[Review Film] Live Up to Your Name

sumber gambar: asianwiki.com

Apa jadinya kalau kamu bisa berpindah tempat (teleportasi) ke masa depan atau kembali ke masa lalu? Inilah tema yang diangkat dalam film ini.

Film Live Up to Your Name menceritakan tentang seorang tabib akupunktur bernama Heo Im dari zaman Joseon yang mendadak bisa berpindah ke masa depan. Awalnya Heo Im yang bekerja di Haeminso, klinik untuk rakyat miskin, diundang ke istana untuk mengobati penyakit Raja. Tetapi saat menghadapi Raja, tangannya tiba-tiba gemetar. Ia tidak mampu mengobati Raja, padahal Heo Im sangat terkenal sebagai tabib yang hebat. Akhirnya ia dijebloskan ke penjara. Namun, Heo Im bisa meloloskan diri. Ia berlari keluar dari istana. Saat ia melarikan diri, ada yang memanahnya. Ia pun jatuh ke sungai dan tak sadarkan diri.

Ketika Heo Im siuman, ia mendapati dirinya berada di masa depan, yaitu di Korea tahun 2017. Ia kebingungan karena dunia yang didatanginya sangat berbeda. Orang-orang yang melihatnya pun menyangka ia gila karena pakaian yang dipakainya adalah pakaian tradisional.

Setelah berjalan ke sana-ke mari akhirnya Heo Im bertemu dengan seorang dokter bedah jantung yang cantik bernama Choi Yun Kyung. Saat itu, ada orang yang mendadak pingsan karena serangan jantung. Heo Im hendak membantu dengan akupunktur, tetapi dokter Choi mencegahnya. Dokter Choi mengobati orang itu dengan pengobatan modern.

Heo Im yang tidak punya tujuan dan tidak dipercayai semua orang bahwa ia berasal dari zaman Joseon akhirnya menemukan sebuah klinik tradisional. Ia meminta izin pada pemiliknya untuk tinggal di sana. Ternyata klinik tersebut adalah klinik milik kakeknya dokter Choi. Kakeknya juga ahli akupunktur dan akhirnya percaya bahwa Heo Im berasal dari masa lalu. Rupanya dulu pernah ada orang dari Zaman Joseon yang juga mengunjunginya.

Setelah mengetahui bahwa hidup di zaman modern sangat menyenangkan, Heo Im berusaha menjadi dokter dan mencari uang. Seorang pemilik rumah sakit tradisional, Ma Song Tae, yang merupakan rival kakeknya dokter Choi memanfaatkan keinginan Heo Im. Heo Im diberikan sertifikat izin praktek dan izasah palsu. Heo Im yang mengubah namanya menjadi Heo Bong Tak lalu masuk ke perangkap Ma Song Tae yang serakah. Tapi tentu saja ada yang curiga dengan Heo Im. Ia adalah Yoo Jae Ha, cucu Ma Song Tae yang juga sahabat Choi Yun Kyung. Yoo Jae Ha adalah salah satu dokter di rumah sakit tradisional. Ia juga diam-diam menyukai dokter Choi Yun Kyung dan cemburu karena Heo Im bisa dekat dengan dokter Choi. Yoo Jae Ha menggunakan segala cara untuk mengungkapkan siapa sebenarnya Heo Im.

Plus dan Minus Film ini:

Selain berkisah tentang intrik yang terjadi di rumah sakit, di film ini ada juga unsur kekeluargaan dan komedinya, juga unsur dramanya. Dramanya itu ya apalagi kalau bukan kisah cinta antara Heo Min dan Choi Yun Kyung. Filmnya sangat mengharukan karena Heo Min akhirnya menemukan alasan kenapa ia bisa berpindah zaman. Lalu, ia harus memutuskan untuk tinggal di mana. Apakah ia akan tinggal di zaman modern yang nyaman tanpa perang atau kembali ke zaman Joseon yang sedang ada peperangan dan menjadi tabib istana sesuai cita-citanya.

Filmnya seru banget. Aktor dan aktrisnya juga cakep dan cantik. Tapi tentu saja ada minusnya. Sedikit sih. Menurutku, kalau lagi nonton film ini, jangan sambil makan. Apalagi pas adegan dokter Choi mengoperasi pasien. Soalnya dokter CHoi kan dokter bedah jantung. Nah, pas dia lagi mengoperasi pasien, ditunjukin bener jantung pasien yang sedang berdenyut-denyut. Agak menjijikkan sih menurutku.

