Meriahkan Imlek dengan Merah

Sejak saya kecil sampai sudah segede gaban begini Ibu saya selalu bilang, “Ayo pakai baju merah waktu Sincia nanti.” Teman-teman pun kalau mau bersilaturahmi saat Hari Raya Imlek rata-rata memakai baju merah. Kalau janjian dengan mereka biasanya pakaian merah menjadi dress codenya. Bukan hanya untuk silaturahmi saja, saat menjadi panitia atau pengisi acara Pesta Hari Raya Imlek pun seragamnya berwarna merah!

Saya sempat berpikir, ‘Memangnya kenapa kalau tidak pakai baju merah? Apakah memakai pakaian berwarna merah itu wajib?’ Lalu saya juga sempat pengin memakai pakaian warna lain saat Hari Raya Imlek atau Sincia. Biar beda sendiri maksudnya. Biar nggak pasaran. Tapi saya mengurungkan niat saya. Rasanya kok aneh memakai pakaian yang warnanya selain merah. Sepertinya doktrin Imlek-Harus-Merah sudah mendarah daging dalam diri saya.

Dulu, mendiang nenek saya juga sangat senang melihat orang berpakaian merah atau cerah. Beliau bahkan tidak menyarankan kami, anak-cucunya, untuk memakai pakaian dengan warna sendu seperti biru atau hitam. “Suram,” kata beliau. “Baju biru atau warna gelap, tuh, hanya untuk pergi melayat,” itu kata beliau dulu. Sedangkan Ibu saya mengatakan, “Merah itu hoki! Merah itu terang dan cerah!”

Tak hanya pakaian saja yang berwarna merah di Tahun Baru Imlek. Hal-hal lainnya juga berwarna merah. Sebut saja: lampion, bunga-bungan Mei Hua, hiasan pohon Mei Hua, hiasan dinding, dan hiasan di pintu rumah. Bahkan tempat tisu atau wadah makanan untuk menyambut tamu saat Imlek pun kalau bisa berwarna merah semua.

Nah, saat perayaan Imlek ada yang namanya angpao. Anak-anak kecil senang sekali kalau berkunjung ke rumah orang yang merayakan Imlek karena mereka bisa dapat angpao. Jangankan anak kecil, orang dewasa pun kalau dapat angpao rasanya pasti senang. Senyum semringah langsung terpancar di wajah. Wajah jadi merah merona seperti warna angpao. Namanya juga angpao, warnanya pasti merah seperti asal katanya: ang berarti merah. Kalau amplopnya nggak merah berarti bukan angpao namanya.

Masyarakat Tionghoa menganggap merah sebagai warna keberuntungan dan membawa kebahagiaan. Seperti yang Ibu saya bilang bahwa merah itu hoki, masyarakat Tionghoa menganggap jika memakai warna merah saat Imlek, keberuntungan atau hoki akan mengikuti sepanjang tahun.

Tradisi memakai warna merah ini sudah ada sejak zaman dahulu. Dahulu kala, masyarakat di Cina beranggapan bahwa adalah makhluk jahat atau raksasa bernama Nian yang akan datang ke desa menjelang Tahun Baru. Nian tidak akan bisa mengganggu penduduk jika para penduduk menghiasi rumah mereka dengan hiasan berwarna merah. Hiasan berwarna merah tersebut digantung di pintu rumah atau di dinding rumah untuk menghalau Nian.

Menurut ilmu psikologi yang dikutip dari www.si-pedia.com, warna merah berarti bersemangat, enerjik, dinamis, aktif, kegembiraan, dan mewah. Merah juga sering dimaknai cinta, kekuatan, percaya diri, perjuangan, dan berani. Dari arti secara psikologinya saja kita tahu bahwa warna merah itu semangat. Jadi dengan memakai atribut berwarna merah saat Imlek diharapkan pemakainya jadi bersemangat dan bergembira.

Pagoda Wihara Dharmakirti tampak cantik dengan hiasan lampion merah
Pagoda Wihara Dharmakirti tampak cantik dengan hiasan lampion merah

Untuk perayaan Imlek yang pernah saya datangi, di Wihara Dharmakirti Palembang, spanduk ucapan Selamat Tahun Baru Imlek didominasi warna merah. Halaman wihara dihiasi dengan lampion-lampion berwarna merah. Lampion-lampion tersebut digantung dipelataran wihara, di plafon, dan di pagoda. Dan karena tahun 2017 ini adalah Tahun Ayam, di depan wihara ada replika ayam berwarna merah yang cantik sekali. Wihara ini jadi cantik sekali dengan hiasan-hiasan berwarna merah tersebut. Suasananya jadi semarak.

Setiap tahunnya, Wihara Dharmakirti selalu mengadakan acara Imlek Bersama. Acara Imlek Bersama biasanya diadakan satu minggu sesudah Hari Raya Imlek dan dipilih hari Minggu karena hari tersebut adalah hari libur. Siapa pun boleh datang ke acara ini. Kegiatan dalam acara Imlek Bersama itu meliputi Tarian Barongsai; kata sambutan dari ketua panitia, ketua majelis dan pengurus wihara; kesenian oleh muda-mudi wihara dan undangan, karaoke, dan makan bersama. Di acara ini biasanya pengisi acara memakai pakaian merah. Lalu ada barongsai yang berwarna merah. Jika ada Liong atau naga, Liongnya juga didominasi warna merah. Para pemain Liong pun tak ketinggalan memakai atribut berwarna merah.

cny-6
Pengisi acara Imlek Bersama di Wihara Dharmakirti memakai pakaian merah

Selain acara yang pernah saya ikuti di atas, acara Imlek lainnya yang tak kalah menarik adalah Festival Imlek Indonesia yang akan diadakan di PSCC Palembang tanggal 11 dan 12 Februari 2017. Di acara ini nanti bakal ada Pawai Budaya, Festival Budaya, dan Festival Kuliner. Lalu ada Drama Kolosal Legenda Pulau Kemaro, Tari 1000 Tangan yang keren abis, Festival Barongsai, berbagai macam lomba mulai dari lomba grafiti, chef battle, story telling, tari kreasi, sampai ke lomba Instagram. Buat kamu yang hobi foto-foto cocok banget nih ikut lombanya! Acara menarik lainnya juga banyak banget, misalnya Wayang Wong, Mie Festival, Donor Darah, dan sebagainya. Duh, pasti seru banget acaranya! Apalagi kalau yang datang pakai baju merah. Merah… merah… merah… Merah ada di mana-mana membuat penglihatan jadi cerah. Merah membuat semua orang jadi ceria. Suasana pun jadi meriah.

Informasi tentang Festival Imlek Indonesia bisa dilihat di http://www.festivalimlekindonesia.com