Ceritera Juli #26: Takkan Lagi Kumenangis Untukmu

sumber gambar

Gelak tawa kemenangannya memenuhi ruangan, dan aku bersumpah suatu saat aku akan membalas dendamku.

Oke, baiklah. Aku selalu ingin membalas dendamku padanya. Untuk itu, aku harus memutar otak, mencari cara bagaimana agar dendamku terbalas. Bagaimanapun aku harus! Bagaimanapun caranya, walau aku harus begadang semalaman bahkan sebulan untuk mencari cara membalaskan dendamku padanya.

Dia selalu membuat air mataku mengalir keluar. Walaupun aku bisa membuatnya terluka di saat aku bersama dirinya, pada akhirnya dia lagi yang membuatku menangis. Selalu aku yang mengeluarkan air mata. Bukan dia! Dan aku benci itu. Sangat benci!

Hari ini… Aku mengamatinya. Kuperhatikan dia lekat-lekat. Dia… Mungkin tak tahu aku sedang memperhatikannya. Kurasa begitu. Lalu, kuambil sebilah pisau dari laci di dapur dan secepat kilat kurengkuh dia. Balas dendamku harus berhasil kali ini!

Ciat!! Kutusukkan pisau ke arahnya. Dengan gesit kupotong-potong dia. Napasku memburu. Keringat membasahi dahiku. Terus dan terus, kugunakan pisau untuk menghujamnya. Tanpa ampun! Aku tak peduli dengan sekitarku. Tak akan pernah! Yang penting dendamku terbalas!

Dan akhirnya… Dia tak bergerak. Tak ada lagi tarian-tarian ejekannya. Tak ada lagi gelak tawa penuh kemenangannya. Sunyi. Dia benar-benar kalah kali ini.

Senyumku mengembang. Dalam hati aku berteriak seperti Dora dalam film Dora The Explorer, ‘Berhasil!! Berhasil!!’ Kalau bisa, aku akan meloncat-loncat kegirangan juga. Namun tak kulakukan. Aku menghela napas lalu kubuka kacamata renangku. Kupandangi bawang merah yang baru saja kucincang. Kali ini, aku tak mengeluarkan air mata. Dendamku telah terbalas. Aku menang!

* * *

Fiksi ini diikutkan dalam event Ceritera Juli #26 oleh Kampung Fiksi.

Tema: Dendam. Gelak tawa kemenangannya memenuhi ruangan, dan aku bersumpah suatu saat aku akan membalas dendamku. Tulislah, pilih salah satu: (a). Ceritakan apa penyebab timbulnya dendam. (b). Ceritakan bagaimana pembalasan dendam dilakukan. (c). Ceritakan pembalasan dendam yang gagal. (d). Jadikan kalimat di atas sebagai awal cerita dan lanjutkan.

Ceritera Juli #25: Enam Tiga Kali

sumber gambar

Di sinilah mereka berdiri, enam orang yang tidak saling kenal dengan sebuah undangan di tangan masing-masing. Di hadapan mereka sebuah bangunan dua lantai bergaya Eropa kuno berdiri megah. Awalnya tak seorangpun mau buka suara. Mereka hanya diam menunggu pintu rumah dibuka setelah salah satunya -wanita berusia sekitar 60 tahun bergaun serba hitam- mengambil inisiatif untuk mengetuk pintu.

“Huh, mana penghuni rumah ini? Tak seorang pun yang membukakan pintu,” dengus seorang kakek yang memakai topi dan berjas warna coklat tua.

Wanita bergaun serba hitam kembali mengetuk pintu.

“Halo, ada orang di dalam?” tanyanya sambil mengetuk pintu dengan ketukan berbentuk lingkaran yang dipasang di pintu kayu.

“Ini sudah hampir 30 menit? Apakah undangan ini hanya main-main?” gerutu seorang nenek yang memakai terusan berwarna merah marun.

Setelah itu yang lainnya ikut menimpali. Dari gerutuan mereka akhirnya terbongkarlah bahwa mereka sama-sama tidak mengenal siapa yang mengundang mereka. Mereka hanya penasaran dengan undangan yang diterima karena bentuk undangan yang unik -selembar kertas yang sudah agak menguning dengan tulisan tangan berejaan kuno. Isi undangan itu adalah:
“Selamat! Anda adalah orang terpilih untuk menghadiri perjamuan makan malam eksklusif di Villa Bougenville milik Mr. Baron, Jl. Oak Nomor 6. Datanglah sebelum jam 6 sore. Undangan untuk satu orang dan undangan harap dibawa. Terima kasih.”

Tepat jam 6, terdengar suara lonceng berdentang sebanyak 6 kali dari belakang bangunan. Setelah itu, seseorang membuka pintu utama. Ia seorang pria setengah botak memakai kemeja putih dipadukan dengan setelan jas berwarna hitam.

“Selamat datang Tuan-tuan dan Nyonya-nyonya yang terpilih. Perkenalkan, nama saya Emilio, pelayan Tuan Baron. Mari silakan masuk,” kata Emilio sambil mempersilakan keenam tamunya masuk.

Di dalam nampak sebuah ruangan yang megah. Di sisi kanan ruangan terdapat sebuah tangga ukir yang melingkar. Lampu kristal yang tergantung tepat di tengah ruang tamu menyala dengan indahnya. Emilio meminta tamu-tamunya yang masih berdecak kagum untuk mengikutinya ke ruang makan.

Setelah melewati sebuah lorong panjang yang di sisi kanan-kirinya terdapat foto-foto jaman kuno, keenam tamu undangan masuk ke ruang makan. Di meja makan telah siap berbagai macam hidangan. Emilio mempersilakan tamunya untuk duduk di kursi yang telah disediakan. Ada tujuh kursi yang mengelilingi meja panjang tersebut. Keenam tamu pun menempati tempat duduk. Satu kursi yang terletak di tengah-tengah dibiarkan kosong.

“Mari silakan dinikmati hidangan yang telah disediakan,” kata Emilio.

Saat itulah seorang tamunya berseru, “Maaf, Pak. Kami belum melihat Mr. Baron. Tidak mungkin kami langsung makan.”

Kata-katanya langsung diiyakan oleh para tamu lainnya.

“Maaf tuan, sebelumnya saya minta maaf karena menyampaikan berita ini. Beberapa hari yang lalu, Tuan Baron meninggal dunia. Namun keinginannya tetap saya laksanakan sebagai petuah darinya. Karena itu, mohon agar Tuan-tuan dan Nyonya-nyonya bersedia menikmati hidangan yang telah disediakan sebagai penghormatan pada Tuan Baron.”

