleh jujur, aku merasa risih dengan perjodohan kita ini. Aku masih ingin bebas, aku belum siap untuk menjadi seorang istri, dan aku ingin kita berteman biasa saja. Jika kamu memang sedang mencari istri, silakan mencari wanita lain. Terima kasih.”

‘Maafkan aku Mama dan Tante Nita. Aku bahagia dengan hidupku yang sekarang, tak ada ikatan apapun. Aku masih ingin bebas. Tolong mengertilah…’

Dan, dua pesan terkirim ke ponsel mama Lady dan Tante Nita.