Hujannya Awet, Masbro!

Sudah dua hari ini hujannya awet, Masbro!
Dari subuh hingga malam hari… Hujan gerimis. Hampir tiada henti. Rintik-rintiknya membuat genangan besar di beberapa tempat. Udara menjadi lembab dan dingin. Cocok untuk tidur. Seharian… Kalau bisa. Apalagi ini weekend.

Tapi… Cucian jadi nggak kering. Jemuran makin banyak. Bergelantungan berdesak-desakan di plafon belakang rumah. Wangi cucian di mana-mana. Yang artinya harus hemat pakai pakaian… 

Langit putih tandanya hujan bakalan awet, Masbro!

Bicara awet… Nggak cuma hujan yang bisa awet. Cinta gue sama lo juga awet. Cinta lo sama gue juga… Bakalan awet. Itu kata lo!

Tapi… Ya tapi… Memangnya di dunia ini ada yang awet? Itu pertanyaan lo juga. Dan lo jawab sendiri: Di dunia ini nggak ada yang awet! 

Hujan yang awet cuma buat kemarin dan hari ini. Besok belum tentu. Bisa jadi besok panas terik. Kalau panasnya nggak besok, ya besoknya lagi. Atau besok besoknya. Sampai di kemudian hari. Sama aja kayak cinta. Iya, kan, Masbro? Begitu kan maksud lo? 

Hari ini lo cinta. Besok juga cinta. Minggu depan cinta. Sampai setahun tetap cinta. Lalu sesudah itu pudarlah cintanya. Cinta itu kemudian hilang. Lenyap. Menguap entah ke mana. Entah mengapa. Dan lo pergi begitu saja. Dan tahu-tahu lo sudah ada yang punya. 

Sesak banget, Masbro! 

Tapi… Seperti yang lo bilang: Memangnya di dunia ini ada yang awet?... Sesak itu nanti juga akan hilang. Pasti. Kalau nggak besok, ya besoknya lagi. Atau besok besoknya lagi. 

Lo nggak suka lagi sama gue, kan, Masbro? Yagapapalah… Gue ikhlas, Masbro! Semoga lo awet sama si baru. Semoga aja nggak ada lagi korban ‘Di dunia ini nggak ada yang awet!’

Sekarang, nggak ada lo lagi, Masbro! Tapi.. Besok-besok bakalan ada Masbro-masbro lain yang baik hati yang bakalan ngisi hati gue. Dan… Cukup satu Masbro yang awet sampai akhir masa hidup gue.

Hujannya awet, Masbro! Dan malam ini cuaca masih dingin. Buat the next Masbro, gue harap cinta yang lo akan awet. Namun janganlah sikap lo sedingin cuaca malam ini.

Sebuah Pilihan

Sumber gambar: dramabean. Film Birth of a Beauty.

Sara mengeluarkan ponselnya dari dalam tas. Ada pesan di BBM. Dari Joon. 

“Hai, apa kabar? Ketemuan yuk!”

Sesaat Sara menahan napas. ‘Ketemuan? Dia ngajak aku ketemuan? Ada angin apa?’ pikirnya.

“Tumben ngajak ketemuan. Ada apa nih?” balas Sara.

Tak lama Joon membalas, “Pengen aja. Ke tempat biasa kamu nongkrong yuk!”

‘Jadi dia masih ingat tempat nongkrongku?’ Sara bergumam dalam hati. 

Ia ingat, dulu ia pernah suka sama Joon. Joon adalah teman SMAnya. Tapi karena di saat itu murid seangkatannya banyak jumlahnya, Sara tidak bisa mengingat satu per satu nama mereka. Hanya teman sekelasnya saja yang ia hapal namanya, ditambah beberapa siswa dari kelas lain yang pernah sekelas dengannya di tahun pertama dan kedua. 

Sara tahu Joon dari Annie, sahabat Sara. Annie memberikan nomor PIN BBM Sara pada Joon. Joon dan Sara jadi sering BBMan dan bertemu beberapa kali. Sara suka pada Joon. Tapi kemudian Joon ‘menghilang’. Ia tak pernah lagi mengajak chatting dan bertemu. Sara pun akhirnya mengubur rasa sukanya pada Joon setelah suatu ketika ia melihat Joon mengganti display picturenya dengan foto seorang perempuan.