“Jadi undangan itu ditulis sebelum beliau meninggal? Lalu… Ke mana sanak keluarga Mr. Baron? Kenapa rumah ini nampak sepi?” tanya seorang ibu.

“Tuan Baron tidak punya sanak-keluarga, Nyonya. Ia menuliskan undangan itu dengan sistem acak, memilih dari buku telepon. Beliau hanya ingin berbagi kebahagiaan dengan orang-orang terpilih di hari ulang tahunnya. Sayangnya…,” Emilio tidak melanjutkan kalimatnya.

“Oh, baiklah. Aku mengerti. Sungguh sedih akhirnya ulang tahun beliau harus dirayakan tanpa kehadiran beliau,” kata ibu yang lainnya.

“Begitulah Nyonya. Beliau selalu merayakan ulang tahunnya dengan orang-orang yang berbeda setiap tahunnya. Beliau memang senang melakukannya. Katanya untuk menambah kenalan baru,” jelas Emilio.

“Kami sangat berterima kasih atas undangan perjamuan makan malam ini. Seandainya beliau masih di sini…,” ujar seorang bapak.

Setelah itu Emilio mempersilakan tamu-tamunya untuk makan malam. Ia sendiri menyingkir masuk ke ruangan lain setelah sebelumnya mengatakan kepada tamunya untuk memanggilnya kapan saja mereka memerlukannya. Beberapa detik kemudian para tamu undangan yang rata-rata berusia 60an itu asyik menyantap makan malam mereka sambil mengobrol.

Tak lama kemudian mereka pun selesai makan. Emilio mengajak mereka berkumpul di ruang tamu.

“Tuan-tuan dan Nyonya-nyonya, ada satu wasiat lagi yang harus saya sampaikan kepada Anda semua. Tuan Baron menitipkan enam buah amplop pada saya untuk diberikan kepada Anda semua. Masing-masing mendapatkan satu buah amplop. Beliau berpesan agar amplop ini dibuka setelah sampai di rumah dan jangan membukanya di perjalanan pulang.”

Setelah menyampaikan wasiat itu, Emilio membagikan amplop-amplop putih kepada keenam tamunya. Para tamunya merasa keheranan dengan dibagikannya amplop tersebut. Namun dalam hati mereka sangat senang.

“Wah, terima kasih Emilio. Kami sangat senang bisa menikmati makan malam di sini. Terima kasih juga untuk amplopnya,” kata seorang bapak mewakili tamu-tamu lainnya.

Sekitar pukul 7.30 malam keenam tamu undangan itu meninggalkan rumah Mr. Baron. Mereka menyusuri jalan setapak untuk menuju ke halte bus. Saat mereka berenam berjalan, salah satunya berkata, “Apa kira-kira isi amplop ini, ya? Apakah uang?”

“Mungkin saja jika melihat dari tebalnya amplop yang dilem ini,” jawab bapak yang lainnya.

“Kalau penasaran, dibuka saja!” celetuk seorang ibu.

“Tapi, Emilio berpesan agar kita membukanya setelah tiba di rumah dan jangan membukanya di perjalanan. Ini kan masih dalam perjalanan pulang,” sergah ibu yang lainnya.

“Memangnya dia tahu kapan dan di mana kita membukanya?” tanya seorang bapak.

“Sudahlah, kita buka saja. Toh tak ada salahnya kan?” kata bapak lainnya.

Setelah itu mereka membuka amplop masing-masing. Melihat isi amplop itu membuat mereka semua terkejut.

“Kertas?” kata seorang bapak.

“Isinya hanya kertas! Apa-apaan ini??” seru bapak lainnya.

“Tunggu dulu! Ini bukan kertas biasa! Ada tulisan samar-samar di tengah-tengahnya!” kata seorang ibu berkaca-mata sambil menerawangi selembar kertas yang ia cabut dari dalam amplop. Kelima orang lainnya ikut-ikutan memperhatikan tulisan yang ada di kertas seukuran uang yang mereka terima.

“Angka 6. Ada tiga buah angka 6!” kata seorang ibu.

“Apa maksudnya itu?” tanya ibu yang lainnya.

Setelah mempertanyakan hal itu, tiba-tiba lampu jalan padam. Angin berhembus dengan sangat kencang. Dari kejauhan terdengar suara burung hantu dan burung gagak berkoak-koak. Para orang tua itu berusaha menyeimbangkan badan mereka agar tidak terhempas oleh hembusan angin yang sangat kencang. Saat itulah terdengar bunyi kepak-kepak sayap yang sangat keras. Detik berikutnya terdengar teriakan pilu yang menyayat hati dari keenam orang tersebut. Dan selanjutnya hening…

* * *

Di sebuah villa besar seorang lelaki bertampang menyeramkan menyeka darah dari bibirnya.

“Akhirnya aku mendapatkan mangsaku juga setelah menunggu selama satu tahun. Sekaligus enam! Ini bagus sekali! Hahahaha!” seru lelaki itu. Wajahnya yang menyeramkan berangsur-angsur berubah menjadi tampan.

“Ah, trik Anda berhasil lagi Tuan Baron. Rasa penasaran dari orang-orang itu membunuh diri mereka sendiri,” kata pelayan laki-laki itu.

“Benar sekali. Ini sangat mudah!” katanya sambil tertawa dengan sangat keras.

“Jadi, tahun depan kita buat lagi undangannya? Untuk orang umur berapakah tahun depan?”

“Buatkan untuk orang yang umurnya ada angka enamnya. Untuk enam orang. Dan siapkan kembali enam amplop berisi enam puluh lembar kertas bertuliskan angka enam tiga kali!”

“Baik, Tuan.”

“Sekarang aku mau istirahat. Besok pagi aku harus kembali menjadi manusia selama enam bulan dan istirahat kembali selama enam bulan berikutnya. Siapkan semua keperluanku. Jangan sampai ada yang ketinggalan!”

“Baik, Tuan.”

Setelah itu si pelayan yang bernama Emilio mengerjakan apa yang diminta oleh tuannya. Sebelumnya ia meminum jatah darah yang diberikan tuannya.

* * *

Fiksi ini diikutkan dalam event Ceritera Juli #25 oleh Kampung Fiksi.

Tema:
ENAM SURAT. Enam orang yang tidak saling kenal menerima enam surat undangan makan malam ke rumah seorang yang sudah meninggal. Karena ingin tahu, mereka memutuskan untuk datang. Setelah makan malam, masing-masing menerima envelop tebal dengan isi yang mengejutkan, sebagian berakhir tragis/manis (tergantung genre cerita pilihanmu).

