Prompt #139 – Boleh Kupinjam Lelakimu

Boleh kupinjam lelakimu? Hanya hangat lidahnya. Tak lebih.

Lelakimu baik. Tutur katanya halus. Ia tak pernah marah. Juga tak pernah berkata kasar. Itu yang membuatku betah berlama-lama dengannya. Tanpa sepengetahuanmu tentunya. Seperti yang kulakukan hari ini…. Untuk yang keberapa kalinya.

“Bisa ketemu hari ini?” ketikku di ponsel. Lalu kukirim ke nomor lelakimu.

Tak lama kemudian ia membalas. “Datanglah sore nanti, jam seperti biasa. Jangan telat.”

“Oke,” balasku.

Di jam yang telah ditentukan, kami bertemu. Lelakimu mempersilakan aku duduk di sofa yang empuk, seempuk kata-kata yang keluar dari bibirnya.

“Bagaimana keadaanmu? Sudah merasa lebih baik?” tanyanya. Dengar itu! Perhatiannya itu… Wanita mana yang tak meleleh jika ditanya dengan pertanyaan itu?

Aku membalasnya dengan anggukan.

“Baiklah…. Itu bagus! Ada perkembangan lainnya? Sudah tidak kesulitan tidur lagi, kan?” tanyanya. Lagi-lagi… Ia memberikan perhatian.

“Iya… Sudah enakan sekarang. Aku merasa lebih baik dan sedikit lebih bersemangat,” jawabku. Tentu saja aku bersemangat jika bisa bertemu dengan lelakimu ini.

Kemudian pria di hadapanku ini menanyakan hal-hal lainnya. Kami mengobrol beberapa saat sampai tiba waktunya kami berpisah. Sebelum berpisah dengannya, aku meraih tangannya yang lembut untuk berjabat tangan. Kulirik sekilas ke meja kerjanya. Di sana terpampang wajahmu dan lelakimu, tertawa ceria di hari pernikahan kalian. Entah siapa kamu, aku akan terus meminjam lelakimu.

“Jangan lupa makan obatnya. Jangan terlalu banyak berpikir dan istirahatlah yang cukup, ya,” pinta lelakimu.

“Baik, dokter,” jawabku.

Kemudian seorang suster membukakan pintu untukku.

 

#FFKamis – Kisah di Malam Perjusami

Malam ini malam kedua kegiatan Perjusami. Aku dan ketiga teman sekelompokku membahas masalah hantu di dalam tenda.

Menurut Karin, tahun lalu ada murid yang kesurupan di tempat kami berkemah sekarang. Dila menambahkan ada siswa mendengar suara rintihan di dekat sumur tak jauh dari tenda kami. Tika ikut-ikutan menambahkan ada anak kelas lain melihat bayangan putih.

“Hahahaha! Masa, sih?” tanyaku tak percaya.

Ketiga temanku memandangku berbarengan. Aku terus tertawa. Namun mereka hanya memandangku tanpa bersuara.

“Kenapa? Kalian takut?” tanyaku, masih tergelak.

“I…iya…,” jawab Tika.

“Di belakangmu… Ada…,” lanjut Karin.

“Hantu?” kataku, masih tergelak.

Aku menoleh ke belakang. Berhenti tertawa. Mereka benar!

* * * 

FF 100 kata.

Perjusami = Perkemahan Jumat – Sabtu – Minggu

Bertemu Hantu

Malam itu… Bukan tengah malam beneran, sih. Tapi waktu itu hujan deras. Kilat menyambar-nyambar. Suara guntur bergemuruh. Cuacanya dingin.

Semua orang di rumah sudah tidur. Mungkin karena cuaca yang dingin, membuat mereka tidur dengan nyenyak. Aku keluar dari kamar untuk mengambil air minum. Entah kenapa tiba-tiba aku terbangun dan merasa haus.

