#FFKamis – Kacamata

“Ah, ke mana lagi kacamataku itu ya?” gumamku sambil membongkar laci meja kerjaku. Sebelumnya aku sudah mencariya di kamar, ruang tamu, dan ruang makan. Tapi, kacamataku belum juga kutemukan.

Akhir-akhir ini aku memang sering kehilangan kacamataku.

“Papa sedang apa?” tanya anakku yang baru berumur lima tahun saat aku membongkar tasku.

“Cari kacamata, Nak. Kamu lihat, nggak?”

“Kacamata Papa ada di teras. Tadi nenek meminjamnya untuk baca koran,” jawabnya.

“Nenek? Nenek siapa?” tanyaku.

“Nenek yang tinggal di rumah ini, Pa. Dia sering pinjam kacamata Papa untuk baca koran,” jelas anakku.

Mendadak aku merinding. Tidak ada nenek yang tinggal di rumah ini..

Advertisements

Prompt #143 – The Last Dance

Suasana istana pada malam itu sungguh meriah. Ya, King Earnest mengadakan pesta dansa untuk mencari pendamping yang pantas bagi putranya, Prince Walker. Seluruh gadis dari berbagai penjuru negeri diundang untuk hadir ke pesta itu. Mereka berdandan habis-habisan di malam itu agar sang pangeran melirik mereka.

Satu jam berlalu, namun sang pangeran masih berputar-putar ke sana-ke mari tanpa tujuan yang jelas. Berpasang-pasang mata menatap memohon padanya namun ia tak menggubris mereka. Ia hanya berjalan, melihat-lihat, dan tersenyum pada siapa pun yang menatap langsung padanya.

“Apa yang ada di pikirannya? Semua gadis di sini cantik-cantik! Kenapa lama sekali ia memilih?” gerutu Queen Giovanna.

“Sabar, Ratu. Biarkan ia memilih,” ujar King Earnest menenangkan istrinya.

“Apa ada yang ditunggunya? Cinderella?” gerutu Ratu lagi.

“Sudahlah… Biarkan putra kita melihat-lihat dan mengamati dulu,” balas Raja.

“Kenapa dia tidak menuruti saranku saja untuk menikah dengan Princess Yvonne? Dia malah memilih untuk mengadakan pesta dansa seperti ini. Lihat, sekarang ia kebingungan memilih wanita yang akan dijadikannya pendamping! Apa dia tak berpikir sudah berapa umurnya sekarang?”

King Earnest diam saja. Ia mengamati gerak-gerik putra satu-satunya. Kemudian nampak olehnya seorang wanita muda bergaun biru muda mendekati putranya.

Prince Walker menatap wanita bergaun biru muda di hadapannya tak berkedip. “Kau….,” katanya. Suaranya tercekat.

“Lama tak bertemu, Prince Walker,” kata wanita itu. “Mari berdansa denganku.”

Sang pangeran seperti terkena sihir mengikuti perkataan wanita itu. Mereka berdansa di tengah-tengah ruang pesta diiringi lagu Liebestraum – Love Dreamnya Franz Liszt.

“Cinderellaku, bagaimana mungkin kau tak bertambah tua?” bisik Prince Walker.

“Maaf, aku bukan Cinderella. Aku Thalia. Putri dari Cinderella, kekasihmu yang kau tinggalkan 20 tahun lalu… Ayah.”

Prince Walker melepaskan genggaman tangan wanita itu. Seketika, penyakit jantungnya kumat.

sumber gambar: mondayflashfiction.com

#FFKamis – Nomor Tak Dikenal

Sudah tiga malam, ponselku mendapat panggilan dari nomor tak dikenal. Setiap kali aku ingin menekan tombol jawab, panggilan terputus, seolah-olah tahu kalau aku akan menjawabnya. ‘Mungkin ulah orang iseng!’ pikirku.

Hari ini, nomor yang sama menghubungiku lagi. Seperti biasa, belum sempat kujawab, panggilan diputuskan. Karena kesal kugunakan aplikasi yang bisa mengetahui dari daerah mana nomor tersebut. Aku menekan tombol panggilan untuk menelepon nomor tersebut. Tertera sebuah lokasi di layar. Solo.

Sebuah suara yang tak asing menjawab panggilanku, “Hai… Kuharap kau segera menyusulku…”

Mendadak aku teringat dengan mantanku yang bunuh diri di kontrakannya di Solo karena kuputuskan dua bulan yang lalu.

