#FiksiKamis – Mencari Buku yang Hilang

Hari ini aku mendapat tugas membuat resensi novel bergenre misteri dari guru Bahasa Indonesiaku. Otakku langsung berputar memikirkan buku apa yang akan kupakai. Setibanya di rumah, aku langsung membuka lemari bukuku. Kuperhatikan judul-judul buku yang ada dalam lemari.

‘Ke mana bukuku yang satu itu?’ pikirku sambil membongkar lemari untuk mencari sebuah buku. Tapi bukunya tak kutemukan. Aku pun mencarinya di kamar kakakku dan seluruh ruangan di rumah. Tetapi bukunya tidak ketemu.

‘Jangan-jangan dipinjam oleh Sani,’ pikirku. Temanku yang satu ini memang sering meminjam novelku. Dan kalau ia meminjam buku pasti lama sekali mengembalikannya. Itupun harus ditagih berkali-kali.

Kuambil ponselku lalu kukirim pesan ke Sani.

“San, kamu pinjam novelku nggak ya? J-Lit, Girls in the Dark. Soalnya aku mau pakai novel itu untuk tugas Bahasa Indonesia,” ketikku.

Tak lama kemudian Sani membalas. “Nggak, tuh! Semua novel yang kupinjam darimu sudah kukembalikan minggu lalu. Ingat?”

“Ah, masa sih? Kamu yakin nggak ada novelku yang tertinggal di rumahmu?” tanyaku lagi. Tidak yakin padanya. Sani pelupa, sih!

“Sebentar. Aku cek dulu,” jawab Sani.

Aku menunggu sekitar sepuluh menit. Kemudian ponselku berdenting. Sani mengirim pesan padaku, “Nggak ada, Rien. Aku sudah bongkar semua laciku. Novelmu sudah kukembalikan semua. Yakin 100%!”

“Oke deh. Thanks ya,” balasku, walaupun masih ragu dengan pernyataan Sani.

Berikutnya aku mengirim pesan di grup kelasku di Line. Kami punya grup khusus kelas untuk berbagi info atau sekadar untuk chatting nggak jelas.

“Halo semuanya. Siapa yang merasa meminjam novelku? Judulnya Girls in the Dark, karangan Akiyoshi Rikako,” ketikku.

“Aku nggak suka baca novel. Jadi bukan aku yang pinjam,” balas Panji.

“Novel apa tuh? Kalau sudah ketemu aku pinjam ya,” balas Amy.

“Bukannya Sani yang sering pinjam novelmu?” balas Aldo.

“Iya, betul! Coba tanya Sani!” balas Tina.

“San… Sani… Balas chat di grup, dong!” ketik Maria.

Beberapa menit kemudian Sani ikut nimbrung obrolan di grup.

“Rien sudah tanya aku tadi. Bukan aku yang pinjam,” jawab Sani.

“Lo yakin, San? Biasanya kamu yang suka pinjam bukunya Rien,” kata Aldo.

“Iya, bukan aku,” balas Sani.

“Beneran nih, San? Biasanya kamu tuh pelupa. Sudah dicari sampai ke kolong ranjang belum?” balas Maria.

“Aku yakin 100% nggak pinjam buku itu,” jawab Sani.

Ah, Sani memang begitu. Selalu yakin 100% tapi nanti pasti dia tiba-tiba bilang maaf karena menemukan bukunya terselip entah di mana, pikirku sambil mengaduk-aduk laci lemari di bawah TV.

“Nak Rien cari apa?” tanya mbok Sumi, mengagetkanku.

“Eh… Ini mbok. Cari buku. Judulnya Girls in the Dark. Sampulny bergambar kartun cewek pakai seragam kelasi,” jawabku.

“Yang gambar cewek Jepang itu ya?” tanya mbok Sumi lagi.

“Kok mbok tahu?” aku balik bertanya.

“Buku itu kan lagi dibaca oleh Wiwied. Nak Rien yang meminjamkannya… Kalau nggak salah dua minggu yang lalu,” jelas mbok Sumi.

Ya ampun… Jadi buku itu kupinjamkan ke anaknya mbok Sumi? Astaga! Aku benar-benar lupa! Bagaimana ini??

Ting Tong! Ponselku berbunyi. Nada pemberitahuan dari grup kelas. Dina mengirimkan pesan, “Wah, jadi hilang ke mana bukumu, Rien? Nggak ada yang ngaku, nih! Apa perlu kita lapor polisi? Biar tahu rasa yang pinjam nggak balikin itu!”

