Benarkah Kerang Nggak Baik untuk Dikonsumsi?

Benar –> kalau dikonsumsi oleh ibu hamil

Benar –> kalau cara memasaknya tidak tepat

Benar –> kalau kerangnya dibeli dari tempat yang tidak terpercaya

* * *

Beberapa hari yang lalu ada orangtua siswa bercerita tentang anak-anak autis. Ibu ini bercerita suatu waktu ia sedang di tempat terapi anak-anak autis. Terapis di sana mengatakan salah satu faktor yang menyebabkan anak jadi autis adalah jika si ibu mengkonsumsi kerang saat hamil.

Seorang guru sekolah tempat saya kerja, Ms. Liana, juga mengatakan hal yang sama. Alasannya adalah kerang bisa hidup di daerah terpolusi. Kerang bisa menyerap apa saja termasuk polutan. Jadi kalau ibu hamil memakan kerang yang diambil dari tempat terkena polusi, maka zat polutan akan ikut diserap tubuhnya. Ini yang menyebabkan anaknya bisa menjadi autis.

Sumber di internet yang bisa dibaca tentang resiko dan manfaat kerang ada di sini: http://www.carakhasiatmanfaat.com/artikel/nutrisi-resiko-dan-manfaat-kerang.html

Boleh sih makan kerang untuk yang nggak hamil, asal belinya di tempat terpercaya, yang bisa menjamin kerangnya berasal dari tempat yang bersih. Cara masak kerang juga perlu diperhatikan, harus direbus terlebih dahulu baru diolah. Jangan membeli kerang yang berbau dan bersihkan dahulu sebelum diolah.

* * *

Kamu…. Suka nggak makan kerang?

 

Bertemu Hantu

Malam itu… Bukan tengah malam beneran, sih. Tapi waktu itu hujan deras. Kilat menyambar-nyambar. Suara guntur bergemuruh. Cuacanya dingin.

Semua orang di rumah sudah tidur. Mungkin karena cuaca yang dingin, membuat mereka tidur dengan nyenyak. Aku keluar dari kamar untuk mengambil air minum. Entah kenapa tiba-tiba aku terbangun dan merasa haus.

Untuk mengambil air, aku melewati jendela dapur yang tak bertirai. Seperti ada magnet, kepalaku kutolehkan ke jendela yang menghadap ke belakang rumahku. Padahal, biasanya aku langsung ke meja makan untuk mengambil gelas. Tapi kali ini….

Dan saat itulah aku melihat sosok itu. Sosok bergaun putih panjang yang melambai-lambai. ‘Huhuhuhuhuhu….’ Suara itu… Antara suara angin atau suara sosok itu. Ditambah kilat yang tiba-tiba menyambar disusul dengan bunyi geledek. Blarr!! Sosok itu kembali melambai-lambai….

HANTUUU!!! 

Detik berikutnya lewatlah anjingku di depan jendela dapurku yang ukurannya besar itu. 

Tunggu dulu! Si Doggy nggak menggonggong. Itu artinya….

BUKAN HANTU TAPI JEMURAN!!

Ya, itu baju ibuku yang belum kering. Bajunya kebetulan warnanya putih dan digantung di plafon teras belakang. Angin membuatnya seolah melambai-lambai. Suasana gelap, membuatnya nampak seperti hantu. 

Huft… Efek kebanyakan nonton, Pemirsah! 😅

 

Jika Aku Menjadi Pasien, Perawat, dan Dokter

Jika kamu tidak pernah merasakannya, kamu tidak akan pernah tahu bagaimana rasanya menjadi ….