Sekarang Joon tiba-tiba mengajak bertemu. Sara tentu saja bingung. Ada perasaan galau di hatinya. Ia mengingat masa-masa saat ia masih suka sama Joon. Ia berpikir mungkin masih ada rasa suka pada Joon. Lalu ia membalas pesan Joon.

“Boleh. Kapan dan jam berapa?”

Joon membalas, “Minggu jam 10. Oke?”

“Oke sip!” balas Sara.

* * *

Minggu jam 10. Sara dan Joon bertemu di cafe tempat Sara dan teman-temannya nongkrong. Tapi kali ini hanya dia dan Joon yang bertemu. Teman-teman mereka tidak ikut.

“Kamu nggak sibuk? Nggak pergi sama cewekmu?” tanya Sara pada Joon senatural mungkin supaya tidak disangka kepo. Padahal ia memang ingin mengorek informasi dari cowok yang wajahnya lumayan cakep itu.

“Nggaklah… Kalau sibuk aku nggak mungkin ngajak kamu ketemuan. Lagian aku nggak ada pacar kok. Single nih!” jawab Joon dengan santai.

“Okelah kalau begitu. Mari pesan makanan dulu,” kata Sara.

Mereka pun memesan makanan. Sambil menunggu pesanan makanan mereka datang, mereka mengobrol.

“Oh, ya. Kamu ulang tahun, kan, beberapa hari yang lalu. Ini kado buatmu,” kata Joon.

Sara bengong. Tumben cowok tengil ini kasih kado. Biasanya dia cuma ngasih pesan di timeline Facebook saat ulang tahunnya, seperti yang dilakukan Joon beberapa hari yang lalu. Tapi ini… Ada tambahan… Kado?

“Hei, kok bengong? Kalau nggak mau kadonya ya udah! Nanti aku kasih ke panti asuhan saja,” ujar Joon.

“Hah? Panti asuhan? Sejak kapan kamu jadi dermawan gitu? Lagian, baru kali ini kamu kasih kado buatku,” sahut Sara.

“Kebetulan lagi ada rezeki. Kantorku menang tender. Jadi kami semua dapat bonus dari bos,” jelas Joon.

“Oh, aku merasa aneh aja kamu kasih kado. Tapi… Makasih ya, Joon,” kata Sara.

“Sama-sama. Eh, itu makanannya datang. Makan dulu, yuk!” ajak Joon.

Mereka pun makan. Setelah itu Joon mengajak Sara pergi nonton. Sara sangat senang karena bisa pergi bareng dengan Joon. Rasa sukanya muncul kembali. Saat Joon mengantar Sara pulang, Sara bertanya padanya, “Tumben kamu baik hari ini. Ada angin apa, Joon?”

“Aku lagi bingung aja…,” jawab Joon. Ia memang terlihat bingung.

“Bingung kenapa?” tanya Sara.

Joon menghentak-hentakkan sepatunya. Menendang-nendang angin. Kelihatan sekali ia gugup.

“Hmmm…,” katanya. Joon nampak berpikir keras.

“Aku suka sama cewek…,” lanjutnya.

Deg! Jantung Sara berdegup kencang. Cewek? Siapa? Kuharap kamu suka sama aku! Jangan bilang kamu suka cewek lain, Joon!

“Siapa?” tanya Sara.

Joon mengambil ponselnya. Ia membuka galeri foto di ponselnya. Lalu ditunjukkannya foto seorang perempuan.

“Ini,” katanya sambil menunjukkan foto perempuan berambut panjang. Wajahnya manis. Imut. Bibirnya merah. Matanya sipit. Kulitnya putih mulus.

‘Ah ya, aku tak mungkin bisa menandingi kecantikan cewek itu. Apalah aku? Nggak cantik, nggak putih, nggak mulus. Huft! Wajar kalau Joon memilih cewek itu…,’ pikir Sara. Kecewa.

