#FiksiKamis – Mencari Buku yang Hilang

Hari ini aku mendapat tugas membuat resensi novel bergenre misteri dari guru Bahasa Indonesiaku. Otakku langsung berputar memikirkan buku apa yang akan kupakai. Setibanya di rumah, aku langsung membuka lemari bukuku. Kuperhatikan judul-judul buku yang ada dalam lemari.

‘Ke mana bukuku yang satu itu?’ pikirku sambil membongkar lemari untuk mencari sebuah buku. Tapi bukunya tak kutemukan. Aku pun mencarinya di kamar kakakku dan seluruh ruangan di rumah. Tetapi bukunya tidak ketemu.

‘Jangan-jangan dipinjam oleh Sani,’ pikirku. Temanku yang satu ini memang sering meminjam novelku. Dan kalau ia meminjam buku pasti lama sekali mengembalikannya. Itupun harus ditagih berkali-kali.

Kuambil ponselku lalu kukirim pesan ke Sani.

“San, kamu pinjam novelku nggak ya? J-Lit, Girls in the Dark. Soalnya aku mau pakai novel itu untuk tugas Bahasa Indonesia,” ketikku.

Tak lama kemudian Sani membalas. “Nggak, tuh! Semua novel yang kupinjam darimu sudah kukembalikan minggu lalu. Ingat?”

“Ah, masa sih? Kamu yakin nggak ada novelku yang tertinggal di rumahmu?” tanyaku lagi. Tidak yakin padanya. Sani pelupa, sih!

“Sebentar. Aku cek dulu,” jawab Sani.

Aku menunggu sekitar sepuluh menit. Kemudian ponselku berdenting. Sani mengirim pesan padaku, “Nggak ada, Rien. Aku sudah bongkar semua laciku. Novelmu sudah kukembalikan semua. Yakin 100%!”

“Oke deh. Thanks ya,” balasku, walaupun masih ragu dengan pernyataan Sani.

Berikutnya aku mengirim pesan di grup kelasku di Line. Kami punya grup khusus kelas untuk berbagi info atau sekadar untuk chatting nggak jelas.

“Halo semuanya. Siapa yang merasa meminjam novelku? Judulnya Girls in the Dark, karangan Akiyoshi Rikako,” ketikku.

“Aku nggak suka baca novel. Jadi bukan aku yang pinjam,” balas Panji.

“Novel apa tuh? Kalau sudah ketemu aku pinjam ya,” balas Amy.

“Bukannya Sani yang sering pinjam novelmu?” balas Aldo.

“Iya, betul! Coba tanya Sani!” balas Tina.

“San… Sani… Balas chat di grup, dong!” ketik Maria.

Beberapa menit kemudian Sani ikut nimbrung obrolan di grup.

“Rien sudah tanya aku tadi. Bukan aku yang pinjam,” jawab Sani.

“Lo yakin, San? Biasanya kamu yang suka pinjam bukunya Rien,” kata Aldo.

“Iya, bukan aku,” balas Sani.

“Beneran nih, San? Biasanya kamu tuh pelupa. Sudah dicari sampai ke kolong ranjang belum?” balas Maria.

“Aku yakin 100% nggak pinjam buku itu,” jawab Sani.

Ah, Sani memang begitu. Selalu yakin 100% tapi nanti pasti dia tiba-tiba bilang maaf karena menemukan bukunya terselip entah di mana, pikirku sambil mengaduk-aduk laci lemari di bawah TV.

“Nak Rien cari apa?” tanya mbok Sumi, mengagetkanku.

“Eh… Ini mbok. Cari buku. Judulnya Girls in the Dark. Sampulny bergambar kartun cewek pakai seragam kelasi,” jawabku.

“Yang gambar cewek Jepang itu ya?” tanya mbok Sumi lagi.

“Kok mbok tahu?” aku balik bertanya.

“Buku itu kan lagi dibaca oleh Wiwied. Nak Rien yang meminjamkannya… Kalau nggak salah dua minggu yang lalu,” jelas mbok Sumi.

Ya ampun… Jadi buku itu kupinjamkan ke anaknya mbok Sumi? Astaga! Aku benar-benar lupa! Bagaimana ini??

Ting Tong! Ponselku berbunyi. Nada pemberitahuan dari grup kelas. Dina mengirimkan pesan, “Wah, jadi hilang ke mana bukumu, Rien? Nggak ada yang ngaku, nih! Apa perlu kita lapor polisi? Biar tahu rasa yang pinjam nggak balikin itu!”

Lama kupegang ponselku. Akhirnya kuketikkan pesan ke grup kelasku, “Errr… Sori guys, bukunya udah ketemu nih! Ternyata ada sama Wiwied, anaknya mbok Sumi!” Lalu kutambahkan emo ngakak guling-guling. Seketika grup kelasku kembali ramai dengan berbagai macam emoticon.

Advertisements