Perjalanan Menembus Ruang dan Waktu

Sore itu, aku dan sahabatku, Nolan, sedang berkumpul di basecamp perkumpulan muda-mudi. Ada teman-teman lain di sana. Ramai. Aku melihat Nolan sibuk.  Iya… Sibuk mengobrol dengan teman-temannya. Temannya juga temanku. Tapi aku tak begitu akrab dengan mereka. Jadi kutinggalkan saja dia dan berjalan menuju jembatan yang berada dekat situ.

Aku baru saja tiba di jembatan itu saat seseorang menarik lenganku dari belakang. Aku menoleh. Nolan rupanya.

“Serena, jangan pergi,” katanya.

“Kenapa?” tanyaku. “Bukankah kamu sedang sibuk mengobrol?”

“Iya… Tapi kalau nggak ada kamu rasanya aneh,” jawabnya.

“Hah?” Aku bingung dengan perkataannya. Ada-ada saja sahabatku ini, pikirku. 

“Iya. Soalnya posisi kita sekarang ini seperti ini…,” katanya sambil menggandeng tanganku.

Jantungku berdegup kencang. Gugup. Sekaligus heran dengan tingkahnya. Jujur saja sebenarnya aku sudah lama suka dengan sahabatku ini. Tapi aku tak ingin dia tahu karena aku tak ingin merusak persahabatan kami yang sudah berlangsung selama 7 tahun lebih. Dan sekarang ia mengamit lenganku. Aku merasa aneh sekaligus senang. 

“Apa?” tanyaku.

“Pokoknya sekarang kita seperti ini,” katanya. “Kamu jangan pergi ya. Tetap sama aku.”

“Kita….,” aku menghentikan kata-kataku. Mengambil napas. Lalu berbisik, “Pacaran?”

Dia menganggukkan kepalanya.

Pipiku memerah. Tak percaya ini terjadi.

“Ini sudah sore. Ayo ke rumahku. Ada acara di rumahku sebentar lagi. Ingat, kan?” tanyanya.

Aku mengangguk. Lalu mengikutinya pulang ke rumahnya. Walaupun kami sudah berteman lama, tapi aku baru kali ini ke rumahnya. Biasanya kami hanya bertemu di basecamp. Walaupun begitu, aku sudah kenal dengan papa mamanya. Kedua orangtuanya juga mengenalku. Nolan juga begitu, kenal dengan papa mamaku. Persahabatan kami memang unik.

Setibanya di rumah Nolan aku melihat rumahnya sepi. Nolan mempersilakan aku masuk. Lalu ia pamit untuk mengambil keperluan acara di rumahnya. Aku diminta menunggu sebentar di rumahnya. Ia memperbolehkan aku melihat-lihat keadaan dalam rumahnya.

Setelah Nolan pergi. Aku melihat-lihat keadaan rumahnya. Luas. Banyak ruangnya. Perabotannya antik. Ada lemari-lemari besar. Beberapa sisi ruangan nampak gelap. Tapi rumahnya rapi. Aku merasa aneh berada di rumah Nolan sendirian. Takut ada…. Hantu!

Tak lama kemudian, Nolan pulang bersama papa mamanya. Untunglah mereka cepat tiba. Kalau tidak, aku pasti sudah mikir yang nggak-nggak. Atau mungkin aku akan pingsan nggak jelas.

“Maaf menunggu lama,” kata Nolan sambil meletakkan beberapa kantong plastik di atas meja. 

Melihatnya sibuk, aku ikut-ikut sibuk juga. Aku membantunya mengeluarkan barang-barang dari tas belanja.

Selain Nolan dan keluarganya, ada beberapa tamu yang juga tiba bersamaan dengan mereka. Makin lama makin ramai. Mama Nolan nampak panik.

“Serena, tolong bantu Tante, ya,” pinta mama Nolan padaku.

“Iya, Tante,” jawabku.

Setelah itu aku ikut membantu melayani tamu, mempersilakan mereka duduk dan mengedarkan nampan berisi camilan. Beberapa di antara tamu yang datang itu adalah teman SMA Nolan. Mereka cantik-cantik. Aku jadi merasa minder. 

Tiba-tiba Nolan menepuk pundakku. “Tidak perlu minder,” katanya seperti tahu apa yang kupikirkan. Ia menggandeng tanganku.

“Ayo, kutunjukkan di mana kamarku,” katanya.

Aku mengikutinya.

“Kamarku ada di tengah-tengah bagian rumah,” katanya sambil menunjuk sebuah ruangan. 

Kami masuk ke kamarnya. Di dalam kamar ada sebuah lemari yang tinggi dan besar berwarna coklat tua. Lemari itu nampak sudah tua.

“Ini lemari tua. Dulu pernah ada seorang perempuan mati gantung diri di sini,” katanya.

Aku bergidik mendengarnya.

“Tapi aku nggak pernah mengalami kejadian aneh-aneh, kok,” katanya sambil tertawa.

Aku cemberut. Dia tertawa makin keras. Kemudian aku ikut tertawa juga.

Ah… Kisah ini memang aneh. Nolan dan aku… Jadian. Too good to be true! Walau aku berharap akan jadi kenyataan. Tapi ini cuma mimpi. Aku bangun kesiangan karenanya. Untunglah aku tidak terlambat tiba di sekolah.

Aku, Serena, sang pemimpi. Aku akan terus bermimpi… Sampai mimpiku jadi kenyataan…

Advertisements

20 thoughts on “Perjalanan Menembus Ruang dan Waktu

  1. Ceritanya bagus! Tapi endingnya klise *kampret 😀
    Boleh sedikit kritik ya.. Banyak pengulangan kata di cerita ini, jadi terkesan kurang cermat dalam bercerita. Contoh…
    Aku mengikutinya pulang ke rumahnya. Walaupun… ke rumahnya.
    Nah! Seandainya ke rumahnya yg kedua diganti dengan kesana, bukannya malah lebih enak ya. Hehe maaf.
    Btw aku juga suka sama Nolan. Christopher Nolan :v :v

    1. Makasih kripiknya ya. Kalimatnya ngulang-ngulang. Nggak cantik ya. Hahaha.
      Christopher Nolan, aku suka nama Nolan-nya aja. 😀

  2. Waduh mimpi ternyata -_-
    Harus diwujudkan jadi kenyataan… make dreams come true…! Dan sbenarya saya agak heran sama lemari yang dulu pernah terjadi insiden itu.. Tapi no problem sih, bukan masalah… Yang penting ceritanya nyambung… meskipun agak greget endingnya :v

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s