Naince

Brak! Terdengar suara pintu dibanting. Lalu, masuklah seorang gadis dengan terburu-buru. Ia menghempaskan tubuhnya di ranjang. Di sana, pecahlah tangisnya.

 

‘Ah, lagi-lagi ia pulang dengan membawa air mata! Kali ini, apa lagi yang terjadi padanya?’ Aku berpikir dalam hati, ‘apakah ia mendapat nilai jelek di sekolahnya? Apakah ia dimarah guru karena tidak mengerjakan PR? Apakah ia dimarahi oleh ayahnya karena pulang telat? Atau, jangan-jangan ia bertengkar lagi dengan pacarnya yang selalu ia bangga-banggakan itu?’

 

Huft… Jika itu memang karena ia bertengkar dengan pacarnya, aku tak bisa memberi komentar. Bukan karena aku tak ingin membela gadis ini. Juga, bukan karena aku membela pacarnya itu. Tapi… yah, susah dijelaskan. Memilih salah satu di antara mereka seperti makan buah simalakama – pilih ibu, mati bapak tapi kalau pilih bapak, mati ibu.

 

Aku menghela napas lagi. Masih terukir dalam ingatanku saat Rifky membeliku dari sebuah toko. Saat itu, ia datang bersama kedua orang temannya. Benda apa saja yang mereka lihat di toko akan mereka pegang, mereka putar-putar bolak-balik, lalu mereka kembalikan lagi ke rak pajangan. Tak satu pun benda yang luput dari tangan-tangan mereka. Setelah mereka puas membolak-balik benda yang mereka ambil, mereka akan berkomentar tak jelas. Pokoknya sangat berisik. Kedatangan mereka sampai membuat mbak-mbak pramuniaga bergeleng-geleng kepala – khawatir benda yang mereka pegang akan jatuh dan risih mendengar celotehan mereka yang tak kunjung selesai.

 

“Pilih yang mana, bro? Pliss, deh, kasih gue ide. Masa dari tadi kita cuma muter-muter doang di sini. Bisa-bisa nanti kita diusir oleh si mbak penjaga,” ujar Rifky.

 

“Alaaah, lu mikir sendiri, dong, mau kasih hadiah apaan buat Astrid. Dia kan cewek lu. Kita sudah kasih saran tapi lu malah bantah melulu,” jawab Edo.

 

“Iya, lu yang putusin sendirilah mau kasih hadiah apa. Masa nyuruh kami yang mutusin? Dari tadi kita sudah kelilingi setiap sudut toko ini. Masa nggak ada satupun barang yang lo pilih?” kata Marko sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling toko.

 

Rifky menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal. Bingung. Ia menghela napas. Sambil menunggunya memutuskan benda apa yang mau dibeli, kedua temannya kembali asyik memutar-mutar benda-benda yang ada di rak pajangan. “Eh, ini saja! Lucu banget, kan!” teriak Edo tiba-tiba. Ia mengambil sebuah boneka kelinci dari rak pajangan yang letaknya di sudut bawah dan menyerahkannya pada Rifky.

 

“Kok, lu milih ini, sih?” tanya Rifky sambil menimang-nimang boneka kelinci putih berukuran 50 senti meter yang diberikan Edo kepadanya.

 

“Adik gue hobi banget sama boneka ini. Namanya, kalau nggak salah Naince,” jawab Edo.

 

“Naince?” ulang Rifky.

 

“Iya. Naince. Adik gue bilang nama boneka itu adalah Naince,” jelas Edo.

 

“Naince? Nama yang aneh! Itu, kan, nama yang diberi oleh adik lu. Cewek gue pasti ngasih nama lain buat boneka ini,” kata Rifky.

 

“Iya terserah cewek lu nantinya mau dikasih nama apa. Pokoknya beli aja boneka itu! Dijamin Astrid pasti suka!” kata Edo lagi.

 

Rifky memandang boneka kelinci kerempeng di tangannya. Boneka itu tidak terlalu istimewa menurutnya. Warnanya putih, kepalanya lebih besar dari badannya, mulutnya berbentuk tanda silang, ia memakai baju kain beludru berwarna merah bata, dan tubuhnya kerempeng. ‘Apa bagusnya boneka kelinci kerempeng? Bukankah lebih bagus boneka kelinci yang tubuhnya berisi? Jika tubuhnya berisi, bukankah boneka itu akan lebih enak dipeluk?’ pikirnya. Tapi, akhirnya ia mengikuti saran Edo karena ia sendiri tidak puny aide mau meberikan apa untuk kekasihnya.