“Tapi… Aku juga sebenarnya merasa lebih nyaman ngobrol dan jalan dengan cewek yang satu ini,” kata Joon sambil menunjukkan foto orang lain.

Foto Sara!

Sara terkejut. Matanya terbelalak. Jantungnya seakan berhenti berdetak.

“Apa?? Aku??” tanya Sara tak percaya.

“Iya… Makanya aku bingung. Ada dua pilihan. Entah harus bagaimana….,” katanya.

“Oooh… Jadi pilihanmu ada dua. Aku dan cewek putih itu? Ya terserah kamu saja Joon…,” kata Sara. Ia merasa kesal. Sedikit kecewa. Juga marah. Tapi sekaligus senang. Sara merasa aneh. Temannya ini aneh!

“Kalau begitu… Kamu baik-baiklah sama aku, ya? Biar aku lebih milih kamu…,”kata Joon.

“OMG! Joon! Joon! Dasar aneh!” seru Sara.

Cece Masuk Koran

Cece: “Ma, tante baru saja WA, katanya Cece masuk koran.”

Mama: “Yang benar? Kok bisa? Harus beli korannya kalau gitu.”

Cece: “Oke. Nanti tak beli korannya.”

Mama: “Beli yang banyaklah ya…”

Cece: “Buat apa?”

Mama: “Buat dibagi-bagiin ke orang.”

Cece: “Astaga, nggak perlu lah, Ma.” *tepok jidat*

* * *

Cece: “Eh, aku masuk koran, lho! Kalian sudah baca koran hari ini belum?”

Alyka: “Masa sih? Koran apa?”

Cece: “Koran Sumeks halaman 12.”

Alyka: “Siplah, nanti aku beli koran itu.”

Meisya: “Emang kamu muat masuk koran?”

Cece: “Dimuat-muatinlah. Gitu aja kok repot.”

Meisya: “Iya juga, tinggal dilipat-lipat trus bungkus.”

Cece: “Yeeey, emangnya aku nasi bungkus??!”

Gun: “Ciye ciye… Yang masuk koran… Tambah terkenal aja, nih! Hahaha!”

Cece: “Iya nih! Kayaknya aku bakal butuh manajer.”

Sheira: “Baru masuk koran aja udah sombong!”

Cece: “Nggak apa-apalah. Aku belum terkenal kayak kamu, sih!”

Sheira: “Iya, sih. Kamu masih kalah jauh. Aku mah udah sering masuk koran dan majalah. Hahaha!”

Cece: “Begitulah… Fotomu di media cetak sudah banyak banget! Saking banyaknya sampai bisa dibikin jadi alat buat nakut-nakutin tikus. Hihihi!”

Perjalanan Menembus Ruang dan Waktu

Sore itu, aku dan sahabatku, Nolan, sedang berkumpul di basecamp perkumpulan muda-mudi. Ada teman-teman lain di sana. Ramai. Aku melihat Nolan sibuk.  Iya… Sibuk mengobrol dengan teman-temannya. Temannya juga temanku. Tapi aku tak begitu akrab dengan mereka. Jadi kutinggalkan saja dia dan berjalan menuju jembatan yang berada dekat situ.

Aku baru saja tiba di jembatan itu saat seseorang menarik lenganku dari belakang. Aku menoleh. Nolan rupanya.

“Serena, jangan pergi,” katanya.

“Kenapa?” tanyaku. “Bukankah kamu sedang sibuk mengobrol?”

“Iya… Tapi kalau nggak ada kamu rasanya aneh,” jawabnya.

“Hah?” Aku bingung dengan perkataannya. Ada-ada saja sahabatku ini, pikirku. 

“Iya. Soalnya posisi kita sekarang ini seperti ini…,” katanya sambil menggandeng tanganku.

Jantungku berdegup kencang. Gugup. Sekaligus heran dengan tingkahnya. Jujur saja sebenarnya aku sudah lama suka dengan sahabatku ini. Tapi aku tak ingin dia tahu karena aku tak ingin merusak persahabatan kami yang sudah berlangsung selama 7 tahun lebih. Dan sekarang ia mengamit lenganku. Aku merasa aneh sekaligus senang. 

