Janji yang Harus Ditepati

Pagi itu cuacanya cerah. Matahari memancarkan sinarnya yang hangat. Burung-burung berkicau riang di atas pohon depan rumahku. Di taman, beberapa kupu-kupu saling berkejaran. Kulihat beberapa kuntum bunga aster merah telah mekar. Sungguh cantik!

Kupetik setangkai aster. Kubersihkan tangkainya yang sedikit berdebu. Setelah itu kuperciki dengan sedikit air supaya bunga itu terlihat segar. Lalu aku membawanya ke dalam rumah.

Aku menuju kamar dekat tangga di lantai dua. Kuketuk pintunya. Perlahan. Tak ada jawaban. Sekali lagi kuketuk pintu. Agak keras.

“Siapa?” tanya seseorang dari dalam kamar.

“Ini… Aku…,” jawabku. Namun sebelum kuselesaikan kalimatku, ia menghardikku.

“Mau apa pagi-pagi begini? Pergi!” serunya.

Aku terdiam beberapa saat. Yah, beginilah nasibku setiap kali aku ingin masuk ke dalam. Boleh dikatakan aku sudah terbiasa dihardik dan diusir. Setelah ia memaki-makiku, aku akan membuka pintu kamar yang memang tak pernah dikunci itu. Lalu aku cepat-cepat meletakkan aster merah di vas bunga yang ada di atas meja rias dalam kamar.

Sekilas kulihat laptop di meja dekat tempat tidur menyala. Layarnya menampilkan slide foto-foto seorang laki-laki, dari kecil hingga dewasa dan berumur.

Ah… Lagi-lagi foto itu dipandanginya. Tak bosan-bosannya…,’ kataku dalam hati.

“Keluar! Keluar! Siapa yang menyuruhmu masuk?” teriak wanita paruh baya dari dalam kamar. Ia sedang duduk di atas ranjang. “Pergi!” serunya lagi.

Tiba-tiba dari arah tangga terdengar suara langkah kaki yang tergopoh-gopoh naik.

“Ada apa lagi? Kenapa ribut-ribut, Bu?” tanya seseorang yang baru masuk ke kamar. Ibuku.

“Singkirkan anakmu itu! Singkirkan dia! Aku tak ingin melihatnya!”

“Memangnya apa lagi yang dilakukan Jason, Bu?” tanya ibuku, sementara aku diam saja, menunduk dan menatap lantai.

“Aku benci dia! Tingkahnya selalu mengingatkanku pada mendiang ayahmu! Kenapa dia bisa mengikuti semua kebiasaan ayahmu? Bocah empat tahun ini… Dia meletakkan cangkir minumanku di meja rias setiap malam. Dia merapikan selimutku, membereskan sandal kamarku, dan pada pagi hari meletakkan aster merah di vas bunga itu. Lagu-lagu yang ia senandungkan… Kau dengar? Itu lagu kesukaan ayahmu!”

Aku meneteskan air mata mendengar teriakan nenekku. Aku sudah tak tahan lagi.

“Tapi orang yang di foto itu memang aku!” seruku sambil menunjuk layar laptop yang sedari tadi menampilkan slide foto tanpa henti.

“Itu aku. Kenapa kalian tak percaya? Aku dilahirkan kembali ke rumah ini karena aku ingin menepati janjiku,” kataku.

“Janji… Janji a-pa?” tanya nenekku terbata-bata.

“Bukankah aku pernah berjanji akan selalu melindungi keluarga ini? Karena itulah aku dilahirkan kembali di keluarga ini.”

Kedua wanita di dalam kamar terdiam.

“Juga karena ingin memenjarakan ayah yang selingkuh dengan wanita lain. Bukankah perselingkuhan ayah yang menyebabkan aku yang dulu meninggal karena mendadak kena serangan jantung?” lanjutku.

Seketika ibuku pingsan.

* * *

420 kata. Fiksi di atas berdasarkan video dari lagu Photograph – Ed Sheeran dan diikutkan untuk meramaikan #PestaFiksi06-nya Mbak Carolia Ratri. Link lomba bisa dilihat di sini.

Advertisements

Penunggu Perempatan Jalan

Tiga sekawan, Yoga, Diki, dan Andre berencana pergi berkemah di akhir minggu. Menurut paman Diki, daerah yang akan mereka lalui di perjalanan nanti adalah daerah angker. Ia berpesan untuk membunyikan klakson saat lewat di sebuah perempatan jalan sebagai tanda permisi pada buyut penunggu jalan.

“Bunyikan klakson, Bro! Di depan itu perempatan jalan itu, kan??” seru Diki saat mereka hampir melewati perempatan jalan angker. Saat itu jam menunjukkan pukul 11 malam.

Tiba di perempatan jalan yang dimaksud, Yoga malah asyik bercerita.

“Klaksonnya! Bunyikan!! seru Diki.

“Ups! Sudah lewat, bro! Tapi nggak masalah, kan?” jawab Yoga.

Setelah mengatakan hal itu, tiba-tiba mobil mereka mati mesin. Yoga berusaha menghidupkan mesin tapi mesin tak mau menyala. Ketiga sekawan itu menjadi panik. Apalagi kemudian tercium wangi melati.

“Kalian cium wangi itu?” tanya Andre.

“Hush! Jangan bilang apa-apa! Nanti kita bisa diikuti!” seru Diki.

Di saat itu tiba-tiba kaca mobil mereka diketuk seseorang.

