[FanFiction] I’m Sorry I Make You Fall In Love With Me (part 4)

Starring:
1. Minah
2. Kung Min
3. Mr. Joo

Base on K-Drama Beautiful Gong Shim

Kung Min:
Beberapa minggu aku melihat Minah selalu ada di sekitarku, baik saat aku akan berangkat kerja maupun saat aku pulang kerja. Ia juga beberapa kali bertanya apakah dia melakukan kesalahan padaku. Aku mencoba mengingat-ingat. Kupikir semua orang pasti pernah melakukan kesalahan pada siapapun: ayah, ibu, saudara, anak, teman, orang yang disukai, bos, rekan kerja, guru, orang tak dikenal… Dan dalam kasus Minah ini, dia… Dia pernah mengejekku sekali waktu. Tapi, sudahlah. Kuharap aku bisa melupakan kesalahan itu.

Kenapa aku berubah dan kenapa aku tak lagi menyukainya… akupun tak tahu. Kurasa perasaan orang bisa berubah, kan? Aku dulu mengejar-ngejarnya, mengikutinya ke mana saja, menyapanya duluan sebelum ia menyapaku, memanggil-manggil namanya… dan sekarang aku tak lagi melakukan itu. Bahkan aku menghapus namanya dari kontak teleponku. Aku tak ingin memberinya harapan sekecil apapun.

“Kenapa kau melakukan ini-itu padaku? Aku mengirim pesan hanya untuk mengobrol seperti dulu. Tapi, membacanyapun kau tidak lakukan. Apa salahku?” tanyanya suatu waktu.

“Tidak ada. Aku hanya… sibuk,” jawabku.

“Bisakah kita bertemu dan mengobrol? Sebentar saja?” tanyanya di lain waktu.

Dan tentu saja aku menolaknya dengan alasan sibuk. Aku tak ingin berlama-lama ngobrol dengannya. Namun ada sekali waktu kami bertemu di taman dekat rumah, kami mengobrol sebentar.

Ia kelihatan sedih. Tapi ia selalu tersenyum. Ia masih bisa mengobrol dengan siapapun. Dan tertawa banyak dengan Mr. Joo. Beberapa kali mereka pergi bersama. Lalu kuputuskan untuk mengabaikannya… mungkin untuk selamanya.

Minah, maafkan aku karena membuatmu jatuh cinta padaku. Kuharap kau segera menemukan sesorang yang bisa mengisi hatimu. Mr. Joo mungkin?

Minah:
Aku terus menunggui Kung Min saat ia hendak pergi bekerja maupun saat ia pulang kerja. Sampai beberapa minggu. Beberapa kali aku menanyainya tentang perasaannya.

“Apa ada yang salah denganku? Apakah karena aku ‘ugly’ sehingga kau tak suka padaku? Atau… apakah ada tingkah dan perkataanku yang menyakiti hatimu?” tanyaku suatu hari.

“Tidak ada,” jawabnya. Singkat. Dan sesudah itu ia kembali mengabaikanku.

“Aku minta maaf kalau aku bersalah padamu,” kataku di lain waktu.

“Iya. Tidak ada masalah, kok,” katanya.

Lalu kami mengobrol sebentar. Dan keesokan harinya ketika kami berpapasan di jalan, ia kembali mengabaikanku layaknya orang yang tidak saling kenal. Padahal sebelumnya ia selalu memanggilku, menyapaku, dan mengajakku bercanda. Tak ada lagi semua itu.

Aku lelah. Lelah berusaha untuk membuat ia kembali jadi, setidaknya, temanku. Aku tak berharap ia akan kembali menyukaiku. Aku hanya ingin kembali berteman denganku seperti sedia kala. Tapi… Ia bahkan sekarang bukan lagi temanku. Sangat menyedihkan!

Dan di saat aku sedih, Mr. Joo selalu menghiburku dengan leluconnya. Dia sangat menyenangkan. Dia juga menawarkan banyak bantuan padaku dan mengajakku jalan-jalan. Mungkin suatu saat aku bisa jatuh cinta padanya. Mungkin… tapi, aku benar-benar lelah.