“Apa?” tanyaku.

“Pokoknya sekarang kita seperti ini,” katanya. “Kamu jangan pergi ya. Tetap sama aku.”

“Kita….,” aku menghentikan kata-kataku. Mengambil napas. Lalu berbisik, “Pacaran?”

Dia menganggukkan kepalanya.

Pipiku memerah. Tak percaya ini terjadi.

“Ini sudah sore. Ayo ke rumahku. Ada acara di rumahku sebentar lagi. Ingat, kan?” tanyanya.

Aku mengangguk. Lalu mengikutinya pulang ke rumahnya. Walaupun kami sudah berteman lama, tapi aku baru kali ini ke rumahnya. Biasanya kami hanya bertemu di basecamp. Walaupun begitu, aku sudah kenal dengan papa mamanya. Kedua orangtuanya juga mengenalku. Nolan juga begitu, kenal dengan papa mamaku. Persahabatan kami memang unik.

Setibanya di rumah Nolan aku melihat rumahnya sepi. Nolan mempersilakan aku masuk. Lalu ia pamit untuk mengambil keperluan acara di rumahnya. Aku diminta menunggu sebentar di rumahnya. Ia memperbolehkan aku melihat-lihat keadaan dalam rumahnya.

Setelah Nolan pergi. Aku melihat-lihat keadaan rumahnya. Luas. Banyak ruangnya. Perabotannya antik. Ada lemari-lemari besar. Beberapa sisi ruangan nampak gelap. Tapi rumahnya rapi. Aku merasa aneh berada di rumah Nolan sendirian. Takut ada…. Hantu!

Tak lama kemudian, Nolan pulang bersama papa mamanya. Untunglah mereka cepat tiba. Kalau tidak, aku pasti sudah mikir yang nggak-nggak. Atau mungkin aku akan pingsan nggak jelas.

“Maaf menunggu lama,” kata Nolan sambil meletakkan beberapa kantong plastik di atas meja. 

Melihatnya sibuk, aku ikut-ikut sibuk juga. Aku membantunya mengeluarkan barang-barang dari tas belanja.

Selain Nolan dan keluarganya, ada beberapa tamu yang juga tiba bersamaan dengan mereka. Makin lama makin ramai. Mama Nolan nampak panik.

“Serena, tolong bantu Tante, ya,” pinta mama Nolan padaku.

“Iya, Tante,” jawabku.

Setelah itu aku ikut membantu melayani tamu, mempersilakan mereka duduk dan mengedarkan nampan berisi camilan. Beberapa di antara tamu yang datang itu adalah teman SMA Nolan. Mereka cantik-cantik. Aku jadi merasa minder. 

Tiba-tiba Nolan menepuk pundakku. “Tidak perlu minder,” katanya seperti tahu apa yang kupikirkan. Ia menggandeng tanganku.

“Ayo, kutunjukkan di mana kamarku,” katanya.

Aku mengikutinya.

“Kamarku ada di tengah-tengah bagian rumah,” katanya sambil menunjuk sebuah ruangan. 

Kami masuk ke kamarnya. Di dalam kamar ada sebuah lemari yang tinggi dan besar berwarna coklat tua. Lemari itu nampak sudah tua.

“Ini lemari tua. Dulu pernah ada seorang perempuan mati gantung diri di sini,” katanya.

Aku bergidik mendengarnya.

“Tapi aku nggak pernah mengalami kejadian aneh-aneh, kok,” katanya sambil tertawa.

Aku cemberut. Dia tertawa makin keras. Kemudian aku ikut tertawa juga.

Ah… Kisah ini memang aneh. Nolan dan aku… Jadian. Too good to be true! Walau aku berharap akan jadi kenyataan. Tapi ini cuma mimpi. Aku bangun kesiangan karenanya. Untunglah aku tidak terlambat tiba di sekolah.