“Nak, boleh ibu menumpang sampai sana?” tanya seorang ibu tua berpakaian lusuh.

“Si-siapa ibu itu, bro? Kok tengah-tengah malam ada di pinggir jalan?” kata Andre.

“Biarin aja Bro, cepat nyalakan mobilnya!!” perintah Diki.

Ibu tua itu mengetuk kaca jendela mobil lagi. Untunglah saat itu mesin menyala. Yoga segera tancap gas. Dari kejauhan, mereka melihat ibu tua itu tidak menapakkan kakinya di aspal. Setelah beberapa saat, ia menghilang.

* * *

Fiksi ini diikutkan dalam Kuis #Traveloween oleh Bentang Pustaka.

Harapan Terakhir

Vanessa:
Mungkin seharusnya dulu aku tidak mengakhiri hubunganku dengan Yoshua. Buktinya, sampai sekarang aku masih mengingat segala hal tentang dirinya. Aku bahkan belum bisa membuka hatiku untuk pria lain. Mungkin salahku juga telah mengambil keputusan terlalu cepat untuk mengakhiri hubungan jarak jauh kami.

Masih kuingat ketika dia memohon agar aku mengubah keputusanku.

“Apa kau yakin akan mengakhiri hubungan kita?” tanyanya waktu itu.

“Ya. Keputusanku sudah bulat. Aku tak bisa menjalani hubungan seperti ini lebih lama lagi,” jawabku.

“Kumohon pikirkanlah lagi. Tak bisakah kau menunggu untuk beberapa waktu lagi?”

“Sampai kapan? Aku capek, Yosh!”

“Sabarlah, Van. Kuharap dua bulan lagi aku bisa mendapat surat pindah ke kotamu.”

“Itu sudah kau katakan sejak satu tahun yang lalu. Tapi mana realisasinya? Kau selalu menyuruhku menunggu, bersabar, lihat bulan depan….”

“Maafkan aku, Van. Kumohon… Ini yang terakhir. Tunggulah dua bulan lagi…”

“Maafkan aku juga, Yosh. Aku tidak bisa.”

“Tapi… Kita masih bisa bertemu, kan? Kita masih bisa saling menelepon dan mengirim pesan, kan?”

“Itu maumu. Aku? Tidak. Kita akhiri semua sampai di sini. Maaf.”

Dan, akupun meninggalkannya sendiri di tepi pantai tempat kami pertama kali bertemu. Saat aku berjalan menjauhinya, Yoshua meneriakkan sebuah kalimat padaku.

“Kuharap kita masih berjodoh, Van! Mari bertemu lagi setiap tahunnya di pantai ini!”

Itulah sebabnya aku kembali ke pulau tempat aku bertemu dengan dirinya, di tanggal yang sama saat kami berpisah. Karena kalimat itu… Setelah dua tahun aku mengabaikannya. Dan karena aku berharap kami masih berjodoh. Tapi… Apa yang kudapat? Aku sama sekali tak bertemu dengannya! Nomor ponselnya pun sudah tak aktif lagi.

“Dokter Yoshua sudah tidak praktek lagi di sini sejak satu tahun yang lalu,” kata seorang suster saat aku mengunjungi tempat prakteknya sesudah aku mencarinya di pantai. Padahal aku sudah menanggalkan semua gengsiku demi untuk bertemu dengannya. Awalnya, aku sempat ragu untuk menemuinya. Memangnya siapa aku? Setelah dua tahun meninggalkannya tiba-tiba datang hanya untuk berkata ‘Hai!’. Rasa rindu yang membuncah inilah yang berhasil membuatku melepaskan topeng rasa maluku untuk bertemu dengannya. Aku benar-benar ingin tahu bagaimana kabarnya. Aku ingin tahu apakah dia sudah dapat pengganti diriku walaupun itu akan menyakiti diriku. Aku ingin tahu apakah dia bahagia atau tidak. Aaahh, pokoknya aku ingin tahu segalanya tentang dia setelah dua tahun tak pernah saling menghubungi.

“Huffttt…,” aku menghela napas panjang. Kulihat orang-orang yang berdiri di dek kapal, ada yang merokok, ada yang berfoto, ada yang mengobrol, ada yang duduk-duduk, dan ada yang membaca koran. Tak ada wajah yang kukenal di kapal ini. Kualihkan pandanganku ke sisi lain. Sejauh mata memandang, hanya hamparan ombak yang ada di sekelilingku.

Aku menghela napas lagi. “Selamat tinggal, Yoshua. Mungkin kita memang tak berjodoh. Mungkin ini saatnya aku melupakanmu,” bisikku pada ombak yang menerjang badan kapal. Ya, aku akan melupakanmu bersama kenangan kita di pulau itu.

Yoshua:
Ombak menari-nari di sekitarku. Birunya laut seharusnya menentramkan hatiku. Tapi ia tak mampu menghapus kegalauanku. Langit yang cerah dan camar-camar yang berkicau ceria seharusnya dapat menghiburku. Tapi mereka juga tak bisa mengobati rasa sedihku.

Aku melihat para penumpang kapal yang memenuhi dek kapal. Mereka sibuk dengan kegiatan masing-masing. Ah, seandainya saja wanita yang kucinta itu masih bersamaku saat ini… Pastilah kami akan memandangi laut dari puncak kapal sambil membentangkan tangan seperti yang dilakukan oleh Leonardo DiCaprio dan Kate Winslet dalam film Titanic.

