Jatuh Cinta Diam-diam, Berharap Kau Memiliki Rasa yang Sama

Now playing: Secret Admirer by Mocca

Lagu Mocca yang berjudul Secret Admirer ini pas banget sama buku berjudul Jatuh Cinta Diam-diam #2 karya Dwitasari and friends. Jatuh cinta diam-diam, menjadi pengagum rahasia, segala hal tentangnya sampai terbawa ke dalam mimpi, hingga berharap si dia memiliki perasaan yang sama. Uuuhhh…. sungguh berjuta rasanya!

Sukses dengan buku pertamanya, Dwitasari and friends pun membuat sekuel buku Jatuh Cinta Diam-diam yang ber-Tagline: Manis pahitnya memendam rasa. Saya sudah punya buku yang pertama. Bukunya oke banget. Makanya saya beli sekuelnya. Soalnya penasaran banget sama apa yang diceritakan oleh buku ini. Coba deh perhatiin teasernya:

Tak semua perasaan itu harus diungkapkan. Ada kalanya dia disimpan di hati. Diresapi sendiri.
Cukup bahagia hanya dengan melihat sosoknya. Senyum terkembang saat melihat tawanya. Lutut melemas saat dia menyapa.
Tak semua rasa cinta itu harus diumbar ke dunia. Ada kalanya dia dipupuk dengan sabar. Dinikmati saat mekar.
Namun, bagaimana jika yang membuatmu lemas adalah saat dia tertawa bahagia karena orang lain, bukan karena dirimu? Saat rona merah pipinya bukan untukmu? Saat detak jantungnya yang berkejaran bukan karena berdekatan denganmu? Saat sosoknya tidak ada lagi untuk memuaskan matamu?
Saat itu tiba, mungkin waktunya kamu menyesal karena terlalu asyik menikmati cinta dalam diam.

Ada 10 cerpen di buku bersampul biru ini. Walaupun bertema sama, namun cerita-ceritanya dikemas dengan apik dan manis. Yuk langsung cek judul-judul yang ada di buku ini:
1. Angsana oleh Ikhsan
2. Sebatas Cukup oleh Sitta Nurazizah
3. Kopi oleh Ikhsan
4. Fuurin oleh Refa Annisa
5. Senja di Ujung Jalan oleh Rahardian Shandy
6. Bukan Hanya Tempatku Bercerita oleh Eni Ristiani
7. Kotak Kecil oleh Vidya Vivi
8. Teman Terbaik oleh Adysha Citra Ramadani
9. Drama oleh Sofy Nito Amalia
10. Menemukanmu di Udara oleh Dwitasari

Setiap tokoh utama dalam masing-masing cerpen di atas berkarakter unik, namun agak mirip. Sesuai judulnya, tokohnya sama-sama menyimpan rasa suka yang tak diungkapkan. Ada yang takut mengungkapkan, ada yang memang sengaja nggak pengen si dia tahu, ada yang telat menyatakan, … Pokok’e semua dirahasiakan. Bikin geregetan aja, kenapa nggak dikatakan sih kalau kamu suka sama si dia? *Tapi kalau diungkapkan nanti judul bukunya bukan JCDD lagi dong!* Terus, ceritanya ada yang lucu, sedih, nge-gemesin, juga bikin senyum-senyum sendiri. *ini pas keinget sama pengalaman yang zaman kapan ituuuu…* Saya jadi pengen bilang sama penulisnya, “Kok ceritanya aku banget, deh? Ini asli cerpen, kan? Bukan pengalaman pribadi, kan?? Kan…? Kan…?”

Okeh, lanjut… Dari 10 cerpen, yang pengennya saya semua berakhir dengan jadian tetapi ternyata nggak semuanya berakhir begitu, favorit saya adalah cerpen berjudul Angsana, Sebatas Cukup, dan Drama.