 

* * *

“Astrid, ini boneka buat kamu,” kata Rifky sambil menyerahkan bungkusan plastik berisi boneka.

 

“Wah, terima kasih, ya. Aku kan nggak ulang tahun hari ini. Kok kamu bisa kasih hadiah buatku?” tanya Astrid dengan wajah sumringah.

 

“Iya, nggak apa-apa. Ini untuk merayakan satu bulan kita jadian. Mudah-mudahan kamu suka sama boneka itu,” jelas Rifky.

 

Astrid segera mengeluarkan boneka yang diberikan Rifky dari dalam kantong plastik. “Wow! Boneka kelici putih! Lucu sekali!” teriak Astrid begitu melihat hadiah yang diberikan Rifky. “Kok kamu tahu aku suka kelinci putih? Padahal aku nggak pernah cerita sama kamu,” lanjutnya, masih terpesona dengan boneka di tangannya.

 

“Hanya menebak saja,” jawab Rifky, tak ingin Astrid tahu kalau itu adalah ide dari Edo.

 

“Kalau begitu… Si kelinci ini mau diberi nama apa, ya?” tanya Astrid.

 

“Ummm… Apa bagusnya, ya?” Rifky balik bertanya.

 

“Aku berikan penghormatan kepadamu untuk memberikan nama pada kelinci ini,” kata Astrid dengan meniru gaya orang berpidato.

 

“Hmmm…,” gumam Rifky sambil memutar otak, memikirkan nama yang bagus untuk boneka kelinci itu. “Bagaimana kalu diberi nama Naince saja!” tukasnya. Dalam hati ia mengumpat dirinya sendiri karena tak mampu memikirkan nama yang bagus untuk si kelinci dan malah mengambil nama boneka kelinci adiknya Edo.

 

“Naince? Apa ada arti khusus dari nama itu?” tanya Astrid.

 

“Eh?” kata Rifky gelagapan. “Itu artinya ….”

 

“Oh! Aku tahu!” seru Astrid tiba-tiba. “Nah ini kelinci kece! Disingkat jadi Naince! Betul, kan?”

 

“Nggg…. Iya. Betul!” jawab Rifky.

 

* * *

Dan, di sinilah aku berada sekarang – di kamar tidur berukuran 3 meter x 4 meter. Kamar yang cukup luas untuk seorang gadis SMA berambut ikal panjang sebahu. Dinding kamar ini dicat dengan warna biru muda. Ada satu spring bed dengan sprei motif Shaun The Sheep, di sisi kanan dan kiri spring bed masing-masing ada satu meja kecil. Lalu ada satu meja belajar, satu lemari pakaian tiga pintu berwarna putih, satu meja rias, satu meja komputer, dan satu rak televisi di kamar ini. Dan aku, ditempatkan di tempat tidur bersama dengan bantal dan guling milik Astrid.

 

Jangan harap ada boneka lainnya selain aku. Awalnya kupikir Astrid adalah gadis penyuka boneka melihat gayanya yang girly banget jika sedang berjalan-jalan ke mal. Setiap kali ia ke luar untuk berjalan-jalan, ia akan memakai dress dan sepatu berhak, dilengkapi dengan pita kecil yang disematkan di rambutnya plus tas jinjing kecil dengan warna pastel. Astrid sama sekali tidak memiliki koleksi boneka satu pun! Satu-satunya benda yang menjadi koleksinya adalah DVD film Drama Korea dan lagu-lagu Korea.

 

Gadis dengan tinggi 158 cm itu masih saja sesenggukan di ranjang. Aku tak bisa melihat wajahnya karena tertutup bantal. Oh, seandainya aku dapat menghiburnya. Seandainya saja aku bisa mengelus kepalanya dan mengatakan, “Jangan menangis. Ada aku di sini.” Ah, seandainya saja. Tapi, apa dayaku? Aku hanyalah sebuah boneka yang hanya bisa mendengar segala curhatannya. Aku tak bisa merangkulnya. Aku tak bisa menghiburnya dengan kata-kata. Dan, karena itu, aku menjadi sedih melihat gadis pemilik bola mata cokelat muda ini menangis. Lagi.

 

Ya, entah untuk ke berapa kalinya ia menangis seperti ini. Mungkin, sudah sekitar tiga minggu ia seperti ini terus. Semakin bertambahnya hari, gadis ini semakin sering menangis. Tak ada lagi tawa ceria seperti di awal aku bersamanya.

