Tumis Daging Cincang ala Cafe Latte

Sore itu, seperti biasa aku dan ketiga temanku berkumpul di Cafe Latte. Obrolan hari itu masih sama seperti obrolan beberapa hari sebelumnya dan beberapa minggu yang lalu. Ya, masih tentang si Wippie, teman sekampus kami.

“Kalian tahu, kemarin si Wippie bilang suaraku bagus. Dia minta tolong aku bantuin EOnya. Katanya salah satu singer yang biasa kerja sama dengannya lagi sakit,” ujar Jolly membuka pembicaraan hari ini.

“Terus, kamu terima tawaran dia?” tanya Tessa.

“Ya nggaklah. Aku nggak mau nanti kejadian yang sama terulang kembali. Bukannya nggak mau bantuin dia. Tapi, kita kan harus belajar dari pengalaman,” jawab Jolly.

“Baguslah kalau kamu nggak terbujuk rayuannya,” kataku.

“Iya, kenapa sih ada orang nyebelin kayak si Wippie itu? Kalau lagi ada maunya, dia manis banget. Begitu sudah nggak ada perlu sama kita, jangankan nyapa, noleh aja nggak!” seru Mita.

“Bener banget! Dulu aku pikir dia itu baik banget. Dia aktif hampir di semua kegiatan kampus. Suka jadi pembicara. Motivator kampus yang oke banget. Tapi ternyata sifatnya nggak sesuai sama ….. Ah, nyebelin banget!!” ujar Tessa.

“Kalian masih ingat dia pernah janji sama kita untuk datang ke acara konser kalau kita bisa bantuin dia ngerjain tugas EOnya?” tanyaku.

“Ah, betul! Waktu itu kita semua bantuin dia. Katanya dia bakal kasih kita tiket konser EXO!” jawab Mita.

“Bukannya konser EXO tuh malam ini?” tanya Jolly.

“Iya. Hari ini. Malam ini,” jawabku.

“Tapi kita nggak dikasih tiketnya. Bohong banget si Wippie ini! Sudah berapa kali dia kayak gini. Bikin kesel aja!” ujar Tessa.

“Aku sih nggak ngarepin tiket itu atau apapun janji-janjinya. Tapi caranya si Wippie tuh nggak bagus banget. Minta bantuan sama orang. Trus janji bakalan begini-begitu sama yang bantuin dia. Eh, tapi satu pun janjinya nggak ada yang ditepati. Capedeh,” keluh Mita.

“Serius nyebelin banget tuh anak! Dia kayak gitu bukan sama kita aja. Tapi sama anak-anak lain di kampus juga begitu. Huh!” seru Jolly.

Kemudian ketiga temanku berbarengan menatapku. Tatapan penuh harap. Aku balas menatap mereka. Lalu kuanggukkan kepalaku.

* * *

Hari ini, kami berkumpul lagi di Cafe Latte. Cafe milik keluargaku yang sudah diserahkan pengelolaannya padaku begitu aku lulus SMA.

“Menu spesial hari ini! Tumis daging cincang ala Cafe Latte! Untuk menghibur kalian atas semua perlakuan si Wippie!” seruku sambil menunjukkan sepiring besar masakan yang sudah kusiapkan di meja.

“Kamu yang masak?” tanya Mita dengan mata berbinar.

“Yup! Pokoknya mulai dari persiapan bahannya sampai penyelesaiannya semua aku yang kerjakan,” jawabku.

“Ini adalah….,” gumam Jolly. Ia berdecak kagum.

“Benar sekali!!” jawabku.

“Wuahhh! Aku nggak percaya ini!” ujar Tessa. Antusias melihat masakan yang ada di hadapannya.

Aku tersenyum melihat reaksi ketiga temanku. 

“So… Jangan khawatir lagi mulai hari ini. Nggak bakal ada lagi orang bernama Wippie yang bikin kesal kalian dan anak-anak kampus lainnya,” kataku.

* * *
Dan, jika ada orang yang sangat menyebalkan di sekitar kalian, yang saking menyebalkannya bikin kalian ingin mencekiknya… Jangan sungkan untuk menceritakannya padaku. Karena… Aku akan membantu kalian. Menghapus jejak orang itu dari muka bumi ini. Agar kalian tak lagi tersakiti. 