Quotes yang oke banget dari film ini:

Tidak boleh ada yg membuatmu lemah. Jika kamu mendengarkan mereka, kamu akan kalah. Jangan dikalahkan org lain. Kamu hanya boleh dikalahkan dirimu sendiri. ~Choi Chun Sol

Sebenarnya ada banyak kata bijak di film ini. Tapi yang oke menurutku yang di atas ini.

Rating: Untuk film ini aku beri rating 4,5 dari skala 5.

Informasi Film:
Judul Film: Live Up to Your Name / Deserving of the Name
Jumlah Episode: 16
Genre: Fantsy, Drama, Time Travel, Medical
Rilis: Agustus – Oktober 2017
Network: tvN
Pemain:
Kim Nam Gil sebagai Heo Im
Kim A Joong sebagai Choi Yun Kyung
Yoo Min Kyu sebagai Yoo Jae Ha
Yun Ju Sang sebagai kakeknya Choi Yun Kyung
Kim Myung Gon sebagai Ma Song Tae

Advertisements

[Review Buku] Attachments

Lincoln masih belum percaya bahwa pekerjaannya sekarang adalah membaca E-mail orang lain. Saat ia melamar pekerjaa sebagai petugas keamanan internet, pemuda itu mengira ia akan membangun firewall dan melawan hacker, bukannya memberi peringatan pada karyawan yang mengirim E-mail berisi lelucon jorok seperti sekarang.

Beth dan Jennifer tahu bahwa ada seseorang di kantor yang memonitor E-mail mereka. Hal itu adalah kebijakan kantor. Namun, mereka tidak menganggapnya serius. Mereka bertukar E-mail tentang hal-hal paling pribadi.

Saat Lincoln menemukan E-mail Beth dan Jennifer, pemuda itu tahu ia harus melaporkan mereka berdua. Namun ia tidak bisa. E-mail mereka terlalu menarik untuk dilewatkan.

Hanya saja, saat Lincoln sadar ia mulai jatuh hati pada salah satunya, sudah terlalu terlambat untuk memulai perkenalan.

Lagi pula, apa yang bisa ia katakan…?

* * *

Yang di atas itu adalah sinopsis yang ada di bagian belakang buku. Buku ini aku beli karena penasaran sama ending ceritanya. Semenarik apa sih E-mailnya Beth dan Jennifer sampai-sampai Lincoln nggak bisa melaporkannya? Lalu, bagaimana kisah cinta Lincoln? Jatuh cinta sama siapa? Beth atau Jennifer?

Cerita di buku ini ternyata semenarik sinopsisnya. Buku yang beralur maju mundur ini mengisahkan tentang kehidupan Lincoln; bagaimana pekerjaannya, kesehariannya, dan tentang kisah cintanya di masa lalu maupun masa kini.

Lincoln adalah pemuda biasa-biasa saja. Ia cenderung nggak percaya diri. Kisah cinta masa lalunya membuatnya sulit untuk menemukan kekasih baru. Ia lebih suka berkumpul dengan beberapa sahabat lamanya untuk bermain game di akhir pekan.

Di usianya yang sudah matang ini seharusnya Lincoln tinggal di apartemen sendiri seperti semua orang pada umumnya. Namun ia masih tinggal bersama ibunya yang pandai memasak. Kakak perempuan Lincoln selalu berusaha memotivasi Lincoln agar menentukan jalan hidupnya yang menurutnya agak membosankan. Tetapi Lincoln merasa hidupnya cukup menyenangkan hingga suatu saat ia menyadari bahwa membaca E-mail orang di kantornya adalah pekerjaan yang ‘berdosa.’

Tokoh lain di buku ini adalah Beth dan Jennifer. Mereka berdua adalah teman sekantor Lincoln. Masing-masing punya kisah hidup sendiri. Beth mempunyai seorang kekasih yang tampan yang berprofesi sebagai gitaris sebuah band. Sebenarnya itu bisa dibilang bukan pekerjaan. Beth dan kekasihnya sudah lama tinggal bersama. Namun mereka belum juga menikah. Beth merasa frustrasi karena satu per satu sanak keluarganya menikah tetapi ia sendiri belum juga dilamar sang kekasih. Beth sendiri bukannya wanita yang menggantungkan hidup pada pacar. Ia malah adalah seorang yang mandiri, menarik, enerjik, dan berkarir cemerlang. Tetapi nasibnya bisa dibilang belum beruntung dalam urusan percintaan.