Untuk mengambil air, aku melewati jendela dapur yang tak bertirai. Seperti ada magnet, kepalaku kutolehkan ke jendela yang menghadap ke belakang rumahku. Padahal, biasanya aku langsung ke meja makan untuk mengambil gelas. Tapi kali ini….

Dan saat itulah aku melihat sosok itu. Sosok bergaun putih panjang yang melambai-lambai. ‘Huhuhuhuhuhu….’ Suara itu… Antara suara angin atau suara sosok itu. Ditambah kilat yang tiba-tiba menyambar disusul dengan bunyi geledek. Blarr!! Sosok itu kembali melambai-lambai….

HANTUUU!!! 

Detik berikutnya lewatlah anjingku di depan jendela dapurku yang ukurannya besar itu. 

Tunggu dulu! Si Doggy nggak menggonggong. Itu artinya….

BUKAN HANTU TAPI JEMURAN!!

Ya, itu baju ibuku yang belum kering. Bajunya kebetulan warnanya putih dan digantung di plafon teras belakang. Angin membuatnya seolah melambai-lambai. Suasana gelap, membuatnya nampak seperti hantu. 

Huft… Efek kebanyakan nonton, Pemirsah! 😅

 

Prompt #138 – Mami dan Seribu Tangan

Tanggal 21 April yang lalu adalah Hari Kartini, pahlawan emansipasi wanita Indonesia. Hampir semua orang di media sosial membagikan cerita tentang pahlawan yang hebat itu. Mereka rata-rata mengatakan bahwa wanita adalah sosok yang hebat. Wanita modern bisa melakukan apa saja tanpa melupakan kodratnya. 

Aku jadi ingat Mamiku. Mami selalu bangun pagi untuk memasak dan mencuci. Jika anaknya ada yang sakit, Mami selalu siap menemani. Begitupun jika suaminya membutuhkan bantuan. Mami selalu siap sedia. Tak peduli saat itu beliau sedang mengerjakan apa, jika keluarganya membutuhkannya, ia selalu berusaha untuk ada.

“Mami, lihat kaos kakiku nggak ya?” tanya Papi sambil membuka lemari saat Mami sedang memotong sayuran di suatu pagi.

Mami bergegas ke kamar sambil membawa pisau. Lalu beliau menunjuk ke satu arah, “Itu kaos kakinya, Pi. Terselip di bawah sapu tangan.”

“Oh, iya ya. Papi nggak kelihatan,” kata Papi, tersipu malu karena kaos kaki di depan matanya tak nampak olehnya.

“Mami, nanti sore tolong belikan Adek buah apel, ya. Besok apelnya mau dibawa ke sekolah untuk praktek Biologi,” pinta adikku di lain waktu.

Apapun permintaan anggota keluarganya, Mami selalu berusaha memenuhinya. Tak ada pekerjaan yang tak dapat diselesaikannya. Semuanya selesai tepat waktu.

Hari ini Mami sakit. Walaupun Mami masih mau mengerjakan pekerjaan rumah tangga, aku memaksanya beristirahat dan mengambil alih semua tugasnya mulai dari mencuci, memasak, beres-beres rumah, sampai mengurus dua adikku yang masih kecil, ditambah mengurus peliharaan kami, si Doggy. Tapi… Semuanya berantakan. Aku jadi sedih.

“Mami, kenapa aku nggak bisa seperti Mami? Mami selalu bisa mengerjakan semuanya dengan baik…,” rintihku saat masuk ke kamar Mami untuk memberikan obat pada beliau.

Mami yang sedang tidur pun terbangun karena suara berisik yang kutimbulkan saat membuka pintu kamarnya.

“Kenapa murung begitu, Kak?” tanya Mami.

“Kakak sedih karena nggak bisa seperti Mami yang serba bisa. Kakak juga pengen seperti Mami yang bisa mengerjakan semua hal dan selesai tepat waktu,” jawabku.

“Kakak… Mau Mami beri tahu apa rahasianya Mami bisa mengerjakan semuanya sendirian?”