Tak perlu memberi imbalan padaku. Karena aku ikhlas. Akan kubuat manusia menyebalkan itu menjadi masakan paling unik yang pernah disajikan di Cafe Latte.

Advertisements

Surat Buat Kamu, Wahai Single Ladies

foto: dokumen pribadi

Kalian tahu apa yang ditakutkan para single, jomblowan dan jomblowati sedunia yang sudah berumur di atas dua puluh lima? Iyesss betul!! Pertanyaan garing kriuk-kriuk yang berbunyi: “Kapan nikah?’, “Mana pacarnya?”, “Kapan nyusul si anu?”, dan pertanyaan sejenisnya.

Bukannya aku tak ingin menikah dan membina keluarga. Tapi…. pengalaman teman-teman sebayaku dan pengalamanku dalam keluarga membuatku agak sungkan untuk menikah.

Sebut saja Maria, seorang teman yang cantik jelita. Ia menikah begitu lulus kuliah. Setahun kemudian ia dikaruniai seorang bayi imut menggemaskan. Sepertinya keluarganya bahagia. Tapi ternyata tidak demikian. Di tahun ketiga, ia bercerai. Alasannya sudah tak cinta lagi. Aku selalu bertanya dalam hati, ‘kok bisa?’

Lalu ada seorang sahabat lainnya, Shania. Ia wanita berparas biasa-biasa saja dan dari keluarga biasa. Namun ia rajin bekerja. Di usianya yang masih muda, ia bisa menduduki posisi manajer di kantornya. Ia lalu menikah dengan seorang pria tampan dari keluarga kaya. Kisahnya waktu itu bagai kisah Cinderella saja. Lima tahun menikah, tapi mereka belum dikaruniai seorang anak. Lalu mertuanya memisahkan ia dari suaminya. Ia kembali ke rumah orangtuanya. Pernikahannya kandas karena ia dianggap tidak bisa menghasilkan keturunan. Padahal, dari hasil ceritanya, ia dan suaminya sama-sama tidak mandul. Hanya belum diberi rezeki saja.

Ada juga seorang tetangga, sebut saja namanya Jeanny. Mbak Jeanny sudah 10 tahun menikah. Tapi ia tidak bahagia karena sering terdengar suara ribut-ribut di rumahnya. Suaminya kerja serabutan – kadang bekerja kadang tidak. Tergantung dari moodnya. Tidak punya pekerjaan tetap. Sedangkan Mbak Jeanny sendiri hanya seorang ibu rumah tangga yang mengurus 3 orang anak. Parahnya sang suami adalah orang yang ringan tangan. Mbak Jeanny dan anak perempuannya kerap dipukul jika mood sang suami sedang tidak bagus. Namun kedua anak laki-lakinya terlampau dimanja oleh sang suami. Benar-benar tidak adil!

Begitu banyak cerita pernikahan tak bahagia yang kulihat. Tentunya ada juga cerita yang bahagia. Kisah cintaku sendiri tidak ada yang berjalan mulus. Aku pernah dekat dengan orang-orang yang aneh, mulai dari si tukang marah-marah, si tukang cemburu yang over posesif, si ganteng yang ternyata punya banyak wanita, si tukang manfaatin plus morotin, dan lain-lain yang aneh-aneh. Okelah, di dunia ini tidak semuanya buruk, kan? Mungkin aku belum bertemu yang baik saja.

Begitulah… Hari berganti hari, tahun berganti tahun. Akhirnya usiaku menginjak kepala tiga. Om-Tante, Kakek-Nenek, Bude-Pakde, Eyang Putri-Eyang Putra, sanak kerabat handai dan taulan semakin gencar menanyakan pertanyaan laknat itu. Ibu-Bapakku pun mulai menjadi cacing kepanasan lantaran berbagai pertanyaan yang terdengar bagaikan hujatan. Aku pun demikian. Gerah! Risih! Bikin mau marah-marah!