Mr. Joo… dia selalu ada kalau aku memintanya. Dan dia juga muncul di saat tak terduga, entah disengaja atau tidak. Ia juga melakukan sesuatu tanpa diminta; membantuku mengerjakan ini-itu maupun menghiburku. Itu sesungguhnya bagus, kan? Tapi banyak pertimbangan yang membuatku tidak ingin menjalin hubungan spesial dengannya. Salah satunya karena aku lelah. Saat ini aku hanya butuh waktu untuk diriku sendiri. Kuharap tak butuh waktu lama untuk menyembuhkan luka hati ini. Kuharap aku akan menemukan cinta yang baru; menemukan seseorang yang tidak mempermainkan hatiku, seseorang yang benar-benar tulus. Ya, semoga terjadi.

Untuk Mr. Joo, maafkan aku karena telah membuatmu jatuh cinta padaku. Aku tak tahu apa yang membuatmu menyukaiku. Tapi, aku benar-benar berterima kasih kau telah meluangkan waktumu untukku. Terima kasih untuk segalanya. Terima kasih mau menjadi teman baikku.

Mr. Joo:
Minah… Dia tahu aku menyukainya. Saat itu aku mengajaknya makan siang di sela-sela jam istirahat di tempat kerjanya yang baru.

“Minah, aku mengajakmu makan saat ini bukan hanya sekadar makan. Tapi… ada sesuatu yang ingin kukatakan,” kataku saat itu.

“Oh? Apa itu? Apakah kau akan melakukan perjalanan dinas?” tanyanya.

“Bukan. Bukan itu. Perjalanan dinasku masih lama. Sekitar dua minggu lagi aku akan pergi untuk proyek baru di luar kota. Mungkin akan makan waktu seminggu,” jawabku.

“Begitu… semoga lancar-lancar urusannya ya, Mr. Joo. Semangat!!” serunya.

Aku tersenyum melihatnya gayanya. Aku tahu dibalik senyumnya ia menyimpan kesedihan yang mendalam. Ingin rasanya aku mengenyahkan semua kegalauan dalam hatinya.

Aku benar-benar tak tahu apa yang ada dalam kepala Kung Min. Mengapa laki-laki itu berubah sikap dan mengabaikan wanita yang tadinya disukainya? Teganya ia melakukan hal seperti itu. Teganya ia mempermainkan perasaan orang! Lelaki sejati tak akan mempermainkan hati seorang wanita, walau dalam bercanda sekalipun.

“Jadi, apa yang ingin kau katakan padaku, Mr. Joo?” tanyanya, membuyarkan lamunanku.

“Eh… itu. Hmmm… sebenarnya aku…,” aku terdiam sebentar karena gugup. “Aku sebenarnya… suka padamu,” kataku.

Gantian Minah yang terdiam cukup lama sambil menatapku, lalu menatap piringnya, memainkan sendoknya, dan kembali menatapku. Aku menunggunya bicara.

“Hmmm… terima kasih karena sudah menyukaiku. Tapi… saat ini aku ingin memulihkan dulu hatiku,” katanya. Ia tersenyum. Senyum getir.

“Ooh, tak apa-apa. Aku mengerti,” kataku sambil tertawa. Tawa yang dibuat-buat untuk mencairkan suasana. Tawa yang sebenarnya tak perlu.

“Maaf ya, Mr. Joo. Jangan sedih karena kutolak,” katanya.

“Tidak masalah bagiku. Asalkan kita bisa tetap berteman,” kataku.

“Tentu saja! Kita masih berteman. Jangan menjadi canggung!” serunya, girang.

Aku memang merasa sedih karena ia menolakku. Tentu saja ia menolak karena ia baru saja ditolak, kan? Dan dia masih dalam masa pemulihan hati karena cintanya ditolak oleh Kung Min. Bodohnya aku. Huft!!

Tapi, jujur aku bersyukur karena ia masih mau berteman denganku. Aku akan berusaha lebih keras agar bisa menjadi seseorang yang bisa selalu membuatnya tersenyum. Walaupun saat ini statusku hanya teman, tapi… siapa tahu suatu waktu aku akan naik pangkat menjadi pacarnya, kan?

Minah… terseyumlah! Lupakan orang yang telah membuatmu sakit hati. Ingatlah kau masih punya orang-orang yang bisa membuatmu tersenyum!

Dan… jangan pernah meminta maaf karena telah membuatku jatuh cinta padamu. Cinta itu datang begitu saja. Aku akan memeliharanya dan tak akan membuatnya berkurang.