Lama kupegang ponselku. Akhirnya kuketikkan pesan ke grup kelasku, “Errr… Sori guys, bukunya udah ketemu nih! Ternyata ada sama Wiwied, anaknya mbok Sumi!” Lalu kutambahkan emo ngakak guling-guling. Seketika grup kelasku kembali ramai dengan berbagai macam emoticon.

Berbisik pada Langit

Hai, apa kabarmu hari ini? Kuharap kamu sehat dan berbahagia. Kuharap pekerjaanmu aman-aman dan lancar. Dan kuharap semuanya baik-baik saja.

Sudah beberapa hari ini aku melihatmu. Senang rasanya bisa berjumpa denganmu. Dan tentu saja aku akan merasa sangat bahagia jika saat kuharap bisa melihatmu lalu kau benar-benar muncul di hadapanku. Rasanya pasti bakal nyeesss… Kayak es yang meleleh.

Hari ini… juga hari-hari sebelumnya, teman-temanku selalu berdandan saat mereka mau pulang. Sebelum meninggalkan tempat kerja, mereka menyempatkan diri memakai bedak dan gincu. Aku? Meremehkannya. Dan alasan klasikku: nggak sempat. Terlalu banyak pekerjaan. Padahal aku malas.

Karena beberapa hari terakhir ini aku selalu berpapasan denganmu, aku merasa minder karena aku tak berdandan. Mukaku pasti lecek dan terlihat kumal. Sungguh aku menyesal tidak ikut-ikut berdandan. Padahal bedak dan gincu selalu tersimpan di tasku.

Aku jadi ingat sebuah kata bijak: “Berdandanlah seolah-olah kau akan bertemu dengan seseorang. Siapa tahu dengan berdandan kau akan bertemu dengan seseorang.”
Dari pengalamanku beberapa hari ini, kata bijak itu benar. Ugh! Nyesek bingitz! Huhu…

Aaaah… seandainya aku berdandan dulu, pasti aku terlihat lebih rapi dan enak dipandang. Kinclong cling gitulah… Besok-besok, entah itu akan bertemu denganmu atau tidak, aku akan menggunakan bedak dan gincuku. Catat! Don’t forget jangan lupa!

Well… Kamu mungkin nggak peduli akan bedak dan gincu atau semua yang kupakai dan kubawa. Tapi, aku tetap bertekad berpenampilan baik. Yaah… kuharap kau menyukainya. Ehm!

Hari ini aku bertemu denganmu. Kamu tersenyum dan menyapaku. Rasanya aku ingin mengatakan:

“Hai, kita ketemu lagi ya? Bagaimana pekerjaanmu? Kuharap lancar. Kamu lagi sibuk apa? Sore ini ada kerjaan nggak? Bagaimana kalau kita pergi nonton atau nongkrong di cafe?”

Atau sesekali aku juga ingin membuat lelucon seperti ini:

“Hai, kamu ada kerjaan nggak sore ini? Yuk kita nonton!”

Lalu kamu akan bertanya: “Nonton apa? Fast and Furious? Danur? Kartini? The Boss Baby?”

Aku akan menjawab:

“Bukan itu. Ayo nonton montir bengkel benerin motorku. Soalnya aku mau pergi service motor. Kamu temani aku, ya?”

Tapi… aku cuma sanggup bilang, “Hai! Ehm… Duluan ya!”

Dan aku cuma bisa menatap langit dan berbisik padanya:

“Langit, kamu cakep banget saat ini, secakep dia yang kukagumi. Tolong dong sampaikan salamku padanya. Plisss!”


Janji yang Harus Ditepati

Pagi itu cuacanya cerah. Matahari memancarkan sinarnya yang hangat. Burung-burung berkicau riang di atas pohon depan rumahku. Di taman, beberapa kupu-kupu saling berkejaran. Kulihat beberapa kuntum bunga aster merah telah mekar. Sungguh cantik!

Kupetik setangkai aster. Kubersihkan tangkainya yang sedikit berdebu. Setelah itu kuperciki dengan sedikit air supaya bunga itu terlihat segar. Lalu aku membawanya ke dalam rumah.

Aku menuju kamar dekat tangga di lantai dua. Kuketuk pintunya. Perlahan. Tak ada jawaban. Sekali lagi kuketuk pintu. Agak keras.