Suatu ketika ada seorang teman mengenalkanku dengan seorang pemuda tampan. Ia seorang pengusaha, juga seorang yang soleh karena ia aktif di organisasi keagamaan dan juga rajin beribadah. Nilai plusnya banyak tentunya. Jadi, tak perlu lama-lama pacaran kamipun menikah.

Setahun kemudian kami dikaruniai seorang putra yang tak kalah tampan dari ayahnya. Dua tahun berikutnya lahir lagi seorang putra. Di tahun ketiga pernikahan kami, perekonomian lagi lesu. Usaha suamiku sedikit terkendala. Ia jadi seirng uring-uringan setelah pulang ke rumah. Aku berusaha bersabar dan mencoba mengerti keadaannya. Aku pun selalu berusaha menghiburnya.

Karena usaha suamiku sedang tidak lancar, akupun membantu perekonomian keluarga dengan bekerja sambilan. Jualan makanan yang kubuat sendiri, jual kosmetik, pokoknya jual apa saja dan yang pasti tidak jual diri. Tapi, suamiku bukannya berterima kasih ia malah memaki-makiku. Ia tidak setuju aku berjualan. Ia menyuruhku berhenti berusaha. Padahal, ia sendiri tahu pengeluaran dalam sebulan tidaklah sedikit. Uang yang dihasilkannya tidak cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Masa tiap bulan harus menjual harta? Kalau begitu, bagaimana anak-anak kami akan bersekolah nanti? Minta uang dengan orangtua kami? Berhutang? Oh, berhutang dan meminta-minta tidak ada dalam kamusku.

Akhirnya kami jadi sering bertengkar masalah uang. Lalu merembet ke masalah keluarga-ipar-mertua-anak. Dan puncaknya, suamiku minggat dari rumah. Aku tak tahu ia ke mana. Keluarganya pun tak tahu. Mereka malah menyalahkanku tidak bisa menjaga keutuhan rumah tangga. Aku pun akhirnya kembali ke rumah orangtuaku dengan membawa kedua anakku.

Tahun ini, anakku yang sulung sekolah di TK. Biayanya dari orangtuaku. Miris sekali. Aku begitu malu. Bagaimana nanti kalau ia masuk SD dan si kecil masuk TK?

Lalu, dalam keadaan seperti ini ibuku berkata, “Kalau tahu nasibmu akan jadi begini, mending dulu kamu tidak usah menikah saja. Mending kamu hidup single tapi bahagia…”

Kadang aku sering bertanya dalam hati…. “Memangnya salah kalau tidak menikah? Apakah menikah itu suatu kewajiban? Lalu… apakah orang yang tidak mau menikah itu berdosa?”

Dear Ladies yang belum menikah…. Tolong pikirkan baik-baik sebelum kamu memutuskan untuk menikah. Jangan tergoda oleh wajah tampan. Jangan terbuai oleh harta. Jangan pula jadi cacing kepanasan lantaran kamu sudah berumur dan semua orang mencecarmu dengan pertanyaan garing itu. Juga… jangan langsung percaya jika ada orang yang aktif di organisasi keagamaan dan rajin beribadah. Bisa saja itu kedok, kan? Kamu harus mencari tahu dulu tentang calonmu juga tentang keluarganya. Jangan terburu-buru!

Hidup ini…. kamu yang menentukan. Bukan kata orang lain! Bukan karena lingkungan begini maka kamu harus ngikut begini juga! Bahagia atau tidak bahagia, semua kamu yang tentukan. Bukan orang lain.

Semoga kalian yang masih single dan jomblo bisa menemukan pasangan yang baik dan berbahagia. Buat kalian yang sudah menikah, semoga bisa langgeng dan berbahagia selamanya. Janganlah kamu menjadi seperti AKU.

.

* * *

*kisah ini fiksi namun beberapa bagian ceritanya berdasarkan kisah nyata

Do You Remember Me?

Ini hari keenam sejak kepulanganku ke kota ini. Ada perasaan aneh dalam pikiranku setibanya aku di sini. Mungkin juga ini adalah perasaan kangen pada kota kelahiran. Entahlah…

Setelah tinggal di luar kota dalam waktu yang cukup lama, ada perasaan nyaman tinggal di tempat yang baru itu. Suasana yang tenang… Juga kehidupan yang teratur… Lingkungan yang aman… Dan lain sebagainya. Satu kata untuk kota itu: “Perfect!”