Aku mengangguk-angguk. Lalu Mami bangkit dari tempat tidurnya. Ia menutup tirai kamar dan merapalkan sebuah mantra yang aneh. Tiba-tiba… Wush! Muncullah seribu tangan dari sekujur badan beliau. Aku terkejut melihat penampakan Mami. 

“Kak… Mami adalah Peri Bertangan Seribu, lho! Nanti Mami akan turunkan ilmu Mami pada kakak asalkan kakak rajin belajar. Janji ya?” tanya Mami sambil mendekatiku.

“Iya Mi. Kakak janji akan rajin belajar. Janji….,” jawabku. Perasaanku bercampur-aduk antara ngeri dan takjub. 

Kakak janji… Janji… Janji….

….

“Kak, bangun! Ayo bangun!” seru adikku membangunkanku.

“Ooh? Bangun? Ada apa?” kataku sambil mengucek mataku. 

“Kakak mengigau! Janji, janji… Apaan, tuh? Janji-janji palsu?” ledek adikku. “Ayo cepat ganti baju, kita mau pergi mengantar Mami ke dokter. Jangan tidur lagi, ya! Mimpi apa sih sampai mengigau begitu…,” omel adikku.

Sumber gambar: http://www.mondayflashfiction.com

Jika Aku Menjadi Pasien, Perawat, dan Dokter

Jika kamu tidak pernah merasakannya, kamu tidak akan pernah tahu bagaimana rasanya menjadi ….

Orang-orang mungkin akan dengan mudahnya mengatakan, “Ah, cuma segitu aja! Kok kamu begitu…. Kok Kamu begini….?” tentang sesuatu hal yang kita alami. Walaupun mungkin mereka pernah mengalami suatu kejadian yang kita rasakan, tetapi mereka tidak pernah tahu bagaimana rasanya di kita. Karena kita dan mereka berbeda. Kejadian yang sama yang menimpa kita dan mereka, efeknya belum tentu sama. Misalnya jika ada kejadian jatuh. Ketika kita jatuh mungkin kita akan merasa sakit yang luar biasa karena ketahanan tubuh kita lemah. Saat orang lain yang jatuh belum tentu mereka merasakan sakit yang sama, bisa jadi mereka menganggapnya biasa karena mereka kuat.

image source: dramabeans

Jika kamu tidak pernah merasakannya, kamu tidak akan pernah tahu bagaimana rasanya menjadi:

1. Pasien

Saat aku menjadi pasien, aku ingin orang mengerti aku lagi sakit. Aku ingin ada yang memberikan perhatian, setidaknya bertanya “Kamu kenapa?” Mereka nggak perlu memberikan atau membelikan obat, kalau ada yang bertanya rasanya senang sekali.

Tapi beda orang beda cara. Ada seorang pasien, ia merintih kesakitan. Subuh-subuh minta diantar ke rumah sakit. Katanya sakit perut dan pinggangnya. Dia bilang ingin USG atau scan apalah, takut sakit ginjal katanya. Walaupun dokter sudah meyakinkannya bahwa itu cuma sakit perut biasa dan lambungnya lecet, ia mati-matian minta di-USG.

Ya, iyalah, tingkat kekhawatiran tiap orang berbeda-beda, kan?

2. Perawat

Saat seorang teman menjadi perawat dadakan untuk anggota keluarganya yang sakit, ia pernah mengeluh pengen jalan-jalan sebentar karena suntuk berjaga di rumah sakit. Ada juga teman lain yang mengomel karena ‘pasien’ yang dirawatnya bandel nge-dokter sendiri, makan obat tidak sesuai aturan karena si ‘pasien’ ingin cepat sembuh. Dan ada pula teman yang mengeluh karena ‘pasien’nya memakan makanan yang seharusnya pantang dimakan.

