Maraknya Penculikan Anak, Trus Harus Bagaimana?

Akhir-akhir ini di kantor heboh banget dengan cerita penculikan anak. Mama si ini, Mama si itu, Mama si anu, pokoknya hampir semua Mama-mama yang nungguin anaknya sekolah ceritanya nggak jauh-jauh dari penculikan anak. Beberapa ortu mulai sadar pentingnya memberitahu pihak sekolah saat mereka telat menjemput atau saat menyuruh orang lain yang menjemput.

Cerita-cerita itu sendiri entah benar terjadi atau nggak, saya nggak ngerti. Mereka juga dapatnya dari orang lain. Mereka bilang ada anak SD AAA mau diculik tapi untungnya anaknya cerdik. Si anak menggigit tangan penculik. Trus dia selamat. Ada juga cerita tentang anak yang diculik saat bermain bersama teman-temannya di area dekat rumah. Tapi akhirnya anak tersebut ditemukan warga. Yang lebih seram lagi adalah cerita tentang anak yang diambil organ tubuhnya.

Saya nggak percaya 100% tentang cerita anak yang diculik trus diambil organ tubuhnya untuk dijual. Setahu saya, nggak sembarang orang bisa membedah dan mengambil organ tubuh untuk digunakan sebagai organ transplantasi. Kalau bukan dokter bedah, nggak mungkin bisa dengan mudahnya mengambil organ manusia. Salah potong saja, organ tersebut nggak bakal bisa digunakan. Dokter bedah pun harus ada asistennya dan beberapa perawat untuk membantunya melakukan operasi. Lalu, untuk membawa organ tersebut ke pembeli, diperlukan wadah khusus dengan temperatur yang khusus juga. Nggak bisa sembarangan terantuk benda, lalu juga harus memperkirakan tahan berapa lama untuk sampai ke pembeli.

Saya ada teman yang sakit ginjal. Teman ini mencari donor ginjal ke mana-mana. Itu nggak mudah. Harus cocok darahnya dan apa-apalah gitu yang saya nggak ngerti. Setelah mencocokkan dengan beberapa orang, akhirnya si teman ini malah mendapat donor ginjal dari ayahnya sendiri. Karena dari beberapa pendonor itu nggak ada satupun yang cocok dengan tubuhnya. Setelah ngetes darah dll dari ayahnya, eh ternyata cocok.

Nah, jadi kalau ada berita tentang penculik anak yang mengambil organ untuk dijual, saya mikir lagi, itu beneran nggak sih? Masa dokter tega ngambilin organ orang hidup? Jangan-jangan berita hoax aja tuh! 

Tapi… Nggak ada salahnya untuk waspada kan? Caranya….

1. Jangan biarkan anak kecil bermain terlalu jauh di luar rumah tanpa pengawasan. Kalau nggak bisa mengawasi, setidaknya ortu harus tau anaknya main di mana dan dengan siapa saja.

2. Anak harus diajarkan menolak pemberian apapun dari orang tak dikenal. Ini berlaku juga untuk orang dewasa. Takutnya ada pelaku penghipnotis yang mau menguras hartamu. Memang sih nggak semua orang jahat, ada yang memang benar-benar baik menawarkan permen atau makanan. Tapi untuk berjaga-jaga lebih baik tolak saja daripada kenapa-kenapa.

3. Ajari anak untuk tidak tergiur bujuk-rayu dan kata-kata manis orang tak dikenal. Namanya juga orang jahat, segala cara digunakan. Teman saya cerita adiknya pernah ditawarin mau diajak audisi model karena adiknya itu cantik. Untunglah ditolak. Temannya si adik ada yang terbujuk lalu dibawa oleh orang jahat itu. Mau dijual katanya. Untungnya dia bisa melarikan diri saat mobil pelaku berhenti di resto. Serem banget, kan, kalau sampai diculik trus dijual! 

4. Kalau menyuruh orang lain untuk menjemput anak atau telat menjemput ya kasih tau ke pihak sekolah. Beri informasi nama si penjemput dan apa hubungannya dengan ortu. Anak juga harus diajarkan untuk tidak mengikuti siapapun yang mengaku menjemputnya kalau orang itu nggak dikenal. Beri tau anak juga jika tidak bisa menjemput, siapa yang akan menjemput, atau telat jemputnya berapa lama. Juga, jangan sembarang menyuruh orang menjemput anak. Kalau bukan orang yang benar-benar bisa dipercaya, lebih baik jangan menyuruh menjemput.

5. Ajari anak untuk menghindari tempat yang sepi. Berlaku juga untuk kita yang dewasa. Soalnya nenek bilang tempat sepi itu berbahaya! Kalau ada yang jahat, mau teriak nggak bakal ada yang tolong. Orang bisa dengan mudah melakukan kejahatan di tempat sepi. Yang nodonglah, yang perkosa, yang nipu, hipnotis, bahkan membunuh!!