Ya… Sempurna!

Tapi sayangnya, ada suatu kewajiban yang mengharuskan aku pulang. Aku sedih dan juga gembira. Perasaan berlawanan yang datang bersamaan. Aneh, kan? Okelah.. Sebut saja aku gila. Namun begitulah kenyataannya. Itu yang kurasakan saat aku meninggalkan kota itu dan juga saat aku pulang ke rumah.

Dan mulai saat aku menginjakkan kakiku ke tanah kelahiranku, itu artinya aku akan kembali bertemu dengan si Mister Jangkung, sebutanku untuk seseorang yang kukagumi dari jarak jauh.

Ah, ya… Mister Jangkung tinggal dekat rumahku. Dia pemilik toko peralatan rumah tangga. Sudah lama aku tinggal di sana, tapi aku tak tahu namanya. Yang kutahu, dia lucu dan ramah. Suka mengobrol. Sayangnya dia perokok. Huh! Jujur aku tak suka cowok perokok. Tapi jika cuma mengagumi tak apa-apalah. Anggap saja rasa kagum ini sama seperti saat aku ngefans dengan Lee Jong Suk Oppa.

Kadang, aku suka mencari alasan supaya bisa mampir ke toko itu. Apa yang harus kubeli? Adakah sesuatu yang bisa kubeli di tokonya? Atau… Kapan barang ini-itu rusak atau hilang? Jadi aku punya alasan untuk mampir ke sana. Supaya bisa melihat wajah si Mister ketjeh!

Lalu… Tibalah hari yang kutunggu. Hari ini. Mbakku bilang sikat toilet sudah rusak. Dia memintaku membeli yang baru.

Hore?? Iya! Hore, dong! Apa sih yang nggak hore?? Coba bayangkan!!

Oke stop! Jangan senang dulu! Pertanyaannya adalah… Memangnya Mister Jangkung masih ingat sama aku yang-jarang-mampir-ke-tokonya-dan-cuma-pernah-ngobrol-sekilas info dan cuma-numpang-lewat-depan-tokonya setiap pergi dan pulang kerja? Nei.. Nei.. Nei… Tidak mungkin! Impossible!

Hanya saja… Tekadku sudah bulat! Bagaimanapun caranya, aku harus belanja di tokonya. Walaupun hujan badai menghadang dan angin topan menerjang! Keukeuh!! Harus mampir ke sana!! Demi… Oh… Demi…

Hari sudah sangat sore saat aku tiba di tokonya Mister Jangkung. Dia dan pegawai tokonya sedang bersiap-siap untuk menutup toko. Ada seorang ibu di depan toko. Mengobrol dengan pegawainya. Itu artinya kesempatan!

Tak akan kusia-siakan… Yess!!

“Hello, Mister… Masih belum tutup kan?” *abaikan kata Mister. Aku nggak panggil dia dengan sebutan itu.

“Oh, ya. Sebentar lagi, kok. Mau beli apa, Mbak?” tanya si Mister yang cakep.

“Sikat untuk toilet. Yang gagangnya panjang,” jawabku.

“Tunggu sebentar, ya,” katanya. Dia pun menuju ke sebuah tumpukan barang. Nampak agak kesusahan menarik sikat yang sudah berada di balik tumpukan barang.

Aduh… Ngerepotin banget ya kayaknya aku ini. Tapi bukannya minta maaf, aku malah asyik perhatiin si Mister sambil nanya harga.

“Berapa harganya?”

“Sepuluh ribu,” jawabnya. “Nah, aku ambil kantong plastik dulu ya,” katanya setelah berhasil mengambil si sikat.

Setelah aku membayar, Mister Jangkung bertanya, “Baru pulang kerja ya?”

Aku bingung, kok dia bisa bertanya seperti itu. “Iya,” jawabku. Ge-er.

“Sore bener ya pulangnya. Kamu kerja di NNN, kan?”

Ow! Ow! Ow! Mai Gad!!! Aku hampir pingsan waktu dia nyebutin nama tempat kerjaku. Bagaimana mungkin dia masih ingat tempat kerjaku yang pernah aku katakan padanya mungkin sekitar satu tahun yang lalu? Astaga!!