 

Bip! Bip! Tiba-tiba blackberry milik Astrid berbunyi. Astrid bangkit dari tempat tidur dan mengambil ponsel yang ia letakkan di meja di sisi kanan tempat tidurnya. Matanya terbelalak saat ia melihat layar ponselnya.

 

“Apa??” teriaknya. “Masa ini salahku lagi?” Ia menghempaskan ponselnya ke atas bantal. Hampir saja terkena mukaku. Aku melirik layar ponsel yang masih menyala. Ada satu pesan dari Rifky. Belum sempat kubaca isinya, layar ponsel meredup. Aku tak tahu apa isi pesan tersebut. Yang pasti, Astrid tampak jengkel dibuatnya.

 

“Uh, Naince. Seandainya kamu bisa membantuku….,” kata Astrid sambil meraih tubuhku dan memelukku. Dadaku berdebar. Aku merasa hangat. Nyaman berada dalam pelukan Astrid. Aku berharap, dia juga merasakan hal yang sama dengan yang kurasakan. Kuharap dengan memelukku, bebannya akan sedikit berkurang. Kalau perlu, semua bebannya sirna.

 

“Kamu tahu nggak? Masa, sih, Rifky menuduh aku selingkuh dengan Edo? Padahal dia tahu Edo itu sahabat karibnya. Mana mungkin aku selingkuh dengan Edo. Aku nggak bakal menghancurkan persahabtan mereka. Aku, kan, cuma meminjam buku catatan Sejarah pada Edo. Tapi, dia malah menuduhku yang tidak-tidak!”

 

Astrid mendekapku lebih erat. “Aku mau pinjam buku catatan Sejarah pada Rifky. Tapi, dia tidak pernah mencatat. Padahal Pak Guru menyuruh kami meminjam catatan kepada anak-anak di kelas Rifky. Dan yang aku kenal di kelas itu hanya mereka berdua. Wajar, kan, kalau aku meminjam catatan pada Edo? Aku pikir, tidak masalah jika harus meminjam catatan padanya. Toh, dia adalah sahabat karib Rifky. Aku pikir Rifky tidak akan cemburu. Tapi nyatanya….” Astrid tidak melanjutkan kata-katanya. Air matanya kembali tumpah, membasahi tubuhku dan bantal yang ada di kakinya. Ia kembali menangis.

 

“Dan sekarang, ia menyalahkan aku karena nggak bilang-bilang padanya mau meminjam catatannya Edo. Katanya, kalau aku bilang padanya mau pinjam catatan, ia akan meminjamnya dari anak lain di kelasnya. Dan, bukan pada Edo. Masa, sih, cuma karena aku nggak bilang dia jadi marah habis-habisan padaku di hadapan teman-teman sekelasku pas jam pulang tadi?” isak Astrid.

 

Huh! Benar-benar tak masuk di akal! Umpatku dalam hati. Jadi, Rifky cemburu pada Edo? Lalu, dia menyalahkan Astrid karena gadis ini tidak melapor padanya? Dan, ia marah-marah pada Astrid di hadapan teman-teman sekelas Astrid? Hellowww!! Laki-laki macam apa dia? Mana ada laki-laki yang tega memarahi pacarnya di hadapan orang banyak! Eh, ada satu. Ya, si Rifky ini!

 

Tiba-tiba, aku merasa malu. Malu karena tidak bisa menolong Astrid. Malu karena aku merasa aku adalah laki-laki tapi tak punya daya untuk membantu gadis yang aku sukai. Terlebih lagi, aku malu memiliki Rifky sebagai tuanku secara tak langsung. Ya, dia yang membeliku dan memberikan aku pada Astrid. Secara tak langsung, ia adalah pemilikku juga, kan? Astrid dan Rifky, kan, pacaran.

 

Pacaran. Ya, Astrid dan Rifky… itu. Mereka pacaran. Itu satu fakta yang tidak bisa aku ganggu gugat. Fakta lainnya, mereka manusia. Aku? Boneka kelinci putih kerempeng yang tak punya daya. Hanya bisa menonton ketidak-adilan yang dilakukan Rifky terhadap gadisku. Dan, apa yang akan menjadi akhir dari orang yang marah-marah hebat ketika mereka pacaran? Putus. Itu dia! Kata putus akan terucap dari salah satu pihak yang merasa tidak nyaman lagi.