——–T H E E N D——–

Cerita sebelumnya:

Part 1

Part 2

Part 3

Advertisements

[FanFiction] I’m Sorry I Make You Fall In Love With Me (part 3)

Starring:
1. Minah
2. Kung Min
3. Mr. Joo

Base on K-Drama Beautiful Gong Shim

Kung Min:

Gadis berambut pendek yang sedang berdiri di hadapanku ini bernama Minah. Dia tidak begitu cantik, tapi dia lucu dan manis. Orangnya lumayan seru dan baik hati.

Aku terkejut kala dia menyatakan cintanya padaku. Bagaimana mungkin cewek yang nggak pede ini bisa dengan berani mengatakan hal tersebut. Bagi sebagian cewek tipe seperti dia, biasanya menembak cowok adalah hal yang tabu. Hanya cewek-cewek pede-lah yang bisa dengan lantang mengatakan suka kepada cowok gebetannya. Jujur saja aku shock mendengar pernyataannya.

Maaf aku tak bisa menerima cintamu. Berhentilah mencintaiku. Janganlah menyukaiku. Tolong jangan berikan hatimu padaku.

Minah menangis. Ia berlari, pulang ke rumahnya. Aku tahu ia pasti sangat sedih. Ia kecewa. Aku menyakiti hatinya. Tapi bukankah lebih baik begitu daripada aku menerimanya tapi hatiku tidak ada padanya.

“Kung Min!” seseorang berseru memanggilku. 

Aku menoleh dan melihat Joo. Dia… sepertinya telah mendengar percakapanku dan Minah.

“Maaf jika aku kepo. Tapi, aku sangat penasaran,” katanya.

Aku menunggunya menyelesaikan kalimatnya.

“Aku tahu selama ini kau mengikuti Minah, ke manapun dia pergi selalu ada kau. Kau sering memanggil-manggilnya. Kau mengajaknya pergi jalan-jalan dan makan. Kau membantunya ini-itu. Kurasa kau menyukainya. Tapi… kenapa kau menolaknya?” tanya Joo.

“Hmmmm… Entahlah,” jawabku. Aku ragu apakah harus mengatakannya pada pria yang juga baik pada Minah ini.

“Kau membuatnya kecewa,” katanya lagi.

“Aku tahu,” kataku. “Tapi… perasaan itu bisa berubah. Bisa jadi beberapa bulan yang lalu aku suka padanya. Aku memang mengejar-ngejarnya. Aku selalu berusaha agar bisa berada di dekatnya. Lalu… entah kenapa sekarang perasaan suka itu hilang. Aku tak merasa perlu untuk memanggil-manggilnya lagi. Aku tak merasa wajib untuk membantunya ataupun berada di dekatnya.”

“Kau ini… segampang itukah? Begitu mudahnya kau mengatakan hal itu??” Joo nampak tak senang dengan ucapanku.

“Begitulah, Joo. Aku berusaha jujur. Untuk apa aku berbohong? Jika aku bilang aku menyukainya padahal tak ada lagi perasaan itu, bukankah itu akan lebih menyakitkan baginya?” tanyaku.

“Tapi… kau seolah-olah mempermainkan perasaannya!”

“Tidak! Aku tidak main-main. Beberapa bulan yang lalu aku menyukainya. Tapi sekarang tidak lagi!” jawabku.

* * *

Beberapa hari kemudian aku melihat Minah menungguku di depan rumahku. Aku baru pulang kerja. 

“Kung Min! Bisa kita bicara sebentar?” tanyanya.

“Apa yang mau dibicarakan? Aku sibuk sekali,” jawabku.

“Sebentar saja,” pintanya.

Aku menatapnya. Dia menunjukkan tampang memelas.

“Plisss…,” katanya.

“Baiklah. Bicaralah,” kataku, tanpa memintanya duduk di bangku taman yang tak jauh dari tempat kami berdiri. Aku tak ingin memberi harapan padanya.

“Aku hanya ingin bertanya… apa yang membuatmu berhenti menyukaiku. Apakah karena aku tidak cantik? Apakah karena aku tidak bekerja? Apakah kau masih teringat akan mantanmu? Apakah mantanmu kembali padamu? Kau kembali padanya? Apakah aku pernah menyakiti hatimu? Kalau memang aku pernah menyakitimu… aku minta maaf,” katanya, bertubi-tubi, tanpa jeda untukku menjawab.