6. Bekali anak dengan identitas seperti nomor hp ortu, kalau perlu suruh anak menghapal nomor hp ortunya. Biar kalau ada apa-apa dia tau harus menghubungi ke mana. Kita yang dewasa juga wajib hapal beberapa nomor hp yang bisa dihubungi jika terjadi sesuatu.

7. Kalau bawa anak jalan ke mal atau ke mana aja, jangan sampai lengah, tetap awasi anak. Jangan keenakan main hp atau ngobrol trus anaknya lari ke mana-mana. Kalau anak mau ke toilet sebaiknya ada yang menemani.

Waspadai penculikan anak

Ada yang mau menambahkan tips mewaspadai penculikan anak? Yuuuk, isi kolom komentar. 

 

Advertisements

Apa yang Mama Pikir Lucu Belum Tentu Baik Buat Si Kecil

Beberapa waktu yang lalu, saya mengobrol dengan psikolog anak dari Universal Megabrain Center, Palembang, Bu Ani. Beliau datang ke tempat kerja saya karena ada undangan. Nah, kami pun ngobrolin tentang hubungan gadget dan anak-anak usia Taman Kanak-kanak.

Bu Ani bercerita tentang seorang mama yang mempunyai anak usia 2 tahun. Mama ini sebenarnya hanya iseng menyuruh anaknya memegang hp. Eh ternyata si anak pintar sekali, ia bisa langsung mengerti cara membuka hp. Lama-kelamaan bisa buka ini-itu: lihat video dan main game. Awalnya mama si anak ini menganggap anaknya lucu sekali bisa main hp. Ia merasa anaknya pintar bisa main hp tanpa diajari. Tapi lama kelamaan anaknya jadi kecanduan main hp. Kalau tidak dikasih hp ia akan mengamuk. Lalu, anaknya yang tadinya ceria dan bisa mengajak ngobrol orangtuanya sekarang jadi pendiam, bahkan sulit komunikasi. Akhirnya mama ini mendatangi tempat kerja Bu Ani untuk berkonsultasi, menanyakan apa yang terjadi dengan anaknya.

Setelah melewati serangkaian tes, ditemukan bahwa si anak mengalami autis ringan. Akhirnya si anak harus mengikuti terapi. Kasihan banget kan anak yang tadinya normal malah jadi harus diterapi cuma gara-gara kecanduan main hp. Sayang ke psikologis anaknya, juga sayang uangnya. Biaya terapi anak tuh nggak murah, lho!

Bu Ani mengatakan gadget sebenarnya bagus asal tahu cara pemakaiannya. Aplikasi di gadget banyak yang bagus untuk belajar, misalnya belajar alfabet.

Sebaiknya orangtua mendampingi anak saat mau mengajari anak menggunakan gadget. Jangan sering-sering memberikan gadget ke anak, harus dibatasi pemakaiannya.

Efek negatif dari gadget terhadap anak balita adalah sebagai berikut:

1. Anak terlambat bicara. Ini jika diberikan ke anak yang usianya di bawah 2 tahun, yaitu usia di mana anak seharusnya belajar bicara. Karena keseringan melihat gadget, anak bisa malas untuk berkomunikasi. Akibatnya ia jadi telat bicara. Kalau anak telat bicara, kasihan kan nanti dia tidak bisa memberitahukan apa yang diinginkannya. Anak yang telat bicara biasanya juga nggak mengerti apa yang dikatakan orang lain padanya.

2. Anak sulit bersosialisasi. Karena terbiasa fokus ke gadget, maka anak jadi tidak bisa berteman dengan anak lain. Ia bisa jadi penyendiri dan punya dunianya sendiri. Untuk tingkat kecanduan gadget yang parah, anak bisa ngomong sendiri. Biasanya yang diomonginya adalah suara atau bunyi-bunyian yang didengarnya dari gadget. Nah, anak yang tidak bisa bersosialisasi ini bisa jadi egois lho. Soalnya dia tidak mengerti cara berbagi dengan teman, ia bisa jadi seenaknya sendiri dan tidak peduli dengan lingkungannya.

3. Mata rusak atau rabun. Kebanyakan main gadget bisa membuat anak jadi rabun. Di tempat kerja saya, ada beberapa anak TK yang pakai kacamata. Minus 2, lho! Duh, kasihan banget kan masih kecil sudah pakai kacamata. Kalau tidak pakai kacamata, mereka sulit melihat, apalagi melihat tulisan di papan tulis di kelas. Kalau melihat tulisan saja nggak bisa otomatis mereka jadi sulit mengikuti pelajaran. Akhirnya nilainya berpengaruh juga kan.