“Siapa?” tanya seseorang dari dalam kamar.

“Ini… Aku…,” jawabku. Namun sebelum kuselesaikan kalimatku, ia menghardikku.

“Mau apa pagi-pagi begini? Pergi!” serunya.

Aku terdiam beberapa saat. Yah, beginilah nasibku setiap kali aku ingin masuk ke dalam. Boleh dikatakan aku sudah terbiasa dihardik dan diusir. Setelah ia memaki-makiku, aku akan membuka pintu kamar yang memang tak pernah dikunci itu. Lalu aku cepat-cepat meletakkan aster merah di vas bunga yang ada di atas meja rias dalam kamar.

Sekilas kulihat laptop di meja dekat tempat tidur menyala. Layarnya menampilkan slide foto-foto seorang laki-laki, dari kecil hingga dewasa dan berumur.

Ah… Lagi-lagi foto itu dipandanginya. Tak bosan-bosannya…,’ kataku dalam hati.

“Keluar! Keluar! Siapa yang menyuruhmu masuk?” teriak wanita paruh baya dari dalam kamar. Ia sedang duduk di atas ranjang. “Pergi!” serunya lagi.

Tiba-tiba dari arah tangga terdengar suara langkah kaki yang tergopoh-gopoh naik.

“Ada apa lagi? Kenapa ribut-ribut, Bu?” tanya seseorang yang baru masuk ke kamar. Ibuku.

“Singkirkan anakmu itu! Singkirkan dia! Aku tak ingin melihatnya!”

“Memangnya apa lagi yang dilakukan Jason, Bu?” tanya ibuku, sementara aku diam saja, menunduk dan menatap lantai.

“Aku benci dia! Tingkahnya selalu mengingatkanku pada mendiang ayahmu! Kenapa dia bisa mengikuti semua kebiasaan ayahmu? Bocah empat tahun ini… Dia meletakkan cangkir minumanku di meja rias setiap malam. Dia merapikan selimutku, membereskan sandal kamarku, dan pada pagi hari meletakkan aster merah di vas bunga itu. Lagu-lagu yang ia senandungkan… Kau dengar? Itu lagu kesukaan ayahmu!”

Aku meneteskan air mata mendengar teriakan nenekku. Aku sudah tak tahan lagi.

“Tapi orang yang di foto itu memang aku!” seruku sambil menunjuk layar laptop yang sedari tadi menampilkan slide foto tanpa henti.

“Itu aku. Kenapa kalian tak percaya? Aku dilahirkan kembali ke rumah ini karena aku ingin menepati janjiku,” kataku.

“Janji… Janji a-pa?” tanya nenekku terbata-bata.

“Bukankah aku pernah berjanji akan selalu melindungi keluarga ini? Karena itulah aku dilahirkan kembali di keluarga ini.”

Kedua wanita di dalam kamar terdiam.

“Juga karena ingin memenjarakan ayah yang selingkuh dengan wanita lain. Bukankah perselingkuhan ayah yang menyebabkan aku yang dulu meninggal karena mendadak kena serangan jantung?” lanjutku.

Seketika ibuku pingsan.

* * *

420 kata. Fiksi di atas berdasarkan video dari lagu Photograph – Ed Sheeran dan diikutkan untuk meramaikan #PestaFiksi06-nya Mbak Carolia Ratri. Link lomba bisa dilihat di sini.

Segelas Es Leci (2)

Kakakku menegurku saat melihat wajahku yang ditekuk-tekuk tak karuan. “Ada masalah apa, Dik?”

“Nggak ada, Kak?” jawabku.

“Masa sih? Tapi wajahmu itu kok muram banget? Kayak orang nggak ada semangat hidup!”

Sepertinya aku tak dapat menyembunyikan rasa kecewaku. Semuanya terpampang jelas di raut wajahku. Akhirnya aku menceritakan semuanya pada kakak.

“Begitu saja kok mundur? Pesanmu itu kan dibalas. Ayo usaha lagi. Jenguk dia! Bawakan apa, kek!”

“Begitu ya, Kak? Kalau ditolak lagi gimana?”

“Ya sudah kalau ditolak lagi. Terserah kamu masih mau lanjut atau berhenti.”

Akhirnya kuturuti nasehat kakakku. Aku pergi membeli roti. Kuharap kamu suka roti yang kubelikan. Tapi aku tak tahu di mana rumahmu. Aku menimbang-nimbang untuk bertanya pada teman-teman kantormu atau bertanya langsung. Lalu kuputuskan untuk bertanya pada teman kantormu.