Prompt #142 – Menggambar Teman Baik

“Oke anak-anak, tugas kalian di rumah adalah menggambar teman baik kalian. Jangan lupa gambarnya diwarnai pakai pensil warna, ya,” kata Bu Wani mengakhiri pelajaran hari itu di kelas 2 SD Karang Sari.

“Baik, Bu,” sahut murid-muridnya.

Tak lama kemudian bel sekolah berbunyi. Semua siswa membereskan buku dan alat tulis mereka. Setelah berdoa dan berjabat tangan dengan guru mereka pulang.

“Kamu mau gambar siapa, Shin?” tanya Dian pada Shinta.

“Tentu saja gambar kamu,” jawab Shinta.

“Asyik! Buat gambar yang bagus, ya. Trus pakaikan aku baju warna pink!” sorak Dian.

“Oke! Asalkan kamu juga bikin gambarku,” pinta Shinta.

“Eh, Melia… Kamu mau gambar siapa?” tanya Dian pada Melia yang berjalan di belakang mereka.

“Hmmm… .Mungkin aku akan menggambar Bella,” jawab Melia singkat.

“Bella? Siapa itu?” tanya Dian lagi.

“Teman baikku,” jawab Melia.

* * *

Sore hari, Melia mengeluarkan semua peralatan menggambarnya. Buku gambar, pensil, penghapus, dan pensil warna diletakkannya di atas meja belajarnya. Lalu ia mulai menggambar, diawali dari kepala, kemudian badan, lalu tangan dan kaki. Gambarnya sederhana, khas anak-anak.

Kira-kira setengah jam kemudian ibu Melia masuk ke kamar putrinya. Ia mengintip dari bahu putrinya, ingin tahu apa yang dikerjakan anak satu-satunya itu.

“Adek lagi gambar apa?” tanya ibu Melia.

 

“Bikin gambar si Bella, Ma,” jawab Melia.

“Bella? Itu tugas dari sekolah?” tanya ibunya lagi sambil terus memperhatikan Melia yang sedang asyik mewarnai gambarnya.

“Iya, Ma. Tadi Bu Wani menyuruh menggambar teman baik. Ini gambar teman baik Adek,” jelas Melia

“Oh, tapi warnanya kok cuma abu-abu dan hitam? Adek nggak kasih warna merah atau kuning? Kalau warnanya cerah kan lebih bagus. Trus kulit manusia itu warna coklat muda, Dek. Bagaimana kalau gambarnya dibuat lagi saja?” saran ibu Melia

“Tapi ini sudah benar, Ma. Bella warnanya abu-abu dan rambutnya hitam. Dia nggak pernah pakai warna lain!” protes Melia.

“Ehm! Begitu ya… Bella itu teman sekelas Adek?” tanya ibu Melia, bingung.

“Nggak. Bella itu teman baik Adek. Itu dia lagi duduk di ranjang,” jawab Melia sambil menunjuk ke ranjangnya yang cuma ada bantal dan guling saja di atasnya.

Prompt #140 – Hitam Putih

Duniaku adalah dunia hitam-putih. Duniaku tanpa warna merah, kuning, atau biru. Namun aku suka. Bagiku hitam dan putih sudah cukup berwarna.

Namun suatu ketika kau tiba dan mengetuk pintu hatiku. Aku tak ingin membukakannya untukmu. Karena aku tak ingin lagi disakiti. Tapi apa daya aku terjerumus dalam pesonamu.

Kaupun mulai mengenalkan bermacam-macam warna padaku. Merah, untuk senyuman yang menghiasi bibirku saat kau memuji diriku. Kuning, untuk waktu yang kauluangkan untukku. Hijau, untuk semua percakapan dan obrolan kita. Juga biru, untuk saat-saat di mana aku merindukanmu.

Lagu-lagu yang kumainkan pun mulai bervariasi. Aku tak hanya memainkan lagu bernada sendu semacam Jardin Secret, tetapi mulai memainkan yang ceria seperti lagu Souvenirs D’Enfance, La Musique de L’amour, Ballade pour Adeline, sampai Music Box Dancer. Semua lagu yang kumainkan, kumainkan hanya untukmu. Semua lagu yang kunyanyikan, kunyanyikan hanya untukmu.