Orang-orang mungkin akan dengan mudahnya mengatakan, “Ah, cuma segitu aja! Kok kamu begitu…. Kok Kamu begini….?” tentang sesuatu hal yang kita alami. Walaupun mungkin mereka pernah mengalami suatu kejadian yang kita rasakan, tetapi mereka tidak pernah tahu bagaimana rasanya di kita. Karena kita dan mereka berbeda. Kejadian yang sama yang menimpa kita dan mereka, efeknya belum tentu sama. Misalnya jika ada kejadian jatuh. Ketika kita jatuh mungkin kita akan merasa sakit yang luar biasa karena ketahanan tubuh kita lemah. Saat orang lain yang jatuh belum tentu mereka merasakan sakit yang sama, bisa jadi mereka menganggapnya biasa karena mereka kuat.

image source: dramabeans

Jika kamu tidak pernah merasakannya, kamu tidak akan pernah tahu bagaimana rasanya menjadi:

1. Pasien

Saat aku menjadi pasien, aku ingin orang mengerti aku lagi sakit. Aku ingin ada yang memberikan perhatian, setidaknya bertanya “Kamu kenapa?” Mereka nggak perlu memberikan atau membelikan obat, kalau ada yang bertanya rasanya senang sekali.

Tapi beda orang beda cara. Ada seorang pasien, ia merintih kesakitan. Subuh-subuh minta diantar ke rumah sakit. Katanya sakit perut dan pinggangnya. Dia bilang ingin USG atau scan apalah, takut sakit ginjal katanya. Walaupun dokter sudah meyakinkannya bahwa itu cuma sakit perut biasa dan lambungnya lecet, ia mati-matian minta di-USG.

Ya, iyalah, tingkat kekhawatiran tiap orang berbeda-beda, kan?

2. Perawat

Saat seorang teman menjadi perawat dadakan untuk anggota keluarganya yang sakit, ia pernah mengeluh pengen jalan-jalan sebentar karena suntuk berjaga di rumah sakit. Ada juga teman lain yang mengomel karena ‘pasien’ yang dirawatnya bandel nge-dokter sendiri, makan obat tidak sesuai aturan karena si ‘pasien’ ingin cepat sembuh. Dan ada pula teman yang mengeluh karena ‘pasien’nya memakan makanan yang seharusnya pantang dimakan.

Waktu aku jadi perawat KW alias dadakan? Aku panik nggak tahu mau ngapain. Sempat bengong beberapa saat, bolak-balik pencet hape tapi nggak nelpon siapa-siapa. Masak air panas pun mesti disuruh oleh pasien gara-gara nge-blank! Dan setelah beberapa saat barulah bisa nanyain keadaan pasien, suruh istirahat, melarang ini-itu, nelpon teman yang jadi dokter, googling tentang penyakit, dan siapin obat-obatan.

Nggak kebayang gimana kalo jadi perawat beneran! Salut buat para suster atau perawat rumah sakit! Kalian te-o-pe be-ge-te!!

3. Dokter

Pasien datang menemui dokter. Ia memberitahukan semua keluhannya. “Aku sakit pinggang. Perutku sakit. Aku juga muntah-muntah.”

Dokter pun menanyakan apa yang dimakan si pasien, lalu apa pekerjaan si pasien, bagaimana sakitnya, bagaimana muntahnya, bagaimana warna air seninya, dan lain-lain. Setelah itu dokter memeriksa pasien dengan stetoskop dan memberi tahu hasil diagnosanya. Namun si pasien mengeluh karena cuma diberi obat NNN, OOO, dan PPP. Ia ingin tes ini-itu dan mendapat rujukan ke dokter spesialis. Ia juga mengatakan tentang bahan makanan yang dimakannya karena menurut orang lain itu adalah obat. Lalu dokter menjelaskan lagi tentang sakit si pasien dan tentang bahan makanan yang dianggapnya obat dengan sabar. Si pasien malah jadi nggak sabaran.

Kalau aku yang jadi dokter…. mungkin aku akan… suruh si pasien Googling dulu tentang penyakit dan bahan-bahan makanan yang dianggapnya sebagai obat tapi itu sebenarnya tidak cocok dengan dirinya. Dan kalau si pasien tetap ngotot…. Ampunnn deh, pengen nggak ketemu lagi sama pasien kayak gitu. Geregetan pastinya. Hmmmm…..

Pliss, nggak semua bahan makanan yang kata orang bisa jadi obat tuh cocok sama tubuh kita.

