Prompt #138 – Mami dan Seribu Tangan

Tanggal 21 April yang lalu adalah Hari Kartini, pahlawan emansipasi wanita Indonesia. Hampir semua orang di media sosial membagikan cerita tentang pahlawan yang hebat itu. Mereka rata-rata mengatakan bahwa wanita adalah sosok yang hebat. Wanita modern bisa melakukan apa saja tanpa melupakan kodratnya. 

Aku jadi ingat Mamiku. Mami selalu bangun pagi untuk memasak dan mencuci. Jika anaknya ada yang sakit, Mami selalu siap menemani. Begitupun jika suaminya membutuhkan bantuan. Mami selalu siap sedia. Tak peduli saat itu beliau sedang mengerjakan apa, jika keluarganya membutuhkannya, ia selalu berusaha untuk ada.

“Mami, lihat kaos kakiku nggak ya?” tanya Papi sambil membuka lemari saat Mami sedang memotong sayuran di suatu pagi.

Mami bergegas ke kamar sambil membawa pisau. Lalu beliau menunjuk ke satu arah, “Itu kaos kakinya, Pi. Terselip di bawah sapu tangan.”

“Oh, iya ya. Papi nggak kelihatan,” kata Papi, tersipu malu karena kaos kaki di depan matanya tak nampak olehnya.

“Mami, nanti sore tolong belikan Adek buah apel, ya. Besok apelnya mau dibawa ke sekolah untuk praktek Biologi,” pinta adikku di lain waktu.

Apapun permintaan anggota keluarganya, Mami selalu berusaha memenuhinya. Tak ada pekerjaan yang tak dapat diselesaikannya. Semuanya selesai tepat waktu.

Hari ini Mami sakit. Walaupun Mami masih mau mengerjakan pekerjaan rumah tangga, aku memaksanya beristirahat dan mengambil alih semua tugasnya mulai dari mencuci, memasak, beres-beres rumah, sampai mengurus dua adikku yang masih kecil, ditambah mengurus peliharaan kami, si Doggy. Tapi… Semuanya berantakan. Aku jadi sedih.

“Mami, kenapa aku nggak bisa seperti Mami? Mami selalu bisa mengerjakan semuanya dengan baik…,” rintihku saat masuk ke kamar Mami untuk memberikan obat pada beliau.

Mami yang sedang tidur pun terbangun karena suara berisik yang kutimbulkan saat membuka pintu kamarnya.

“Kenapa murung begitu, Kak?” tanya Mami.

“Kakak sedih karena nggak bisa seperti Mami yang serba bisa. Kakak juga pengen seperti Mami yang bisa mengerjakan semua hal dan selesai tepat waktu,” jawabku.

“Kakak… Mau Mami beri tahu apa rahasianya Mami bisa mengerjakan semuanya sendirian?”

Aku mengangguk-angguk. Lalu Mami bangkit dari tempat tidurnya. Ia menutup tirai kamar dan merapalkan sebuah mantra yang aneh. Tiba-tiba… Wush! Muncullah seribu tangan dari sekujur badan beliau. Aku terkejut melihat penampakan Mami. 

“Kak… Mami adalah Peri Bertangan Seribu, lho! Nanti Mami akan turunkan ilmu Mami pada kakak asalkan kakak rajin belajar. Janji ya?” tanya Mami sambil mendekatiku.

“Iya Mi. Kakak janji akan rajin belajar. Janji….,” jawabku. Perasaanku bercampur-aduk antara ngeri dan takjub. 

Kakak janji… Janji… Janji….

….

“Kak, bangun! Ayo bangun!” seru adikku membangunkanku.

“Ooh? Bangun? Ada apa?” kataku sambil mengucek mataku. 

“Kakak mengigau! Janji, janji… Apaan, tuh? Janji-janji palsu?” ledek adikku. “Ayo cepat ganti baju, kita mau pergi mengantar Mami ke dokter. Jangan tidur lagi, ya! Mimpi apa sih sampai mengigau begitu…,” omel adikku.

Sumber gambar: http://www.mondayflashfiction.com
Advertisements

5 thoughts on “Prompt #138 – Mami dan Seribu Tangan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s