Aku tak ingin menjawab pertanyaannya. Jadi aku hanya tersenyum.

“Aah… membingungkan,” katanya sambil menggaruk-garuk kepalanya.

“Kau tidak ada salah apapun. Jadi, tak perlu minta maaf,” kataku.

“Benarkah? Baiklah kalau begitu!” serunya dengan antusias. “Eh, Kung Min, aku tidak apa-apa kalau kau tidak ada perasaan padaku. Tapi izinkan aku agar bisa terus berteman denganmu. Biarkan aku tetap baik padamu hingga aku bisa melupakanmu.” 

Rasanya aku ingin menyuruhnya pergi. Namun aku tak sanggup melakukannya. Aku tak ingin dia menangis dan bersedih. Jadi aku hanya bisa menjawabnya dengan senyuman.

Malamnya, Minah mengirimkan pesan singkat ke ponselku. Tapi… sengaja tak membalasnya. Aku juga sengaja tak membuka pesannya. Tentu saja, aku tak ingin ia salah paham. 

* * *

Hari itu… aku melihat Minah dan Joo baru pulang. Joo mengantar Minah pulang, malam-malam. Sepertinya mereka habis jalan-jalan bersama. Mereka nampak akrab. Minah tertawa riang. Begitu pula dengan Joo. Kurasa pria itu menyukainya. Dan memang begitulah kenyataannya.

“Aku suka padanya,” kata Joo suatu waktu.

“Aku tak ingin dia bersedih. Dan kuharap aku bisa terus membuatnya tersenyum. Kau lihat, kan? Sekarang dia tak lagi bersedih karena dirimu. Kupastikan dia akan berpaling padaku,” kata Joo padaku saat kami bertemu di lain waktu. Kami sedang bermain basket saat dia mengatakan hal itu. Dan… entah kenapa hatiku terasa bagai diiris-iris. Tiba-tiba saja aku merasa emosi.

… to be continued

* * *

Episode sebelumnya:

Part 1

Part 2

[FanFiction] I’m Sorry I Make You Fall In Love With Me (part 2)

Starring:
1. Minah
2. Kung Min
3. Mr. Joo

Base on K-Drama Beautiful Gong Shim

Mr. Joo:

Hari itu, aku diam-diam datang ke rumah Minah untuk memberikan kejutan padanya. Aku ingin menghiburnya yang baru saja berhenti dari pekerjaannya. Namun aku sebelum aku sampai di depan pintu rumahnya yang terletak di lantai 2 bangunan ruko, aku mendengar pembicaraannya dengan Kung Min. Bukannya aku mencuri dengar atau kepo, tapi… pembicaraan mereka cukup menarik bagiku.

“Aku suka padamu,” begitulah yang kudengar saat itu. Minah menyatakan cintanya pada Kung Min!

Aku benar-benar tak percaya! Minah yang pemalu dan selalu nampak tak percaya diri itu bisa mengatakan hal tersebut. Tapi… tunggu dulu…

“Maaf, aku tak bisa menerima cintamu. Mohon jangan menyukai aku,” sahut Kung Min.

Jadi… Minah telah ditolak setelah sebelumnya menerima kebaikan-kebaikan Kung Min. Laki-laki macam apa itu? Beraninya ia mempermainkan perasaan wanita! Apalagi wanita itu adalah Minah, gadis baik hati dan selalu menghibur orang-orang di sekitarnya dengan lelucon-leluconnya.

Setelah itu aku mendengar langkah kaki yang tergesa-gesa diiringi dengan isak tangis. Lalu terdengar pintu dibanting. Pastilah Minah segera masuk ke rumahnya karena sedih. Akupun mengurungkan niatku untuk menemuinya. Ia pasti ingin sendiri.

“Sedang apa kamu di sini?” seseorang menegurku. Kung Min!

“Aku ingin menemui Minah. Tapi… sepertinya suasana hatinya sedang tidak baik,” jawabku.

“Oh.. begitu,” ujar Kung Min. Ia melewatiku tanpa banyak bicara, turun ke bawah, mungkin ingin pergi ke minimarket di lantai dasar.

Aku menghentikan langkahnya. “Aku tak akan membiarkanmu membuat Minah menangis. Walaupun kita bersahabat, tapi untuk urusan hati… tak akan ada toleransi,” kataku.