Angsana bercerita tentang Pranaja yang jatuh cinta diam-diam pada Angsana, sahabatnya. Sebelum ia sempat menyatakan perasaannya, Angsana dijodohkan oleh orangtuanya dengan seorang pria kaya. Tapi cerita tak selesai sampai di situ. Ada beberapa masalah yang harus mereka hadapi. Masalahnya…. ada deh, no spoiler! Pastinya, saya suka kalimatnya tokoh Pranaja di cerpen beralur maju-mundur yang bunyinya begini: “Namaku Pranaja. Rasional adalah caraku mencintai wanita di hadapanku, meski tak pernah aku memberi tahu.

Cerpen Sebatas Cukup adalah kisah tentang seorang mahasiswa perempuan yang terpesona dengan mahasiswa magang bernama Fito. Namun ia hanya bisa mengaguminya dari jauh dengan cara melihat akun media sosialnya si Fito itu. Tokoh aku di cerpen ini ceritanya semacam stalker gitulah, ia nggak pernah absen memantau kegiatan gebetannya dari medsos dan dari sahabatnya, Kiran yang juga magang di perusahaan yang sama. Namun, suatu ketika masa magang sang gebetan berakhir. Sahabatnya berusaha keras membujuk supaya si tokoh aku ini bisa berkenalan dengan Fito. Tapi saran baik itu ditolak. Walaupun sudah nggak sekantor lagi dengan si gebetan, tokoh aku tetap saja setia menjadi pengamat kegiatan gebetannya.

Nah, kalau cerpen Drama mengisahkan tentang Manda, siswa SMA yang diam-diam suka dengan Farhan, siswa klub drama yang keren. Manda sendiri adalah siswa klub jurnalistik yang suka membuat puisi dan tulisan-tulisan. Suatu ketika Manda melihat seorang perempuan menangis di pundak Farhan. Seketika ia terbakar api cemburu. Manda menyesali keakrabannya dengan Farhan selama ini. Ia berharap Farhan memiliki rasa yang sama dengannya. Tapi apa yang dilihatnya di sore hari itu sungguh menyakitkan! Manda pun membuat sebuah puisi tentang perasaannya dan ditempelkannya ke mading sekolah. Ia sudah tak peduli lagi dengan Farhan dan tak ingin lagi melihat akting sahabatnya yang tengil itu. Puisinya Manda itu keren banget! Tapi nggak akan saya post di sini biar kalian penasaran. Hohoho!

Selain cerita-ceritanya yang keren, quotes yang ada di buku ini juga bakal sukses bikin kamu baper habis-habisan. Simak nih beberapa quotes pilihan saya:

1. Asalkan kami dalam satu dimensi ruang dan waktu, aku mensyukuri semua itu. Tanpa banyak bersungut-sungut. ~Pranaja dalam cerpen Angsana (hlm. 4)

2. Biarlah aku mencintainya dengan caraku sendiri, yang membiarkan dia hidup dalam ruang-ruang yang tidak pernah orang lain ketahui…. Aku tak mengharuskan dia tahu, bahkan mengharuskan ia untuk membalasnya. Untuk saat ini, cukuplah perasaan ini, bahagia dengan caraku yang teramat sederhana. ~cerpen Sebatas Cukup (hlm. 19)

3. Seredup apa pun harapan, ia tetaplah harapan. Aku ingin menggapai harapan itu, sebelum akhirnya ia redup, bahkan menjadi harapan manusia lain. ~cerpen Sebatas Cukup (hlm. 23)

4. Aku tak ingin memaksa Tuhan untuk menentukan ending-nya seperti yang aku inginkan. Biar saja, Tuhan tahu apa yang terbaik untuk setiap umat-Nya, begitu pun untukku. ~cerpen Sebatas Cukup (hlm. 27)