Aku, Serena, sang pemimpi. Aku akan terus bermimpi… Sampai mimpiku jadi kenyataan…

#FiksiKamis – Mencari Buku yang Hilang

Hari ini aku mendapat tugas membuat resensi novel bergenre misteri dari guru Bahasa Indonesiaku. Otakku langsung berputar memikirkan buku apa yang akan kupakai. Setibanya di rumah, aku langsung membuka lemari bukuku. Kuperhatikan judul-judul buku yang ada dalam lemari.

‘Ke mana bukuku yang satu itu?’ pikirku sambil membongkar lemari untuk mencari sebuah buku. Tapi bukunya tak kutemukan. Aku pun mencarinya di kamar kakakku dan seluruh ruangan di rumah. Tetapi bukunya tidak ketemu.

‘Jangan-jangan dipinjam oleh Sani,’ pikirku. Temanku yang satu ini memang sering meminjam novelku. Dan kalau ia meminjam buku pasti lama sekali mengembalikannya. Itupun harus ditagih berkali-kali.

Kuambil ponselku lalu kukirim pesan ke Sani.

“San, kamu pinjam novelku nggak ya? J-Lit, Girls in the Dark. Soalnya aku mau pakai novel itu untuk tugas Bahasa Indonesia,” ketikku.

Tak lama kemudian Sani membalas. “Nggak, tuh! Semua novel yang kupinjam darimu sudah kukembalikan minggu lalu. Ingat?”

“Ah, masa sih? Kamu yakin nggak ada novelku yang tertinggal di rumahmu?” tanyaku lagi. Tidak yakin padanya. Sani pelupa, sih!

“Sebentar. Aku cek dulu,” jawab Sani.

Aku menunggu sekitar sepuluh menit. Kemudian ponselku berdenting. Sani mengirim pesan padaku, “Nggak ada, Rien. Aku sudah bongkar semua laciku. Novelmu sudah kukembalikan semua. Yakin 100%!”

“Oke deh. Thanks ya,” balasku, walaupun masih ragu dengan pernyataan Sani.

Berikutnya aku mengirim pesan di grup kelasku di Line. Kami punya grup khusus kelas untuk berbagi info atau sekadar untuk chatting nggak jelas.

“Halo semuanya. Siapa yang merasa meminjam novelku? Judulnya Girls in the Dark, karangan Akiyoshi Rikako,” ketikku.

“Aku nggak suka baca novel. Jadi bukan aku yang pinjam,” balas Panji.

“Novel apa tuh? Kalau sudah ketemu aku pinjam ya,” balas Amy.

“Bukannya Sani yang sering pinjam novelmu?” balas Aldo.

“Iya, betul! Coba tanya Sani!” balas Tina.

“San… Sani… Balas chat di grup, dong!” ketik Maria.

Beberapa menit kemudian Sani ikut nimbrung obrolan di grup.

“Rien sudah tanya aku tadi. Bukan aku yang pinjam,” jawab Sani.

“Lo yakin, San? Biasanya kamu yang suka pinjam bukunya Rien,” kata Aldo.

“Iya, bukan aku,” balas Sani.

“Beneran nih, San? Biasanya kamu tuh pelupa. Sudah dicari sampai ke kolong ranjang belum?” balas Maria.

“Aku yakin 100% nggak pinjam buku itu,” jawab Sani.

Ah, Sani memang begitu. Selalu yakin 100% tapi nanti pasti dia tiba-tiba bilang maaf karena menemukan bukunya terselip entah di mana, pikirku sambil mengaduk-aduk laci lemari di bawah TV.

“Nak Rien cari apa?” tanya mbok Sumi, mengagetkanku.

“Eh… Ini mbok. Cari buku. Judulnya Girls in the Dark. Sampulny bergambar kartun cewek pakai seragam kelasi,” jawabku.

“Yang gambar cewek Jepang itu ya?” tanya mbok Sumi lagi.

“Kok mbok tahu?” aku balik bertanya.

“Buku itu kan lagi dibaca oleh Wiwied. Nak Rien yang meminjamkannya… Kalau nggak salah dua minggu yang lalu,” jelas mbok Sumi.