Jennifer, sahabat Beth, sudah menikah cukup lama. Tetapi ia belum dikaruniai anak. Jennifer merasa takut untuk memiliki anak. Padahal suaminya selalu berharap memiliki anak. Suatu hari, Jennifer merasa ada yang aneh dengan perutnya. Ia pun tiba-tiba membeli pakaian anak-anak yang cantik di sebuah toko. Jennifer hamil. Awalnya ia merasa ada monster dalam perutnya. Namun lambat laun, ia mulai menyukai apa yang terjadi pada dirinya. Ia memberitahukannya pada ibunya dan mulai berdamai dengan dirinya sendiri. Hubungannya dengan suaminya pun menjadi semakin mesra.

Obrolan Beth dan Jennifer tentang curhatan sehari-hari melalui E-mail tak pernah dilewatkan Lincoln. Ia pun lalu jatuh cinta pada salah satu dari mereka. Walaupun sekantor, Lincoln tidak pernah bertemu dengan kedua orang tersebut karena kantor mereka terdiri dari banyak divisi dan jam kerja mereka berbeda. Lincoln pun diam-diam berusaha mencari tahu tentang wanita yang disukainya.

Intinya, buku ini menceritakan tentang kekepoan Lincoln terhadap Beth dan Jennifer. Kalian tahu, kepo tuh nggak baik kan? Makanya… don’t do it at home!! *ups, salah… maksudnya jangan suka terlalu kepo kalau nggak mau kena batunya, walaupun sebagian orang berkata kepo is care.

Ceritanya tidak hanya tentang kekepoan Lincoln sih, tapi juga tentang kegalauan Lincoln terhadap hidupnya. Haruskan ia bertahan bekerja atau keluar saja, haruskah ia tinggal terpisah dari ibunya seperti orang-orang pada umumnya, haruskah ia berterus terang pada orang yang disukainya? Dan dari buku ini aku belajar bahwa dalam hidup ini ada banyak pilihan dan semua ada risikonya, baik atau buruk. Walaupun teman-teman dan keluarga memberikan saran ini-itu, tetap saja keputusan ada di tangan kita karena kehidupan kita ini kita sendiri yang menjalaninya. Bukan mereka.

Nah, untuk ending dari buku ini….  Bikin greget banget! Aku mengharapkan endingnya bisa diperpanjang, bisa lebih detail menceritakan bagaimana pertemuan Lincoln dengan wanita yang disukainya, lalu bagaimana kisah cinta mereka berlanjut. Tapi yang dibahas di endingnya hanya sekilas. Penonton agak kecewa. Kalau aku ketemu sama pengarangnya, pengen banget minta beliau bikin sesi keduanya. Tapi ini kan bukan film yang bisa dibikin sampai sesi ketiga dan seterusnya. Jadi… ya sudahlah…. sakit terobati dengan kisah-kisah Lincoln, Beth, dan Jennifer yang bikin penasaran banget. Kalian pasti penasaran juga kan dengan siapa yang disukai Lincoln?

Untuk buku ini aku beri rating 3,8 dari skala 5. Buat kalian yang suka novel bergenre romance dan drama, baca deh buku ini. Bukunya lumayan menghibur, lho!

Informasi Buku:
Judul Buku: Attachments
Pengarang: Rainbow Rowell
Penerbit: Penerbit Spring
Tahun Terbit: 2015
Jumlah halaman: 436 halaman
Genre: drama, romance
ISBN: 978-602-71505-5-3

Tumis Daging Cincang ala Cafe Latte

Sore itu, seperti biasa aku dan ketiga temanku berkumpul di Cafe Latte. Obrolan hari itu masih sama seperti obrolan beberapa hari sebelumnya dan beberapa minggu yang lalu. Ya, masih tentang si Wippie, teman sekampus kami.

“Kalian tahu, kemarin si Wippie bilang suaraku bagus. Dia minta tolong aku bantuin EOnya. Katanya salah satu singer yang biasa kerja sama dengannya lagi sakit,” ujar Jolly membuka pembicaraan hari ini.

“Terus, kamu terima tawaran dia?” tanya Tessa.

“Ya nggaklah. Aku nggak mau nanti kejadian yang sama terulang kembali. Bukannya nggak mau bantuin dia. Tapi, kita kan harus belajar dari pengalaman,” jawab Jolly.

“Baguslah kalau kamu nggak terbujuk rayuannya,” kataku.

“Iya, kenapa sih ada orang nyebelin kayak si Wippie itu? Kalau lagi ada maunya, dia manis banget. Begitu sudah nggak ada perlu sama kita, jangankan nyapa, noleh aja nggak!” seru Mita.

“Bener banget! Dulu aku pikir dia itu baik banget. Dia aktif hampir di semua kegiatan kampus. Suka jadi pembicara. Motivator kampus yang oke banget. Tapi ternyata sifatnya nggak sesuai sama ….. Ah, nyebelin banget!!” ujar Tessa.