4. Mempengaruhi perilaku anak. Di dalam gadget, ada konten-konten yang tidak sesuai untuk anak-anak, misalnya game tembak-tembakan atau game kekerasan. Kalau orangtua tidak mendampingi anak saat anak memakai gadget, anak bisa membuka konten-konten yang tidak sesuai umurnya. Anak sekarang kan canggih, secanggih hp. Mereka bisa buka Youtube, lho! Di Youtube ada apa? Banyak kan yang nggak sesuai untuk anak? Anak yang melihat film atau game tentang kekerasan, perilakunya akan terpengaruh dari apa yang dilihatnya itu. Apalagi kalau orangtua tidak mengajarinya, mereka bisa jadi anak yang suka memukul atau suka berteriak atau memanjat ke sana-ke mari, seperti apa yang mereka lihat. Nggak mau kan punya anak yang dicap sebagai anak nakal yang suka memukul?

Nah itulah efek negatif dari gadget. So, apa yang Mama anggap lucu tuh nggak semua baik untuk anak. Harus pandai-pandai dan bijak memberikan sesuatu untuk anak.

Menurut saya, daripada memberikan gadget untuk anak lebih baik memberikan mainan asli untuk anak yang bisa mengasah kreativitasnya. Contohnya:
1. Mainan blocks atau balok-balok kayu atau plastik. Anak bisa membuat rumah-rumahan dari kayu. Untuk yang dari plastik, bisa dibentuk jadi robot-robotan.
2. Mainan lego.
3. Mainan masak-masakan. Siapa tahu nanti anak bisa jadi chef handal.
4. Mainan dokter-dokteran.
5. Mainan pertukangan.
6. Boneka. Dari boneka, anak bisa belajar tentang warna juga, yaitu dari warna-warna bonekanya.

Oh ya, yang perlu diperhatikan dalam membelikan mainan ini adalah bahan dan usia anak. Biasanya di box mainan tertera usia yang dianjurkan. Jadi jangan asal membeli mainan, ya. Jangan belikan playdough untuk anak usia 2 tahun, kalau dimakannya bisa bahaya, tuh! Berikanlah mainan yang sesuai dengan usia anak.

Sekian tips dari saya. Ada yang mau menambahkan tentang gadget dan mainan anak? Mari silakan isi kolom komentar. Thank you!

[Parenting] Do It Together

Tadi pagi saya baca artikel di www.parenting.co.id tentang DIT atau Do It Together. Inti dari konsep DIT ini adalah orangtua mengajak anak melakukan sesuatu bersama-sama. Di website tersebut contohnya adalah membuat topeng dari piring kertas (cara membuatnya klik di sini) . Dengan adanya DIT ini diharapkan orangtua jadi bisa lebih dekat dan akrab dengan anaknya.

Nah, siangnya sesudah jam pulang sekolah ada satu anak masuk ke kantor saya. Anak-anak yang lagi menunggu jemputan sering banget masuk ke kantor saya. Walaupun saya bukan guru mereka, tapi mereka suka banget ngajak saya ngobrol dan bermain. Saya tanya si adek ini ada apa ke kantor? *sok nggak tau, padahal sudah tau dia pasti lagi nunggu jemputan. Anak ini lalu bertanya tentang benda-benda yang ada di sekeliling saya, ‘ini apa’, ‘itu apa’, semua ditunjuk dan ditanya. Hmmm… Anak-anak memang suka bertanya ya. Saya pikir, mungkin dia bosan menunggu jemputan sedangkan teman-temannya yang lain sudah pulang dan sebagian lagi ikut ekskul. Kalau bertanya-tanya terus pasti nanti dia jadi bosan, dan sayanya juga. 😀

dit 1
ini gambar saya untuk contoh
origami kapal
origami kapal
gambar yang dibuat si adek
gambar yang dibuat si adek

 

 

Lalu, saya ingat tadi pagi baca artikel tentang DIT. Jadi, saya ajak dia membuat origami kapal. Selesai origaminya, ortunya belum juga datang. Akhirnya saya ajak dia menggambar. Dari origami kapal itu saya beri contoh gambar laut, matahari, dan awan. Gambar yang sudah selesai dibuat lalu diwarnai. Kegiatan ini sangat menyenangkan, si anak tampak senang sekali. Sambil menggambar dan mewarnai, kami juga mengobrol. Tak terasa akhirnya dia dijemput.

Mungkin teman-teman yang sudah punya anak bisa juga mencoba konsep DIT ini. Nggak usah mikir kegiatan yang ribet-ribet, kalau ada buku mewarnai, bisa ajak anak mewarnai. Bermain puzzle atau blocks juga bisa dijadikan alternatif kegiatan bersama.

[Parenting] Hati-hati Penipuan di Dunia Anak

image
Take good care of your children.

