Penunggu Perempatan Jalan

Tiga sekawan, Yoga, Diki, dan Andre berencana pergi berkemah di akhir minggu. Menurut paman Diki, daerah yang akan mereka lalui di perjalanan nanti adalah daerah angker. Ia berpesan untuk membunyikan klakson saat lewat di sebuah perempatan jalan sebagai tanda permisi pada buyut penunggu jalan.

“Bunyikan klakson, Bro! Di depan itu perempatan jalan itu, kan??” seru Diki saat mereka hampir melewati perempatan jalan angker. Saat itu jam menunjukkan pukul 11 malam.

Tiba di perempatan jalan yang dimaksud, Yoga malah asyik bercerita.

“Klaksonnya! Bunyikan!! seru Diki.

“Ups! Sudah lewat, bro! Tapi nggak masalah, kan?” jawab Yoga.

Setelah mengatakan hal itu, tiba-tiba mobil mereka mati mesin. Yoga berusaha menghidupkan mesin tapi mesin tak mau menyala. Ketiga sekawan itu menjadi panik. Apalagi kemudian tercium wangi melati.

“Kalian cium wangi itu?” tanya Andre.

“Hush! Jangan bilang apa-apa! Nanti kita bisa diikuti!” seru Diki.

Di saat itu tiba-tiba kaca mobil mereka diketuk seseorang.

“Nak, boleh ibu menumpang sampai sana?” tanya seorang ibu tua berpakaian lusuh.

“Si-siapa ibu itu, bro? Kok tengah-tengah malam ada di pinggir jalan?” kata Andre.

“Biarin aja Bro, cepat nyalakan mobilnya!!” perintah Diki.

Ibu tua itu mengetuk kaca jendela mobil lagi. Untunglah saat itu mesin menyala. Yoga segera tancap gas. Dari kejauhan, mereka melihat ibu tua itu tidak menapakkan kakinya di aspal. Setelah beberapa saat, ia menghilang.

* * *

Fiksi ini diikutkan dalam Kuis #Traveloween oleh Bentang Pustaka.

Advertisements