5. Dalam hitungan waktu, ketidakpastian sebenarnya memandu kita ke sebuah jalan, dan kamu tidak perlu tahu apa jalan itu, tugasmu hanya harus berjalan melaluinya untuk mendapatkan jalan keluar. ~Ree dalam cerpen Kopi (hlm. 36)

6. Cinta memang tak selalu bisa diucapkan, tapi cinta selalu bisa ditunjukkan. Cinta memang tak selalu bisa dimiliki, tapi cinta selalu bisa diperjuangkan. ~Kem dalam cerpen Senja di Ujung Jalan (hlm. 75)

7. Telah kubangun duniaku di sisimu, dan aku ingin kau percaya bahwa aku membutuhkanmu seperti tak membutuhkan yang lainnya. ~cerpen Bukan Hanya Tempatku Bercerita (hlm. 77)

8. Kesalahanku adalah mencintainya. Dan, kenyataannya semakin salah karena aku menyimpannya dalam diam. ~Manda dalam cerpen Drama (hlm. 140)

9. Cinta dalam diam saja indah. Apalagi cinta yang diungkapkan, bukankah begitu? ~Manda dalam cerpen Drama (hlm. 136)

Keren banget kan quotes-nya? Ya… buku ini ngajarin kita untuk nggak memendam rasa terlalu lama. Kalau suka ya ngomong aja. Walaupun secara teori itu mudah banget dan saya tahu untuk mengungkapkan rasa suka tuh butuh usaha dan nggak segampang membalikkan piring dari atas meja, tapi… apa salahnya dicoba? Ditolak ya udah. Sakit memang. Sedih pasti. Namun kalau diterima, kan pasti hepi. Yang perlu diingat adalah kata sok bijak karangan saya ini:

Jatuh cinta diam-diam tuh tak selamanya berakhir dengan bertepuk sebelah tangan.

Oke sip! Dan…. karena itulah saya kasih rating 4 dari skala 5 untuk buku yang sangat menghibur ini.

 

Info Buku:
Judul: Jatuh Cinta Diam-diam #2
Pengarang: Dwitasari & friends
Penerbit: Bentang Belia (PT Bentang Pustaka)
Tahun Terbit: 2017
Jumlah halaman: 174 halaman
ISBN: 978-602-1383-44-5

Advertisements

#FFKamis – Perdebatan Angela dan Devila

 

“Ayo, kamu bujuk dia makan atau istirahat!” bisik Devila pada Angela.

“Nggak, ah! Bukannya kamu yang seharusnya merayu dia?” balas Angela dengan berbisik juga.

“Sekali-sekali kamu yang membisikinya sesuatu, kan, nggak apa-apa? Lagian ini buat dia juga!” paksa Devila.

“Nggak! Itu kan tugasmu!” tolak Angela.

“Bisikan ini bukan hal yang jahat, lho! Kamu itu kan malaikat, seharusnya setuju dengan perbuatan baik yang kukatakan!” cecar Devila.

Angela diam. Devila menunggu. Suasana di ruangan tempat mereka berada hening. Cukup lama. Tiba-tiba terdengar suara erangan. Tak lama kemudian satu-satunya manusia yang ada di situ jatuh terkapar karena kelelahan bekerja tiga hari tanpa istirahat.

sumber gambar: http://orig03.deviantart.net

Maraknya Penculikan Anak, Trus Harus Bagaimana?

Akhir-akhir ini di kantor heboh banget dengan cerita penculikan anak. Mama si ini, Mama si itu, Mama si anu, pokoknya hampir semua Mama-mama yang nungguin anaknya sekolah ceritanya nggak jauh-jauh dari penculikan anak. Beberapa ortu mulai sadar pentingnya memberitahu pihak sekolah saat mereka telat menjemput atau saat menyuruh orang lain yang menjemput.