Ya ampun… Jadi buku itu kupinjamkan ke anaknya mbok Sumi? Astaga! Aku benar-benar lupa! Bagaimana ini??

Ting Tong! Ponselku berbunyi. Nada pemberitahuan dari grup kelas. Dina mengirimkan pesan, “Wah, jadi hilang ke mana bukumu, Rien? Nggak ada yang ngaku, nih! Apa perlu kita lapor polisi? Biar tahu rasa yang pinjam nggak balikin itu!”

Lama kupegang ponselku. Akhirnya kuketikkan pesan ke grup kelasku, “Errr… Sori guys, bukunya udah ketemu nih! Ternyata ada sama Wiwied, anaknya mbok Sumi!” Lalu kutambahkan emo ngakak guling-guling. Seketika grup kelasku kembali ramai dengan berbagai macam emoticon.

Berbisik pada Langit

Hai, apa kabarmu hari ini? Kuharap kamu sehat dan berbahagia. Kuharap pekerjaanmu aman-aman dan lancar. Dan kuharap semuanya baik-baik saja.

Sudah beberapa hari ini aku melihatmu. Senang rasanya bisa berjumpa denganmu. Dan tentu saja aku akan merasa sangat bahagia jika saat kuharap bisa melihatmu lalu kau benar-benar muncul di hadapanku. Rasanya pasti bakal nyeesss… Kayak es yang meleleh.

Hari ini… juga hari-hari sebelumnya, teman-temanku selalu berdandan saat mereka mau pulang. Sebelum meninggalkan tempat kerja, mereka menyempatkan diri memakai bedak dan gincu. Aku? Meremehkannya. Dan alasan klasikku: nggak sempat. Terlalu banyak pekerjaan. Padahal aku malas.

Karena beberapa hari terakhir ini aku selalu berpapasan denganmu, aku merasa minder karena aku tak berdandan. Mukaku pasti lecek dan terlihat kumal. Sungguh aku menyesal tidak ikut-ikut berdandan. Padahal bedak dan gincu selalu tersimpan di tasku.

Aku jadi ingat sebuah kata bijak: “Berdandanlah seolah-olah kau akan bertemu dengan seseorang. Siapa tahu dengan berdandan kau akan bertemu dengan seseorang.”
Dari pengalamanku beberapa hari ini, kata bijak itu benar. Ugh! Nyesek bingitz! Huhu…

Aaaah… seandainya aku berdandan dulu, pasti aku terlihat lebih rapi dan enak dipandang. Kinclong cling gitulah… Besok-besok, entah itu akan bertemu denganmu atau tidak, aku akan menggunakan bedak dan gincuku. Catat! Don’t forget jangan lupa!

Well… Kamu mungkin nggak peduli akan bedak dan gincu atau semua yang kupakai dan kubawa. Tapi, aku tetap bertekad berpenampilan baik. Yaah… kuharap kau menyukainya. Ehm!

Hari ini aku bertemu denganmu. Kamu tersenyum dan menyapaku. Rasanya aku ingin mengatakan:

“Hai, kita ketemu lagi ya? Bagaimana pekerjaanmu? Kuharap lancar. Kamu lagi sibuk apa? Sore ini ada kerjaan nggak? Bagaimana kalau kita pergi nonton atau nongkrong di cafe?”

Atau sesekali aku juga ingin membuat lelucon seperti ini:

“Hai, kamu ada kerjaan nggak sore ini? Yuk kita nonton!”

Lalu kamu akan bertanya: “Nonton apa? Fast and Furious? Danur? Kartini? The Boss Baby?”

Aku akan menjawab:

“Bukan itu. Ayo nonton montir bengkel benerin motorku. Soalnya aku mau pergi service motor. Kamu temani aku, ya?”

Tapi… aku cuma sanggup bilang, “Hai! Ehm… Duluan ya!”

Dan aku cuma bisa menatap langit dan berbisik padanya:

“Langit, kamu cakep banget saat ini, secakep dia yang kukagumi. Tolong dong sampaikan salamku padanya. Plisss!”