Waktu aku jadi perawat KW alias dadakan? Aku panik nggak tahu mau ngapain. Sempat bengong beberapa saat, bolak-balik pencet hape tapi nggak nelpon siapa-siapa. Masak air panas pun mesti disuruh oleh pasien gara-gara nge-blank! Dan setelah beberapa saat barulah bisa nanyain keadaan pasien, suruh istirahat, melarang ini-itu, nelpon teman yang jadi dokter, googling tentang penyakit, dan siapin obat-obatan.

Nggak kebayang gimana kalo jadi perawat beneran! Salut buat para suster atau perawat rumah sakit! Kalian te-o-pe be-ge-te!!

3. Dokter

Pasien datang menemui dokter. Ia memberitahukan semua keluhannya. “Aku sakit pinggang. Perutku sakit. Aku juga muntah-muntah.”

Dokter pun menanyakan apa yang dimakan si pasien, lalu apa pekerjaan si pasien, bagaimana sakitnya, bagaimana muntahnya, bagaimana warna air seninya, dan lain-lain. Setelah itu dokter memeriksa pasien dengan stetoskop dan memberi tahu hasil diagnosanya. Namun si pasien mengeluh karena cuma diberi obat NNN, OOO, dan PPP. Ia ingin tes ini-itu dan mendapat rujukan ke dokter spesialis. Ia juga mengatakan tentang bahan makanan yang dimakannya karena menurut orang lain itu adalah obat. Lalu dokter menjelaskan lagi tentang sakit si pasien dan tentang bahan makanan yang dianggapnya obat dengan sabar. Si pasien malah jadi nggak sabaran.

Kalau aku yang jadi dokter…. mungkin aku akan… suruh si pasien Googling dulu tentang penyakit dan bahan-bahan makanan yang dianggapnya sebagai obat tapi itu sebenarnya tidak cocok dengan dirinya. Dan kalau si pasien tetap ngotot…. Ampunnn deh, pengen nggak ketemu lagi sama pasien kayak gitu. Geregetan pastinya. Hmmmm…..

Pliss, nggak semua bahan makanan yang kata orang bisa jadi obat tuh cocok sama tubuh kita.

Mungkin kamu cocok makan nanas supaya pencernaan bagus. Mungkin juga kamu oke-oke saja minum infused water dari lemon. Tapi yang sakit maag, kan, nggak bisa menjadikan dua hal itu sebagai obat.

Yang jadi dokter dan selalu siap siaga juga sabar menghadapi pasien…. kalian hebat!!

* * *

Begitulah cerita hari ini. Kalau kalian, pernah mengalami hal di atas?

Berbisik pada Langit

Hai, apa kabarmu hari ini? Kuharap kamu sehat dan berbahagia. Kuharap pekerjaanmu aman-aman dan lancar. Dan kuharap semuanya baik-baik saja.

Sudah beberapa hari ini aku melihatmu. Senang rasanya bisa berjumpa denganmu. Dan tentu saja aku akan merasa sangat bahagia jika saat kuharap bisa melihatmu lalu kau benar-benar muncul di hadapanku. Rasanya pasti bakal nyeesss… Kayak es yang meleleh.

Hari ini… juga hari-hari sebelumnya, teman-temanku selalu berdandan saat mereka mau pulang. Sebelum meninggalkan tempat kerja, mereka menyempatkan diri memakai bedak dan gincu. Aku? Meremehkannya. Dan alasan klasikku: nggak sempat. Terlalu banyak pekerjaan. Padahal aku malas.

Karena beberapa hari terakhir ini aku selalu berpapasan denganmu, aku merasa minder karena aku tak berdandan. Mukaku pasti lecek dan terlihat kumal. Sungguh aku menyesal tidak ikut-ikut berdandan. Padahal bedak dan gincu selalu tersimpan di tasku.

