I’m Dead

Malam itu aku menunggu kedua orangtuaku. Entahlah… aku tak tahu ke mana mereka pergi. Yang pasti aku hanya menunggu. Sendiri dan sangat lama. Sampai aku lelah. Aku juga tak tahu sudah berapa lama aku menunggu.
Beberapa saat kemudian, aku mendengar deruman mobil. Aku mengintip dari balik tirai. Ternyata mobil ayahku. Mereka datang! Aku pun merasa sangat senang. Ibu membuka pintu pagar dan mobil masuk ke halaman rumah. 

Kedua orangtuaku masuk ke rumah dan menyalakan lampu. Mereka membawa banyak barang. Wajah mereka nampak lelah. Barang-barang yang mereka bawa diletakkan di ruang tamu. Setelah itu ayah menuju ke kamar mandi. Membawa cangkul.

Aku mengikuti ayahku. Saat ayah membuka pintu kamar mandi dan menyalakan lampu, aku berseru pada beliau, “Di sana, Yah!”

Ayahku masuk ke dalam dan mulai mencangkul lantai keramik kamar mandi yang menggembung.

“Iya, Yah. Di sebelah sana! Terus!” seruku lagi.

Ayah mencangkul dan mencangkul hingga semua keramik terbongkar. Di dalamnya terdapat beberapa mayat manusia yang sudah membusuk.

“Ayah, yang itu aku!” seruku.

Ayahku mengeluarkan secarik kertas. Ada fotoku di dalamnya. Setelah mengamati kertas dan wajah-wajah mayat. Ia mengangkut salah satunya. Itu aku, seperti yang sudah kuserukan tadi. Setelah mengambil mayatku, ayah menguburku.

Kedua orangtuaku pergi. Meninggalkanku. Sendiri lagi. Tak ada siapa-siapa di sini. Rumah ini seperti rumahku yang lama sebelum aku pindah. Tapi juga tak tampak seperti rumah lama. Ada beberapa bagian yang berbeda. Kamar mandinya. Juga ruang tamunya. Bentuknya seperti gabungan antara rumah lama dan rumah baru.

Aku tak mengerti ini di mana. Setelah kepergian kedua orangtuaku, aku masuk ke kamar mandi. Kamar mandinya gelap karena lampu sudah dimatikan. Tapi aku bisa melihat dalam gelap. Ayah sudah membetulkan keramik yang tadi dibongkarnya. Lantainya sudah kembali utuh. Namun aku tahu di bawahnya masih tersimpan beberapa mayat. Entah mayat siapa saja itu. Aku tak peduli.

Aku memperhatikan benda-benda yang ada di dalam kamar mandi. Ada sabun di rak sabun kami yang lama. Lalu ada cangkir plastik dan sikat gigi ibuku. Sikat giginya sudah usang. Pintu kamar mandi ini kayunya juga sudah lapuk. Kemudian duniaku gelap gulita.Aku melayang dan tiba di sebuah gedung, mirip sekolah lamaku di SMA. 

Aku mencari wajah-wajah yang kukenal. Ada beberapa rekan kerjaku di gedung itu. Mereka tak menggubrisku. Mungkin mereka tak melihatku. Ya sudahlah, pikirku.

Aku menyusuri lorong-lorong di bangunan itu. Lorong-lorongnya terang. Sama sekali tidak gelap seperti di rumah tadi. Aku pun masuk ke beberapa ruangan, menjumpai beberapa orang yang kukenal dan menyapa mereka. Namun tak ada yang menyapa balik. Semua sibuk. Jadi aku keluar dari sana.

Tiba di sebuah ruangan lain, aku bertemu seseorang yang pernah kusuka. Kami pernah akrab untuk beberapa waktu namun ia mendadak mengabaikanku hingga kami jadi seperti orang asing. Di sini, orang itu mengenaliku dan menyapaku. Rasanya aku ingin menangis karena akhirnya ada yang mengenalku di dunia aneh ini. Juga karena akhirnya dia menyapaku… walau hanya dalam mimpi.

Ya… ini mimpi. Aku bermimpi aku mati. Dan setelah aku mati, orang yang mengabaikanku malah menyapaku.