Beberapa waktu yang lalu ada kejadian seorang ibu mendapat telepon dari seseorang yang mengaku pegawai di sekolah anaknya. Si penelepon mengatakan bahwa anaknya ibu ini mengalami kecelakaan di sekolah. Si penelepon bahkan memberi-tahu secara rinci nama guru yang mengajar dan letak kelas anak tersebut. Ia juga memberikan nomor hp guru kepada ibu tersebut (setelah dicek, nomor tersebut salah). Entah si penelepon ini tahu dari mana nama guru dan letak kelas siswa tersebut. Yang pasti si ibu jadi shock karena diberitahu anaknya sedang sekarat. Untunglah beliau langsung mengecek ke sekolah dan menanyakan keadaan anaknya. Anaknya baik-baik saja di sekolah. Ternyata telepon itu penipuan.

Kejadian serupa juga pernah dialami ibu saya. Ada orang yang menelepon ke rumah dan mengatakan saya mengalami kecelakaan di sekolah. Duh, ibu saya yang anaknya sudah setua ini saja masih bisa dapat telepon penipuan, ya… Untunglah ibu saya tidak termakan omongan si penelepon itu.

Teman saya juga pernah bercerita, ada orangtua yang termakan omongan penelepon penipu. Si penelepon itu meminta orangtua yang lagi panik untuk mentransfer sejumlah uang. Katanya uang itu untuk biaya pengobatan anak. Ortu tersebut segera ke bank dan mentransfer sejumlah uang yang diminta si penelepon. Setelah uangnya ditransfer, ia pergi ke sekolah untuk mengecek keadaan anaknya. Di sekolah, anaknya baik-baik saja. Rupanya ia telah ditipu.

Kasus-kasus penipuan seperti ini sudah banyak terjadi. Sebaiknya kita berhati-hati. Berikut tips untuk menghindari hal-hal yang bisa menyeret kita ke kasus penipuan di atas:

1. Hati-hati mengupload sesuatu yang berkaitan dengan anak di dunia media sosial.
Bagi teman-teman yang sudah punya anak, ada baiknya tidak membeberkan nama anak, alamat sekolah, nama guru, nama pengasuh, keadaan sekolah, keadaan di rumah, nomor telepon rumah dan segala sesuatu yang berhubungan dengan anak yang bisa membahayakan mereka di media sosial — terutama jika akun media sosial Anda diset public (bisa dibaca semua orang dari segala penjuru dunia). Memang, sih, kadang-kadang pengen banget mengenalkan anak-anak yang lagi lucu-lucunya ke public. Ada juga yang mengupload segala sesuatu tentang anak di media sosial karena ingin mendokumentasikan segala hal yang berkaitan dengan anak. Maunya sih nanti kalau si anak sudah dewasa, dia bisa baca bagaimana kesehariannya waktu masih kecil. Aduh Pak, Bu, Mba, Mas tolong deh dipikirkan lagi. Kasihan nanti anaknya. Sekarang banyak banget penipuan yang mengaitkan anak-anak. Selain penipuan, kejahatan lain yang bisa menimpa anak-anak adalah penculikan. Duh, jangan sampai deh dapat kejadian seperti itu.

Jika Anda yang sudah terlanjur mengupload foto-foto dan info-info penting tentang anak Anda di media sosial, dihapus saja, deh. Atau, akun medsos Anda dibikin jadi privat. Bisa juga membuat akun yang hanya bisa dilihat orang-orang tertentu.

2. Jangan panik jika ada penelepon yang mengatakan anak-anak mengalami musibah di sekolah.
Tarik napas. Usahakan tenang dan katakan pada penelepon nanti Anda akan segera mengurusnya sendiri ke sekolah. Tidak usah banyak bicara pada penelepon itu, sesegera mungkin akhiri pembicaraannya. Ingat: jangan mengiyakan untuk mentransfer uang jika penelepon itu meminta Anda mengirim uang.

Setelah mengakhiri telepon dengan orang tersebut, segeralah menelepon sekolah atau guru yang mengajar anak Anda. Tanyakan bagaimana keadaan anak Anda. Kalau perlu segeralah ke sekolah untuk memastikan sendiri keadaannya.

3. Simpan nomor telepon sekolah dan guru-guru anak Anda.
Kalau Anda tidak tahu nomor telepon sekolah atau guru, dari sekarang tanyakan lalu simpanlah nomor telepon sekolah dan guru-guru anak Anda. Ini penting sekali, lho! Kalau ada apa-apa, kita bisa menelepon ke sekolah atau guru.