 

Kalau mereka putus… Aarrgghh!! Aku tidak bisa membayangkan hal itu! Sekelebat, gambaran-gambaran tentang sepasang kekasih yang putus dalam film Korea yang kutonton bersama Astrid pun muncul. Ketika sepasang kekasih mengakhiri hubungan mereka, benda-benda yang diberikan oleh para mantan akan dijauhkan – dikembalikan kepada si pemberi atau yang lebih parah, dibuang. Dibuang! Oh, tidak! Aku tidak mau dibuang! Atau, apakah Astrid yang sedang kalap karena putus cinta nantinya akan mencabik-cabikku dengan silet dan gunting? Aku meringis ketakutan. Aku gemetaran memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi padaku.

 

Tok! Tok! Suara ketukan pintu membuyarkan lamunanku. Astrid melepaskan dekapannya dan meletakkan aku ke atas bantal. Ia bergegas membuka kunci pintu kamarnya lalu kembali duduk di ranjang.

 

“Apa yang terjadi, Nak?” tanya orang yang baru masuk itu. Rupanya, ibu Astrid. Suara tenang dan berwibawa.

 

Astrid cemberut dan tak mau menatap ibunya. Ia berusaha menutupi matanya yang masih merah dengan cara mengusap-usapkannya.

 

“Kamu marahan lagi dengan Rifky?” tanya ibu Astrid. Beliau berjalan mendekat lalu duduk di samping Astrid. Tangannya menepuk pundak Astrid dengan lembut. “Ibu tahu ini bukan urusan Ibu. Tapi, ibu tidak tega melihat putri ibu satu-satunya terus-terusan bersedih seperti ini.”

 

Astrid diam saja. Ia tertunduk, tak berani menatap wajah ibunya. Sunyi beberapa menit. Akhirnya ibunya menghela napas panjang. “Baiklah kalau kamu tidak mau cerita. Pokoknya, jangan sampai kamu membuat dirimu sendiri menderita,” kata beliau akhirnya. Lalu, ibu Astrid melangkah ke luar dari kamar. Pintu pun ditutup. Tak lama, Astrid kembali sesenggukan.

 

Ini bukan kali pertama Rifky membuat Astrid menangis. Beberapa waktu yang lalu, ia marah pada Astrid gara-gara Astrid perempuan sendirian dalam tim bola basketnya. Sedangkan di tim lawannya, ada dua orang perempuan. Rifky marah karena Astrid berada dalam tim yang isinya laki-laki semua. Padahal, itu bukan karena Astrid sengaja. Astrid mengikuti ekstrakurikuler basket di sekolahnya. Waktu itu, ia tak dapat memilih tim mana yang harus ia bela. Pak Gurulah yang menentukan ia harus masuk di tim mana. Dan, Rifky tidak terima penjelasan Astrid.

 

“Kenapa kamu mau masuk dalam tim itu? Kamu tahu, kan, tim itu isinya cowok semua?” hardik Rifky saat itu.

 

“Iya, tapi itu, kan, Pak Guru yang memilihnya. Bukan karena kehendakku!” balas Astrid.

 

“Kenapa kamu nggak protes saja sama Pak Guru??” tanya Rifky sengit.

 

“Ya, nggak mungkinlah mau protes. Pak Guru yang pilihin, kok,” jawab Astrid.

 

“Kamu nggak protes karena kamu, tuh, kegatelan tau! Kamu mau curi-curi kesempatan sama cowok-cowok itu, kan??” tuduh Rifky.

 

“Apa?? Jangan sembarang kalo ngomong! Nggak pernah sekalipun aku mikir untuk kayak gitu!” teriak Astrid.

 

Setelah itu, meluncurlah kata putus dari bibir Rifky. Astrid menangis semalaman gara-gara itu. Tapi, keesokan harinya, pagi-pagi sekali, Rifky menunggu Astrid di gerbang sekolah dan meminta maaf sambil menyerahkan sekotak cokelat. Ya, Astrid memaafkan Rifky. Hatinya luruh oleh sekotak cokelat. Dan, kotak cokelat itu menemaniku sampai beberapa hari di sisi ranjang. Aku hanya bisa memandangi Astrid. Ia yang malam sebelumnya memelukku dengan derai airmata, kali ini mengangkatku tinggi-tinggi kegirangan karena hadiah sekotak cokelat yang tidak akan pernah ia makan karena ia alergi cokelat.