Aku terharu… Dia ingat aku? Oh no… Rasanya pengen nangis. Ada orang yang aku kagumi walau saling tak tahu nama, tapi dia ingat dengan obrolan iseng tahun lalu saat aku beli barang keperluan untuk kantorku. Waktu itu aku minta nota. Dia bertanya kenapa minta nota. Kujawab karena barangnya untuk kantor. Dan dia bertanya nama kantorku. Kujawab saja sejujurnya. Benar-benar tak disangka dia masih mengingatnya! Huhuhu…

Setelah itu… Aku cuma sanggup ngobrol sebentar karena gugup banget! Lalu langsung pulang dengan wajah yang pasti bersemi-semu merah maroon campur biru saking malu sekaligus terharu.

Huaaa!!! Besok beli apa lagi, ya?

Halo, Gebetan!

Hai, gebetan! Senang melihatmu hari ini! Apalagi saat melihatmu tersenyum. Bikin hati ini jadi meleleh kayak es krim! Es krim enak dimakan dan senyummu enak dipandang. 

Hari ini… Dan juga hari sebelumnya yang kapan itu… Aku senang banget saat kamu menawarkan bantuan. Atau saat kamu menyuruh orang membantuku di saat aku memang lagi butuh bantuan. Lebih terharu lagi saat kamu benar-benar sibuk, tapi kamu sempat-sempatnya perhatiin aku. 

“Eh, itu barangnya banyak. Pasti berat dong!” katamu saat melihatku membawa barang. Waktu itu kamu lagi sibuk dengan pekerjaanmu, melayani pembeli. 

“Di, tolong bantuin bawa barang itu. Itu berat, lho. Kamu bawain ya! Trus ikat di motornya yang kencang, jangan sampai barangnya bisa jatuh,” pintamu pada rekanmu. 

Lalu rekanmu membantuku membawakan barang lalu mengikatkannya di motorku. Sebentar kemudian, kamu turun tangan ikut bantuin mengikat barang-barang itu.

“Hati-hati pulangnya, ya! Di jalan jangan ngebut. Tuh banyak barang yang dibawa. Pelan-pelan saja,” katamu.

Aku mengiyakan perkataanmu. “Oke! Terima kasih, ya!”

Aku terharu. Kok kamu baik banget, sih? Kok kamu perhatian banget, sih? Jelas aku ge-er, dong! Atau… Memang aku yang kelewat pede?? Apapun itu… Pokoknya kamu baik banget! Dan aku suka itu!

Sebelum motorku melaju pulang, aku melirik ke dalam toko. Seorang wanita cantik berambut panjang menarik perhatianku. Baru kali ini aku melihatnya di tokomu. Dia mengenakan cincin yang sama dengan yang kau pakai.

Ah, ya… Itu pasti istrimu. Entah kapan kalian menikah. Aku ketinggalan berita.

Padahal…. 

Ah, ya sudahlah…

Sebuah Pilihan

Sumber gambar: dramabean. Film Birth of a Beauty.

Sara mengeluarkan ponselnya dari dalam tas. Ada pesan di BBM. Dari Joon. 

“Hai, apa kabar? Ketemuan yuk!”

Sesaat Sara menahan napas. ‘Ketemuan? Dia ngajak aku ketemuan? Ada angin apa?’ pikirnya.

“Tumben ngajak ketemuan. Ada apa nih?” balas Sara.

Tak lama Joon membalas, “Pengen aja. Ke tempat biasa kamu nongkrong yuk!”

‘Jadi dia masih ingat tempat nongkrongku?’ Sara bergumam dalam hati. 

Ia ingat, dulu ia pernah suka sama Joon. Joon adalah teman SMAnya. Tapi karena di saat itu murid seangkatannya banyak jumlahnya, Sara tidak bisa mengingat satu per satu nama mereka. Hanya teman sekelasnya saja yang ia hapal namanya, ditambah beberapa siswa dari kelas lain yang pernah sekelas dengannya di tahun pertama dan kedua. 