4. Beritahukan nomor telepon Anda ke pihak sekolah dan guru anak Anda.
Anda juga perlu memberitahukan nomor telepon Anda ke pihak sekolah dan guru, untuk berjaga-jaga saja. Jangan memberi nomor telepon yang sudah tidak aktif, ya. Dan kalau nomor yang pernah diberikan sudah tidak dipakai lagi, segera beritahukan nomor baru Anda pada pihak sekolah.

5. Terakhir… Banyak berdoa semoga tidak ada kejadian buruk menimpa kita semua dan keluarga. 🙂

Anda pernah mengalami kejadian serupa dan punya tips tambahan? Yuk isi kolom komentar… Terima kasih. 🙂

[Parenting] Seminar Kecerdasan Anak

Hari ini saya mengikuti seminar parenting di sekolah. Menurut saya materinya bagus. Jadi akan saya bagikan rangkumannya di blog ini.

————
Judul Seminar: Pengaruh Pola Asuh Orangtua terhadap Kecerdasan Emosional dan Intelektual Anak

Pembicara: Ibu Ir. Esti Rahayu, CFc, S.Psi, M.Psi., kepala dari Psychological Consultant Corporation (LPT Grahita Indonesia) cabang Palembang. LPT Grahita adalah lembaga khusus psikologi untuk pendampingan anak.

Dalam seminar, ibu Esti mengatakan bahwa tidak semua anak yang malas belajar solusinya adalah diberikan les. Orangtua harus mengetahui penyebab mengapa anak-anak malas belajar.

Untuk anak-anak usia TK, orangtua tidak bisa memaksa anak untuk belajar. Karena sesuai namanya, TK adalah Taman Kanak-kanak. Di usia ini adalah waktunya anak-anak bermain. Hanya saja, jika ia disekolahkan di TK, maka anak-anak diajarkan bermain sambil belajar. Metode belajarnya tentunya yang menyenangkan, misalnya dengan nyanyian, kartu-kartu bergambar, dan lain-lain. Masa bermain untuk anak-anak biasanya sampai ia berusia kelas 2 SD.

Ada 5 aspek yang perlu diketahui untuk melihat tingkat kecerdasan anak:

1. Mengenal Kepribadian Anak.
Anak usia 6 tahun lebih cepat menyerap pelajaran membaca dan berhitung. Ketika usia anak masih di bawah 6 tahun, katup brainnya belum terbuka sehingga ia akan sulit diajarkan calistung. Jadi jangan memaksa anak yang usianya di bawah 6 tahun untuk belajar calistung. Orangtua juga jangan menganggap anaknya bodoh kalau ia belum bisa calistung di usia kurang dari 6.

Selain itu, ada anak-anak yang senang dikasih jempol. Untuk anak-anak, jangan malah memberi telunjuk. Contohnya jika anak mengatakan di sekolah ia mendapat nilai nol. Orangtua seharusnya menghargai kejujuran si anak, bukan malah menunjuk si anak dan mengatakan ia bodoh. Berikan pujian lalu berikan semangat agar untuk berikutnya ia bisa mendapat nilai yang lebih baik.

Pribadi seorang anak biasanya mengikuti kepribadian mamanya. 80% karakter mama turun ke anak selama usia anak sampai dengan kelas 3 SD. Setelah itu, akan banyak faktor yang mempengaruhi kepribadian anak.

Anak usia di bawah kelas 3 SD sebaiknya diajarkan sendiri oleh orangtuanya. Tidak perlu diberi les. Anak lebih cepat mengerti jika diajarkan oleh orangtuanya.

2. Orangtua harus mengetahui IQ anaknya.
Orangtua perlu mengetahui berapa IQ anak, normal atau tidaknya anak, sehingga orangtua bisa menentukan mekanisme belajar anak. Yang perlu diketahui, jika anak memiliki IQ normal tapi belum bisa calistung, itu tidak apa-apa. Karena bisa atau tidaknya calistung juga tergantung dari kematangan usia anak. IQ penting diketahui untuk bisa menentukan cara mendidik dan mengajar anak.

Di antara membaca, menulis, dan berhitung, yang paling penting adalah menulis. Kalau anak bisa menulis, ia pasti bisa membaca dan berhitung. Tapi jika anak bisa membaca, belum tentu ia bisa menulis.

Dari nilai IQ, orangtua bisa mengetahui kebutuhan mana yang anak diperlukan anak, apakah belajar ataukah bermain. Jika kebutuhan bermainnya lebih tinggi, biarkan anak lebih sering bermain.

75% anak tidak suka sayuran. Fase anak menolak sayuran biasanya di usia ia masuk TK. Padahal sayuran sangat penting bagi anak. Sayuran berfungsi sebagai pelumas pada otak yang membuat anak mempunyai ingatan yang baik.

