Prompt #140 – Hitam Putih

Duniaku adalah dunia hitam-putih. Duniaku tanpa warna merah, kuning, atau biru. Namun aku suka. Bagiku hitam dan putih sudah cukup berwarna.

Namun suatu ketika kau tiba dan mengetuk pintu hatiku. Aku tak ingin membukakannya untukmu. Karena aku tak ingin lagi disakiti. Tapi apa daya aku terjerumus dalam pesonamu.

Kaupun mulai mengenalkan bermacam-macam warna padaku. Merah, untuk senyuman yang menghiasi bibirku saat kau memuji diriku. Kuning, untuk waktu yang kauluangkan untukku. Hijau, untuk semua percakapan dan obrolan kita. Juga biru, untuk saat-saat di mana aku merindukanmu.

Lagu-lagu yang kumainkan pun mulai bervariasi. Aku tak hanya memainkan lagu bernada sendu semacam Jardin Secret, tetapi mulai memainkan yang ceria seperti lagu Souvenirs D’Enfance, La Musique de L’amour, Ballade pour Adeline, sampai Music Box Dancer. Semua lagu yang kumainkan, kumainkan hanya untukmu. Semua lagu yang kunyanyikan, kunyanyikan hanya untukmu.

Aku begitu bahagia hingga merasa dunia ini penuh bunga. Bunga… Yang kuharap dikirimkan olehmu hanya untukku. Namun harapan tinggal harapan. Rupanya… Aku menyalah-artikan perhatianmu padaku. Kukira kau suka padaku. Kukira kau jatuh cinta padaku.
Suatu ketika kulihat kau dan seorang wanita duduk berdua, saling menatap dengan mesra. Kalian bergandeng tangan. Berfoto bersama. Dan kemudian kau pergi bersamanya. Meninggalkanku. Sendiri.

Tiada lagi canda-tawa. Pun senyum semringah yang terukir di wajahmu saat kulantunkan sebuah lagu untukmu. Tak mengapa. Kuharap kau bahagia dengan dirinya.

Warna-warni yang menghiasi hari-hariku mulai memudar. Dan aku kembali ke dunia hitam-putihku. Hitam-putih dan Jardin Secret. Hitam-putih dan Triste Coeur. Hanya hitam dan putih. Tapi itu cukup. Aku berterima kasih sekaligus bersyukur akan berbagai warna yang pernah menghiasi hidupku.

Hitam-putih warnaku… Tape recorder yang kau beli dari kios tua di pinggir kota.