Cerita-cerita itu sendiri entah benar terjadi atau nggak, saya nggak ngerti. Mereka juga dapatnya dari orang lain. Mereka bilang ada anak SD AAA mau diculik tapi untungnya anaknya cerdik. Si anak menggigit tangan penculik. Trus dia selamat. Ada juga cerita tentang anak yang diculik saat bermain bersama teman-temannya di area dekat rumah. Tapi akhirnya anak tersebut ditemukan warga. Yang lebih seram lagi adalah cerita tentang anak yang diambil organ tubuhnya.

Saya nggak percaya 100% tentang cerita anak yang diculik trus diambil organ tubuhnya untuk dijual. Setahu saya, nggak sembarang orang bisa membedah dan mengambil organ tubuh untuk digunakan sebagai organ transplantasi. Kalau bukan dokter bedah, nggak mungkin bisa dengan mudahnya mengambil organ manusia. Salah potong saja, organ tersebut nggak bakal bisa digunakan. Dokter bedah pun harus ada asistennya dan beberapa perawat untuk membantunya melakukan operasi. Lalu, untuk membawa organ tersebut ke pembeli, diperlukan wadah khusus dengan temperatur yang khusus juga. Nggak bisa sembarangan terantuk benda, lalu juga harus memperkirakan tahan berapa lama untuk sampai ke pembeli.

Saya ada teman yang sakit ginjal. Teman ini mencari donor ginjal ke mana-mana. Itu nggak mudah. Harus cocok darahnya dan apa-apalah gitu yang saya nggak ngerti. Setelah mencocokkan dengan beberapa orang, akhirnya si teman ini malah mendapat donor ginjal dari ayahnya sendiri. Karena dari beberapa pendonor itu nggak ada satupun yang cocok dengan tubuhnya. Setelah ngetes darah dll dari ayahnya, eh ternyata cocok.

Nah, jadi kalau ada berita tentang penculik anak yang mengambil organ untuk dijual, saya mikir lagi, itu beneran nggak sih? Masa dokter tega ngambilin organ orang hidup? Jangan-jangan berita hoax aja tuh! 

Tapi… Nggak ada salahnya untuk waspada kan? Caranya….

1. Jangan biarkan anak kecil bermain terlalu jauh di luar rumah tanpa pengawasan. Kalau nggak bisa mengawasi, setidaknya ortu harus tau anaknya main di mana dan dengan siapa saja.

2. Anak harus diajarkan menolak pemberian apapun dari orang tak dikenal. Ini berlaku juga untuk orang dewasa. Takutnya ada pelaku penghipnotis yang mau menguras hartamu. Memang sih nggak semua orang jahat, ada yang memang benar-benar baik menawarkan permen atau makanan. Tapi untuk berjaga-jaga lebih baik tolak saja daripada kenapa-kenapa.

3. Ajari anak untuk tidak tergiur bujuk-rayu dan kata-kata manis orang tak dikenal. Namanya juga orang jahat, segala cara digunakan. Teman saya cerita adiknya pernah ditawarin mau diajak audisi model karena adiknya itu cantik. Untunglah ditolak. Temannya si adik ada yang terbujuk lalu dibawa oleh orang jahat itu. Mau dijual katanya. Untungnya dia bisa melarikan diri saat mobil pelaku berhenti di resto. Serem banget, kan, kalau sampai diculik trus dijual! 

4. Kalau menyuruh orang lain untuk menjemput anak atau telat menjemput ya kasih tau ke pihak sekolah. Beri informasi nama si penjemput dan apa hubungannya dengan ortu. Anak juga harus diajarkan untuk tidak mengikuti siapapun yang mengaku menjemputnya kalau orang itu nggak dikenal. Beri tau anak juga jika tidak bisa menjemput, siapa yang akan menjemput, atau telat jemputnya berapa lama. Juga, jangan sembarang menyuruh orang menjemput anak. Kalau bukan orang yang benar-benar bisa dipercaya, lebih baik jangan menyuruh menjemput.