Sara tahu Joon dari Annie, sahabat Sara. Annie memberikan nomor PIN BBM Sara pada Joon. Joon dan Sara jadi sering BBMan dan bertemu beberapa kali. Sara suka pada Joon. Tapi kemudian Joon ‘menghilang’. Ia tak pernah lagi mengajak chatting dan bertemu. Sara pun akhirnya mengubur rasa sukanya pada Joon setelah suatu ketika ia melihat Joon mengganti display picturenya dengan foto seorang perempuan.

Sekarang Joon tiba-tiba mengajak bertemu. Sara tentu saja bingung. Ada perasaan galau di hatinya. Ia mengingat masa-masa saat ia masih suka sama Joon. Ia berpikir mungkin masih ada rasa suka pada Joon. Lalu ia membalas pesan Joon.

“Boleh. Kapan dan jam berapa?”

Joon membalas, “Minggu jam 10. Oke?”

“Oke sip!” balas Sara.

* * *

Minggu jam 10. Sara dan Joon bertemu di cafe tempat Sara dan teman-temannya nongkrong. Tapi kali ini hanya dia dan Joon yang bertemu. Teman-teman mereka tidak ikut.

“Kamu nggak sibuk? Nggak pergi sama cewekmu?” tanya Sara pada Joon senatural mungkin supaya tidak disangka kepo. Padahal ia memang ingin mengorek informasi dari cowok yang wajahnya lumayan cakep itu.

“Nggaklah… Kalau sibuk aku nggak mungkin ngajak kamu ketemuan. Lagian aku nggak ada pacar kok. Single nih!” jawab Joon dengan santai.

“Okelah kalau begitu. Mari pesan makanan dulu,” kata Sara.

Mereka pun memesan makanan. Sambil menunggu pesanan makanan mereka datang, mereka mengobrol.

“Oh, ya. Kamu ulang tahun, kan, beberapa hari yang lalu. Ini kado buatmu,” kata Joon.

Sara bengong. Tumben cowok tengil ini kasih kado. Biasanya dia cuma ngasih pesan di timeline Facebook saat ulang tahunnya, seperti yang dilakukan Joon beberapa hari yang lalu. Tapi ini… Ada tambahan… Kado?

“Hei, kok bengong? Kalau nggak mau kadonya ya udah! Nanti aku kasih ke panti asuhan saja,” ujar Joon.

“Hah? Panti asuhan? Sejak kapan kamu jadi dermawan gitu? Lagian, baru kali ini kamu kasih kado buatku,” sahut Sara.

“Kebetulan lagi ada rezeki. Kantorku menang tender. Jadi kami semua dapat bonus dari bos,” jelas Joon.

“Oh, aku merasa aneh aja kamu kasih kado. Tapi… Makasih ya, Joon,” kata Sara.

“Sama-sama. Eh, itu makanannya datang. Makan dulu, yuk!” ajak Joon.

Mereka pun makan. Setelah itu Joon mengajak Sara pergi nonton. Sara sangat senang karena bisa pergi bareng dengan Joon. Rasa sukanya muncul kembali. Saat Joon mengantar Sara pulang, Sara bertanya padanya, “Tumben kamu baik hari ini. Ada angin apa, Joon?”

“Aku lagi bingung aja…,” jawab Joon. Ia memang terlihat bingung.

“Bingung kenapa?” tanya Sara.

Joon menghentak-hentakkan sepatunya. Menendang-nendang angin. Kelihatan sekali ia gugup.

“Hmmm…,” katanya. Joon nampak berpikir keras.

“Aku suka sama cewek…,” lanjutnya.

Deg! Jantung Sara berdegup kencang. Cewek? Siapa? Kuharap kamu suka sama aku! Jangan bilang kamu suka cewek lain, Joon!

“Siapa?” tanya Sara.

Joon mengambil ponselnya. Ia membuka galeri foto di ponselnya. Lalu ditunjukkannya foto seorang perempuan.

“Ini,” katanya sambil menunjukkan foto perempuan berambut panjang. Wajahnya manis. Imut. Bibirnya merah. Matanya sipit. Kulitnya putih mulus.