Fase-fase perkembangan anak setelah kelas 2 SD:
– kelas 3 SD: fase bermain mulai menurun. Pada usia ini sudah boleh memberikan les pada anak.
– kelas 5 SD: fase membangkang. Jika pada usia ini orangtua sering memarahi anak, maka anak akan semakin tidak menurut. Lakukan pendekatan pada anak agar ia bisa menjadi anak yang baik.
– kelas 6 SD: fase puber (heteroseksual pertama). Pada fase ini anak hanya mempunyai rasa suka terhadap lawan jenis, tapi ia tidak mempunyai rasa ingin memiliki.
– kelas 1 dan 2 SMP: fase norak. Anak mulai suka merapikan kuku, memberi warna, suka memakai wangi-wangian.
– kelas 3 SMP: fase bakat. Di usia inilah anak mulai menemukan bakatnya. Orangtua harus jeli melihat apa yang disukai anaknya, lalu arahkan ia agar bisa mengembangkan bakatnya.
– kelas 1 dan 2 SMA: fase heteroseksual kedua. Anak tidak hanya mempunyai rasa suka, tapi juga punya rasa ingin memiliki terhadap lawan jenis. Ia mulai suka dipegang, bergandengan tangan, dekat-dekat dengan lawan jenis. Dan mulai ‘mencoba’. Ada juga yang mulai mencari tahu dan menonton film porno. Di sinilah pentingnya sex education untuk anak. Orangtua pun harus berperan mengarahkan anak di usia ini.
– kelas 3 SMA: fase fakultatif. Pada fase ini anak mulai menentukan pilihan mau masuk ke universitas mana, atau apakah mau bekerja, atau mau menikah.

Pemantauan psikologi perlu dilakukan setiap tahun.

Anak yang bermasalah tidak harus dihukum dengan pukulan atau emosi. Pembentukan pertama yang paling penting bagi anak kecil adalah cerdas emosional.
Untuk anak TK dan SD tidak perlu dicerdaskan IQ nya. Ortu berperan penting dalam kecerdasaan emosional anak, bukan guru, teman, kakek nenek atau lingkungan.

IQ bisa berubah setiap tahun tergantung pola asuh ortu. Semakin perfect ortu memberi materi kepada anak maka semakin turun IQnya. Tapi jika anak semakin enjoy belajar, tidak ada paksaan, maka IQnya semakin tinggi.

Jangan karena anak mempunyai IQ tinggi, sudah bisa membaca, menulis, dan berhitung maka mendaftarkannya ke SD padahal usianya belum cukup. Anak masuk SD harus cukup umur, 6 atau 7 tahun. Jika kurang dari 6 tahun, jangan dimasukkan ke SD karena perkembangan psikologisnya belum matang.

Ibu Esti mencontohkan anaknya sendiri. Dulu ketika anaknya berumur 5 tahun 6 bulan, anaknya sudah bisa calistung sehingga langsung didaftarkan di SD. Dari kelas 1 sampai kelas 6 semester pertama, nilai si anak bagus. Tapi begitu masuk ke semester 2, nilainya anjlok. Bahkan anak sempat mogok sekolah. Ini semua karena psikologisnya belum matang.

Lalu ibu Esti membandingkan dengan anak keduanya. Anak kedua didaftarkan di SD pada usia 7 tahun. Ternyata perkembangan akademiknya bagus sampai sekarang. Ia tidak perlu dipaksa-paksa untuk belajar. Ia juga mempunyai motivasi yang tinggi untuk belajar.

3. Motivasi Belajar.
Menumbuhkan motivasi belajar itu mudah, yaitu jangan bilang “jangan”, karena itu membunuh motivasi mereka. Bagaimana anak bisa pintar kalau semua tidak boleh? Jika menyangkut kebutuhan sehari-hari, misalnya membereskan mainan, membereskan piring sehabis makan, membantu orangtua mencuci piring, biarkan anak melakukannya, jangan dicegah yang penting diarahkan.

Motorik anak perlu dikembangkan. Motorik kasar perlu dilatih misalnya dengan cara belajar menulis. Jangan mencegah anak jika ia mau membawa tas sekolahnya sendiri. Apapun yang mau dilakukan anak, dibolehkan saja karena dia belajar dari melihat dan mendengarkan maka ia ingin juga melakukan yang dilihatnya itu. Orangtua hanya perlu mengarahkan, mana yang baik dan mana yang tidak baik.

Anak desa biasanya mempunyai orangtua yang permisif sehingga motorik kasar dan halusnya baik. Orangtua di desa seringkali memberi tugas kepada anaknya, misalnya mengambil rumput, mengisi air di bak penampungan, mencuci piring, dan lain sebagainya. Karena sering diberi tugas oleh ortunya, maka anak tumbuh dengan baik. Ia tidak mudah lelah. Biasanya tulisannya bagus.