Janji yang Harus Ditepati

Pagi itu cuacanya cerah. Matahari memancarkan sinarnya yang hangat. Burung-burung berkicau riang di atas pohon depan rumahku. Di taman, beberapa kupu-kupu saling berkejaran. Kulihat beberapa kuntum bunga aster merah telah mekar. Sungguh cantik!

Kupetik setangkai aster. Kubersihkan tangkainya yang sedikit berdebu. Setelah itu kuperciki dengan sedikit air supaya bunga itu terlihat segar. Lalu aku membawanya ke dalam rumah.

Aku menuju kamar dekat tangga di lantai dua. Kuketuk pintunya. Perlahan. Tak ada jawaban. Sekali lagi kuketuk pintu. Agak keras.

“Siapa?” tanya seseorang dari dalam kamar.

“Ini… Aku…,” jawabku. Namun sebelum kuselesaikan kalimatku, ia menghardikku.

“Mau apa pagi-pagi begini? Pergi!” serunya.

Aku terdiam beberapa saat. Yah, beginilah nasibku setiap kali aku ingin masuk ke dalam. Boleh dikatakan aku sudah terbiasa dihardik dan diusir. Setelah ia memaki-makiku, aku akan membuka pintu kamar yang memang tak pernah dikunci itu. Lalu aku cepat-cepat meletakkan aster merah di vas bunga yang ada di atas meja rias dalam kamar.

Sekilas kulihat laptop di meja dekat tempat tidur menyala. Layarnya menampilkan slide foto-foto seorang laki-laki, dari kecil hingga dewasa dan berumur.

Ah… Lagi-lagi foto itu dipandanginya. Tak bosan-bosannya…,’ kataku dalam hati.

“Keluar! Keluar! Siapa yang menyuruhmu masuk?” teriak wanita paruh baya dari dalam kamar. Ia sedang duduk di atas ranjang. “Pergi!” serunya lagi.

Tiba-tiba dari arah tangga terdengar suara langkah kaki yang tergopoh-gopoh naik.

“Ada apa lagi? Kenapa ribut-ribut, Bu?” tanya seseorang yang baru masuk ke kamar. Ibuku.

“Singkirkan anakmu itu! Singkirkan dia! Aku tak ingin melihatnya!”

“Memangnya apa lagi yang dilakukan Jason, Bu?” tanya ibuku, sementara aku diam saja, menunduk dan menatap lantai.

“Aku benci dia! Tingkahnya selalu mengingatkanku pada mendiang ayahmu! Kenapa dia bisa mengikuti semua kebiasaan ayahmu? Bocah empat tahun ini… Dia meletakkan cangkir minumanku di meja rias setiap malam. Dia merapikan selimutku, membereskan sandal kamarku, dan pada pagi hari meletakkan aster merah di vas bunga itu. Lagu-lagu yang ia senandungkan… Kau dengar? Itu lagu kesukaan ayahmu!”

Aku meneteskan air mata mendengar teriakan nenekku. Aku sudah tak tahan lagi.

“Tapi orang yang di foto itu memang aku!” seruku sambil menunjuk layar laptop yang sedari tadi menampilkan slide foto tanpa henti.

“Itu aku. Kenapa kalian tak percaya? Aku dilahirkan kembali ke rumah ini karena aku ingin menepati janjiku,” kataku.

“Janji… Janji a-pa?” tanya nenekku terbata-bata.

“Bukankah aku pernah berjanji akan selalu melindungi keluarga ini? Karena itulah aku dilahirkan kembali di keluarga ini.”

Kedua wanita di dalam kamar terdiam.

“Juga karena ingin memenjarakan ayah yang selingkuh dengan wanita lain. Bukankah perselingkuhan ayah yang menyebabkan aku yang dulu meninggal karena mendadak kena serangan jantung?” lanjutku.

Seketika ibuku pingsan.

* * *

420 kata. Fiksi di atas berdasarkan video dari lagu Photograph – Ed Sheeran dan diikutkan untuk meramaikan #PestaFiksi06-nya Mbak Carolia Ratri. Link lomba bisa dilihat di sini.