Walaupun banyak yang meledekku, aku biarkan saja. Biarlah mereka tahu aku sedang mengejarmu. Toh aku nggak bertujuan mencuri. Oke, kalau mencuri hati, itu benar. Aku ingin mencuri hatimu untuk kusimpan dan kujaga agar tak seorangpun menyakitinya.

Sore hari aku tiba di depan rumahmu. Hujan turun begitu deras. Untunglah roti yang kubawa tidak terkena air karena sudah kubungkus dengan berlapis-lapis kantong plastik. Baju dan celanaku saja yang basah. Tapi tak apa-apa. Yang penting aku bisa melihat wajahmu.

Seorang ibu membukakan pintu untukku. Ia menanyakan maksud kedatanganku. Setelah kujelaskan, ia mempersilakan aku masuk. Rupanya ia tantemu.

“Hai, kenapa repot-repot datang ke mari? Aku jadi nggak enak, nih!” katamu saat menyambut kedatanganku.

“Nggak apa-apa. Aku kebetulan mau ke daerah sini. Sekalian mampir,” kataku. Bohong sedikit nggak apa-apa kan? Gengsi dong kalau bilang sengaja mampir buat menjenguk.

“Oh, ya, ini ada roti untukmu. Bagaimana kabarmu? Sudah sehat?” lanjutku. Kulihat wajahmu masih pucat.

“Sudah lumayan sehat. Terima kasih ya. Ada-ada saja kamu ini, kok beliin aku roti.”

“Memang kenapa? Kamu nggak suka roti?” tanyaku.

“Errr .. Sebenarnya iya. Tapi… Nggak apa-apa deh. Aku terima pemberianmu. Terima kasih ya.”

“Maaf aku nggak tahu kamu nggak suka roti.”

Rasanya malu sekali memberikan sesuatu yang tidak disuka olehmu. Duh!

“Sudahlah. Nggak apa-apa, kok. Aku senang kamu datang menjengukku.

Mendengar kata-katamu barusan, aku merasa melayang. Aku ingin terbang. 

Aku dan kamu mengobrol beberapa menit. Setelah itu aku pulang.

* * *

Cafe seberang kantormu.

Kembali kupesan segelas es leci. Aku butuh sesuatu yang manis untuk meredakan debaran jantungku yang begitu kencang. Aku sangat senang hari ini karena dapat bertemu denganmu, pujaan hatiku. Aku memang tak tahu nantinya aku bakal jadian atau nggak denganmu. Tak akan kupermasalahkan. Yang penting aku sudah memberikan perhatian padamu. Melihatmu tersenyum manis oleh leluconku sudah membuatku bahagia. Urusan selanjutnya… Nanti kupikirkan lagi.

Segelas es leci yang manis
Semanis senyum yang menghias wajahmu
Izinkan aku mengisi harimu dengan canda-tawa
Dan tak kan kubiarkan harimu diisi dengan tangis
Wahai engkau pemilik senyum manis
Semoga kau berbahagia selalu

* * *


Baca Segelas Es Leci bagian 1 di sini.

Segelas Es Leci

Aku menunggumu. Berulang-ulang, kulihat lalu-lalang kendaraan di jalan dari balik jendela kaca cafe. Satu motor lewat. Ah, bukan kamu. Satu lagi lewat. Tapi juga bukan kamu. Hingga pesananku tiba, kau belum juga muncul.

Dalam hati aku bertanya, ‘Ke mana kamu? Tak tahukah kamu aku menunggumu di sini?’  

Tentu saja kau tak tahu. Aku sama sekali tak membuat janji denganmu. Aku hanya tahu kau sering ke cafe ini pada jam segini. Aku hanya berharap dapat bertemu denganmu. Dan tentu saja untuk menjalankan skenarioku.

“Hai, kita bertemu lagi di sini?” seruku saat melihatmu.

“Eh, kamu! Lagi menunggu pesanan tiba?” tanyamu.

“Iya. Kamu sudah pesan makanan?”

“Oh, sudah. Baru saja. Mungkin sebentar lagi tiba.”

“Kamu sendirian? Boleh bergabung denganmu? Aku sendirian soalnya. Temanku nggak jadi datang.”

“Boleh, tentu saja. Ayo, silakan duduk!”

“Baiklah. Terima kasih kalau begitu.”