Aku jadi ingat sebuah kata bijak: “Berdandanlah seolah-olah kau akan bertemu dengan seseorang. Siapa tahu dengan berdandan kau akan bertemu dengan seseorang.”
Dari pengalamanku beberapa hari ini, kata bijak itu benar. Ugh! Nyesek bingitz! Huhu…

Aaaah… seandainya aku berdandan dulu, pasti aku terlihat lebih rapi dan enak dipandang. Kinclong cling gitulah… Besok-besok, entah itu akan bertemu denganmu atau tidak, aku akan menggunakan bedak dan gincuku. Catat! Don’t forget jangan lupa!

Well… Kamu mungkin nggak peduli akan bedak dan gincu atau semua yang kupakai dan kubawa. Tapi, aku tetap bertekad berpenampilan baik. Yaah… kuharap kau menyukainya. Ehm!

Hari ini aku bertemu denganmu. Kamu tersenyum dan menyapaku. Rasanya aku ingin mengatakan:

“Hai, kita ketemu lagi ya? Bagaimana pekerjaanmu? Kuharap lancar. Kamu lagi sibuk apa? Sore ini ada kerjaan nggak? Bagaimana kalau kita pergi nonton atau nongkrong di cafe?”

Atau sesekali aku juga ingin membuat lelucon seperti ini:

“Hai, kamu ada kerjaan nggak sore ini? Yuk kita nonton!”

Lalu kamu akan bertanya: “Nonton apa? Fast and Furious? Danur? Kartini? The Boss Baby?”

Aku akan menjawab:

“Bukan itu. Ayo nonton montir bengkel benerin motorku. Soalnya aku mau pergi service motor. Kamu temani aku, ya?”

Tapi… aku cuma sanggup bilang, “Hai! Ehm… Duluan ya!”

Dan aku cuma bisa menatap langit dan berbisik padanya:

“Langit, kamu cakep banget saat ini, secakep dia yang kukagumi. Tolong dong sampaikan salamku padanya. Plisss!”


[Review Buku] Golden

Hai semua, jumpa lagi dengan saya di sesi Review Buku. Kali ini buku yang akan saya review berjudul Golden. Pertama kali saya lihat buku ini di Twitter dan IG. Beberapa teman gencar banget membagikan foto buku ini dengan berbagai gaya. Bikin penasaran banget, tuh! Makanya saya cari bukunya di toko buku. Trus baca teasernya:

Parker Frost belum pernah mengambil risiko. Dia akan lulus dari SMA sebelum sempat mencium cowok yang dia sukai. Jadi, saat nasib menjatuhkan buku catatan Julianna Farnetti ke pangkuannya – buku catatan yang mungkin bisa membongkar misteri kota tempat tinggalnya- Parker memutuskan untuk mengambil kesempatan itu.

Julianna Farnetti dan Shane Cruz dikenang sebagai pasangan ideal di SMA Summit Lakes, sempurna dalam segala hal. Mereka meninggal dalam kecelakaan di malam bersalju, meninggalkan hanya sebuah kalung, dan tanpa jenazah. Tidak ada yang tahu apa yang sebenarnya terjadi malam itu.

Hanya saja, tidak semua kebenaran ingin ditemukan….

Wow banget, kan? Setelah baca teasernya, makin penasaran sama isinya. Deg-degan banget sama misteri hilangnya Julianna Farnetti, dan menebak-nebak apa yang sebenarnya terjadi dengan sang Ratu tersebut. Buku ini mesti dibeli banget dan…. Kebetulan ada program diskon 10% + 6% di Gramed. Yeayyy!! Harga aslinya Rp 87.000. Setelah didiskon jadinya Rp 73.602. Lumayan bingits atuh….