“Kalian masih ingat dia pernah janji sama kita untuk datang ke acara konser kalau kita bisa bantuin dia ngerjain tugas EOnya?” tanyaku.

“Ah, betul! Waktu itu kita semua bantuin dia. Katanya dia bakal kasih kita tiket konser EXO!” jawab Mita.

“Bukannya konser EXO tuh malam ini?” tanya Jolly.

“Iya. Hari ini. Malam ini,” jawabku.

“Tapi kita nggak dikasih tiketnya. Bohong banget si Wippie ini! Sudah berapa kali dia kayak gini. Bikin kesel aja!” ujar Tessa.

“Aku sih nggak ngarepin tiket itu atau apapun janji-janjinya. Tapi caranya si Wippie tuh nggak bagus banget. Minta bantuan sama orang. Trus janji bakalan begini-begitu sama yang bantuin dia. Eh, tapi satu pun janjinya nggak ada yang ditepati. Capedeh,” keluh Mita.

“Serius nyebelin banget tuh anak! Dia kayak gitu bukan sama kita aja. Tapi sama anak-anak lain di kampus juga begitu. Huh!” seru Jolly.

Kemudian ketiga temanku berbarengan menatapku. Tatapan penuh harap. Aku balas menatap mereka. Lalu kuanggukkan kepalaku.

* * *

Hari ini, kami berkumpul lagi di Cafe Latte. Cafe milik keluargaku yang sudah diserahkan pengelolaannya padaku begitu aku lulus SMA.

“Menu spesial hari ini! Tumis daging cincang ala Cafe Latte! Untuk menghibur kalian atas semua perlakuan si Wippie!” seruku sambil menunjukkan sepiring besar masakan yang sudah kusiapkan di meja.

“Kamu yang masak?” tanya Mita dengan mata berbinar.

“Yup! Pokoknya mulai dari persiapan bahannya sampai penyelesaiannya semua aku yang kerjakan,” jawabku.

“Ini adalah….,” gumam Jolly. Ia berdecak kagum.

“Benar sekali!!” jawabku.

“Wuahhh! Aku nggak percaya ini!” ujar Tessa. Antusias melihat masakan yang ada di hadapannya.

Aku tersenyum melihat reaksi ketiga temanku. 

“So… Jangan khawatir lagi mulai hari ini. Nggak bakal ada lagi orang bernama Wippie yang bikin kesal kalian dan anak-anak kampus lainnya,” kataku.

* * *
Dan, jika ada orang yang sangat menyebalkan di sekitar kalian, yang saking menyebalkannya bikin kalian ingin mencekiknya… Jangan sungkan untuk menceritakannya padaku. Karena… Aku akan membantu kalian. Menghapus jejak orang itu dari muka bumi ini. Agar kalian tak lagi tersakiti. 

Tak perlu memberi imbalan padaku. Karena aku ikhlas. Akan kubuat manusia menyebalkan itu menjadi masakan paling unik yang pernah disajikan di Cafe Latte.

Surat Buat Kamu, Wahai Single Ladies

foto: dokumen pribadi

Kalian tahu apa yang ditakutkan para single, jomblowan dan jomblowati sedunia yang sudah berumur di atas dua puluh lima? Iyesss betul!! Pertanyaan garing kriuk-kriuk yang berbunyi: “Kapan nikah?’, “Mana pacarnya?”, “Kapan nyusul si anu?”, dan pertanyaan sejenisnya.

Bukannya aku tak ingin menikah dan membina keluarga. Tapi…. pengalaman teman-teman sebayaku dan pengalamanku dalam keluarga membuatku agak sungkan untuk menikah.

Sebut saja Maria, seorang teman yang cantik jelita. Ia menikah begitu lulus kuliah. Setahun kemudian ia dikaruniai seorang bayi imut menggemaskan. Sepertinya keluarganya bahagia. Tapi ternyata tidak demikian. Di tahun ketiga, ia bercerai. Alasannya sudah tak cinta lagi. Aku selalu bertanya dalam hati, ‘kok bisa?’

Lalu ada seorang sahabat lainnya, Shania. Ia wanita berparas biasa-biasa saja dan dari keluarga biasa. Namun ia rajin bekerja. Di usianya yang masih muda, ia bisa menduduki posisi manajer di kantornya. Ia lalu menikah dengan seorang pria tampan dari keluarga kaya. Kisahnya waktu itu bagai kisah Cinderella saja. Lima tahun menikah, tapi mereka belum dikaruniai seorang anak. Lalu mertuanya memisahkan ia dari suaminya. Ia kembali ke rumah orangtuanya. Pernikahannya kandas karena ia dianggap tidak bisa menghasilkan keturunan. Padahal, dari hasil ceritanya, ia dan suaminya sama-sama tidak mandul. Hanya belum diberi rezeki saja.