 

Lain waktu, pada jam istirahat Rifky mengajak Astrid makan bakso di kantin. Saat itu kantin sangat ramai. Tempat duduk yang tersisa adalah bangku panjang untuk dua orang yang menghadap ke lapangan. Tempat kosong di bangku itu diapit oleh seorang anak laki-laki dan tembok. Setelah memesan bakso, Rifky menyuruh Astrid untuk duduk duluan karena ia akan menunggu bakso pesanan mereka. Saat Rifky menuju ke bangku kosong sambil membawa dua mangkok bakso, ia melihat Astrid yang telah duduk bersebelahan dengan seorang anak laki-laki tak dikenal. Darahnya memuncak. Seketika ia marah dan menyalahkan Astrid. “Kamu ngapain duduk di sebelah cowok itu? Kamu kenal sama dia?” hardik Rifky.

 

“Eh? Nggak kenal,” jawab Astrid kebingungan.

 

“Coba ya, kamu nggak usah deket-deket duduknya sama dia!” kata Rifky.

 

“Tapi, kalo nggak gitu entar kamu duduk di mana? Sempit! Nggak ada tempat lagi,” jawab Astrid.

 

“Eh, kamu cari-cari alasan banget, sih! Bilang aja kalo kamu mau deketin cowok itu!!” bentak Rifky.

 

“Apa?? Tadi, kan, kamu yang nyuruh aku duduk duluan supaya tempat duduk ini nggak diambil orang lain!” balas Astrid.

 

“Alaaahh!! Nggak usah banyak alasan, deh! Aku tahu, kok, kalo kamu mau curi-curi kesempatan buat kenalan sama cowok itu! Iya, kan?? Ngaku aja, deh!” tuduh Rifky.

 

Setelah itu, mereka tidak jadi makan dan malah berperang mulut dengan disaksikan oleh siswa-siswa lainnya. Untunglah tak lama kemudian Edo dan Marko datang untuk melerai mereka. Saat Edo memegangi tangan Rifky yang hendak menampar Astrid, Rifky malah meneriakkan kata putus dan menuduh Edo berselingkuh dengan Astrid. Setelah itu, Astrid menangis sejadi-jadinya. Ia sampai dibawa ke UKS karena badannya tiba-tiba panas.

 

Tapi, kesedihan itu tak berlangsung lama. Dua hari kemudian, Astrid kembali bercanda dengan Rifky. Rifky kembali merebut hati Astrid dengan membawakan sebuah novel yang lagi ngetrend. Dan, novel itu kembali menjadi temanku di sisi tempat tidur Astrid. Novel petualangan itu dibiarkan saja tergeletak di atas meja dan tak akan pernah dibaca oleh Astrid karena gadis itu sama sekali tidak suka membaca novel.

 

Satu minggu sekali mereka ribut. Satu minggu sekali Rifky mengucapkan kata putus pada Astrid. Dan, satu minggu sekali pasti ada hadiah sebagai permintaan maaf dan tanda jadian kembali untuk Astrid. Lalu, hadiah-hadiah itu adalah barang-barang yang tidak disukai Astrid! Bagaimana mungkin gadis ini masih mau menerima Rifky? Bagaimana mungkin Rifky tidak tahu apa saja yang disukai dan tidak disukai Astrid?

 

Apa sebenarnya yang dilihat Astrid pada sosok seorang Rifky? Apakah ia pintar? Apakah ia kaya? Apakah ia baik? Apakah ia tampan? Oke, jujur saja Rifky memang tampan. Ia adalah idola cewek-cewek kelas sepuluh sampai dua belas di SMA Negeri 3. Mungkin, cewek-cewek dari sekolah lain akan mengidolakannya juga jika melihat wajahnya. Rifky tampan, tinggi dan cool. Gayanya agak urakan dan bandel, khas cowok-cowok SMA yang menyebut diri mereka ‘anak gaul’. Tapi, apakah itu adalah jaminan bahwa ia bisa menjaga hati kekasihnya? Memikirkan tingkah Rifky yang sering menuduh hal-hal yang tidak-tidak pada Astrid membuat perutku sakit.

 

Aku melirik ke arah gadis yang kini sudah tertidur pulas di sampingku. Matanya sedikit bengkak karena menangis. Rifky pastilah sudah menjatuhkan talak putus padanya. Sesak dadaku karenanya. Aku hanya bisa berdoa semoga mereka berdua diberikan jalan yang terbaik.