Kutepis semua khayalan dalam kepalaku. ‘Gila, Yosh! Kau benar-benar gila! Selama dua tahun ini kau masih juga tak dapat melupakan dirinya!’ kataku dalam hati. Sungguh aku tak dapat melupakannya. Kenangan akan Vanessa terlalu indah untuk bisa dilupakan begitu saja.

“Untuk apa kembali ke sana? Bukankah tahun lalu ia tak datang?” tanya Rio, sahabatku saat aku mengatakan akan kembali ke pulau ini.

“Aku pernah mengatakan padanya untuk bertemu di sana setiap tahunnya,” jawabku.

“Dia tak akan datang, Yosh! Dia sudah melupakanmu. Ingat, tahun lalu saja dia tak datang. Bagaimana mungkin kau mengharapkannya ada di sana tahun ini?”

“Namanya juga usaha. Kalau tahun ini dia tak ada lagi di sana, aku akan melupakannya.”

Akhirnya aku pergi ke pulau itu, ke pantai tempat kami pertama kali bertemu sekaligus juga tempat kami berpisah. Dan Rio benar. Vanessa tak ada di sana. Penantianku sia-sia. Begitu juga dengan kepindahanku ke kotanya. Susah-payah aku mendapatkan surat tugas pindah praktek ke kotanya. Namun usahaku untuk kembali bersamanya tak ada hasilnya.

Saat aku tiba di kota tempat Vanessa tinggal, seseorang mencuri ponselku. Aku tak bisa menghubungi siapa-siapa. Semua nomor ponsel orang-orang terdekatku hilang. Aku mengutuk diriku sendiri saat itu, menyesal karena tak menuliskan nomor-nomor ponsel orang-orang penting di buku telepon, termasuk nomor ponsel Vanessa. Padahal saat itu aku ingin memberi kejutan padanya. Tapi, ternyata aku yang mendapatkan kejutan. Berdasarkan informasi dari teman-temannya, Vanessa rupanya pindah ke kota lain. Aku tak bisa menghubunginya, sejak saat kami berpisah sampai saat aku sudah berada di kotanya. Sepertinya ia memblokir namaku dari akun media sosialnya dan juga dari hidupnya. Aku tahu ia pasti tak mengharapkan aku lagi. Tapi tetap saja aku berharap ia masih memikirkanku.

Apapun perlakuan Vanessa terhadapku, aku tetap tak bisa melupakannya begitu saja. Aku berharap kami masih bisa bertemu. Aku berharap kami masih berjodoh. Tapi… Mungkin tidak setelah hari ini, setelah aku tak menemukan dirinya lagi di pantai itu. Mungkin ini saatnya aku melupakannya. Mungkin ini saatnya aku membuka hatiku untuk wanita yang lain.

* * *

“Tolong! Tolong! Istriku pingsan! Apa ada dokter di sini? Tolonglah istriku!” teriak seorang bapak dari pinggir dek kapal.

Seorang wanita bertopi tergopoh-gopoh mendekati bapak yang meminta tolong. “Saya bukan dokter. Tapi, saya akan coba bantu. Ini ada minyak kayu putih. Saya akan mengoleskannya ke leher dan dahi istri Bapak.”

“Saya dokter. Ijinkan saya memeriksa istri Anda,” kata seseorang memecah kerumunan orang yang mengelilingi si ibu yang pingsan.

Dokter itu memegang pergelangan tangan si ibu. Setelah mengatakan sesuatu pada suaminya, matanya tertuju pada wanita bertopi yang sedang mengolesi dahi si ibu dengan minyak kayu putih.

“Vanessa?” tanya dokter itu, ragu.

Wanita itu mendongakkan kepalanya. “Yoshua??”

 

* * * Selesai * * *

Fiksi ini diikutkan dalam tantangan #KaramDalamKata oleh @KampusFiksi

Rampok

“Aaaagghh!! Jangan! Ampun!!”

“Diam! Kubilang diam!”

“Hey, kalian! Cepat ambil semua yang ada dalam brankas!”

“Mama! Mama!”

“Jangan ganggu anakku! Ambil saja semua yang kalian mau! Tapi jangan ganggu anakku!”

“Diam! Kubilang diam!”

“Bos, semua sudah dinaikkan ke mobil!”

“Baik! Kalian tunggu dalam mobil! Ada kenang-kenangan yang ingin kuberikan pada bocah itu!”

“Huaaaa…. Mamaaaa!!

* * *

Dua minggu sebelum kejadian:

“Aku benci wanita itu! Kata-katanya bagaikan sengatan lebah!”

“Sama, aku juga benci dia! Apa dia tidak berpikir lagi sebelum bicara, ya?”

“Mana mungkin dia berpikir lagi! Dia itu tidak peduli orang yang diomelinya bakal sakit hati atau nggak!”

“Benar juga. Dasar tak punya perasaan!”

“Hey… Kalau kalian benci pada nyonya kalian itu, kenapa tidak beri dia pelajaran saja?”

“Pelajaran? Pelajaran bagaimana bos?”

“Begini …… ”

* * *

Dua jam sebelum kejadian:

“Permisi… Apakah di sini menjual baterai ponsel?”

“Oh, ya. Ada, Pak. Silakan duduk dulu. Di sini ada bermacam-macam merk baterai. Ponsel Bapak merk apa? Bisa saya lihat?”

“Yang seperti ini.”

“Oke, akan saya ambilkan baterainya. Tunggu sebentar, Pak.”