Ceritera Juli #24: Kembali ke Awal

“Pak, tolonglah Pak. Tolong hapus ingatan-ingatan buruk saya,” kata seorang pasien hipnoterapiku.

“Begini, Pak. Setiap orang pasti mempunyai ingatan tentang hal-hal buruk. Ada ingatan yang perlu dihapus, dan ada yang tidak. Hal-hal buruk dalam ingatan itu bisa dijadikan pelajaran untuk kita. Itu dinamakan pengalaman. Kalau saya hapus semua itu, nanti akan berakibat tak baik untuk Bapak.”

“Tapi saya benar-benar yakin tidak mau lagi ada ingatan-ingatan buruk itu.”

“Kenapa Bapak begitu yakin tidak mau ada ingatan tentang hal-hal buruk itu?”

“Soalnya saya ingin jadi orang yang berpikir positif!”

“Berpikir positif itu perlu, Pak. Tapi yang lebih bagus itu berpikir bijak.”

“Ah, sudahlah, pokoknya hapus saja ingatan yang jelek-jelek itu!”

“Resikonya Bapak yang tanggung, ya.”

“Iya, saya tanggung semua resikonya. Pokoknya hapus semua ingatan tentang hal-hal buruk.”

Setelah itu aku melakukan hipnotis pada bapak yang datang bersama istrinya. Istrinya aku minta menunggu di sofa yang tak jauh dari tempat aku melakukan hipnotis. Tentu saja ia tak boleh duduk dekat-dekat denganku dan pasienku agar proses hipnoterapi ini berjalan lebih lancar.

Beberapa jam kemudian proses hipnoterapi selesai. Aku menjentikkan jariku. “Setelah mendengarkan jentikan jari ini, buka matamu dan semua ingatan tentang hal-hal yang buruk telah hilang dari pikiranmu,” kataku.

Bapak itu membuka matanya begitu aku selesai menjentikkan jariku. Detik berikutnya sangat membuatku terkejut. Tiba-tiba saja bapak itu menangis meraung-raung seperti seorang bayi yang baru lahir.

“Huaaa! Huaaa! Huaaaa!!”

Kontan saja istrinya langsung datang menghampiri kami.

“Apa yang terjadi? Kenapa suamiku menangis seperti ini?” tanyanya sambil berusaha menenangkan suaminya. Namun suaminya malah berteriak makin kencang.

“Ehm! Maaf, nyonya. Suami Anda meminta saya menghapus semua ingatan tentang hal-hal buruk dari pikirannya. Inilah yang terjadi. Ia bagai kertas yang masih polos. Ia kembali lagi menjadi seperti seorang bayi.”

* * *

Fiksi ini diikutkan dalam event Ceritera Juli #24 oleh Kampung Fiksi.

Tema: INGATAN. Hal baik seringkali mudah dilupakan, hal buruk seringkali susah dilupakan. Itu sebabnya, ia memintaku untuk menghipnotisnya dan menghapus semua ingatan buruk. Akibatnya? Sungguh mengerikan! Apa yang terjadi?

Ceritera Juli #23: Wajah Dunia

sumber gambar

Buka matamu dan lihatlah sekelilingmu. Kau akan melihat bukan hanya wajah manusia, tetapi wajah dunia yang seutuhnya, mulai dari yang indah sampai yang buruk rupa. Inilah kenyataannya. Kau tak lagi hidup dalam dunia gelapmu, dalam sunyi dan kesendirianmu.

Lihatlah di ujung jalan sana, gerombolan anak-anak kelaparan berkelahi berebut makanan. Mereka saling menjambak dan memukul. Sementara itu tak jauh dari mereka sebuah keluarga yang nampak harmonis makan bersama di sebuah restoran mewah – tak satupun yang peduli dengan keadaan di luar. Lalu, coba edarkan pandanganmu ke sisi lainnya dari muka bumi ini. Hewan-hewan kecil menjadi mangsa hewan yang lebih besar. Baik manusia maupun hewan, mempunyai caranya sendiri untuk bertahan hidup.

Semua rasa ada di dunia ini. Manis, baik, buruk, asam, pahit, kecut… Semuanya bercampur menjadi satu. Lihatlah dengan matamu dan rasakan dengan hatimu. Lihatlah! Perhatikan baik-baik…

“Inikah dunia? Sungguh aku tak percaya!”

Benar, inilah dunia! Lihatlah sekelilingmu. Dunia ini penuh dengan rasa. Dunia ini juga penuh dengan warna. Lihat dan rasakanlah!

“Tidak! Aku tak tahan melihat semua ini. Hentikan!”

Tapi… Bukankah kau ingin sekali melihat dunia?

“Aku memang ingin melihat dunia! Tapi bukan dunia yang seperti ini! Duni seharusnya penuh kedamaian. Dunia seharusnya membuat orang selalu tersenyum dan berbahagia. Aku tak ingin melihat dunia yang bercampur dengan air mata.”

Inilah dunia yang sebenarnya. Inilah kenyataan yang ada. Kebaikan, kejahatan, kesombongan, rendah hati… Semua sifat-sifat itu ada di dunia.

“Tapi aku tak pernah membayangkan adanya hal-hal jahat seperti yang kulihat sekarang ini. Kupikir dunia itu selalu cerah ceria dan bahagia.”

Dunia yang ada dalam pikiranmu itu hanyalah dunia imajinasimu, imajinasi yang kau bangun sejak kecil hingga saat ini.

“Pokoknya… Ini tak seperti yang kubayangkan! Aku merasa sesak. Tolonglah… Kembalikan mataku seperti semula. Biarkan aku hidup dalam dunia gelapku. Biarkan aku hanya melihat satu warna. Dan warna lainnya yang hanya kuciptakan dalam imajinasiku. Itu lebih baik daripada ini.”

Kau yakin ingin kembali seperti dulu, tak bisa melihat apapun di dunia ini?

“Aku sangat yakin.”

Tapi di dunia ini tak hanya ada kesengsaraan saja. Masih banyak kebahagiaan lainnya yang bisa kau lihat. Coba lihatlah ke seberang sana! Masih banyak keluarga-keluarga bahagia. Masih banyak hewan-hewan yang bisa hidup dalam damai. Semua itu tergantung padamu, tergantung bagaimana kau menilai kehidupan ini.

“Aku tahu, tapi tetap saja ini bukan dunia yang aku bayangkan. Karenanya, kembalikan penglihatanku seperti semula. Tolonglah…”

Baiklah jika kau memaksa. Akan kukembalikan penglihatanmu seperti semula. Dalam hitungan detik, kau akan kembali menjadi buta. Kuhitung satu sampai tiga.