“No problem. Kita kan sudah kenal.”

“Oh, ya. Setelah makan kamu ada acara apa?”

“Nggak ada, sih. Mungkin pulang atau ke toko buku dulu. Ada buku yang mau kubeli.”

“Begitu ya…”

“Kamu ada acara apa setelah ini?”

“Aku mau ke pesta ulang tahun anaknya teman kantorku.”

“Sendirian? Atau bareng dengan teman kantormu?”

“Sendirian… Tapi kalau kamu mau menemani, aku akan senang sekali. Hehehe.”

“Hmmm… Oke deh. Aku temani. Tapi nanti kamu temani aku juga ya ke toko buku.”

“Siap!”

Setelah itu kamu dan aku mengobrol tentang berbagai hal. Kamu menepati janjimu menemaniku ke pesta ulang tahun anak teman kantorku. Akupun menemanimu ke toko buku. Senang sekali rasanya.

“Terima kasih! Datang kembali!”seru pelayan cafe membuyarkan lamunanku.

Ah, ya, pengharapan selalu manis… semanis es leci ini. Kenyataannya kau tak juga muncul hingga beberapa jam berlalu.

Sebelum aku ke mari, dalam hati aku berdoa: jika kamu jodohku maka kita akan bertemu di cafe ini. Lalu setelah sekian lama aku menunggu, kau tak juga muncul. Kurasa ini pertanda ….

Tapi… Aku tak akan berhenti begitu saja. Satu cara lagi kulakukan untuk memastikan. Kukeluarkan ponselku dari dalam tas lalu kuketikkan pesan dan kukirim ke nomor BBmu.

“Hai, apa kabar?” tanyaku.

Tak lama kemudian kau membalas. “Nggak terlalu baik. Aku lagi nggak enak badan.”

“Waduh. Kasihan… Semoga lekas sembuh.”

Kutunggu balasanmu. Lama. Namun BBMku cuma dibaca. Di-read doang! Nggak ada balasan. Lo tau artinya kan? Seperti saat lo nyetir mobil, ada huruf “R” di perseneling. Artinya mundur. Jadi kalau BBMmu cuma di-Read doang, artinya lo harus mundur!

Okelah kalau begitu. Aku tak berharap banyak. Hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk diriku sendiri.

Aku pun keluar dari cafe dan pergi ke pesta ulang tahun anaknya temanku. Sendirian. Tak apalah. Toh aku sudah biasa sendirian. Dunia tak akan berakhir hanya karena aku ke mana-mana sendirian. Walaupun penolakan tuh rasanya pahit, setidaknya aku sudah minum segelas es leci yang rasanya manis.

bersambung ke part 2 … ditunggu lanjutan ceritanya ya. :mrgreen::mrgreen::mrgreen:

Bocah Ingusan

Seperti biasa, kau datang pagi-pagi sekali. Jarang sekali kulihat kau tiba dengan terburu-buru. Selalu tepat waktu. Atau boleh dikatakan agak cepat.

Senyummu di pagi hari menghangatkan jiwa-jiwa suntuk-ngantuk para penghuni sekolah. Seolah-olah mendapat siraman berkah dari surga, wajah-wajah warga sekolah mendadak menjadi cerah begitu melihat senyummu. Sungguh manis! Dan menenangkan….

Namun… Beberapa hari ini kudengar bunyi-bunyi tak enak. Sraattt! Sruuutt! Sraaattt! Sruuuttt! Dan kulihat kau mengelap hidungmu. 

“Jangan menangis. Aku kan nggak ke mana-mana,” kataku.

“Aku nggak nangis, kok. Ini flu,” katamu.

“Tetap saja kau seperti orang menangis. Sedot terus ingusmu. Kayak mahal aja dibuang. Wajahmu memerah tuh! Begitu pula hidungmu,” kataku lagi.

“Ya mau gimana lagi, namanya juga lagi kena flu,” jawabmu sambil tersenyum.

“Bocah ingusan,” kataku.

Kau membalasku dengan tawa renyahmu.

* * *

Hari ini… Entah kenapa aku merasa tak enak badan. Bersin-bersin. Badanku terasa hangat. Dan aku merasa dingin.

Ah, kurasa ini karena aku keterlaluan bercanda denganmu. Bocah Ingusan, kau tularkan virusmu padaku. Kau sakit flu. Kutahu kau juga tak enak badan. Tapi kau masih saja pergi sekolah. Dan anehnya kau selalu tersenyum manis, seolah hidupmu tiada beban, walau sudah menularkan virus flumu. 