“Heh! Kerja yang benar! Masa tamu ditinggalkan begitu saja!!”

“Maaf nyonya, stok baterainya ada di gudang.”

“Cepat ambil sana!! Jangan lama-lama kayak keong!”

“Iya, nyonya…”

“Angkat tanganmu kalau tak mau celaka!!”

“Eh, apa-apaan ini?? Mau merampok? Berani benar!!”

“Diam! Ini pistol betulan! Cepat angkat tangan dan masuk ke dalam!”

“Anto! Jay! Jangan diam saja! Cepat panggil polisi!!”

“Hahahaha! Panggil polisi? Coba saja kalau berani! Peluru pistol ini akan segera bersarang di kepalamu! Anto! Jay! Tutup pintu toko dan lakukan sesuai rencana!!”

“Oke bos!!”

“Anto! Jay! Ka-kalian…”

* * *

Dua hari sesudah kejadian:

“Telah terjadi perampokan di Toko Ponsel Maju Bersama, Jalan Pelikan Nomor 54 pada tanggal 15 Desember 2014 sekitar pukul 3 sore. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini, hanya saja anak korban berinisial Bn (12) menjadi korban perkosaan. Pelaku yang berjumlah tiga orang menggasak uang tunai dan emas yang disimpan korban dalam brankas. Total nilai barang yang dirampok mencapai 250 juta. NyonyaWn (45), pemilik toko, mengatakan bahwa pelaku menyamar sebagai pembeli. Kemudian pelaku yang menyamar tersebut menodongkan pistol ke arahnya dan menyekapnya bersama seorang pembantu di gudang toko. Dua orang karyawan toko berinisial An (28) dan Ja (25) ikut bersekongkol dengan pelaku utama yang sampai saat ini belum diketahui identitasnya. Ketiga orang pelaku perampokan tersebut kini masih dalam pengejaran polisi.”

 

———-

Fiksi ini diikutkan dalam tantangan #KabarDariJauh oleh @KampusFiksi.

Sahabat

tidak sempurna (Sumber: http://jiaeffendie.wordpress.com/)

“Jangan dekati Selvie kalau kau tak mau mati!” ujar Roy. Ia menggebrak mejaku. Aku tak bergeming. Hanya menoleh ke arahnya. Sekilas. Lalu kembali melanjutkan aktivitasku, membaca buku Fisikaku.

“Hey, kau dengar tidak?” bentaknya lagi.

Aku diam.

“Rupanya kau sudah tuli, ya??” Ia mulai kesal. Darahnya mulai mendidih. “Selvie itu milikku. Aku yang pertama kali melihatnya!”

Aku berdiri. Lalu menatapnya dengan tatapan mata elangku.

“Apa? Kau lihat apa? Jangan sombong, Dick!” serunya.

“Kita lihat saja nanti siapa yang akan dipilih oleh Selvie!” kataku. Aku maju selangkah mendekati Roy. “Kau… Atau aku…,” kataku sambil menunjukkan bahunya, membuat ia mundur selangkah. Lalu aku pergi meninggalkannya.

* * *

“Kau tahu, kan, siapa aku?” tanyaku pada sahabatku, Prita.

“Ah, semua orang tahu siapa aku. Aku ini pria paling tampan di kampus. Aku juga paling pintar di Fakultasku. Dan, aku paling populer di jurusan Fisika. Mana mungkin aku kalah dari Roy! Dia ingin mengambil Selvie? Tidak akan bisa! Aku lebih keren dari dia!” lanjutku. Aku menoleh ke arah Prita yang sedang duduk tak jauh dariku. Ia diam. Aku tahu, ia pasti bosan mendengarku berceloteh tentang kehebatanku. Tapi, aku tahu dia selalu mendengarkannya.

“Hey, Prita. Kau tahu, kan, wanita manapun pasti akan bertekuk lutut padaku. Termasuk Selvie tentunya. Pasti dia lebih memilihku daripada si Roy yang besar omong itu, kan?” tanyaku pada Prita.

Aku memandang wajah Prita dari kejauhan. Ia tersenyum. Manis.

“Ya, dan aku tahu kau pasti juga sebenarnya mengagumiku. Hanya saja….,” aku tak melanjutkan kalimatku dan memandangnya lagi. Ia tersenyum. “Hanya saja kau tak mau mengakuinya, kan?”

Prita diam.

“Jangan salahkan aku kalau aku beralih pada Selvie. Jangan menyesal kalau aku akhirnya akan jadian dengan gadis Teknik Sipil itu. Itu salahmu karena kau menolakku,” kataku lagi pada Prita. Dan ia tetap tersenyum. “Selvie pasti lebih memilihku. Dan Roy akan menangis tersedu-sedu karenanya!”

Aku memang suka sekali bercanda dengannya. Segala hal yang aku ceritakan akan didengarnya. Itu yang membuatku nyaman berbagi cerita dengannya. Prita, sahabatku, aku sudah mengenalnya sejak aku SMP.

“Hey, Dicky! Sedang apa kau di sini? Sebentar lagi kelas Fisika Kuantum akan dimulai!” Tiba-tiba seseorang menegurku. Aku menoleh.

“Oh, aku sedang membaca!” jawabku pada Rizal, teman sekelasku.

“Apa itu?” tanyanya sambil menunjuk sesuatu di dekatku. Aku tak menggubrisnya dan buru-buru membereskan barang-barangku lalu memasukkannya dalam tas.