4. Pola Kebiasaan
Kebanyakan orangtua mengajak anak belajar di malam hari karena pekerjaan orangtua sudah selesai di malam hari. Kalau bisa anak TK dan SD jangan diajak belajar di malam hari. Malam hari adalah waktu efektif untuk anak tidur. Mereka harus tidur minimal 9 jam di malam hari. Kalau tidak mau tidur siang tidak apa-apa. Anak yang kurang tidur konsentrasinya kurang. Untuk mengetahui anak mempunyai konsentrasi yang baik atau tidak bisa dilihat kedipan matanya, yang baik 1 menit 1 kali kedipan. Jika 1 menit ada lebih dari 1x kedipan maka konsentrasinya tidak baik. Waktu tidur orang dewasa adalah 7 jam. Kalau kurang tidur bisa menyebabkan emosian.

Anak usia 4, 5, dan 6 tahun tidak boleh diberi baby walker. Pemberian baby walker menyebabkan proses merangkak dan merambat jadi terlewati, sehingga akhirnya konsentrasi anak menjadi kurang.

Ketika anak kecil mau belajar, kapan pun waktunya, ijinkan ia belajar. Untuk anak usia TK, tidak perlu ditargetkan waktu belajarnya, misalnya 1 jam atau 2 jam. Belajar selama 10 menit pun tidak apa-apa. Ajarkan anak memegang gunting yang besar dan memegang pisau untuk melatih motoriknya.

Anak usia SD tidurnya harus dipisah dari ortunya supaya melatih kemandiriannya. Ia perlu dilatih untuk mematangkan fase heteroseksualnya. Ini juga untuk pembentukan pola kebiasaan. Jika anak terus dibiarkan tidur bersama orangtua sampai ia duduk di SD, maka masa pubernya bisa lebih datang lebih cepat. Ada kasus anak mendapat haid di kelas 2 SD. Hal ini tidak baik karena nantinya ia akan cepat mengalami menopause juga. Anak yang puber sebelum waktunya akan mempersulit orangtua untuk mengajarkan apa arti pubertas karena usianya belum matang.

Mengajak anak yang usianya di bawah kelas 3 SD untuk belajar sebaiknya jangan di malam hari. Nanti kalau anak sudah kelas 3, 4, 5, dan 6 dia bisa menentukan sendiri pola belajarnya. Anak TK sebetulnya tidak boleh ada PR. Anak TK jangan dibebani dengan PR. Memaksa anak TK belajar bisa membuatnya jadi takut untuk belajar.

Jangan memberi sugesti pada anak dengan mengatakan: “Kalau tidak belajar nanti papa marah!” atau “Kalau tidak menurut nanti dimarah papa!” Hal ini bisa membuat anak menjadi takut kepada papanya dan menganggap papanya jahat.

5. Gaya Belajar
Tiap anak gaya belajarnya beda, ada yang memakai imajinasi, ada yang memakai panca indera (belajar pakai musik). 1 panca indera hanya bisa dipakai untuk 1 konsentrasi. Misalnya, mata belajar sambil mulutnya makan itu bisa, mata belajar sambil telinganya mendengarkan musik juga bisa, tapi mata belajar sambil matanya melihat televisi itu tidak bisa (konsentrasinya pecah). Jadi kalau anak belajar sambil menonton TV itu tidak boleh karena merusak konsentrasi. Anak TK tidak baik diberi gadget dan TV, karena tidak baik untuk mata.

Main bola dan sepeda baik untuk anak. Main sepeda fungsinya untuk melatih insting anak. Untuk anak berumur 2 tahun, berikan sepeda roda 3. Untuk anak berumur 3 tahun, berikan sepeda roda 4. Untuk anak umur 4 tahun, berikan sepeda roda 2. Bermain sepeda juga bisa melatih logika anak. Misalnya, jika nanti anak diberi soal: sebutkan angka puluhan dan satuan dari bilangan 75. Ia akan mudah menjawabnya.

Anak otak kanan rajin menghapal.

Kematangan akademis anak tidak bisa dilihat dr kacamata kita. Hal itu tergantung umur anak dan tergantung kematangan psikologisnya.

Semakin banyak beban yang diberikan pada anak TK maka motivasi belajarnya semakin turun. Yang boleh diberikan pada anak TK adalah les bahasa, misalnya bahasa Inggris atau Mandarin. Bimbel tidak perlu.

Kejiwaan seorang anak bisa dilihat dari gambar. Untuk orang dewasa bisa dilihat dari tanda tangannya.

Untuk masuk SD harus dilihat kesiapan mental anak. Jangan mamanya siap anaknya tidak siap.

Kemampuan dan kemauan anak untuk belajar hanya bisa dilihat dr tes psikologi.

Materi Tambahan:

* proses belajar motorik
Ajak anak membereskan mainannya, membereskan piringnya, atau mencuci baju. Biasanya anak kecil suka diajak dalam kegiatan yang ada airnya.