 

* * *

Minggu pagi yang cerah. Astrid sudah berdandan cantik pagi-pagi sekali. Hal ini membuatku bingung. Ia bersiul-siul riang. “Naince, hari ini Rifky mengajakku jalan-jalan ke taman sebagai permintaan maaf karena memutuskanku kemarin!” sorak Astrid.

 

Hah? Jadi mereka baikan lagi? Pantas saja Astrid senang sekali. Syukurlah kalau begitu. Tapi, hatiku sedikit perih karena Astrid ternyata masih mau menerima cowok yang sudah menyakitinya berkali-kali. Di samping itu, ada perasaan bahagia melihat senyumnya yang kembali merekah.

 

“Oh, ya. Aku akan membawamu ikut ke taman bersama dengan novel dan barang-barang pemberian Rifky. Supaya dia tahu aku masih menyimpan barang-barang yang ia berikan padaku,” kata Astrid sambil mengedipkan sebelah matanya. Lalu, ia memasukkan aku, si novel, dan beberapa barang pemberia Rifki ke dalam kantong plastik.

 

Beberapa jam kemudian, kami tiba di taman yang letaknya tak jauh dari rumah Astrid. Di taman, Rifky sudah menunggu. Ia sedang duduk di tepi kolam ketika kami tiba. Saat ia melihat kami, ia tersenyum dan melambaikan tangannya pada Astrid.

 

“Hai! Sudah lama sampai di sini?” tanya Astrid.

 

“Nggak terlalu lama,” jawabnya.

 

Mereka saling menatap. Agak lama. Lalu, Rifky mengangkat kedua tangannya dan memegang pipi Astrid. “Kamu…” Ia tak meneruskan kata-katanya. “Kamu…. Kenapa selalu membuatku kecewa, Astrid?”

 

“Apa yang kamu katakan? Membuat kecewa bagaimana?” tanya Astrid kebingungan.

 

“Kamu sebenarnya tidak suka membaca novel, kan? Lalu, kamu juga tidak bisa makan cokelat karena alergi, kan?” desak Rifky.

 

“Eh… Iya,” jawab Astrid dengan suara lirih. “Aku tidak mengatakannya karena tidak ingin mengecewakanmu yang sudah susah-payah membelikan hadiah itu untukku.”

 

“Tapi, kenapa kamu malah memberitahu hal penting itu kepada orang lain dan bukannya kepadaku??” kata Rifky dengan nada mulai meninggi. “Kamu malah bercerita pada Edo bahwa kamu alregi cokelat dan tidak suka baca novel! Begitu juga dengan barang-barang lainnya. Aku sakit hati, Astrid! Apa itu yang kamu bilang bukan berselingkuh??”

 

Astrid terdiam. Air matanya mulai runtuh. Ingin rasanya aku melerai mereka.

 

“Cukup sudah hubungan kita! Aku tidak mau lagi berpacaran dengan orang yang tidak setia!!” bentak Rifky sambil mendorong tubuh Astrid. Lalu, ia pergi begitu saja meninggalkan Astrid yang jatuh terduduk.

 

“Salah lagi! Salah lagi!” isak Astrid. “Aku benci! Makan saja semua benarmu!” Lalu, ia melempar kantong plastik yang berisi barang-barang pemberian Rifky ke kolam di dekatnya. Setelah itu, ia berlari meninggalkan bungkusan plastik yang sekarang tengah mengapung di kolam.

 

‘Oh, tidak! Bagaimana nasibku sekarang?’ pekikku. ‘Astrid! Kembalilah!’ Tapi, tentu saja Astrid tak bisa mendengar suaraku. Aku menangis dan memekik keras-keras. ‘Apa salahku? Astrid, jangan tinggalkan aku di sini!!’

 

Tiba-tiba seseorang mengangkat bungkusan plastik lalu membukanya. “Ini bukan salah Astrid. Mungkin… Ini salahku. Aku menyukainya. Aku mencari tahu segala hal tentang dirinya. Tapi sayangnya sahabatku lebih dulu menyatakan perasaannya. Dan, aku … hanya bisa menjadi penonton sekaligus wasit yang melerai mereka ketika mereka bertengkar,” gumam orang itu. Lalu, orang itu menjinjing bungkusan plastik itu menjauh dari kolam.

 

“Apa yang kak Edo temukan?” tanya seorang gadis kecil.

 

“Boneka Naince dan sebuah novel yang dibuang orang. Ini! Untukmu!” kata orang itu sambil menyerahkan bungkusan itu kepada adiknya.

 

 

* * * Selesai * * *

 

klub cerita dwita

Advertisements