[FanFiction] I’m Sorry I Make You Fall In Love With Me (part 4)

Starring:
1. Minah
2. Kung Min
3. Mr. Joo

Base on K-Drama Beautiful Gong Shim

Kung Min:
Beberapa minggu aku melihat Minah selalu ada di sekitarku, baik saat aku akan berangkat kerja maupun saat aku pulang kerja. Ia juga beberapa kali bertanya apakah dia melakukan kesalahan padaku. Aku mencoba mengingat-ingat. Kupikir semua orang pasti pernah melakukan kesalahan pada siapapun: ayah, ibu, saudara, anak, teman, orang yang disukai, bos, rekan kerja, guru, orang tak dikenal… Dan dalam kasus Minah ini, dia… Dia pernah mengejekku sekali waktu. Tapi, sudahlah. Kuharap aku bisa melupakan kesalahan itu.

Kenapa aku berubah dan kenapa aku tak lagi menyukainya… akupun tak tahu. Kurasa perasaan orang bisa berubah, kan? Aku dulu mengejar-ngejarnya, mengikutinya ke mana saja, menyapanya duluan sebelum ia menyapaku, memanggil-manggil namanya… dan sekarang aku tak lagi melakukan itu. Bahkan aku menghapus namanya dari kontak teleponku. Aku tak ingin memberinya harapan sekecil apapun.

“Kenapa kau melakukan ini-itu padaku? Aku mengirim pesan hanya untuk mengobrol seperti dulu. Tapi, membacanyapun kau tidak lakukan. Apa salahku?” tanyanya suatu waktu.

“Tidak ada. Aku hanya… sibuk,” jawabku.

“Bisakah kita bertemu dan mengobrol? Sebentar saja?” tanyanya di lain waktu.

Dan tentu saja aku menolaknya dengan alasan sibuk. Aku tak ingin berlama-lama ngobrol dengannya. Namun ada sekali waktu kami bertemu di taman dekat rumah, kami mengobrol sebentar.

Ia kelihatan sedih. Tapi ia selalu tersenyum. Ia masih bisa mengobrol dengan siapapun. Dan tertawa banyak dengan Mr. Joo. Beberapa kali mereka pergi bersama. Lalu kuputuskan untuk mengabaikannya… mungkin untuk selamanya.

Minah, maafkan aku karena membuatmu jatuh cinta padaku. Kuharap kau segera menemukan sesorang yang bisa mengisi hatimu. Mr. Joo mungkin?

Minah:
Aku terus menunggui Kung Min saat ia hendak pergi bekerja maupun saat ia pulang kerja. Sampai beberapa minggu. Beberapa kali aku menanyainya tentang perasaannya.

“Apa ada yang salah denganku? Apakah karena aku ‘ugly’ sehingga kau tak suka padaku? Atau… apakah ada tingkah dan perkataanku yang menyakiti hatimu?” tanyaku suatu hari.

“Tidak ada,” jawabnya. Singkat. Dan sesudah itu ia kembali mengabaikanku.

“Aku minta maaf kalau aku bersalah padamu,” kataku di lain waktu.

“Iya. Tidak ada masalah, kok,” katanya.

Lalu kami mengobrol sebentar. Dan keesokan harinya ketika kami berpapasan di jalan, ia kembali mengabaikanku layaknya orang yang tidak saling kenal. Padahal sebelumnya ia selalu memanggilku, menyapaku, dan mengajakku bercanda. Tak ada lagi semua itu.

Aku lelah. Lelah berusaha untuk membuat ia kembali jadi, setidaknya, temanku. Aku tak berharap ia akan kembali menyukaiku. Aku hanya ingin kembali berteman denganku seperti sedia kala. Tapi… Ia bahkan sekarang bukan lagi temanku. Sangat menyedihkan!

Dan di saat aku sedih, Mr. Joo selalu menghiburku dengan leluconnya. Dia sangat menyenangkan. Dia juga menawarkan banyak bantuan padaku dan mengajakku jalan-jalan. Mungkin suatu saat aku bisa jatuh cinta padanya. Mungkin… tapi, aku benar-benar lelah.