Buku beralur maju-mundur ini sangat membuat penasaran. Ceritanya tentang Parker, siswi SMA tingkat akhir yang otaknya lumayan pintar. Hidupnya datar-datar saja. Jadi, sahabatnya, Kat, menyuruhnya melakukan sesuatu yang lain dari biasanya sebelum kelulusan mereka. Tentu saja Parker yang ‘anak baik’ menolak. Awalnya…. Lalu, saat ia mengerjakan tugas menempel alamat di buku harian siswa-siswa lama dari gurunya, Mr. Kinney, Parker mendapati buku harian Julianna Farnetti. Yang ia ketahui saat itu adalah Julianna telah meninggal. Ia merasa bingung mau diapakan buku tersebut. Tapi… Ia juga penasaran dengan apa yang ditulis Julianna dalam bukunya. Lalu Parker teringat kata-kata sahabatnya: “Carpe Diem!” yang berarti manfaatkan waktumu hari ini, lakukan hari ini karena kita tidak tahu hari esok. Akhirnya ia membawa buku itu pulang dan mulai membacanya.

Halaman demi halaman dibacanya. Sedikit demi sedikit, Parker mengetahui rahasia hidup Julianna. Karena membaca buku harian itu, Parker ingin sekali mengunjungi tempat-tempat yang pernah didatangi Julianna. Ia pun dibantu Kat dan cowok yang disukainya, Trevor, yang diajak dengan sengaja oleh Kat agar Parker bisa dekat dengan cowok itu.

Masa-masa di mana Parker ingin ‘menemukan’ Julianna adalah masa-masa di mana ia juga harus membuat pidato penerimaan beasiswa. Ibu Parker yang keras dan over-protective menginginkan Parker membuat pidato sebagus mungkin agar Parker bisa mendapatkan beasiswa kedokteran di Stanford. Parker pun harus menghadapi ketatnya jadwal yang diberikan ibunya ditambah ia ingin ‘membuktikan’ hal-hal dari rasa penasarannya akan misteri hilangnya Julianna Farnetti dan pacarnya Shane Cruz. Dalam pencariannya, seseorang dari cafe yang biasa dikunjungi Parker dan Kat rupanya membuatnya penasaran juga. Cowok yang aneh dari cafe itu nampak menyimpan sebuah rahasia. Nah, lho!

Nggak butuh waktu lama untuk baca buku ini saking serunya, cukup 3 hari! Ini benar-benar rekor dalam dunia persilatan, Sodara-sodara! Aselik bikin nggak pengen ngelepasin buku ini dari tangan begitu baca dari halaman pertama. Walaupun ceritanya tentang tokoh yang berusia SMA, saya pikir pembaca dari segala umur bakal suka sama buku ini. Penulisnya hebat banget bikin ceritanya. “Daebakk, Ms Kirby! Buku ini keren banget!!”

Saya juga suka kata-kata yang ada di buku ini: Beberapa di antaranya sebagai berikut:

Hidup terdiri atas banyak momen, dan pilihan. Tidak semuanya penting, atau memiliki dampak yang kekal. Tapi ada jenis momen yang berbeda. Momen yang membuat segalanya berubah karena pilihan yang kita ambil. Terkadang dunia kita bergantung kepada pilihan-pilihan yang kita ambil….. (halaman 5-6)

Seringkali seseorang bertemu takdirnya di jalan yang ia lalui untuk menghindarinya. ~Petuah Kue Keberuntungan (halaman 96)

Seandainya tiada arah di dalam dirimu, Tiada jalan selain berjalan lurus. ~Untuk Seorang Pemikir, 1936 (halaman 263)

Dalam tiga kata, aku bisa menyimpulkan semua yang telah kupelajari tentang hidup: Hidup terus berjalan. ~Robert Frost (halaman 305)

Sooo.…. Untuk buku yang endingnya oke banget ini, saya beri rating 4,8 dari skala 5. Iyesss…. buku ini wajib kamu baca, terutama buat kamu yang suka genre misteri!

Info buku:
Judul Buku: Golden
Pengarang: Jessi Kirby
Penerjemah: Wisnu Wardhana
Penerbit: Penerbit Spring
Tahun Terbit: 2017
Jumlah halaman: 308
ISBN: 978-602-74322-7-7