Ada juga seorang tetangga, sebut saja namanya Jeanny. Mbak Jeanny sudah 10 tahun menikah. Tapi ia tidak bahagia karena sering terdengar suara ribut-ribut di rumahnya. Suaminya kerja serabutan – kadang bekerja kadang tidak. Tergantung dari moodnya. Tidak punya pekerjaan tetap. Sedangkan Mbak Jeanny sendiri hanya seorang ibu rumah tangga yang mengurus 3 orang anak. Parahnya sang suami adalah orang yang ringan tangan. Mbak Jeanny dan anak perempuannya kerap dipukul jika mood sang suami sedang tidak bagus. Namun kedua anak laki-lakinya terlampau dimanja oleh sang suami. Benar-benar tidak adil!

Begitu banyak cerita pernikahan tak bahagia yang kulihat. Tentunya ada juga cerita yang bahagia. Kisah cintaku sendiri tidak ada yang berjalan mulus. Aku pernah dekat dengan orang-orang yang aneh, mulai dari si tukang marah-marah, si tukang cemburu yang over posesif, si ganteng yang ternyata punya banyak wanita, si tukang manfaatin plus morotin, dan lain-lain yang aneh-aneh. Okelah, di dunia ini tidak semuanya buruk, kan? Mungkin aku belum bertemu yang baik saja.

Begitulah… Hari berganti hari, tahun berganti tahun. Akhirnya usiaku menginjak kepala tiga. Om-Tante, Kakek-Nenek, Bude-Pakde, Eyang Putri-Eyang Putra, sanak kerabat handai dan taulan semakin gencar menanyakan pertanyaan laknat itu. Ibu-Bapakku pun mulai menjadi cacing kepanasan lantaran berbagai pertanyaan yang terdengar bagaikan hujatan. Aku pun demikian. Gerah! Risih! Bikin mau marah-marah!

Suatu ketika ada seorang teman mengenalkanku dengan seorang pemuda tampan. Ia seorang pengusaha, juga seorang yang soleh karena ia aktif di organisasi keagamaan dan juga rajin beribadah. Nilai plusnya banyak tentunya. Jadi, tak perlu lama-lama pacaran kamipun menikah.

Setahun kemudian kami dikaruniai seorang putra yang tak kalah tampan dari ayahnya. Dua tahun berikutnya lahir lagi seorang putra. Di tahun ketiga pernikahan kami, perekonomian lagi lesu. Usaha suamiku sedikit terkendala. Ia jadi seirng uring-uringan setelah pulang ke rumah. Aku berusaha bersabar dan mencoba mengerti keadaannya. Aku pun selalu berusaha menghiburnya.

Karena usaha suamiku sedang tidak lancar, akupun membantu perekonomian keluarga dengan bekerja sambilan. Jualan makanan yang kubuat sendiri, jual kosmetik, pokoknya jual apa saja dan yang pasti tidak jual diri. Tapi, suamiku bukannya berterima kasih ia malah memaki-makiku. Ia tidak setuju aku berjualan. Ia menyuruhku berhenti berusaha. Padahal, ia sendiri tahu pengeluaran dalam sebulan tidaklah sedikit. Uang yang dihasilkannya tidak cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Masa tiap bulan harus menjual harta? Kalau begitu, bagaimana anak-anak kami akan bersekolah nanti? Minta uang dengan orangtua kami? Berhutang? Oh, berhutang dan meminta-minta tidak ada dalam kamusku.

Akhirnya kami jadi sering bertengkar masalah uang. Lalu merembet ke masalah keluarga-ipar-mertua-anak. Dan puncaknya, suamiku minggat dari rumah. Aku tak tahu ia ke mana. Keluarganya pun tak tahu. Mereka malah menyalahkanku tidak bisa menjaga keutuhan rumah tangga. Aku pun akhirnya kembali ke rumah orangtuaku dengan membawa kedua anakku.

Tahun ini, anakku yang sulung sekolah di TK. Biayanya dari orangtuaku. Miris sekali. Aku begitu malu. Bagaimana nanti kalau ia masuk SD dan si kecil masuk TK?

Lalu, dalam keadaan seperti ini ibuku berkata, “Kalau tahu nasibmu akan jadi begini, mending dulu kamu tidak usah menikah saja. Mending kamu hidup single tapi bahagia…”

Kadang aku sering bertanya dalam hati…. “Memangnya salah kalau tidak menikah? Apakah menikah itu suatu kewajiban? Lalu… apakah orang yang tidak mau menikah itu berdosa?”