1… 2… 3…

Gelap. Duniamu kembali gelap. Kini kau tak bisa melihat apapun. Kau akan kembali terkurung dalam kebebasanmu. Kau hanya bisa melihat satu warna, namun kau bebas mengimajinasikan duniamu. Dan tentu saja kau masih memiliki hati untuk merasakan apa yang terjadi di dunia. Walau kau tak bisa melihat, kau akan tetap bisa merasakan wajah dunia.

“Itu lebih baik. Aku tak memerlukan sihir agar bisa melihat. Dan sekarang aku bersyukur dengan apa yang kumiliki saat ini.”

* * *

Fiksi ini diikutkan dalam event Ceritera Juli #23 oleh Kampung Fiksi.

Tema: MELIHAT.
Seorang yang buta sejak lahir, tiba-tiba saja mampu melihat. Saat itulah dia kehilangan kebahagiaannya. Mengapa?

Ceritera Juli #21: Kena Batunya

Tahukah kalian bagaimana rasanya saat terdampar seorang diri di pulau tak berpenghuni bersama dengan seorang lelaki aneh? Akan kujawab. Rasanya sangat menyesakkan, bete, kesal, marah, semua bercampur menjadi satu dan dinamakan gado-gado rasa.

Aku tak kenal siapa lelaki yang saat ini sedang bermain pasir. Oke, tepatnya sebelum aku merasa kesal aku tak tahu siapa nama lelaki ini. Sekarang aku sudah tahu siapa dia setelah mengobrol panjang lebar sekitar satu jam.

Oh, ya, aku belum menceritakan kenapa aku bisa terdampar di pulau asing tak berpenghuni ini. Ceritanya begini… Minggu lalu pamanku yang seorang pebisnis minyak mengadakan tur maritim. Ia mengundang beberapa orang terdekatnya untuk mencoba naik ke kapal barunya. Aku juga diundang karena aku bekerja padanya.

Lalu, dua hari yang lalu, berangkatlah kami menggunakan kapal baru pamanku itu. Kami berangkat dari Lampung dan rencananya akan berhenti di Kepulauan Riau, menginap di sana dua hari, dan berangkat kembali ke Lampung.

12 jam pertama, semuanya oke-oke saja. Tak ada masalah. Kami semua di kapal yang dapat menampun sekitar 20 orang ini sangat bersenang-senang. Ada yang berfoto, ada yang santai di dek kapal, dan ada yang sekadar duduk-duduk menikmati pemandangan.

Malam harinya, muncullah musibah itu. Kapten kapal menyalakan alarm darurat, menyuruh semua penumpang kapal untuk naik ke sekoci penyelamat. Beberapa awak kapal menyuruh kami semua memakai jaket pelampung sebelum naik ke sekoci. Waktu itu, semuanya sangat panik tak terkecuali aku.

Ada tiga sekoci. Dua sekoci penuh. Saat ini aku benar-benar mengutuk sifat leletku. Kalau saja aku tidak lelet dan bertele-tele saat mengenakan jaket pelampung, aku pasti masih bersama pamanku dan beberapa orang temannya. Namun, saat ini aku bersama lelaki tak dikenal gara-gara kedua sekoci sebelumnya sudah penuh, dan tinggal satu sekoci. Mau tak mau aku harus naik. Dan di sekoci itu hanya ada aku dan si lelaki ini.

Malam sangat gelap. Kami tak tahu jalan, tak tahu arah, dan terombang-ambing di tengah lautan luas. Begitu pagi menjelang, terlihatlah pulau yang sedang aku duduki sekarang. Si lelaki yang bernama Sadam ini berteriak kegirangan.

“Ada pulau! Ada pulau! Kita selamat!”

Aku ikut berteriak. “Yeay, akhirnya selamat!”

Lalu ketika kami tiba di pulau ini, perasaan gembira itu seketika lenyap. Ternyata tak ada siapapun di sini. Sungguh menyedihkan. Dan lebih menyedihkan lagi adalah pertanyaan-pertanyaan Sadam yang membuat perutku mulas.

“Maria, jika saat ini aku adalah lelaki terakhir di muka bumi ini, maukah kau menjadi pendampingku?”

Aku mengernyitkan keningku dan berkata dalam hati, ‘Apa?? Ngarep kali ye! Nggak nyadar siapa elo?’ Tapi yang keluar dari mulutku adalah kata-kata ini, “Mau bagaimana lagi?”

“Kalau begitu lebih baik kita berdua menikah saja!” seru si Sadam sambil mendekatkan badannya padaku. Aku mundur selangkah.

“Tidak!” tolakku. “Aku kan baru mengenalmu beberapa jam!”

“Itu sudah cukup bukan?” katanya sambil mencoba memegang tanganku. Aku menepis tangannya.

“Hentikan itu! Apa yang kau pikirkan, hah?” bentakku.

“Nggak ada. Hanya saja saat berdua dengan seorang wanita cantik sepertimu ini, jantungku jadi berdebar-debar,” katanya. Kali ini ia menarikku ke dalam pelukannya, mengelus kepalaku dan mencoba menciumku.

Aku mendorongnya. “Jangan macam-macam!” teriakku.

Sadam mundur. “Ayolah, Maria sayang. Jangan marah begitu. Aku cuma bercanda saja, kok.”

Menjijikkan bukan? Lelaki yang baru dikenal sudah mencoba macam-macam dan langsung memanggil dengan kata sayang walaupun cuma bercanda sama saja dengan tidak menghargai wanita. Itu yang ada dalam kepalaku. Mana mungkin aku mau dengan lelaki seperti itu.

Setelah aku mendorongnya, ia menjauh dan mulai memainkan pasir pantai. Aku mengambil ponselku lalu mencoba mencari sinyal yang entah sekarang hilang ke mana.

Beberapa jam kemudian, ada satu garis di indikator sinyal di ponselku. Langsung saja aku menekan tombol panggil ke nomor pamanku. Terdengar bunyi nada panggil. Detik berikutnya pamanku menjawab panggilanku.

“Maria! Di mana kau? Paman mencarimu. Kami sudah diselamatkan tim SAR!”

“Paman, aku tak tahu di mana aku. Aku terdampar di pulau tak berpenghuni bersama seorang lelaki brengksek bernama Sadam. Tolong selamatkan aku Paman. Secepatnya, pliss… Aku sudah tak tahan lagi dengan kelakuan si gila ini!”

“Baiklah Maria. Tenang, ya. Paman akan segera menyelamatkanmu.”