Mungkin kamu cocok makan nanas supaya pencernaan bagus. Mungkin juga kamu oke-oke saja minum infused water dari lemon. Tapi yang sakit maag, kan, nggak bisa menjadikan dua hal itu sebagai obat.

Yang jadi dokter dan selalu siap siaga juga sabar menghadapi pasien…. kalian hebat!!

* * *

Begitulah cerita hari ini. Kalau kalian, pernah mengalami hal di atas?

Aku, Ramen, dan MLM

Pada suatu hari… Ya, suatu hari…. Saya bukannya mau mendongeng. Tapi ceritanya begitulah: pada suatu hari. Saya membaca Twitnya seleb terkenal tentang voting MLM. Isinya gini nih:

screenshot_2017-04-01-21-16-38_1.jpg

Tiba-tiba saya ingat perkataan adik saya: “MLM? Masuk Langsung Mati!” Begitu katanya dulu. Dan keluarga kamipun menentang siapa saja untuk join bisnis MLM.

Kenapa? Why – Beacuse… Ada seorang sahabat yang join bisnis itu, jual produk NNN. Setiap saat ia bercerita bahwa dia bakal dapat hadiah kapal pesiar, bisa keliling dunia, dan dapat untung ratusan juta rupiah dari bisnisnya. Dia pun gencar mengajak kami join. Tapi kami cuma menjawabnya dengan tawa, soalnya males banget nyari ‘kaki’, lagian kami nggak pakai produknya dan nggak minat buat pakai produk yang ditawarkannya. Lalu suatu ketika si kawan ini nggak bersuara lagi tentang bisnis MLM-nya. Kami semua tahu dia rugi beberapa juta. Modalnya nggak bisa balik dan hadiahnya pun nggak didapatnya.

Tapi… beberapa bulan yang lalu, saya malah join bisnis MLM sebuah produk kecantikan/kosmetik. Awalnya saya nggak mau, tapi karena dibilang bayar membernya nggak sampai sepuluh ribu dan nggak harus cari kaki, akhirnya saya setuju. Saya join karena pengen belajar jualan, pengen belajar cara memasarkan produk, dan pengen dapat hadiah/bonus bulanannya. Memang sih kalau soal hadiah tuh, beli aja bisa kalau kumpulin duit. Tapi rasa dari dapat hadiah karena kerja tuh beda! *ya iyalah soalnya sudah pernah dapat hadiah. Coba kalo belum, pasti nyesek banget!

Baru beberapa bulan saya jalankan bisnis ini, laba yang didapat nggak banyak memang, soalnya semua pada tahu diskon yang didapat oleh member, jadi saya nggak bisa dapat untung banyak. Kalau nggak kasih diskon, nggak bakal ada yang beli soalnya membernya sudah menjamur di mana-mana. Nggak beli sama saya, mereka bisa beli sama si A, si B, atau sama yang lain yang bisa kasih diskon gede. Yang beli sama saya juga nggak banyak. Waktu untuk ambil barang juga bisa dibilang banyak, berapa jam-lah… Belom lagi kalau ketemu customer yang nyenye-nyenye: mau cepat dapat barang-mau diskon gede-tapi beli cuma satu-trus minta dapat hadiah pula! Ampun deh!

“Mbak… Kalo mau dapat diskon gede-barang cepat dapat-plus dapat hadiah kenapa nggak jadi member aja sekalian?” Trus dijawab sama si mbak: “Eikeh ga ada waktu buat ngantri ambil barang, sibuk banget nih banyak kerjaan urus anak, urus dapur, urus suami, ini-itu… bla…bla…bla…” *Eh, Mbak… Gue juga sibuk urus anak orang –> anaknya enyakbabe gue alias diri gue sendiri cuii! hihihi

Nah, seperti gambar voting di atas, keuntungan finansial nggak sebanding sama waktu dan tenaga yang dikeluarkan, juga nggak sebanding sama urusan makan ati kalau ketemu customer yang aneh-aneh. *Huft! Lap keringet bisa dapet segalon!  Tapii… saya nggak mati seperti kepanjangan MLM yang dibikin adik saya itu. Yang ini beneran Multi-Level-Marketing walaupun ‘kaki’ saya baru satu setelah sekian lama join. Ckckck!