“Baiklah. Silakan lakukan apa saja sesuai keinginanmu,” jawabnya.

“Oke. Bagus kalau begitu. Aku akan menunggu saat yang tepat untuk menyatakan cintaku pada Minah,” kataku.

Kung Min menatapku, tajam. Ia tak mengatakan apa-apa. Kemudian berlalu begitu saja. Rasanya aku ingin meninju wajahnya, membantingnya ke tanah, dan… Aku tahu aku pasti kalah jika bertanding beladiri dengannya. Jadi, yah… aku hanya bisa menatap punggungnya yang kian menjauh. Persaingan secara sehat. Itu baru benar!

* * *

Satu minggu berlalu. Aku tak pernah melihat Minah berkeliaran di kantorku untuk mengantar makanan pada kakaknya yang juga bekerja di kantor yang sama. Kupikir mungkin ia masih berduka. Jadi, aku mengirim pesan singkat pada Minah. “Minah, bisa kita bertemu hari ini? Aku butuh bantuanmu untuk mengerjakan slide presentasiku. Aku tunggu di cafe biasa jam 5 sore, ya,” begitu tulisku. Kupikir ia perlu diberi kegiatan yang agak berat supaya dia bisa melupakan kesedihannya.

Tak lama kemudian Minah membalas, “Oke, aku akan ke sana nanti sore.”

Dan kamipun bertemu jam 5. Minah sama sekali tidak telat. Ia sudah menunggu di cafe tempat kami biasa bertemu.

“Hai Mr. Joo, di sini!” panggilnya saat melihatku. Di wajahnya tak tampak tanda-tanda kesedihan-ia-baru-saja-ditolak-cintanya. Ia tampak baik-baik saja bahkan terlihat ceria, membuatku bertanya dalam hati, apakah ia adalah artis yang hebat hingga bisa menyembunyikan kesedihannya? Atau… apakah Kung Min berubah pikiran dan menerima cintanya? Apa aku ketinggalan berita? Ah, aku penasaran!

“Sudah lama di sini? Maaf aku terlambat,” kataku padanya.

“Oh tidak lama, aku juga baru saja sampai. Tidak telat, kok. Tenang saja,” katanya.

“Mau pesan apa? Hari ini aku yang traktir, ya,” tawarku.

“Hmm… sandwich dan jus jeruk sepertinya enak,” jawabnya.

Setelah memanggil pelayan dan memesan makanan, aku mengeluarkan laptopku.

“Presentasi apakah itu, Mr. Joo? Apakah untuk besok? Atau untuk kapan? Berapa lama kau akan presentasi?” tanya Minah dengan bersemangat.

“Presentasinya minggu depan. Paling lama satu jam. Deadlinenya masih lama, tapi beberapa hari ke depan aku akan sangat sibuk, jadi ini harus diselesaikan sekarang. Kalau bisa hari ini selesai,” jawabku.

“Oke, baiklah! Ayo kita kerjakan!” seru Minah.

Beberapa jam kemudian, kami larut dalam tugas menyelesaikan slide presentasiku. Setelah berdebat sedikit tentang background dan animasi yang akan dipakai dalam slide, file presentasiku pun selesai. Tak terasa hari sudah malam. Aku mengantar Minah pulang ke rumahnya. Di jalan dekat rumahnya, kami melihat Kung Min duduk di bangku taman. Ia seperti sedang memikirkan sesuatu. Di tangannya ada minuman kaleng bersoda.

“Itu Kung Min! Sedang apa dia di sana, ya? Sepertinya ia sedang memikirkan sesuatu. Apakah dia punya masalah keluarga, ya? Atau pekerjaannya bermasalah?” gumam Minah.

Aku menatap wajah gadis yang kusukai. Dia masih ada rasa peduli pada laki-laki yang telah mencampakkannya itu. Aku heran mengapa ia masih saja peduli. Jelas-jelas Kung Min telah menolaknya. Aku tak menanggapi gumamannya dan terus menyetir.

“Mr. Joo, bisa tolong berhenti di sini? Aku ingin menghampiri Kung Min,” pintanya.

“Kau ingin menemuinya?” tanyaku sambil menghentikan mobil.

“Ya, aku ingin menemuinya,” jawab Minah. Ia menganggukkan kepalanya.