Begitulah… Akhirnya aku menunggu datangnya bala bantuan. Sadam sendiri masih saja melirik-lirikku. Untungnya aku menemukan sebuah kelapa tua yang jatuh dari pohonnya. Ini untuk berjaga-jaga jika Sadam mau macam-macam lagi. Awas saja jika ia berani, akan kulempar kelapa ini ke kepalanya. Biar saja dia benjol. Kalau perlu biar dia tak sadarkan diri saja.

Tak lama kemudian muncul dua buah speed boat dari kejauhan. Aku mengambil pelepah pohon pisang dan melambai-lambaikannya.

“Di sini! Di sini! Selamatkan aku!” teriakku.

Speed boat itu bergerak ke pulau tempatku terdampar. Saat mereka sampai, beberapa orang turun dan berjalan ke arahku.

“Anda nona Maria?” tanya salah satunya saat menuntunku naik ke speed boat.

“Iya, Pak,” jawabku. “Oh, ya, apakah aku bakalan satu speedboat dengan lelaki itu?” tanyaku sambil menoleh ke arah Sadam yang saat ini juga sedang dituntun beberapa orang dari tim SAR.

“Tidak, tenang saja. Pamanmu sudah menceritakan bagaimana kondisimu. Karena itulah kami datang dengan dua speedboat. Kalian akan dibawa terpisah,” jelas orang dari Tim SAR itu.

Setelah beberapa jam di speedboat, akhirnya aku tiba di sebuah dermaga. Pamanku dan beberapa orang lainnya menunggu di pinggir dermaga.

* * *

Enam bulan kemudian…

Hari ini aku ada janji bertemu dengan sahabatku, Anita. Karena kesibukan masing-masing, kami jarang sekali bertemu. Kami janjian bertemu di sebuah cafe dekat rumahku.

“Hai, Maria! Bagaimana kabarmu? Kau tampak ceria sekali!” sapa Anita saat tiba di cafe.

“Kabarku luar biasa baik, Nit! Bagaimana kabarmu? Apakah kau masih menulis di blog?” tanyaku pada sahabatku yang mempunyai hobi yang sama denganku, menulis di blog.

“Tentu saja masih. Aku selalu menyempatkan diri untuk bercerita di blog,” katanya. “Oh, ya, ada gosip baru, lho! Apakah kamu mau mendengarnya?”

Aku memajukan badanku. Ini saatnya bercerita panjang lebar. “Tentu saja! Aku selalu suka mendengarkan cerita darimu,” jawabku.

“Seorang rekan kerjaku menawarkanku untuk berkenalan dengan seorang laki-laki. Setelah beberapa hari BBMan, kami janjian bertemu. Laki-laki ini rupanya sangat menyebalkan. Di pertemuan pertama kami itu, dia langsung main pegang-pegang dan bilang sayang-sayang! Tentu saja aku risih. Aku langsung meninggalkannya dan tak mau lagi menggubris semua sms maupun telepon darinya.”

Mendengar cerita Anita pikiranku langsung melayang pada kejadian terdampar di pulau enam bulan lalu. Kejadian yang hampir sama.

“Dan… Kau tahu siapa nama lelaki itu?” lanjut Anita.

Aku menggelengkan kepalaku sambil menyeruput Lemon Tea hangatku.

“Namanya adalah Sadam!” seru Anita.

Seketika aku langsung tersedak. “Hah? Sadam? Orang yang sama dengan orang yang macam-macam denganku?” tanyaku tak percaya.

“Iya, Mar. Tadinya aku tak percaya itu Sadam yang pernah kau ceritakan. Kupikir itu Sadam yang lain karena kau tak pernah ceritakan bagaimana rupa si Sadam. Lalu, kupikir jika itu Sadam yang kau ceritakan, mungkin saja dia sudah tobat!”

“Yeah, tapi ternyata tidak, kan?”

“Begitulah. Mungkin memang tabiat aslinya seperti itu. Tak mudah mengubah tabiat yang sudah mendarah-daging.”

“Setuju, Nit. Jadi, apa yang akan kaulakukan sekarang? Bagaimana dengan si Sadam?”

“Aku punya ide yang bagus, Mar. Bagaimana kalau kita membuat cerita tentang si Sadam ini di blog. Ini bisa menginspirasi para wanita agar berhati-hati pada lelaki yang baru dikenalnya,” saran Anita.

“Ide yang bagus! Aku akan membuat cerita versiku. Kau juga buat cerita versimu, tapi dengan inti yang sama.”

“Sepakat!”

Setelah pertemuan itu, aku merealisasikan apa yang sudah kusepakati dengan Anita. Aku membuat artikel tentang lelaki seperti Sadam. Beberapa pengunjung blogku setuju denganku. Lelaki macam Sadam adalah jenis lelaki yang tak menghargai wanita. Sahabatku juga membuat artikel yang sama dengan caranya sendiri. Rata-rata pengunjung blognya juga tak suka dengan sikap Sadam.

Di bagian bumi yang lain, seorang lelaki kembali melancarkan aksinya. Ia mengeluarkan kata-kata rayuan mautnya untuk menjerat wanita. Selain dengan kata-kata, ia pun menggunakan tangannya untuk menyentuh sang wanita. Namun kali ini ia terjebak. Wanita yang dirayunya ternyata seorang polisi. Ia ditangkap dengan tuduhan melakukan pelecehan dan mendapatkan hukuman kurungan penjara. Lelaki yang kena batunya itu bernama Sadam.

* * *

Fiksi ini diikutkan dalam event Ceritera Juli #21 oleh Kampung Fiksi.

Tema:Terdampar. Karena sebuah kapal karam, seorang pria dan wanita terdampar di sebuah pulau kecil tak berpenghuni. Mereka tidak saling mengenal. Ceritakan bagaimana kehidupan mereka enam bulan kemudian.

Ceritera Juli #20: Dunia Ilusi

Kubaca lagi kalimat terakhir di surat yang baru kuterima. “Jika kau tidak melakukan apa yang kami minta, maka kebohonganmu akan kami bongkar!”

Oke, ini surat kaleng. Aku tahu. Tak ada nama maupun alamat pengirimnya. Ini hanya selembar surat di dalam amplop yang kutemukan di bawah pintu apartemenku. Surat ini berisi ancaman dan permintaan yang aneh.

Siapa yang tahu apa yang kulakukan saat aku pertama kali aku datang di perusahaan tempat kerjaku? Mengenai surat lamaran itu… Apakah pihak HRD menyelidikinya? Tapi, itu 5 tahun yang lalu. Sekarang posisiku sudah tinggi. Dan seseorang ingin membongkar kebohongan itu? Dia pastilah orang yang iri akan kesuksesanku!