Walopun gitu, saya seneng banget karena sudah pernah dapat hadiah dari bisnis ini 2x: dapat tas travel dan satu set pisau. Lumayanlah… Trus, biarpun untung duitnya nggak seberapa, saya seneng-seneng aja bisa utak-atik edit gambar katalog untuk dibikin jadi profile picture BBM, gonta-ganti profile picture dan status BBM untuk memasarkan produk MLM ini. Buat pencitraan, sih. Wakakaka! *ups! ketahuan, deh! 

So, mari kita rayakan dengan makan ramen! Yeay!! Ini ramen istimewa! Sebutannya ramen biar dibilang keren, padahal aselinya cuma mi instant yang ditambah jamur goreng, emping, dan daun bawang kecil. Pengen aja makannya. Soalnya cuaca lagi hujan ditambah hidung meler. Kan enaknya makan sesuatu yang hangat, ada kuahnya, dan sedikit pedas. Lezatt-Mantappp!

p_20170401_152224_1.jpg

 

Janjiku Padanya

Diva namanya. Pertama kali aku melihatnya kira-kira sebulan yang lalu. Ia tinggal di dekat tempat kerjaku. Si Diva ini imut banget dan sangat manis. Nggemesinlah pokoknya!

Diva ini adalah seekor anak anjing kampung yang dipungut tetangga sebelah. Bulunya berwarna cokelat dan ekor panjangnya setengah berwarna hitam. Masih kecil wajar ya masih imut-imut. Coba kalau sudah besar, jadinya amit-amit, deh!

Pertama kali Diva dibawa ke tetangga sebelah, ia kutuan. Untuk membersihkan kutunya sampai harus dilakukan oleh dua orang. Hebat sekali kan si Diva ini? Walaupun ia cuma seekor anjing tapi banyak yang sayang padanya. Termasuk aku juga. *Lha terus kamu? Banyak yang sayang nggak?*

Karena aku sering menitipkan motorku di tetangga sebelah, jadi aku bisa setiap hari bertemu Diva. Kadang-kadang aku memberinya makanan, biasanya kerupuk. Mungkin karena aku suka memberinya makan jadi setiap kali ia melihatku, ia akan membuntutiku sampai ke kantor. *Makanya kalo kamu mau dapetin hati gebetanmu, kamu harus kasih perhatian ke dia! #eh, apa sih ini?*

Tiga hari yang lalu, seperti biasa Diva membuntutiku. Waktu itu suasana lengang. Sepi, tak ada orang. Jadi aku mengajak Diva bermain. Lari-lari. Lompat-lompat. Hup! Hup! Hula-hula-lalala… Lalu… Kaing! Kaing!! Ternyata aku menginjak kakinya. Duh! Pantesan aja dia berteriak.

Maafin aku ya Diva. Lain kali kalau main-main sama kamu aku akan berhati-hati supaya nggak menginjak kakimu lagi. Huhuhu… Sedih banget kok aku bisa ceroboh gitu.

Untung saja kakinya Diva nggak terluka. Kalau tidak… *sambil lirik kanan-kiri untung nggak ada yang lihat!* Nggak tau deh apa kata dunia tetangga.

 

* * *

Tulisan ini diikutkan dalam tantangan menulis #10DaysKF oleh Kampus Fiksi. Tema hari kesepuluh: Tulislah sebuah hal yang kamu berjanji tidak akan mengulanginya kembali.

Dear Kamu, Terima Kasih!

Dear kamu yang sudah kasih semangat buatku,
Terima kasih banyak atas segala usahamu. Tulisan-tulisanmu sangat bermanfaat dan berguna. Nasehat-nasehatmu sangat masuk akal. Semua yang kamu katakan telah terbukti benar.
Terima kasih telah membuka mataku, membuatku sadar, dan memberikan wawasan baru bagiku.
Terima kasih telah menjadi temanku yang baik.
Kudoakan semoga kamu selalu sehat dan berbahagia, juga selalu sukses di manapun kamu berada.