Aku begitu bahagia hingga merasa dunia ini penuh bunga. Bunga… Yang kuharap dikirimkan olehmu hanya untukku. Namun harapan tinggal harapan. Rupanya… Aku menyalah-artikan perhatianmu padaku. Kukira kau suka padaku. Kukira kau jatuh cinta padaku.
Suatu ketika kulihat kau dan seorang wanita duduk berdua, saling menatap dengan mesra. Kalian bergandeng tangan. Berfoto bersama. Dan kemudian kau pergi bersamanya. Meninggalkanku. Sendiri.

Tiada lagi canda-tawa. Pun senyum semringah yang terukir di wajahmu saat kulantunkan sebuah lagu untukmu. Tak mengapa. Kuharap kau bahagia dengan dirinya.

Warna-warni yang menghiasi hari-hariku mulai memudar. Dan aku kembali ke dunia hitam-putihku. Hitam-putih dan Jardin Secret. Hitam-putih dan Triste Coeur. Hanya hitam dan putih. Tapi itu cukup. Aku berterima kasih sekaligus bersyukur akan berbagai warna yang pernah menghiasi hidupku.

Hitam-putih warnaku… Tape recorder yang kau beli dari kios tua di pinggir kota.

#FFKamis – Keberhasilan

“Ayo! Giring bolanya!”

“Yak! Yak! Gooooo…..”

“Ah! Sial! Bolanya ditangkap kiper!”

Kiper menendang bola yang baru saja ditangkapnya. Bola melambung tinggi lalu disundul oleh pemain tengah. Bola pun kembali melambung. Sebelum bola ditangkap penyerang, seorang lawan berhasil mengambil bola tersebut. Ia pun menggiring bola dengan gesit menuju gawang.

Suara penonton yang berdiri saling berdesakan kembali bergemuruh. 

“Ya, sedikit lagi! Ayo, terus!” Aku ikut berteriak.

Sahabatku melirikku, tersenyum.

“Kamu pasti bisa!” seruku lagi sambil membalas tatapan sahabatku.

Dan…. Goool!!

“Horee!! Kita berhasil!” teriakku sambil mengangkat tangan untuk melakukan toss dengan sahabatku. Sementara itu sebelah tangannya melambai-lambaikan dompet yang baru saja dicopetnya.

Prompt #139 – Boleh Kupinjam Lelakimu

Boleh kupinjam lelakimu? Hanya hangat lidahnya. Tak lebih.

Lelakimu baik. Tutur katanya halus. Ia tak pernah marah. Juga tak pernah berkata kasar. Itu yang membuatku betah berlama-lama dengannya. Tanpa sepengetahuanmu tentunya. Seperti yang kulakukan hari ini…. Untuk yang keberapa kalinya.

“Bisa ketemu hari ini?” ketikku di ponsel. Lalu kukirim ke nomor lelakimu.

Tak lama kemudian ia membalas. “Datanglah sore nanti, jam seperti biasa. Jangan telat.”

“Oke,” balasku.

Di jam yang telah ditentukan, kami bertemu. Lelakimu mempersilakan aku duduk di sofa yang empuk, seempuk kata-kata yang keluar dari bibirnya.

“Bagaimana keadaanmu? Sudah merasa lebih baik?” tanyanya. Dengar itu! Perhatiannya itu… Wanita mana yang tak meleleh jika ditanya dengan pertanyaan itu?

Aku membalasnya dengan anggukan.

“Baiklah…. Itu bagus! Ada perkembangan lainnya? Sudah tidak kesulitan tidur lagi, kan?” tanyanya. Lagi-lagi… Ia memberikan perhatian.

“Iya… Sudah enakan sekarang. Aku merasa lebih baik dan sedikit lebih bersemangat,” jawabku. Tentu saja aku bersemangat jika bisa bertemu dengan lelakimu ini.

Kemudian pria di hadapanku ini menanyakan hal-hal lainnya. Kami mengobrol beberapa saat sampai tiba waktunya kami berpisah. Sebelum berpisah dengannya, aku meraih tangannya yang lembut untuk berjabat tangan. Kulirik sekilas ke meja kerjanya. Di sana terpampang wajahmu dan lelakimu, tertawa ceria di hari pernikahan kalian. Entah siapa kamu, aku akan terus meminjam lelakimu.

“Jangan lupa makan obatnya. Jangan terlalu banyak berpikir dan istirahatlah yang cukup, ya,” pinta lelakimu.

“Baik, dokter,” jawabku.

Kemudian seorang suster membukakan pintu untukku.