Dear Ladies yang belum menikah…. Tolong pikirkan baik-baik sebelum kamu memutuskan untuk menikah. Jangan tergoda oleh wajah tampan. Jangan terbuai oleh harta. Jangan pula jadi cacing kepanasan lantaran kamu sudah berumur dan semua orang mencecarmu dengan pertanyaan garing itu. Juga… jangan langsung percaya jika ada orang yang aktif di organisasi keagamaan dan rajin beribadah. Bisa saja itu kedok, kan? Kamu harus mencari tahu dulu tentang calonmu juga tentang keluarganya. Jangan terburu-buru!

Hidup ini…. kamu yang menentukan. Bukan kata orang lain! Bukan karena lingkungan begini maka kamu harus ngikut begini juga! Bahagia atau tidak bahagia, semua kamu yang tentukan. Bukan orang lain.

Semoga kalian yang masih single dan jomblo bisa menemukan pasangan yang baik dan berbahagia. Buat kalian yang sudah menikah, semoga bisa langgeng dan berbahagia selamanya. Janganlah kamu menjadi seperti AKU.

.

* * *

*kisah ini fiksi namun beberapa bagian ceritanya berdasarkan kisah nyata

5 Alasan Kenapa Kamu Harus Nonton Chicago Typewriter

sumber gambar: asianwiki.com

Chicago Typewriter? Apaan tuh? Mesin ketik dari Chicago? Errr….. kalau terjemahannya iya. Tapi bukan itu yang mau dibahas di sini. Chicago Typewriter itu adalah drama Korea yang beberapa waktu nge-hits bingitsss sampai-sampai beberapa teman blogger membuat reviewnya. Dan kali ini giliran aku membahas tentang film ini.

Film Chicago Typewriter ini dirilis bulan April 2017 yang lalu. Belum begitu lama. Jadi kalau kamu belum nonton, masih terbilang belum basi. Film ini merupakan kisah perjuangan mencapai kemerdekaan, cinta, pengorbanan, persahabatan, pengkhianatan, melawan rasa takut, percaya diri, de-el-el….. Sebut saja film ini adalah paket komplit!

Ceritanya sendiri tentang seorang penulis terkenal Han Se Ju yang mengalami writer’s block. Saat ia dalam kondisi yang mengenaskan bagi para penulis tersebut, tiba-tiba ada seseorang yang memakai namanya mengirimkan naskah ke penerbit. Suatu ketika, Han Se Ju memergoki orang misterius tersebut sedang mengetik di ruang kerja di rumahnya menggunakan mesin ketik antik yang didapat Han Se Ju dari pemilik cafe di Chicago. Nah loh, kok pemuda ini bisa masuk ke rumah Han Se Ju?

Lalu…. yang anehnya lagi naskah yang diketik Yoo Jin Oh, si misterius itu, benar-benar mencerminkan apa yang ada dalam pikiran Han Se Ju. Hal ini tentu saja membuat bingung Han Se Ju. Lama-kelamaan diketahui bahwa cerita dalam naskah itu adalah kisah tentang Han Se Ju saat ia hidup di masa penjajahan Jepang sekitar tahun 1930. Kala itu Han Se Ju bernama Hui Young, sedangkan Yoo Jin Oh sendiri adalah sahabat Han Se Ju yang bernama Shin Yul. Lalu ada satu orang lagi, yaitu Jeon Seol, seorang dokter hewan dan juga penggemar berat Han Se Ju yang pada zaman dahulu bernama Su Hyeon. Mereka bertiga adalah sahabat dekat yang bereinkarnasi dan bertemu kembali di masa sekarang karena takdir.

Di masa sekarang mereka bertiga mencoba memecahkan misteri mengapa mereka bisa sampai terpisah di zaman dulu. Mereka mencoba menyatukan ingatan mereka yang menghantui kehidupan mereka pada saat ini.

Nah, alasan kenapa kamu harus nonton film ini adalah:
1. Aktor dan aktrisnya keren-keren!
Sebut saja Yoo Ah In yang berperan sebagai Han Se Ju. Lim Soo Jung sebagai Jeon Seol. Ko Gyung Pyo sebagai Yoo Jin Oh. Tiga pemeran utama ini oke banget aktingnya.

2. Ceritanya seru, lucu, mengharukan, pokoknya komplit semua ada.
Siap-siap tisu tapi juga siapkan perut karena kamu bakalan sakit akibat kebanyakan ketawa.