Regards,
Me

tq

* * *

Tulisan ini diikutkan dalam tantangan menulis #10DaysKF oleh Kampus Fiksi. Tema hari kesembilan: Tulislah sebuah surat untuk seseorang.

Aku Ini Begini Walau Kamu Pikir Begitu

Tantangan menulis #10DaysKF oleh Kampus Fiksi sudah masuk hari ke-8, nih! Hari ini temanya adalah: ‘Sebutkan 5 fakta yang berlawanan dengan opini orang lain tentang dirimu.

Pertanyaannya gampang-gampang susah, bikin mikir dulu dan mengingat-ingat apa opini orang. Dan akhirnya teringatlah 5 hal ini.

1. Sambal
Ini bukan tentang si iklan yang itu lho, si Samb****o, tapi beneran sambal.

Teman (T): “Kok aku nggak pernah lihat kamu makan sambal, ya. Kamu pasti nggak suka sambal.”
Saya (S): “Sebenarnya suka, asalkan jangan terlalu pedas. Jarang makan sambal kalau lagi kumpul bareng teman-teman karena takut malu kalau tiba-tiba tersedak gara-gara kepedasan.”

2. Musik
Yang ini tentang jenis musik.

T: “Ya, ampun! Kamu suka dengerin lagu yang beginian? Dari tadi kamu putar lagu yang ngebeat melulu! Kirain kamu tuh tipe pendengar lagu-lagu yang slow dan mellow.”
S: “Lagu yang musiknya slow suka juga, tapi lagu yang musiknya ngebeat lebih asyik! Bikin bete hilang. Bisa bikin semangat juga.”

3. Film
Kalau ini tentang genre film.

T: “Sudah nonton film ini belom? *nyebutin judul film dari genre drama dan romance*
S: “Belom.”
T: “Kok belom? Bagus tuh filmnya! Nyesel kalau nggak nonton!”
S: “Nggak, ah. Aku nggak suka film yang terlalu drama dan romance. Kalau filmnya genre gabungan antara drama/romance dengan komedi atau fantasi sih nggak apa-apa.”
T: “Kirain lo seneng yang drama-dramaan gitu.”

4. Bacaan
Ini tentang jenis bacaan di waktu senggang. Nggak hobi-hobi amat, tapi saya baca karena aplikasinya ada di hape. Kalau lagi nunggu, langsung buka aplikasi ini. Ampuh banget buat membunuh waktu!

T: “Lagi ngapain? Main game ya?”
S: “Nggak tuh!” *sambil tetep asyik sama hape*
T: *ngintip ke hapeku karena penasaran* “Wah, Webtoon!! Kamu baca Webtoon?”
S: “Iya. Emangnya kenapa?”
T: “Nggak nyangka aja kamu baca Webtoon. Kirain kamu nggak suka.”

5. Pertanyaan maut yang bikin super sensi
Lo semua jangan pernah tanyakan ini kalau masih sayang nyawa.

T: “Eh, kapan nikah?” *Lain waktu tanya mana cowoknya. Nanti kalo udah merid pasti nanya kapan punya anak, dst…*
S: “Masih direncanakan.” *jawab sambil senyum-senyum, padahal dongkol setengah mati*

Untuk pertanyaan maut ini, memang saya jawabnya sambil senyum-senyum buat menjaga kelanggengan persahabatan dan demi yang namanya sopan santun. Tapi entah kenapa banyak orang nggak sopan nanya hal beginian, atau memang nggak sadar kalau hal itu bisa bikin orang sakit hati? Bibir boleh tersenyum, tapi dalam hati siapa tahu, kan? Mau tau rasanya? Yang pasti bukan manis-asem-asin-campah. Rasanya pengen meledak dan ambil golok, trus di kepala sudah keluar tanduknya unicorn yang super panjang – siap menusuk jantung yang nanya.
Btw, sekarang zaman sudah berubah. Hati-hati kalau bertanya. Kamu bisa dituntut dalam pasal perbuatan tidak menyenangkan dengan menanyakan hal tersebut di atas.

sumber gambar: onsizzle.com
sumber gambar: onsizzle.com