Mr. Joo… dia selalu ada kalau aku memintanya. Dan dia juga muncul di saat tak terduga, entah disengaja atau tidak. Ia juga melakukan sesuatu tanpa diminta; membantuku mengerjakan ini-itu maupun menghiburku. Itu sesungguhnya bagus, kan? Tapi banyak pertimbangan yang membuatku tidak ingin menjalin hubungan spesial dengannya. Salah satunya karena aku lelah. Saat ini aku hanya butuh waktu untuk diriku sendiri. Kuharap tak butuh waktu lama untuk menyembuhkan luka hati ini. Kuharap aku akan menemukan cinta yang baru; menemukan seseorang yang tidak mempermainkan hatiku, seseorang yang benar-benar tulus. Ya, semoga terjadi.

Untuk Mr. Joo, maafkan aku karena telah membuatmu jatuh cinta padaku. Aku tak tahu apa yang membuatmu menyukaiku. Tapi, aku benar-benar berterima kasih kau telah meluangkan waktumu untukku. Terima kasih untuk segalanya. Terima kasih mau menjadi teman baikku.

Mr. Joo:
Minah… Dia tahu aku menyukainya. Saat itu aku mengajaknya makan siang di sela-sela jam istirahat di tempat kerjanya yang baru.

“Minah, aku mengajakmu makan saat ini bukan hanya sekadar makan. Tapi… ada sesuatu yang ingin kukatakan,” kataku saat itu.

“Oh? Apa itu? Apakah kau akan melakukan perjalanan dinas?” tanyanya.

“Bukan. Bukan itu. Perjalanan dinasku masih lama. Sekitar dua minggu lagi aku akan pergi untuk proyek baru di luar kota. Mungkin akan makan waktu seminggu,” jawabku.

“Begitu… semoga lancar-lancar urusannya ya, Mr. Joo. Semangat!!” serunya.

Aku tersenyum melihatnya gayanya. Aku tahu dibalik senyumnya ia menyimpan kesedihan yang mendalam. Ingin rasanya aku mengenyahkan semua kegalauan dalam hatinya.

Aku benar-benar tak tahu apa yang ada dalam kepala Kung Min. Mengapa laki-laki itu berubah sikap dan mengabaikan wanita yang tadinya disukainya? Teganya ia melakukan hal seperti itu. Teganya ia mempermainkan perasaan orang! Lelaki sejati tak akan mempermainkan hati seorang wanita, walau dalam bercanda sekalipun.

“Jadi, apa yang ingin kau katakan padaku, Mr. Joo?” tanyanya, membuyarkan lamunanku.

“Eh… itu. Hmmm… sebenarnya aku…,” aku terdiam sebentar karena gugup. “Aku sebenarnya… suka padamu,” kataku.

Gantian Minah yang terdiam cukup lama sambil menatapku, lalu menatap piringnya, memainkan sendoknya, dan kembali menatapku. Aku menunggunya bicara.

“Hmmm… terima kasih karena sudah menyukaiku. Tapi… saat ini aku ingin memulihkan dulu hatiku,” katanya. Ia tersenyum. Senyum getir.

“Ooh, tak apa-apa. Aku mengerti,” kataku sambil tertawa. Tawa yang dibuat-buat untuk mencairkan suasana. Tawa yang sebenarnya tak perlu.

“Maaf ya, Mr. Joo. Jangan sedih karena kutolak,” katanya.

“Tidak masalah bagiku. Asalkan kita bisa tetap berteman,” kataku.

“Tentu saja! Kita masih berteman. Jangan menjadi canggung!” serunya, girang.

Aku memang merasa sedih karena ia menolakku. Tentu saja ia menolak karena ia baru saja ditolak, kan? Dan dia masih dalam masa pemulihan hati karena cintanya ditolak oleh Kung Min. Bodohnya aku. Huft!!

Tapi, jujur aku bersyukur karena ia masih mau berteman denganku. Aku akan berusaha lebih keras agar bisa menjadi seseorang yang bisa selalu membuatnya tersenyum. Walaupun saat ini statusku hanya teman, tapi… siapa tahu suatu waktu aku akan naik pangkat menjadi pacarnya, kan?

Minah… terseyumlah! Lupakan orang yang telah membuatmu sakit hati. Ingatlah kau masih punya orang-orang yang bisa membuatmu tersenyum!

Dan… jangan pernah meminta maaf karena telah membuatku jatuh cinta padamu. Cinta itu datang begitu saja. Aku akan memeliharanya dan tak akan membuatnya berkurang.

——–T H E E N D——–

Cerita sebelumnya:

Part 1

Part 2

Part 3