3. Musiknya keren.
Lagu-lagu atau OST film ini kombinasi dari lagu-lagu dengan musik jadul dan musik masa kini. Jadi banyak variasinya gituuu. Walaupun aku tak tahu apa judul-judul lagunya pokoknya suka banget, deh!

4. Banyak pelajaran tentang hidup yang bisa kamu dapatkan dari film ini.
Contohnya: menyadari kesalahan dan meminta maaf. Jangan jadi orang sombong, kamu nggak hidup sendirian di dunia ini. Jangan memendam perasaan, berbagilah dengan orang yang kamu percayai. Banyaklah berteman. Kalau mau sukses berusahalah dengan kemampuanmu sendiri, jangan mencuri hasil karya orang lain dan mengklaim itu adalah karyamu.

5. Endingnya happy.
Tentunya ini yang dicari, kan? Happy ending. Tapi film ini bukan film model drama yang endingnya adalah pernikahan. Walaupun bukan tentang pernikahan tapi semua hal berjalan so sweet banget!

Gimana? Penasaran nggak sama film ini? rating dari aku 4,8 dari skala 5.
Buat kamu yang belum nonton…. Hayooo buruan nonton!

* * *

Informasi film:

Judul: Chicago Typewriter
Rilis: April 2017
Jumlah episode: 16
Genre: Fantasy, romance
Pemain:
– Yoo Ah In sebagai Han Se Ju
– Lim Soo Jung sebagai Jeon Seol
– Ko Gyung Pyo sebagai Yoo Jin Oh
– Kwak Si Yang sebagai Baek Tae Min, rivalnya Han Se Ju
– Yang Jin Sung sebagai Bang Jin, sahabat Jeon Seol
– Jo Woo Jin sebagai Gal Ji Seok, manager di penerbit buku

Do You Remember Me?

Ini hari keenam sejak kepulanganku ke kota ini. Ada perasaan aneh dalam pikiranku setibanya aku di sini. Mungkin juga ini adalah perasaan kangen pada kota kelahiran. Entahlah…

Setelah tinggal di luar kota dalam waktu yang cukup lama, ada perasaan nyaman tinggal di tempat yang baru itu. Suasana yang tenang… Juga kehidupan yang teratur… Lingkungan yang aman… Dan lain sebagainya. Satu kata untuk kota itu: “Perfect!”

Ya… Sempurna!

Tapi sayangnya, ada suatu kewajiban yang mengharuskan aku pulang. Aku sedih dan juga gembira. Perasaan berlawanan yang datang bersamaan. Aneh, kan? Okelah.. Sebut saja aku gila. Namun begitulah kenyataannya. Itu yang kurasakan saat aku meninggalkan kota itu dan juga saat aku pulang ke rumah.

Dan mulai saat aku menginjakkan kakiku ke tanah kelahiranku, itu artinya aku akan kembali bertemu dengan si Mister Jangkung, sebutanku untuk seseorang yang kukagumi dari jarak jauh.

Ah, ya… Mister Jangkung tinggal dekat rumahku. Dia pemilik toko peralatan rumah tangga. Sudah lama aku tinggal di sana, tapi aku tak tahu namanya. Yang kutahu, dia lucu dan ramah. Suka mengobrol. Sayangnya dia perokok. Huh! Jujur aku tak suka cowok perokok. Tapi jika cuma mengagumi tak apa-apalah. Anggap saja rasa kagum ini sama seperti saat aku ngefans dengan Lee Jong Suk Oppa.

Kadang, aku suka mencari alasan supaya bisa mampir ke toko itu. Apa yang harus kubeli? Adakah sesuatu yang bisa kubeli di tokonya? Atau… Kapan barang ini-itu rusak atau hilang? Jadi aku punya alasan untuk mampir ke sana. Supaya bisa melihat wajah si Mister ketjeh!

Lalu… Tibalah hari yang kutunggu. Hari ini. Mbakku bilang sikat toilet sudah rusak. Dia memintaku membeli yang baru.

Hore?? Iya! Hore, dong! Apa sih yang nggak hore?? Coba bayangkan!!

Oke stop! Jangan senang dulu! Pertanyaannya adalah… Memangnya Mister Jangkung masih ingat sama aku yang-jarang-mampir-ke-tokonya-dan-cuma-pernah-ngobrol-sekilas info dan cuma-numpang-lewat-depan-tokonya setiap pergi dan pulang kerja? Nei.. Nei.. Nei… Tidak mungkin! Impossible!

Hanya saja… Tekadku sudah bulat! Bagaimanapun caranya, aku harus belanja di tokonya. Walaupun hujan badai menghadang dan angin topan menerjang! Keukeuh!! Harus mampir ke sana!! Demi… Oh… Demi…

Hari sudah sangat sore saat aku tiba di tokonya Mister Jangkung. Dia dan pegawai tokonya sedang bersiap-siap untuk menutup toko. Ada seorang ibu di depan toko. Mengobrol dengan pegawainya. Itu artinya kesempatan!