Oke, apapun itu. Sekarang mengenai permintaan yang tertera dalam surat itu: “Ambil segenggam tanah dari kuburan orang yang baru saja dikubur. Lalu letakkan tanah itu di halaman Kopitiam Halimun. Sesegera mungkin!” Yang melintas di pikiranku saat membaca itu adalah: “Apa-apaan ini? Mengambil tanah kuburan?” Sepertinya tidak berbahaya. Tapi…

Ini tak masuk akal! Meletakkannya di halaman Kopitiam Halimun? Itu adalah kopitiam saingan tempat aku bekerja sekarang. Kenapa harus Kopitiam itu? Apakah yang mengancamku ini ingin agar saingan kami itu bangkrut? Lalu, kalau aku tidak melakukannya, aku dijadikan kambing hitam? Gila! Ini benar-benar gila!

Aku kepikiran dengan surat kaleng itu. Sialnya beberapa hari kemudian, surat itu ada lagi di bawah pintu apartemenku. Isinya sama. Siapa sih yang iseng mengerjaiku?

Aku tak ingin menceritakan hal ini pada siapapun. Jika aku cerita, kebohonganku tentu saja secara langsung akan terbongkar. Aku tak ingin itu terjadi. Karena itulah, malam ini aku berada di sini. Ya, di kuburan. Untuk mengambil tanah basah. Dan aku bisa gila karena hal ini!

Aku menyalakan senterku dan mulai menyusuru nisan-nisan yang letaknya rapat-rapat. Tadi siang aku melihat mobil jenasah melintas di depan tempat kerjaku. Mobil jenasah yang melintas pastilah menuju ke pemakaman ini karena tempat inilah yang terdekat.

Di mana ya? Aku sedikit bingung mencari. Dan sedikit takut juga. Tentu saja! Malam-malam seperti ini sendirian di tengah kuburan. Siapa yang tak takut? Rasanya seperti ikut acara Uji Nyali saja! Aku berdoa dalam hati semoga tak ada makhluk tak tampak yang menampakkan diri.

Aku kembali berjalan, semakin jauh dari jalan kendaraan. Suara burung hantu sedikit mengagetkanku. Aku hampir saja jatuh terpeleset. Tapi, aku bersyukur karena suara burung hantu itu membuatku berhasil menemukan tanah basah yang kucari.

Ketemu! Nisan itu hanya berjarak 2 meter. Taburan bunga-bunga di atasnya adalah tandanya. Aku bergegas menuju ke sana. Baru beberapa langkah aku berjalan, tiba-tiba aku mencium bau wangi melati. Kata orang tua jaman dulu, kalau tiba-tiba tercium bau wangi saat di tempat seperti ini, jangan sesekali kau berhenti atau menoleh jika ada yang memanggil. Jika tidak, kau tak akan selamat. Makhluk itu akan mengikutimu selama yang ia mau.

‘Oke, aku tak mencium bau itu! Tidak! Aku tidak peduli! Tak ada bau!’ kataku dalam hati, mencoba meyakinkan diriku agar tak mencium bau itu walau kenyataannya wanginya semakin menyengat.

“Mas… Mas… Tolong aku…,” tiba-tiba aku mendengar suara bisikan seorang wanita.

Aku tak mau menoleh ke manapun. Di tanganku sudah siap kantong kresek untuk diisi dengan tanah basah. Aku mempercepat langkahku. Namun sial. Aku tersandung batu. Aku pun terjatuh. Saat aku mencoba bangun, entah bagaimana caranya kepalaku menoleh ke belakang. Dan saat itulah aku melihat dia.

“Aaaaaggghhh!!! Setan!!” teriakku sekencang-kencangnya.

Aku mencoba mundur beberapa langkah. Namun kakiku tersangkut tanaman rambat. Aku mencoba melepaskan kakiku dari tanaman rambat itu.

“Mas… Jangan takut… Aku tidak akan mengganggumu…”

“Jangan mendekat! Jangan mendekat!” teriakku lagi. Saat ini aku sudah mulai lupa misi awalku ke mari. Aku sungguh ketakutan. Mungkin saat ini mukaku sudah pucat pasi. Apalagi aku melihat dengan mata kepalaku sendiri seperti apa rupa wanita yang melayang di hadapanku ini.

“Aa-aa-ampun… Pergi! Pergi!” kataku. Dalam hati aku mencoba mengingat-ingat ayat-ayat yang pernah diajarkan padaku. Tapi, entah kenapa pikiranku serasa kosong. Otakku melompong.

Wanita itu semakin dekat. Sedangkan aku merasa semakin sekarat. Tak bisa bergerak! Sekujur tubuhku kaku dan aku merasa ngilu.

“Mas, aku cuma mau jadi temanmu…,” kata wanita berparas menakutkan itu. Ia menyeringai memperlihatkan giginya yang sudah menghitam. Rambut panjang awut-awutannya melambai-lambai.

Aku seperti terhipnotis setelah mendengar kata-katanya. Lalu aku berjalan kembali ke mobilku. Kantong yang tadi kubawa entah berada di mana. Aku menghidupkan mobilku lalu mengendarainya kembali ke apartemenku.

“Aaahh… Akhirnya aku bisa merasakan kembali ke sebuah rumah. Tempat tinggal…,” bisik wanita pucat yang duduk di kursi penumpang di sampingku. Setelah itu ia terkikik.

* * *

Dua bulan kemudian…

Seorang karyawan Kopitiam mengantarkan sesuatu pada suster di rumah sakit.

“Ini barang-barang lelaki itu. Tolong berikan padanya,” kata karyawan itu.

“Baik, Pak,” jawab si suster.

“Apakah dia masih mengingau tentang wanita menyeramkan yang mengikutinya ke mana pun?”

“Iya, Pak. Kami sudah menaikkan dosis obat penenangnya. Tapi itu tidak mempan. Ia terus saja meracau minta diselamatkan dari wanita yang katanya sangat menyeramkan. Aneh sekali! Padahal tidak ada siapa-siapa di kamar ini.”

“Kasihan sekali nasibnya. Setelah ketahuan ulah bohongnya pada perusahaan, sekarang ia mengigaukan sesuatu yang tidak-tidak…,” kata si karyawan sambil mengeleng-gelengkan kepalanya.

* * *

Fiksi ini diikutkan dalam event Ceritera Juli #20 oleh Kampung Fiksi.