“Baiklah. Aku akan menemanimu. Kebetulan ada sesuatu yang ingin kubicarakan,” kataku.

Kamipun bersama-sama turun dari mobil dan menghampiri Kung Min. Aku berharap ia terkejut melihat kami jalan berdua malam ini. Tapi, ia tidak menampakkan raut wajah habis mendapat surprise. Datar. Dan itu membuatku benci setengah mati.

“Kung Min, kenapa kau di sini sendirian?” tanya Minah.

“Tidak apa-apa. Aku hanya sedang mencari angin segar,” jawabnya.

“Oh, begitu,” kata Minah. Ia diam. Mungkin tak tahu harus mengatakan apa lagi. Jadi aku mencoba mencairkan suasana yang dingin tersebut.

“Minah, ini sudah larut. Pulanglah,” kataku padanya sambil menatap Kung Min. Wajahnya masih saja datar. Ia juga diam saja. Tak ada basa-basi menanyakan sesuatu. Padahal tadinya ia dan Minah sangat akrab. Ia selalu menyapa Minah dan bercanda dengannya. Tapi kini… Dasar tak berperasaan!

Minah berpamitan pada kami. Setelah ia menjauh, aku menatap wajah si pembunuh berdarah dingin yang sedang menenggak minuman bersodanya. Ya, julukan pembunuh berdarah dingin cocok sekali untuknya. Ia memang tak berperasaan.

“Kau tidak pulang?” tanyaku pada Kung Min.

Ia menatapku sejenak. Lalu berkata, “Sebentar lagi. Kau?”

“Sebentar lagi juga,” jawabku.

“Oh,” jawabnya singkat.

“Aku akan berusaha mendapatkan hatinya. Dan aku yakin aku pasti bisa,” kataku.

“Oh,” jawabnya, lagi-lagi dengan singkat.

“Aku tahu kau menolaknya!” seruku.

Ia tersenyum. Tapi tak mengatakan apapun.

“Jika kau tak punya perasaan apapun padanya, jangan pernah memberi harapan padanya. Awas kalau kau sampai menyakiti hatinya lagi,” ancamku.

Ia tersenyum lagi. Dan tak mengatakan apapun juga.

Aku kesal. Kutinggalkan dia tanpa berpamitan lagi. Dalam hati aku bersumpah untuk menjauhkan dia dari Minah, selama-lamanya.

 

… to be continued

* * *

Baca Part 1

[FanFiction] I’m Sorry I Make You Fall in Love With Me (part 1)

Starring:
1. Minah
2. Kung Min
3. Mr. Joo
Base on K-Drama Beautiful Gong Shim

Minah

Dulu, dari sekian banyak orang yang bersekolah di SMAku, mungkin hanya satu atau dua orang yang mengenalku. Aku bukan siswi populer yang cantik, pintar, dan kaya. Aku biasa-biasa saja, boleh dibilang tak ada apa-apanya. Aku tahu aku jelek, tak begitu pintar, dan tidak kaya. Aku tidak tinggi, putih, atau bening, seperti yang sering dikatakan oleh teman-teman cowok di kelasku ketika ada cewek cantik lewat.

“Hei, lihat si Yumi lewat!” teriak seorang cowok saat ada anak kelas sebelah lewat.

“Wow, beningnya!” sahut cowok lainnya menanggapi lewatnya salah satu siswi cantik populer di sekolah.

Begitulah cowok-cowok, yang beninglah yang selalu dilihat. Kalau orang seperti aku yang lewat, jangankan bersorak, melirik sedikitpun tidak. Yang ada malah membuang muka atau cepat-cepat pergi. Mungkin wajahku bikin mereka alergi, ya.

Dari SMA, kuliah, hingga aku bekerja, semua perlakuan cowok terhadapku sama. Aku bagaikan butiran debu, tak menarik dan tak patut dilihat. Aku ini perempuan biasa yang punya hati. Tentu saja aku juga pernah jatuh cinta. Aku pernah suka dengan makhluk bernama cowok. Tapi kisah cintaku tak ada yang berjalan mulus. Oke, belum ada, karena kuharap suatu saat aku menemukan Prince Charmingku. Entah kapan itu akan tiba. Sungguh menyedihkan sekali hidup seperti ini. Apalagi ditambah dengan karirku yang tak ada kemajuan. Rasanya kalau aku mati, tak akan ada orang yang datang untuk memberi rasa belasungkawa.