Tak akan kusia-siakan… Yess!!

“Hello, Mister… Masih belum tutup kan?” *abaikan kata Mister. Aku nggak panggil dia dengan sebutan itu.

“Oh, ya. Sebentar lagi, kok. Mau beli apa, Mbak?” tanya si Mister yang cakep.

“Sikat untuk toilet. Yang gagangnya panjang,” jawabku.

“Tunggu sebentar, ya,” katanya. Dia pun menuju ke sebuah tumpukan barang. Nampak agak kesusahan menarik sikat yang sudah berada di balik tumpukan barang.

Aduh… Ngerepotin banget ya kayaknya aku ini. Tapi bukannya minta maaf, aku malah asyik perhatiin si Mister sambil nanya harga.

“Berapa harganya?”

“Sepuluh ribu,” jawabnya. “Nah, aku ambil kantong plastik dulu ya,” katanya setelah berhasil mengambil si sikat.

Setelah aku membayar, Mister Jangkung bertanya, “Baru pulang kerja ya?”

Aku bingung, kok dia bisa bertanya seperti itu. “Iya,” jawabku. Ge-er.

“Sore bener ya pulangnya. Kamu kerja di NNN, kan?”

Ow! Ow! Ow! Mai Gad!!! Aku hampir pingsan waktu dia nyebutin nama tempat kerjaku. Bagaimana mungkin dia masih ingat tempat kerjaku yang pernah aku katakan padanya mungkin sekitar satu tahun yang lalu? Astaga!!

Aku terharu… Dia ingat aku? Oh no… Rasanya pengen nangis. Ada orang yang aku kagumi walau saling tak tahu nama, tapi dia ingat dengan obrolan iseng tahun lalu saat aku beli barang keperluan untuk kantorku. Waktu itu aku minta nota. Dia bertanya kenapa minta nota. Kujawab karena barangnya untuk kantor. Dan dia bertanya nama kantorku. Kujawab saja sejujurnya. Benar-benar tak disangka dia masih mengingatnya! Huhuhu…

Setelah itu… Aku cuma sanggup ngobrol sebentar karena gugup banget! Lalu langsung pulang dengan wajah yang pasti bersemi-semu merah maroon campur biru saking malu sekaligus terharu.

Huaaa!!! Besok beli apa lagi, ya?

Halo, Gebetan!

Hai, gebetan! Senang melihatmu hari ini! Apalagi saat melihatmu tersenyum. Bikin hati ini jadi meleleh kayak es krim! Es krim enak dimakan dan senyummu enak dipandang. 

Hari ini… Dan juga hari sebelumnya yang kapan itu… Aku senang banget saat kamu menawarkan bantuan. Atau saat kamu menyuruh orang membantuku di saat aku memang lagi butuh bantuan. Lebih terharu lagi saat kamu benar-benar sibuk, tapi kamu sempat-sempatnya perhatiin aku. 

“Eh, itu barangnya banyak. Pasti berat dong!” katamu saat melihatku membawa barang. Waktu itu kamu lagi sibuk dengan pekerjaanmu, melayani pembeli. 

“Di, tolong bantuin bawa barang itu. Itu berat, lho. Kamu bawain ya! Trus ikat di motornya yang kencang, jangan sampai barangnya bisa jatuh,” pintamu pada rekanmu. 

Lalu rekanmu membantuku membawakan barang lalu mengikatkannya di motorku. Sebentar kemudian, kamu turun tangan ikut bantuin mengikat barang-barang itu.

“Hati-hati pulangnya, ya! Di jalan jangan ngebut. Tuh banyak barang yang dibawa. Pelan-pelan saja,” katamu.

Aku mengiyakan perkataanmu. “Oke! Terima kasih, ya!”

Aku terharu. Kok kamu baik banget, sih? Kok kamu perhatian banget, sih? Jelas aku ge-er, dong! Atau… Memang aku yang kelewat pede?? Apapun itu… Pokoknya kamu baik banget! Dan aku suka itu!

Sebelum motorku melaju pulang, aku melirik ke dalam toko. Seorang wanita cantik berambut panjang menarik perhatianku. Baru kali ini aku melihatnya di tokomu. Dia mengenakan cincin yang sama dengan yang kau pakai.

Ah, ya… Itu pasti istrimu. Entah kapan kalian menikah. Aku ketinggalan berita.

Padahal…. 

Ah, ya sudahlah…