‘Ah ya, aku tak mungkin bisa menandingi kecantikan cewek itu. Apalah aku? Nggak cantik, nggak putih, nggak mulus. Huft! Wajar kalau Joon memilih cewek itu…,’ pikir Sara. Kecewa.

“Tapi… Aku juga sebenarnya merasa lebih nyaman ngobrol dan jalan dengan cewek yang satu ini,” kata Joon sambil menunjukkan foto orang lain.

Foto Sara!

Sara terkejut. Matanya terbelalak. Jantungnya seakan berhenti berdetak.

“Apa?? Aku??” tanya Sara tak percaya.

“Iya… Makanya aku bingung. Ada dua pilihan. Entah harus bagaimana….,” katanya.

“Oooh… Jadi pilihanmu ada dua. Aku dan cewek putih itu? Ya terserah kamu saja Joon…,” kata Sara. Ia merasa kesal. Sedikit kecewa. Juga marah. Tapi sekaligus senang. Sara merasa aneh. Temannya ini aneh!

“Kalau begitu… Kamu baik-baiklah sama aku, ya? Biar aku lebih milih kamu…,”kata Joon.

“OMG! Joon! Joon! Dasar aneh!” seru Sara.

Cece Masuk Koran

Cece: “Ma, tante baru saja WA, katanya Cece masuk koran.”

Mama: “Yang benar? Kok bisa? Harus beli korannya kalau gitu.”

Cece: “Oke. Nanti tak beli korannya.”

Mama: “Beli yang banyaklah ya…”

Cece: “Buat apa?”

Mama: “Buat dibagi-bagiin ke orang.”

Cece: “Astaga, nggak perlu lah, Ma.” *tepok jidat*

* * *

Cece: “Eh, aku masuk koran, lho! Kalian sudah baca koran hari ini belum?”

Alyka: “Masa sih? Koran apa?”

Cece: “Koran Sumeks halaman 12.”

Alyka: “Siplah, nanti aku beli koran itu.”

Meisya: “Emang kamu muat masuk koran?”

Cece: “Dimuat-muatinlah. Gitu aja kok repot.”

Meisya: “Iya juga, tinggal dilipat-lipat trus bungkus.”

Cece: “Yeeey, emangnya aku nasi bungkus??!”

Gun: “Ciye ciye… Yang masuk koran… Tambah terkenal aja, nih! Hahaha!”

Cece: “Iya nih! Kayaknya aku bakal butuh manajer.”

Sheira: “Baru masuk koran aja udah sombong!”

Cece: “Nggak apa-apalah. Aku belum terkenal kayak kamu, sih!”

Sheira: “Iya, sih. Kamu masih kalah jauh. Aku mah udah sering masuk koran dan majalah. Hahaha!”

Cece: “Begitulah… Fotomu di media cetak sudah banyak banget! Saking banyaknya sampai bisa dibikin jadi alat buat nakut-nakutin tikus. Hihihi!”

Perjalanan Menembus Ruang dan Waktu

Sore itu, aku dan sahabatku, Nolan, sedang berkumpul di basecamp perkumpulan muda-mudi. Ada teman-teman lain di sana. Ramai. Aku melihat Nolan sibuk.  Iya… Sibuk mengobrol dengan teman-temannya. Temannya juga temanku. Tapi aku tak begitu akrab dengan mereka. Jadi kutinggalkan saja dia dan berjalan menuju jembatan yang berada dekat situ.

Aku baru saja tiba di jembatan itu saat seseorang menarik lenganku dari belakang. Aku menoleh. Nolan rupanya.

“Serena, jangan pergi,” katanya.

“Kenapa?” tanyaku. “Bukankah kamu sedang sibuk mengobrol?”

“Iya… Tapi kalau nggak ada kamu rasanya aneh,” jawabnya.

“Hah?” Aku bingung dengan perkataannya. Ada-ada saja sahabatku ini, pikirku. 

“Iya. Soalnya posisi kita sekarang ini seperti ini…,” katanya sambil menggandeng tanganku.