Tema: PEMERASAN. Lima tahun yang lalu, aku memperoleh pekerjaan yang seharusnya tidak kuperoleh karena aku berbohong tentang banyak hal dalam surat lamaranku. Saat kedudukanku sudah tinggi, aku mendapat surat kaleng yang menyatakan mereka mengetahui kebohonganku dan memintaku melakukan beberapa hal yang aneh, sepertinya tidak berbahaya, tetapi…

CeriteraJuli #19: Bukan Cuma Iseng Semata

sumber gambar

Aku ingin menjadi penyanyi terkenal. Ya, terkenal seperti John Lennon dari The Beatles yang melegenda atau seperti Andy Lau dari China, atau seperti penyanyi Indonesia yang spektakuler, Ahmad Dhani. Karena itulah di sekolah aku mengikuti ekstrakurikuler olah vokal seperti Paduan Suara dan Vocal Grup. Selain itu aku juga mengikuti ektrakurikuler Band.

Selain menyanyi, aku juga bisa main gitar dan piano. Memainkan alat musik bagiku hanyalah selingan. Walaupun kemampuan memainkan alat musikku jauh lebih baik daripada kemampuan olah vokal, namun aku lebih suka menyanyi. Kalau menyanyi, aku lebih bebas berekspresi.

“Hai, Josh! Masih menunggu hasil audisi?” tanya temanku, Rafael, yang juga ikut audisi menyanyi.

“Iya, nih, Raf. Kamu sudah dapat hasilnya?” tanyaku.

“Sudah, Josh!” jawab Rafael sambil menunjukkan selembar kertas berwarna emas.

“Selamat, ya, Raf! Akhirnya bisa lanjut ke babak berikutnya!” kataku.

“Terima kasih, Josh. Mudah-mudahan kamu juga bisa lanjut ke babak berikutnya. Jadi aku akan ada kawan!” katanya. Setelah menepuk pundakku, ia keluar dari ruang tunggu audisi.

Aku menunggu dengan cemas. Satu per satu peserta audisi mulai berkurang. Akankah aku dapat tiket ke babak berikutnya? Kuharap iya. Kalau tidak, percuma saja aku ikut ekstrakurikuler olah vokal selama dua tahun di SMA dan tiga tahun di SMP.

“Oke saudara-saudara sekalian, tiket ke babak berikutnya telah dibagikan semua. Bagi yang mendapatkannya, saya ucapkan selamat! Lalu, bagi yang tidak mendapatkannya, jangan berkecil hati. Coba lagi tahun depan. Dan semoga beruntung!” kata PIC acara audisi menyanyi yang kuikuti.

Sejenak aku diam untuk mencerna kata-katanya. Acaranya sudah selesai? Jadi aku tidak dapat tiketnya? Artinya aku tidak lolos ke babak selanjutnya? Aku kalah di babak pertama? Yang benar saja!

‘Oh, ya ampun!’ Ini benar-benar di luar dugaanku. Masa aku bisa kalah dari Rafael? Padahal suaranya biasa-biasa saja. Dia bahkan tidak bisa teknik vibrasi suara! Dan… Range vokalnya lebih pendek dari range vokalku! Apa ini tidak salah?

“Sebentar, kak!” seruku memanggil PIC acara audisi saat ia mau masuk ke ruang juri.

“Ya? Ada yang bisa saya bantu?” tanyanya.

“Apakah nama Josh benar-benar tidak ada dalam list penerima tiket ke babak berikutnya?” tanyaku.

“Namamu Josh?”

“Iya.”

“Sebentar… Saya cek dulu…,” katanya sambil meneliti daftar nama di tangannya.

“Maaf, Dik. Tidak ada,” katanya.

“Tapi, Kak. Apa tidak salah? Atau mungkin juri salah menilai?”

“Maaf, nama-nama di list ini merupakan hasil keputusan bersama para juri dan tidak dapat diganggu gugat.”

“Tapi…”

“Coba lagi tahun depan ya. Semoga beruntung!”

Aku benar-benar tak percaya ini. Aku kalah! Kalah sebelum berperang yang sesungguhnya! Kalah di babak pertama!

Aku pulang dengan langkah gontai. Hari sudah malam saat aku pulang. Semua anggota keluargaku sudah asyik bermain di alam mimpi mereka masing-masing. Tinggallah aku yang masih merenungi nasib malangku hari ini.

Kuambil gitarku lalu kupetik dawainya. Lagu tak jelas yang kumainkan. Aku hanya memainkan beberapa kunci dasar. Bermain nada-nada tak jelas ini cukup untuk mengurangi rasa galauku. Aku pun tertidur sambil memeluk gitar kesayanganku.

Esok paginya ibuku menggedor-gedor pintu kamarku.

“Josh! Josh! Bangun! Ada tamu untukmu!” panggil ibuku.

Setengah sadar aku mengangkat kepalaku. Tamu? Pagi-pagi begini? Kulirik jam weker yang berada di meja samping tempat tidurku. Pukul 10. Aku terlonjak bangun. Astaga! Aku kesiangan!!

Oke. Ini bukan hari sekolah. Ini libur! Tapi, tetap saja bangun jam 10 itu sudah sangat kesiangan bagiku. Aku bergegas mengganti pakaianku, menyisir rambutku dan turun ke lantai satu.

“Maaf, siapa yang mencari saya, Bu?” tanyaku pada ibuku yang baru saja berjalan dari arah ruang tamu.

“Nggak tahu, tuh! Seorang bapak-bapak. Katanya ada pesan penting yang harus disampaikan padamu.”

Aku bergegas ke ruang tamu. Di sana kudapati seorang bapak berkumis dan berkacamata tebal. Ia mengenakan setelan jas hitam lengkap dengan dasi yang berwarna senada dengan setelan jasnya. Di tangannya ada sebuah tas kantoran. Ia tersenyum padaku saat aku masuk ke ruang tamu.

“Selamat pagi, dik Josheph Manuel!” sapanya.

“Selamat pagi, Pak!” jawabku. Bingung. Bagaimana dia tahu nama lengkapku? Aku tak ada ide tentang siapa sebenarnya orang ini. Aku tak pernah bertemu dengannya sebelum ini.

Bapak itu sepertinya tahu apa yang kupikirkan. “Saya adalah Mathew. Saya adalah orang yang mengenalmu. Well, mungkin kamu tak percaya ini…” Ia tak meneruskan kalimatnya. Aku menatapnya, berharap ia menyelesaikan kalimatnya.

“Aku adalah seorang pelintas waktu yang datang dari masa depan. Tepatnya dua ratus tahun dari sekarang,” lanjutnya.

Aku menganga. Apa-apaan ini? Apakah sekarang aku berada dalam film Doraemon di mana seseorang bisa datang ke masa lain dengan mesin waktu?