* anak-anak yang punya masalah bisa dibawa ke psikolog.

Psikolog : ahli jiwa.
Psikiatri: ahli penyakit jiwa.

[Parenting] Anak Belajar dari Mencontoh

Anak-anak belajar dari mencontoh. Kalau yang dicontoh adalah orang-orang yang berperilaku baik, maka si anak akan menjadi anak baik. Sebaliknya, jika yang dicontoh adalah orang-orang berperilaku tidak baik (misalnya suka marah-marah  atau kasar) maka si anak akan menjadi anak yang tidak baik.

Karena itu, sebagai orangtua, kita harus benar-benar menjaga sikap kita di hadapan anak. Orangtua juga perlu mengawasi orang-orang di sekitar anak, seperti pengasuh, kakek, nenek, om, tante, kerabat lainnya, tetangga, teman-teman main si anak, bahkan tontonan televisi.

Sebagai contoh: anak yang suka nonton film yang ada tindak kekerasannya seperti Power Ranger, maka si anak akan mencontoh Power Ranger itu. Kalau yang dicontoh adalah perilaku baiknya sih nggak masalah. Tapi, kebanyakan anak yang menonton film jenis ini malah mencontoh silat-silatnya tokoh dalam film tersebut. Anak akan bertarung dengan teman-temannya yang mengakibatkan ia akan memukul atau menyakiti temannya. Kalau orangtua tidak menjelaskan pada anaknya bahwa silat-silatan itu tidak baik, maka anak akan menjadi anak nakal yang suka berkelahi.

Jadi, sebagai orangtua, bersikaplah yang baik. Berilah contoh sikap dan perilaku yang baik pada anak. Awasi gerak-gerik anak dan orang-orang di sekitarnya. Berikan pengertian terhadap segala sesuatu yang ditontonnya. Kalau perlu, hindari menyediakan tontonan film yang ada tindakan kekerasannya pada anak.

Don’t Say Don’t, Jangan Bilang Jangan

Don’t say don’t…
Jangan bilang jangan…
—> to kids, pada anak-anak khususnya

Why?

I knew this from my kindergarten students. When I told them:
– Kids, don’t run!
– Kids, don’t play on the stairs!
– Kids, don’t make a noisy!
– Kids, don’t waste your food!
– Kids, don’t throw that rubbish there!

Saya mengetahui hal ini dari murid-murid saya di taman kanak-kanak. Ketika saya bilang: Nak, jangan lari, jangan main di tangga, jangan berisik, jangan buang makananmu, dan jangan buang sampah di situ…

What they actually do is listen only the last words:
– run!
– play on the stairs!
– make a noisy!
– waste your food!
– throw that rubbish there!

Apa yang mereka lakukan justru mendengar kata-kata terakhirnya saja: lari, main di tangga, berisik, buang makananmu, dan buang sampah di situ.

Then, what should we do? My friends told me, “We must use positive words.” Base on the examples above, say this:
– Walk slowly!
– Play on the playground!
– Be quiet!
– Finish your food!
– Throw the rubbish into the dustbin!

Jadi, apa yang harus dilakukan? Teman saya berkata, “Kita harus menggunakan kata-kata positif.” Dari contoh di atas, katakan: Jalan pelan-pelan, bermainlah di tempat bermain, diam, habiskan makananmu, dan buanglah sampah di tempat sampah.

I know it’s not easy to find positive words. Sometimes, it’s hard to find the opposite of the words after the words ‘don’t’. I, myself, still learn about this. But, we must try. We can do it to ourselves, too. Because, sometimes, we are the same like kids, only hear the last words. And, what would it be if we only hear the negative words? Our life will be negative, too. So, we must be careful about the words we say. Say positive words! It is very useful for our life. When we say positive words, we think positively, and our life will be positive, too – we live a good life.

Saya tahu tidak mudah untuk mencari kata-kata positif. Kadang, sulit untuk menemukan lawan kata dari kata sesudah kata ‘jangan’. Saya sendiri pun masih belajar. Tapi, kita harus mencobanya. Karena, kadangkala kita juga sama seperti anak-anak, hanya mendengar kata-kata terakhir saja. Dan apa akibatnya jika kita hanya mendengar kata-kata yang negatif? Hidup kita akan menjadi negatif juga. Jadi, kita harus berhati-hati dengan kata-kata yang kita ucapkan. Ucapkan kata-kata yang positif! Ini sangat berguna bagi kehidupan kita. Ketika kita mengatakan hal-hal yang positif, kita berpikir positif, dan hidup kita pun akan positif – hidup kita akan baik.

Semoga bermanfaat! Semoga kita semua bisa berlatih menggunakan kata-kata positif.
Have a nice day! 🙂