“Ayo, jangan sampai terlambat masuk ke kelas,” kataku sambil menarik lengan bajunya, membawanya kembali ke kelas dari taman tempat nongkrong favoritku.

* * *

“Jadi, apakah kau mau jadi pacarku?” tanyaku pada gadis di hadapanku.

Gadis manis berambut ikal sebahu itu itu tersenyum. Ia menatap lurus ke mataku. “Aku…”

Aku memajukan badanku untuk mendengar kelanjutan kalimatnya. Sungguh menyebalkan rasanya memilih tempat yang salah seperti ini. Cafe ini terlalu ramai! Aku bahkan tak bisa mendengar suaraku sendiri dengan jelas. Aku menyesal tidak merencanakan kencan ini dengan matang.

“Aku tidak bisa… Maaf,” ujar Selvie akhirnya.

Aku merasa sesak. ‘Tidak bisa? Kenapa? Apa yang salah dariku? Apa jurus pedekateku selama ini kurang hebat? Atau… Apakah karena aku salah memilih tempat?’ tanyaku dalam hati.

Buk! Seseorang menepuk pundakku dari belakang.

“Sudah kubilang, kan? Dia milikku! Dan jangan coba-coba dekati dia lagi!” kata suara yang sangat aku kenal.

Aku menatap Roy dengan emosi. Bagaimana bisa??

Selvie bangkit dari tempat duduknya. Lalu ia menggamit lengan Roy dan berjalan meninggalkanku.

* * *

Aku, sambil membawa ranselku berjalan ke taman favoritku. Taman itu tak jauh dari rumahku juga tak jauh dari kampusku. Aku sering ke sana untuk melepaskan lelah. Jika ingin membaca atau sekadar bersantai, aku pasti ke sana. Aku juga selalu nongkrong bersama Prita di sana.

Aku menghempaskan ransel yang selalu kubawa ke mana-mana ke hamparan rumput Jepang. Aku mengeluarkan beberapa isinya dan berbaring di atas rumput.

“Aaaahhh…,” aku menarik napas panjang dan memejamkan mataku.

Beberapa detik kemudian aku membuka mataku. Aku melihat Prita duduk tak jauh dariku.

“Kau datang tepat pada waktunya…,” kataku padanya.

“Tahukah kau? Aku baru saja ditolak Selvie! Sungguh mengesalkan! Masa aku bisa kalah dari si besar omong itu? Selvie lebih memilihnya! Bisakah kau percaya itu? Apa hebatnya si Roy itu? Dia bahkan hampir di-DO oleh universitas!”

Prita diam mendengarkan. Lalu aku mulai bercerita lagi setelah mengatur napasku.

“Lihat aku! Apa kurangnya aku? Apa? Dia bahkan tak lebih tampan dariku! Dia itu… Dia….,” aku tak bisa melanjutkan kalimatku. Rasanya aku ingin menangis. Menangis? Aku pasti sudah gila sekarang! Seorang pria menangis? Aku ingin melakukannya sekarang. Prita sudah sering melihatku menangis. Selalu dia yang jadi tempat curhatku saat aku sedang sedih. Kurasa dia tak keberatan jika aku mengangis lagi di hadapannya. Tapi, ini di taman. Bukan di kamarku, tempat biasanya aku menangis di hadapan Prita. Ya, Prita kan sahabatku, ia sudah sering masuk kamarku. Aku menganggap itu hal biasa. Karena kami sahabat.

Dan, akupun tersedu-sedu di hadapan sahabatku itu. Aku benar-benar tak tahan. ‘Kalah! Kenapa aku kalah? Apa salahku?’ Aku mulai mengutuk diriku sendiri.

“Hey, bro! Lagi-lagi aku melihatmu di sini! Sedang apa kau sampai tengkurap seperti itu?” Seseorang menegurku.

Aku bangkit dan buru-buru mengambil saputanganku dari dalam saku bajuku. Segera kuhapus air mataku. Wajahku kutolehkan ke arah lain, tak berani melihat ke wajah si pemilik suara.

“Apa itu?” tanyanya lagi.

Aku tak menggubrisnya dan buru-buru memasukkan kembali semua barang yang tadi kukeluarkan dari dalam tas.

“Boneka??” katanya. “Kau bawa boneka??”

Aku berdiri, berjalan ke arah laki-laki bernama Rizal itu. Saat berada tepat di hadapannya aku menatapnya lekat-lekat. “Ya. Memangnya kenapa kalau aku bawa boneka? Dia sahabatku. Namanya Prita. Jangan pernah beritahukan ini pada siapapun kalau kau tak ingin mati!” kataku sambil mengibaskan tanganku ke leher, membuat tanda menebas leher. Setelah itu aku berjalan meninggalkannya.

—–

Fiksi ini diikutkan dalam [tantangan menulis] membuat karakter yang hidup oleh Jia Effendie.

Seratus Ribu

Kubuka penutup wadah plastik segi empatku. Ini kali keempat aku membuka penutup wadah itu. Di dalam wadah ada beberapa macam kue. Jumlahnya masih sama seperti satu jam yang lalu. Walaupun aku tahu jumlahnya sama, tetap saja aku membukanya, berharap jumlah kue akan berkurang. Suatu harapan yang bodoh karena itu tak mungkin terjadi.