5. Ajari anak untuk menghindari tempat yang sepi. Berlaku juga untuk kita yang dewasa. Soalnya nenek bilang tempat sepi itu berbahaya! Kalau ada yang jahat, mau teriak nggak bakal ada yang tolong. Orang bisa dengan mudah melakukan kejahatan di tempat sepi. Yang nodonglah, yang perkosa, yang nipu, hipnotis, bahkan membunuh!!

6. Bekali anak dengan identitas seperti nomor hp ortu, kalau perlu suruh anak menghapal nomor hp ortunya. Biar kalau ada apa-apa dia tau harus menghubungi ke mana. Kita yang dewasa juga wajib hapal beberapa nomor hp yang bisa dihubungi jika terjadi sesuatu.

7. Kalau bawa anak jalan ke mal atau ke mana aja, jangan sampai lengah, tetap awasi anak. Jangan keenakan main hp atau ngobrol trus anaknya lari ke mana-mana. Kalau anak mau ke toilet sebaiknya ada yang menemani.

Waspadai penculikan anak

Ada yang mau menambahkan tips mewaspadai penculikan anak? Yuuuk, isi kolom komentar. 

 

#FFKamis – Hacker

Kriiiing! Ponselku berdering. Tertera nama sahabatku di layarnya.

“Ya, Bro, ada apa?” kataku.

“Hoi Sobat! Apa kabarmu? Sehat? Kerjaan lancar?”

“Tentu saja, Bro! Aku sehat. Semua lancar! Kenapa memangnya?”

“Kupikir kau lagi stress karena kulihat status di akun medsosmu aneh sekali!”

“Aneh? Aku nggak menulis apapun di sana.”

“Yang benar, Bro? Wah, kalau begitu akunmu disadap orang! Cepatlah ganti kata sandimu!”

Setelah mengakhiri pembicaraan, aku bergegas ke kamarku. ‘Yang menyadap akunku pasti orang gila!’ umpatku.

Tiba di kamar, kulihat anakku yang baru berumur 4 tahun sedang asyik menekan-nekan tuts keyboard laptopku. Di hadapannya terpampang layar berisikan halaman akun media sosialku.

[Review Film] Something About 1 Percent

sumber gambar: asianwiki.com

Judul: Something About 1 Percent
Genre: Romance, Comedy
Tahun: 2016
Jumlah Episode: 16
Pemain:
Ha Seok Jin sebagai Lee Jae In
Jeon So Min sebagai Kim Da Hyun
Kim Hyeong Min sebagai Min Tae Ha
Im Do Yoon sebagai Jung Hyun Jin
Joo Jin Mo sebagai Lee Kyoo Chul
Kim Sun Hyuk sebagai Park Hyung Joon
Seo Eun Chae sebagai Han Joo Hee
Baek Seung Heon sebagai Ji Soo

Cerita:
Suatu ketika saat mengajak murid-muridnya belajar di alam bebas, Kim Da Hyun menemukan seorang kakek yang terperosok di hutan. Ia lalu menolong kakek tersebut, membawanya ke rumah sakit dan menjadi wali kakek tersebut karena ia tidak tahu harus menghubungi siapa.

Setelah kejadian itu, ia didatangi seorang pengacara bernama Park Hyung Joon dan sahabatnya yang seorang CEO kaya tapi bertabiat kurang baik, Lee Jae In. Di pertemuan itu, Lee Jae In mengaku mendapat surat wasiat dari kakeknya untuk menikah dengan Kim Da Hyun supaya bisa mewarisi kekayaan kakeknya. Tentu saja Kim Da Hyun tidak percaya begitu saja, ia bahkan tidak mengenal kakeknya Lee Jae In. Ia pun menolah untuk pengusaha sombong tersebut walaupun akan diberikan uang.