Kehidupanku yang menyedihkan itu suatu hari berubah dengan hadirnya seorang pria baik hati dan cukup bernama Kung Min. Kung Min adalah tetangga baruku. Tadinya aku tak tahu ia adalah pengacara. Tapi saat aku tertimpa musibah yang membutuhkan bantuan seorang pengacara, aku secara kebetulan bertemu dengannya. Seorang teman menyarankan aku datang ke sebuah kantor pengacara. Di sanalah aku bertemu Kung Min, tetangga baruku yang menyebalkan. Tadinya aku tak mau dibantu olehnya karena ia terus-terusan mengolok-olokku. Tapi… akhirnya aku dibantu olehnya secara cuma-cuma.

“Karena kita bertetangga, tak ada salahnya aku membantu. Lagipula aku mengerti kondisimu,” katanya waktu itu.

Siapa yang tidak senang dibantu, kan? Apalagi saat itu kondisi keuanganku sedang tidak bagus. Mendapat bantuan secara gratis tentulah menjadi berkah bagiku. Kung Min sangat ramah dan lucu. Aku akhirnya tahu bahwa ia juga bisa bela diri. Ia sangat hebat saat mengalahkan para gangster yang memporak-porandakan kantornya. Dan yang pasti, ia kagum padaku karena aku bisa menggambar, memasak, dan membetulkan peralatan.

Semakin hari aku dan Kung Min makin akrab. Dia berteman baik dengan bosku, Mr. Joo. Mr. Joo usianya tak jauh beda denganku. Dia seorang eksekutif muda yang tampan dan pintar. Dia juga baik hati dan sangat ramah. Walaupun kaya-raya, ia tidak sombong. Aku suka padanya? Hmmmm… aku tak berani. Aku tahu siapa diriku.

Antara Kung Min dan Mr. Joo ada persaingan terselubung. Aku tahu itu. Aku bisa merasakannya. Mereka berdua sepertinya suka padaku, karena mereka berdua sangat perhatian terhadapku. Yah, tentu saja aku memilih orang yang selalu ada untukku, orang yang selalu mendengar setiap curhatku, dan orang yang selalu mau diajak ke mana-mana denganku. Ya, dialah Kung Min, orang yang baru beberapa bulan akrab denganku namun sudah tahu semua rahasiaku. Aku memilihnya dibandingkan Mr. Joo yang eksekutif muda itu.

Hari itu… awal bulan. Bulan baru. Aku mengikuti sebuah lomba dan ternyata aku menang. Aku ingin Kung Min menjadi orang pertama yang mendengar berita baik tersebut. Aku ingin berterima kasih padanya karena dukungannya selama ini padaku sekaligus menyatakan rasa cintaku padanya. Aku tak sabar menunggunya pulang. Lalu, saat aku melihatnya, langsung saja kupanggil dia.

“Kung Min, kemari!” panggilku.

Ia menoleh dan menghampiriku. “Oh, Minah! Kau ada di sini?” tanyanya.

“Iya,” jawabku sambil menyerahkan selembar kertas penghargaan aku menang lomba padanya.

“Wah, kau menang lomba? Juara pertama?” serunya dengan mata terbelalak.

“Iya. Aku menang lomba! Senang sekali rasanya! Baru kali ini aku merasa dihargai. Selama ini… kau tahulah sendiri. Tak ada yang benar-benar menyukaiku. Tak ada yang peduli padaku. Orang-orang hanya ada ketika mereka butuh aku. Tapi jika mereka tak butuh, aku dibuang begitu saja. Namun sejak mengenalmu, aku merasa duniaku berubah. Kau sangat baik padaku. Kau memberikan semangat padaku. Kau menolongku ini dan itu. Aku sangat berterima kasih. Karena itu, aku ingin kau menjadi orang pertama yang mengetahui keberhasilanku!” kataku.

“Ah, sudah sepatutnya seorang teman memberikan semangat pada temannya,” kata Kung Min.

“Tidak begitu yang kurasa pada teman lainnya. Kau berbeda,” kataku. “Kau pernah mengatakan untuk terus berada di dekatmu. Kau berkata kau ingin selalu melihatku. Kau juga pernah mengatakan kau suka padaku. Sekarang adalah giliranku mengatakan isi hatiku, Kung Min.”