Jantungku berdegup kencang. Gugup. Sekaligus heran dengan tingkahnya. Jujur saja sebenarnya aku sudah lama suka dengan sahabatku ini. Tapi aku tak ingin dia tahu karena aku tak ingin merusak persahabatan kami yang sudah berlangsung selama 7 tahun lebih. Dan sekarang ia mengamit lenganku. Aku merasa aneh sekaligus senang. 

“Apa?” tanyaku.

“Pokoknya sekarang kita seperti ini,” katanya. “Kamu jangan pergi ya. Tetap sama aku.”

“Kita….,” aku menghentikan kata-kataku. Mengambil napas. Lalu berbisik, “Pacaran?”

Dia menganggukkan kepalanya.

Pipiku memerah. Tak percaya ini terjadi.

“Ini sudah sore. Ayo ke rumahku. Ada acara di rumahku sebentar lagi. Ingat, kan?” tanyanya.

Aku mengangguk. Lalu mengikutinya pulang ke rumahnya. Walaupun kami sudah berteman lama, tapi aku baru kali ini ke rumahnya. Biasanya kami hanya bertemu di basecamp. Walaupun begitu, aku sudah kenal dengan papa mamanya. Kedua orangtuanya juga mengenalku. Nolan juga begitu, kenal dengan papa mamaku. Persahabatan kami memang unik.

Setibanya di rumah Nolan aku melihat rumahnya sepi. Nolan mempersilakan aku masuk. Lalu ia pamit untuk mengambil keperluan acara di rumahnya. Aku diminta menunggu sebentar di rumahnya. Ia memperbolehkan aku melihat-lihat keadaan dalam rumahnya.

Setelah Nolan pergi. Aku melihat-lihat keadaan rumahnya. Luas. Banyak ruangnya. Perabotannya antik. Ada lemari-lemari besar. Beberapa sisi ruangan nampak gelap. Tapi rumahnya rapi. Aku merasa aneh berada di rumah Nolan sendirian. Takut ada…. Hantu!

Tak lama kemudian, Nolan pulang bersama papa mamanya. Untunglah mereka cepat tiba. Kalau tidak, aku pasti sudah mikir yang nggak-nggak. Atau mungkin aku akan pingsan nggak jelas.

“Maaf menunggu lama,” kata Nolan sambil meletakkan beberapa kantong plastik di atas meja. 

Melihatnya sibuk, aku ikut-ikut sibuk juga. Aku membantunya mengeluarkan barang-barang dari tas belanja.

Selain Nolan dan keluarganya, ada beberapa tamu yang juga tiba bersamaan dengan mereka. Makin lama makin ramai. Mama Nolan nampak panik.

“Serena, tolong bantu Tante, ya,” pinta mama Nolan padaku.

“Iya, Tante,” jawabku.

Setelah itu aku ikut membantu melayani tamu, mempersilakan mereka duduk dan mengedarkan nampan berisi camilan. Beberapa di antara tamu yang datang itu adalah teman SMA Nolan. Mereka cantik-cantik. Aku jadi merasa minder. 

Tiba-tiba Nolan menepuk pundakku. “Tidak perlu minder,” katanya seperti tahu apa yang kupikirkan. Ia menggandeng tanganku.

“Ayo, kutunjukkan di mana kamarku,” katanya.

Aku mengikutinya.

“Kamarku ada di tengah-tengah bagian rumah,” katanya sambil menunjuk sebuah ruangan. 

Kami masuk ke kamarnya. Di dalam kamar ada sebuah lemari yang tinggi dan besar berwarna coklat tua. Lemari itu nampak sudah tua.

“Ini lemari tua. Dulu pernah ada seorang perempuan mati gantung diri di sini,” katanya.

Aku bergidik mendengarnya.

“Tapi aku nggak pernah mengalami kejadian aneh-aneh, kok,” katanya sambil tertawa.

Aku cemberut. Dia tertawa makin keras. Kemudian aku ikut tertawa juga.

Ah… Kisah ini memang aneh. Nolan dan aku… Jadian. Too good to be true! Walau aku berharap akan jadi kenyataan. Tapi ini cuma mimpi. Aku bangun kesiangan karenanya. Untunglah aku tidak terlambat tiba di sekolah.

Aku, Serena, sang pemimpi. Aku akan terus bermimpi… Sampai mimpiku jadi kenyataan…