Segelas Es Leci (2)

Kakakku menegurku saat melihat wajahku yang ditekuk-tekuk tak karuan. “Ada masalah apa, Dik?”

“Nggak ada, Kak?” jawabku.

“Masa sih? Tapi wajahmu itu kok muram banget? Kayak orang nggak ada semangat hidup!”

Sepertinya aku tak dapat menyembunyikan rasa kecewaku. Semuanya terpampang jelas di raut wajahku. Akhirnya aku menceritakan semuanya pada kakak.

“Begitu saja kok mundur? Pesanmu itu kan dibalas. Ayo usaha lagi. Jenguk dia! Bawakan apa, kek!”

“Begitu ya, Kak? Kalau ditolak lagi gimana?”

“Ya sudah kalau ditolak lagi. Terserah kamu masih mau lanjut atau berhenti.”

Akhirnya kuturuti nasehat kakakku. Aku pergi membeli roti. Kuharap kamu suka roti yang kubelikan. Tapi aku tak tahu di mana rumahmu. Aku menimbang-nimbang untuk bertanya pada teman-teman kantormu atau bertanya langsung. Lalu kuputuskan untuk bertanya pada teman kantormu.

Walaupun banyak yang meledekku, aku biarkan saja. Biarlah mereka tahu aku sedang mengejarmu. Toh aku nggak bertujuan mencuri. Oke, kalau mencuri hati, itu benar. Aku ingin mencuri hatimu untuk kusimpan dan kujaga agar tak seorangpun menyakitinya.

Sore hari aku tiba di depan rumahmu. Hujan turun begitu deras. Untunglah roti yang kubawa tidak terkena air karena sudah kubungkus dengan berlapis-lapis kantong plastik. Baju dan celanaku saja yang basah. Tapi tak apa-apa. Yang penting aku bisa melihat wajahmu.

Seorang ibu membukakan pintu untukku. Ia menanyakan maksud kedatanganku. Setelah kujelaskan, ia mempersilakan aku masuk. Rupanya ia tantemu.

“Hai, kenapa repot-repot datang ke mari? Aku jadi nggak enak, nih!” katamu saat menyambut kedatanganku.

“Nggak apa-apa. Aku kebetulan mau ke daerah sini. Sekalian mampir,” kataku. Bohong sedikit nggak apa-apa kan? Gengsi dong kalau bilang sengaja mampir buat menjenguk.

“Oh, ya, ini ada roti untukmu. Bagaimana kabarmu? Sudah sehat?” lanjutku. Kulihat wajahmu masih pucat.

“Sudah lumayan sehat. Terima kasih ya. Ada-ada saja kamu ini, kok beliin aku roti.”

“Memang kenapa? Kamu nggak suka roti?” tanyaku.

“Errr .. Sebenarnya iya. Tapi… Nggak apa-apa deh. Aku terima pemberianmu. Terima kasih ya.”

“Maaf aku nggak tahu kamu nggak suka roti.”

Rasanya malu sekali memberikan sesuatu yang tidak disuka olehmu. Duh!

“Sudahlah. Nggak apa-apa, kok. Aku senang kamu datang menjengukku.

Mendengar kata-katamu barusan, aku merasa melayang. Aku ingin terbang. 

Aku dan kamu mengobrol beberapa menit. Setelah itu aku pulang.

* * *

Cafe seberang kantormu.

Kembali kupesan segelas es leci. Aku butuh sesuatu yang manis untuk meredakan debaran jantungku yang begitu kencang. Aku sangat senang hari ini karena dapat bertemu denganmu, pujaan hatiku. Aku memang tak tahu nantinya aku bakal jadian atau nggak denganmu. Tak akan kupermasalahkan. Yang penting aku sudah memberikan perhatian padamu. Melihatmu tersenyum manis oleh leluconku sudah membuatku bahagia. Urusan selanjutnya… Nanti kupikirkan lagi.

Segelas es leci yang manis
Semanis senyum yang menghias wajahmu
Izinkan aku mengisi harimu dengan canda-tawa
Dan tak kan kubiarkan harimu diisi dengan tangis
Wahai engkau pemilik senyum manis
Semoga kau berbahagia selalu

* * *


Baca Segelas Es Leci bagian 1 di sini.

Advertisements

7 thoughts on “Segelas Es Leci (2)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s