Aku diam sejenak untuk mengambil napas. “Kung Min, aku juga suka padamu. Iya, aku suka sama kamu,” lanjutku.

Kung Min terdiam. Aku menunggunya. Lalu ia berkata, “Maaf, tapi aku tak bisa mencintaimu. Tolong jangan jatuh cinta padaku. Maaf juga telah membuatmu jatuh cinta.”

“Apa? Apa maksudmu? Kenapa begitu? Jadi… apa maksud sikapmu yang baik padaku selama ini? Mengapa kau bersikap seolah-olah kau mengejar-ngejarku? Mengapa kau memintaku selalu mengirimkan pesan padamu? Kau bilang kau suka padaku, tapi sekarang… Apa artinya ini??” kataku tak percaya. Wajahku memanas. Mataku terasa perih. Rasanya sebentar lagi air mata akan jatuh.

“Maaf,” katanya. “Jangan jatuh cinta padaku. Itu saja. Pulanglah.”

Aku tak dapat berkata apa-apa. Air mataku telah membasahi pipiku. Aku merasa malu. Seharusnya aku memprediksi bahwa ini akan terjadi. Seharusnya aku sadar diri bahwa aku bukan siapa-siapa. Aku tak akan pernah menjadi siapa-siapa baginya. Ia hanya berbuat baik padaku. Itu saja. Aku hanya teman. Tak akan pernah lebih dari itu. Itu semua hanya karena rasa kasihan. Ia kasihan padaku. Kasihan. K-A-S-I-H-A-N.
…to be continued

Part 2

[FanFiction] When I Met That Kind of Person

I’ve told her not to go outside when it is late at night. But she never hear me. Now, look at her! Look what that organization did to her!

“I’m Han Gi Tak’ sister! You have to believe me!” she said a long time ago.

Well… Should I trust her? Someone said that she’s lying. She look like her brother. She knows everything about him. But, how can I know that she’s the real sister of my best friend?

“Choi Seung Jae, what are you thinking now? Are you okay?” Han Hong Nan asked me.

“Uhmm… Nothing! I just thinking about something,” I replied to her.

“What is it? You look not good. Look at that face!” she said.

“Oh…, nothing! I’m fine.”

Now, look at her. Someone punched her in the face. But she still worried about me. If I didn’t find her, maybe she already dead now. I know it must be hurt. But she didn’t want me to treat her. She did it by herself – put the medicine on her cheek and hand. I really want to help her.

‘Then, help her, stupid!!’ Suddenly a fairy appear in front of me. ‘Help her now or you’ll be regret it later!’

What?? Does the fairy talk to me? What kind of world is it? Is that real?

‘Yeah, I’m real! Go help her now! And don’t forget to tell her how your feeling is!’ said the fairy.

I can believe it. But, I do what the fairy said.

“Hey, what are you doing? Put it down!” Hong Nan said to me when I take her medicine.

“I’ll help you, Hong Nan. Just be quiet and let me do this for you.”

At first, she didn’t want to do it. But, I didn’t want to give the medicine to her. Ah, that kind of stubborn woman… Please be nice!

“Okay… Do it!” she said then after a very long time arguments.

Yes! This is the show time! I do what I can do. Cure her! Heart and body… Mind and soul… But…
Oh my gosh! I can do it right! I made everything in a mess. Oh, no!!

“Nah… nah… you make a mess, Seung Jae! That’s why I don’t want you to help me! Just look at what I do. Sit there and wait, okay?” she said.

“I’m sorry, Hong Nan. I really want to help you. But…”

“You already helped me. Remember? You took me here, to the safe place. Put me on your back and walked for a couple kilometers. I really appreciate it, Seung Jae! Thank you so much!”

“Ah, you make me… uhmmm… blushing. Hahahaha.”

“Yeah, I know. And… I know that you like me.”

What??? How can …?

“Hahaha, now look at your face! You look like a boiled shrimp!”

“Now you laugh at me, huh? That’s good! You funny-stubborn-beautiful princess!”

“Eh… Do you want to know something?”

“What is it?”

“I… like you, too, Choi Seung Jae!”

*blushing* *speechless*

Han Hong Nan and Choi Seung Jae. Picture taken from tumblr.

In response to Daily Prompt from The Daily Post: Stubborn. This Fanfiction was made according to Korean Drama: Please Come Back Mister.