“Huh, sepi sekali hari ini!” keluhku. Aku menyeka keringatku yang mulai bercucuran. Hari sudah siang. Sebentar lagi jam akan berdentang 12 kali. Kue yang kujual baru laku beberapa buah. ‘Bagaimana ini?’ pikirku. Kalau aku pulang sekarang, kesempatan mendapatkan pembeli akan hilang. Akupun pasti akan dimarah ibu karena banyaknya kue yang tidak laku. Tapi kalau aku tidak pulang, aku akan terlambat pergi ke sekolah dan dimarahi oleh Bu Guru. Setelah lama menimbang-nimbang, akhirnya aku memutuskan untuk pulang.

Aku membungkus wadah plastik segi empatku dengan kain. Setelah itu aku menentengnya dan meninggalkan pasar. Aku berjalan kaki pulang ke rumah. ‘Hmmm… Jika ibu memarahiku karena dagangan yang tak laku, ya sudahlah. Mungkin sudah nasibku. Hari ini apes!’ pikirku sambil menendang kerikil-kerikil kecil yang kutemui dalam perjalanan pulang. Tuk! Tuk! Mataku mengikuti arah kerikil itu menggelinding. Tiba-tiba, mataku menangkap sesuatu berwarna merah tergeletak di trotoar.

Aku menghentikan langkahku. Mataku terbelalak melihat selembar uang berwarna merah itu. ‘Seratus ribu!!’ pekikku dalam hati. Aku menoleh ke kanan-kiri, melihat ke sana-ke mari. Tak ada orang di sekitarku. Kembali aku menatap uang tak bertuan itu. ‘Uang ini milik siapa, ya? Haruskah kuambil? Atau kubiarkan saja?’ Aku bingung. ‘Ambil? Tidak. Ambil? Tidak.’ Kembali aku melihat situasi. Tak ada orang. Aku membungkukkan badan dan mengambil uang itu.

* * *

“Bu! Ibu! Aku pulang!” teriakku begitu sampai di rumah.

“Iya. Segeralah ganti pakaianmu lalu makan dulu sebelum pergi ke sekolah!” sahut ibuku dari dapur.

Bukannya mengikuti perintah ibuku, aku malah menghampiri beliau. “Bu, hari ini sepi. Dagangan tidak laku.”

“Apa? Banyak sekali sisanya??” kata ibuku saat melihat kue-kue yang tersisa di dalam wadah plastik. Nampak sekali beliau kecewa. Sebelum ibuku mengomel karena dagangan yang tak laku, aku buru-buru mengeluarkan uang dagangan dan uang tak bertuan yang tadi kutemukan. “Ini uangnya, Bu,” kataku.

Ibuku memandangi uang yang kuletakkan di atas meja. “Bagaimana bisa uangnya sebanyak ini?” tanyanya tak percaya. “Apa kamu mencuri? Ayo, cepat katakan!”

“Aku tidak mencuri, Bu. Di perjalanan pulang tadi, aku menemukan selembar uang seratus ribu tergeletak di jalan. Tak ada yang punya. Jadi aku ambil saja.”

“Apa? Walaupun tak ada yang punya, tapi itu bukan milikmu, Nak! Bagaimana kalau pemiliknya kembali lagi ke sana dan tidak menemukan uangnya? Pasti dia akan menyumpah-nyumpah karena kesal uangnya hilang.”

“Tapi, Bu… Kita tidak akan pernah tahu siapa pemilik uang ini.”

“Pokoknya uang itu jangan dipakai buat belanja! Kembalikan saja ke tempat kau menemukannya tadi saat berjalan ke sekolah nanti!”

* * *

Jam menunjukkan pukul 11 malam. Aku masih terjaga di kamarku. Sambil berbaring di ranjang, aku memandangi selembar uang seratus ribu yang tadi siang kutemukan di jalan. Aku tak menuruti pesan ibuku agar mengembalikan uang itu ke tempat aku menemukannya. ‘Sayang sekali jika uang ini tak dipakai. Mubazir! Lagipula, memangnya pemiliknya tahu di mana ia kehilangan uang ini?’ pikirku. Tak berapa lama setelah meneliti setiap bagian uang tak bertuan itu, aku terlelap.

* * *

“Doni… Doni… Kembalikan uangku!” kata seorang nenek berambut panjang dan berantakan.

“Bagaimana nenek tahu namaku?” tanyaku.

“Tentu saja aku tahu… Kau mengambil uangku. Cepat kembalikan, Doni!”

“Uang yang mana, Nek? Aku tak merasa mengambil uang Nenek.”

“Uang yang tadi siang kau temukan di jalan. Seratus ribu… Itu milikku! Cepat kembalikan!!” bentak nenek itu.

“Tidak! Aku tak akan memberikannya pada Nenek. Bagaimana aku tahu uang itu benar-benar uang Nenek? Bagaimana kalau Nenek bohong padaku?”

“Itu uangku! Cepat kembalikan!!”

“Tidak mau! Itu bukan uang nenek! Itu uangku!”

“Kembalikanlah, Doni. Kembalikan… Kembalikan…,” kata nenek itu sambil mendekatiku. Ia mengulurkan kedua tangannya ke arahku seperti orang mau mencekik. Aku berlari menghindarinya.

“Pergi! Pergi!” teriakku. Tak disangka rupanya aku kalah cepat. Nenek itu berhasil menangkapku. Ia mencengkeram leherku dengan kedua tangannya yang kurus. Matanya melotot marah. Bibirnya menyeringai kepadaku. Wajahnya sangat menyeramkan. Lalu, ia mencekikku. “Aaaagghhh!!!” teriakku.