“Ooh…,” kataku. “Hahaha!” lanjutku. “Yang benar saja! Bapak jangan bercanda, dong! Ya kalau bercanda juga jangan kelewatan seperti ini, Pak. Kita kan bukan lagi syuting film Doraemon!”

“Mungkin Adik tidak percaya. Tapi saya tahu semua yang dialami adik sejak adik kecil hingga sekarang. Soalnya saya sedang meneliti kehidupan adik. Dan sekarang, saya ingin tahu apakah ada pengaruhnya terhadap kehidupan adik di masa depan jika saya memberitahukan apa yang sudah terjadi di masa yang akan datang.”

“Wah, ribet, Pak! Saya nggak ngerti apa maksud Bapak,” kataku. “Tolong bapak jelaskan yang sesimpelnya.”

“Maksud saya… Dua ratus tahun lagi, nama adik akan menjadi sangat terkenal!” ujar Pak Mathew dengan berapi-api.

“Hah? Terkenal? Masa, sih, Pak? Dua ratus tahun lagi saya pasti sudah di alam mana gitu. Nggak mungkin ada lagi di dunia ini, Pak!” kataku.

“Iya, saya tahu. Tapi namamu akan menjadi sebuah legenda! Mengalahkan seorang Mozart, Chopin, Bach, bahkan Beethoven! Kamu akan menjadi seorang komposer terkenal!!”

“Wah! Hahaha!” Aku tergelak mendengarnya. “Ini sudah kelewat batas bercandanya, Pak. Bapak nggak sakit, kan?” tanyaku. Aku tahu ini pertanyaan yang tidak sopan. Tapi, mungkin saja Bapak ini sakit, kan?

“Mana mungkin saya sakit! Ini betulan, lho, Dik Josh! Saya nggak bohong!”

“Oke. Tapi bagaimana saya bisa seterkenal itu?” tanyaku. Sebetulnya aku mulai malas meladeni bapak yang bercandanya nggak ketulungan ini.

“Kemarin dik Josh ikut audisi menyanyi, kan? Tapi adik kalah di babak pertama. Saat pulang ke rumah, adik main gitar di kamar, main lagu yang nggak jelas. Cuma kunci dasar.”

Aku mulai mencermati kata-kata Pak Mathew. Kok dia tahu apa yang kulakukan? Apakah dia memang benar-benar dari masa depan? Tapi, aku masih ragu. Jadi kubilang saja begini padanya, “Bapak memata-matai saya, ya?”

“Aduh, dik! Saya ini memang meneliti tentang kehidupan adik, kenapa adik bisa jadi komposer terkenal dan apa resepnya.”

“Jadi, apa resepnya, Pak?”

“Adik bisa main gitar dan piano. Gunakan itu untuk mencipta lagu. Adik kalau mencipta lagu pasti lagunya bagus! Semua teman-teman adik menyukainya. Mereka bahkan menyanyikannya terus-terusan. Betul, kan?”

Dalam hati aku mengakui aku memang suka iseng menciptakan lagu. Beberapa teman sekolahku suka menyanyikan lagu yang kuciptakan. Mereka bilang keren. Tapi, bapak ini bisa tahu darimana? Apakah dia agen FBI atau CIA?

“Pak, tahu dari mana saya bisa ciptakan lagu bagus?” tanyaku penuh selidik.

“Lha, kan sudah saya bilang dari awal. Saya ini seorang pelintas waktu dan peneliti tentang kehidupan adik.”

“Oh, baiklah. Anggap saja saya percaya perkataan bapak. Lalu sekarang apa lagi yang bapak ingin lakukan?”

“Yah… Misi saya cuma menyampaikan hal itu saja. Saya akan kembali ke dua ratus tahun yang akan datang dan melihat hasil kerja saya sekarang, apakah nama adik tetap terkenal ataukah menghilang menjadi seseorang yang biasa-biasa saja. Itu saja.”

Setelah mengucapkan selamat tinggal, Pak Mathew pergi. Ibuku bertanya-tanya tentang apa maksud kedatangannya. Aku menceritakan semua yang dikatakan bapak aneh itu. Ibuku pun sepakat denganku dan mengatakan bahwa dia sangat aneh.

Setelah itu, aku masuk ke kamarku dan kembali bermain dengan gitarku. Kupetik keenam senarnya bergantian hingga menghasilkan sebuah lagu baru yang bagiku tak jelas. Apa mungkin aku akan menjadi komposer terkenal mengalahkan Beethoven? Apakah bapak itu hanya menghiburku karena ia tahu aku kalah di audisi kemarin? Lalu… Bagaimana jika memang aku akan menjadi komposer terkenal? Haruskah aku mengubur dalam-dalam cita-citaku menjadi penyanyi dan mengubah haluan jadi seorang pencipta lagu?

Yah, apapun yang akan terjadi di masa yang akan datang, terjadilah… Lalu aku mengambil kertas partitur kosong dari laci meja belajarku. Iseng-iseng kutuliskan setiap nada-nada yang baru saja kupetikkan di gitarku lengkap dengan jenis rhythm dan kuncinya.

* * *

Dua ratus tahun dari sekarang… Di masa depan.

Di sebuah kota, ratusan orang tumpah ruah di sebuah gedung serba guna. Ada acara lelang di sana. Semua yang ada di sana nampak antusias mengikuti acara lelang itu.

“Oke, siapa lagi yang mau menawar untuk kertas-kertas partitur bertuliskan tulisan tangan asli komposer terkenal Josheph Manuel?” tanya pembawa acara lelang. “Lelang partitur ini akan ditutup dua menit lagi!” teriaknya.

“Enam ratus juta!” teriak seseorang.

“Delapan ratus juta!” sambut yang lainnya.

“Satu milyar!” kata yang lainnya.

“Dua milyar!” seru seorang yang lain.

Teng! Teng! Tiba-tiba terdengar bunyi bel tanda waktu lelang telah habis.

“Oke, waktunya habis!” teriak pembawa acara.

“Jadi, partitur ini terjual dengan harga dua milyar!! Dan, uang hasil penjualan partitur ini akan disumbangkan kepada yayasan sosial Joseph Manuel di Afrika untuk membantu warga kurang mampu di sana. Beri tepuk tangan!!” lanjutnya diiringi oleh tepuk tangan meriah para penonton di ruangan itu.

* * *

Fiksi ini diikutkan dalam event CeriteraJuli #19 oleh Kampung Fiksi.
Tema: MASA DEPAN. Seorang pelintas waktu mengetuk pintu rumahmu. Ia sengaja datang dari masa depan untuk mencarimu sebab dua ratus tahun dari sekarang, namamu menjadi sangat terkenal. Mengapa?