Seketika aku bangun dari tidurku. ‘Huft… Mimpi!’ kataku dalam hati. Napasku tersengal-sengal. Keringat dingin membasahi sekujur tubuhku. Aku memegang leherku. Terasa sakit.

* * *

Aku sedang meletakkan wadah plastik segi empatku ke atas meja tempat aku berjualan kue ketika penjual-penjual di sekitarku sedang membicarakan sesuatu yang nampaknya seru.

“Kemarin ada kecelakaan!”

“Oh, ya! Aku dengar seorang nenek ditabrak mobil tak jauh dari sini.”

“Kapan kejadiannya?”

“Kemarin sekitar jam 10.”

“Seorang nenek? Kenapa nenek itu bisa ditabrak mobil?”

“Aku dengar cerita orang, katanya nenek itu mau ke pasar untuk membeli obat.”

“Jadi bagaimana kondisi nenek itu sekarang?”

“Meninggal. Ia tak tertolong ketika di bawa ke rumah sakit.”

Aku terdiam mendengar percakapan itu. Kukeluarkan uang seratus ribu tak bertuan dari saku celanaku. ‘Apa benar uang ini milik nenek itu?’ tanyaku dalam hati sambil memandangi uang itu. Saat itulah aku melihat ada jejak darah di kanan atas dekat dengan nomor seri uang. Tak percaya, aku mendekatkan uang itu ke mataku agar aku bisa melihatnya lebih jelas. Benar! Sidik jari bercap darah! Jantungku serasa berhenti berdetak. Napasku sesak. Tiba-tiba, aku mendengar seseorang memanggilku dari belakangku.

“Doni… Doni… Kembalikan uang nenek…”

Aku menoleh. Nenek yang semalam ada di mimpiku kini berdiri di belakangku.

* * *

869 kata. Fiksi ini diikutkan dalam tantangan #FiksiBeruang oleh @KampusFiksi

Bukan Mimpi

“Wah, ada undangan!” seruku saat melihat ada sebuah undangan pesta pernikahan di atas meja di ruang tamu.

“Iya. Anaknya Om Nathan menikah minggu depan. Nanti kita pergi sekeluarga,” kata ibuku dari dapur.

“Om Nathan siapa, Ma?” tanyaku pada ibuku.

“Om Nathan itu teman lama Papamu,” jawab ibuku.

Aku mengeluarkan undangan berwarna merah jambu itu dari amplopnya dan membaca isinya. Undangan itu untuk minggu depan. Waktunya pukul 6 sore dan pestanya menggunakan sistem perjamuan sederhana. Ada kupon door prize di sisi kanan undangan. Tertulis di bagian bawah kupon tersebut: “Undangan harap di bawa dan berlaku untuk 2 orang.”

Mengetahui hal itu langsung aja aku berteriak, “Yah, undangannya berlaku untuk dua orang. Berarti aku nggak bisa ikut, dong! Papa dan Mama saja yang pergi,” ujarku kecewa.

“Memangnya kamu mau sendirian di rumah?” tanya ibuku.

“Eh, iya juga, ya,” jawabku.

Sebagai anak tunggal, aku selalu ikut ayah dan ibuku ke mana-mana. Kadang aku pergi dengan sahabat-sahabatku. Kadang aku pergi sendirian. Tapi, aku lebih sering pergi bersama kedua orangtuaku. Malam-malam sendirian? Sebenarnya aku takut. Apalagi aku sering membaca berita tentang perampokan rumah dan pembunuhan. Hiiii!!

“Begini saja, Ma. Mama dan Papa pergi ke acara itu. Aku pergi ke mal saja,” tawarku pada ibuku.

Setelah menimbang-nimbang, akhirnya ibuku setuju.

* * *

Hari yang ditunggu pun tiba. Aku berangkat dari rumah bersama kedua orangtuaku. Sebelum mereka pergi ke pesta pernikahan anak Om Nathan, aku diantar ke mal dekat rumahku. Setelah itu, ayah dan ibuku pergi ke pesta.

‘Pesta perjamuan sederhana biasanya lama selesainya; bisa sampai 4 jam. Apa yang harus aku lakukan di mal ini, ya?’ pikirku. AKu tak pernah jalan-jalan di mal sendirian di malam hari. Jadi, aku sedikit takut -takut kalau tiba-tiba ada copet atau orang-orang yang suka iseng pada anak gadis yang sedang berjalan sendirian. Tapi kupikir, lebih baik cuek saja dan memasang gaya cool supaya tak ada orang yang berani mengganggu. Sambil berpikir apa yang harus aku lakukan selama waktu tersebut, aku berkeliling di mal yang baru selesai dibangun ini. Aku melihat-lihat barang-barang yang dipajang di etalase deretan toko yang ada di depanku. Semuanya barang mahal. Selain toko-toko, ada juga cafe dan restoran.

Saat aku sedang melihat-lihat jam tangan yang dipajang di sebuah etalase toko, seseorang menegurku. “Hai, cewek!”

Teguran itu sepertinya teguran dari orang iseng, pikirku. Karena itu, aku tidak menoleh dan melanjutkan kegiatanku melihat-lihat ke etalase.

“Cewek… Sombong sekali, nih!” kata seseorang yang tak kukenal itu.

Karena merasa risih, aku meninggalkan toko jam dan bergegas ke tempat lain. Sialnya aku salah pilih jalan. Aku melewati lorong yang toko-tokonya masih belum buka. Sepi sekali. Langkah kakiku dan langkah kaki orang yang menegurku tadi terdengar jelas di lorong yang agak gelap itu.

“Hei, cewek berhenti berjalan! Tak akan ada yang menyelamatkanmu di sini!” seru orang itu.

Aku menghentikan langkahku dan membalikkan badanku. Orang itu seorang yang berperawakan kecil. Dia memakai jaket kulit hitam dan bertopi hitam pula. Saat aku membalikkan badanku, dia mengeluarkan sebilah pisau pendek dari saku jaketnya.

“Jangan berteriak kalau tidak mau kau terluka!” ancamnya.

Aku terdiam. Ketakutan. Kaki dan tanganku gemetaran. ‘Oh, apa yang harus kulakukan sekarang?’ Aku benar-benar panik.

“Serahkan tasmu!” perintahnya.

Dengan tangan yang masih gemetaran, aku menurunkan tasku dari pundak dan menyerahkannya pada pemuda bertubuh kurus itu.

Saat penjahat itu mengambil tasku tiba-tiba ada seseorang yang menabraknya dari belakang. Bruk!! Si penjahat jatuh tersungkur. Pisau yang dipegangnya terpental jauh ke lantai. Spontan aku berteriak histeris. “Aaagghhh!!”

Orang yang baru datang itu lalu memukul punggung si penjahat yang mencoba untuk melarikan diri. Saat itulah, datang beberapa satpam mal. Si penjahat pun ditangkap dan digiring oleh satpam. Pisaunya yang terpental jauh juga dimabil sebagai barang bukti.

“Kamu nggak apa-apa?” tanya orang yang menyelamatkanku.

“I-iya…,” jawabku terbata-bata, masih ketakutan.

“Kamu ke sini sendirian, Wina?” tanya orang itu lagi.

Saat orang itu memanggil namaku, aku baru sadar kalau dia adalah kakak kelasku. Lebih tepatnya, gebetanku. Ronald namanya. Aku tersipu malu. Oh, my God! Mau ditaruh di mana mukaku? Betapa malunya bertemu dengan gebetan pada situasi seperti ini! Rasa malu dan rasa senang bercampur-aduk menjadi satu.

“Iya, Kak Ron, aku sendirian ke mari. Tadi ayah dan ibuku mengantarku ke sini. Mereka sekarang ada di acara pesta dan akan menjemputku seusai pesta,” kataku pada kak Ronald. Ia menganggukan kepalanya.

“Terima kasih sudah menyelamatkanku,” kataku lagi.

“Nggak masalah. Kebetulan aku melihatmu tadi berjalan dengan langkah cepat dan diikuti orang berbaju hitam itu. Jadi, aku mengikutimu. Untunglah kamu nggak apa-apa.”

“Iya, nggak ada yang terluka. Untung ada kakak.”

“Kamu sendirian, kan? Aku juga sendirian. Sebenarnya tadi aku berangkat dari rumah bersama ibu dan adikku. Mereka sedang ke pesta pernikahan dan akan kujemput seusai pesta.”

Setelah mengobrol sebentar, ternyata ibu dan adik kak Ronald pergi ke pesta yang sama dengan pesta yang dihadiri oleh ayah dan ibuku. Hmmm… Kebetulan yang aneh, kan?

“Bagaimana kalau kita jalan sama-sama saja?” tanyanya.

Deg! Jantungku berdegup kencang. ‘Jalan bareng kak Ronald?? Aku pasti sedang bermimpi!’ jeritku dalam hati. Lalu aku mencubit lengan kiriku. Sakit. Berarti aku tidak bermimpi.

Melihatku ragu-ragu menjawab ajakannya, kak Ronald berkata, “Tenang… Aku bukan orang jahat seperti orang tadi.” Ia pun tertawa. Mau tak mau aku pun ikut tertawa.

“Oke, deh, kak!” jawabku sambil melemparkan senyumanku yang paling manis padanya.

Aku bisa berjalan dengan kak Ronald… Itu bukan mimpi. Aku bisa jadian dengannya… Kuharap itu juga bukan mimpi lagi. Sementara ini boleh, kan, bermimpi dulu?

 

* * * Selesai * * *

 

878 kata. Cerpen ini diikutkan dalam tantangan @KampusFiksi #ProsaNadimu yang diselenggarakan tanggal 1-2 November 2014.

Cerita di balik penulisan cerpen:

Sore ini, saya bertanya pada ibu saya tentang ide menulis cerpen. Saya tanyakan pada beliau sebaiknya menulis cerpen tentang apa. Ibu saya menyarankan bercerita tentang kehidupan sehari-hari. Jadi saya bertanya lagi hal yang spesifiknya itu seperti apa. Ibu saya bilang apa saja boleh pokoknya tentang sesuatu yang baik-baik, tentang harapan yang baik-baik. Dan, karena hari ini kami mendapat undangan pernikahan untuk minggu depan, akhirnya saya menuliskan tentang undangan itu. Cerpen ini mengisahkan tentang Wina yang sedang berjalan sendirian dan bertemu dengan penjahat. Maksudnya adalah untuk mengingatkan pada teman-teman semua agar berhati-hati kalau berjalan sendirian dan jangan sampai berjalan sendirian di tempat yang sepi. Intinya, sih, tentang waspada terhadap kemungkinan kejahatan dan tentang mimpi atau harapan seorang gadis. 😀