Lee Jae In tidak habis pikir dengan ulah kakeknya yang menjodohkannya dengan seorang guru dari keluarga biasa-biasa saja. Namun karena ia tak ingin warisan kakeknya jatuh ke tangan sepupunya, Min Tae Ha, maka ia terus berusaha membujuk Kim Da Hyun agar mau, setidaknya jadi pacarnya selama 6 bulan.

Kim Da Hyun, selain bekerja sebagai guru juga menjadi presiden fans club seorang penyanyi pendatang baru, Ji Soo. Saat itu Ji Soo sedang mendapat masalah kontrak yang memerlukan biaya besar. Akhirnya Kim Da Hyun menyetujui usul Lee Jae In untuk berpacaran selama 6 bulan dengan syarat si CEO membantunya membereskan masalah kontraknya Ji Soo dan membantu melengkapi fasilitas di sekolah tempatnya mengajar. Lee Jae In yang kaya raya dengan mudahnya menyanggupi persyaratan sang guru SD tersebut.

Hubungan pacaran pura-pura antara Lee Jae In dan Kim Da Hyun dibumbui dengan masalah cemburunya mantan tunangan Lee Jae In, Han Joo Hee, yang ternyata masih menginginkan Lee Jae In kembali padanya. Lalu ada pula masalah di perusahaan Lee Jae In yang diakibatkan oleh ayah Min Tae Ha.

Review:
Cerita film ini kriuk-kriuk garing renyah asyik. Walaupun tipenya Drama Korea banget (menceritakan tentang si kaya sombong dan si miskin baik hati yang akhirnya jatuh cinta namun ada mantan dan camer yang menjadi penghalang), tapi ceritanya tetap seru dan nggak negbosenin karena ada komedinya. Nggak ada bagian yang bertele-telenya, ceritanya mengalir cepat. Akting pemainnya juga oke. Trus tipe dramanya bukan kayak sinetron yang biasanya si camer adalah orangtua galak yang menginginkan kehancuran dari si calon menantu atau si mantan yang sangat jahat yang sangat nyebelin. Di film ini nggak sampai segitunya karena ceritanya berfokus pada Lee Jae In, Kim Da Hyun, dan sahabat-sahabat mereka.

Judulnya ‘Something About 1%’ apa artinya? Dari film ini, ada kata-kata dari Lee Kyoo Chul, kakeknya Lee Jae In yang intinya begini: “Di dunia ini, dari 99% orang jahat, pasti ada 1% orang baik. Tidak semua orang jahat itu sifatnya benar-benar jahat. Pasti ada 1% sifat baiknya.” Ngerti maksudnya? Mudah-mudahan ngertilah ya.

Menurut saya film ini oke banget untuk mengisi waktu luang. Ceritanya sangat menghibur. So, saya kasih rating 4 dari skala 5.

#FFKamis – Iseng-iseng Berhadiah

Kamis malam Jumat. Gugun dan teman-temannya berkumpul di sebuah pondok di pinggir desa.

“Eh, teman-teman, bagaimana kalau malam ini kita menakut-nakuti orang yang lewat di sini?” ujar Gugun.

“Boleh juga, kayaknya seru, tuh!” jawab salah satu temannya.

Ketiga teman Gugun yang lain mengangguk-angguk tanda setuju. Mereka pun bersembunyi di semak-semak dan menunggu orang lewat. Empat orang lewat namun tak ada yang bereaksi saat ditakut-takuti. Kemudian lewatlah orang kelima.

“BAAAA!!” seru kelima sekawan itu berbarengan sambil melompat keluar dari semak-semak.

Orang yang ditakut-takuti bukannya ketakutan malah marah-marah. “Dasar tuyul-tuyul sialan! Bukannya kerja ngambilin uang malah main-main di sini! Cepat cari mangsa!”

Janji yang Harus Ditepati

Pagi itu cuacanya cerah. Matahari memancarkan sinarnya yang hangat. Burung-burung berkicau riang di atas pohon depan rumahku. Di taman, beberapa kupu-kupu saling berkejaran. Kulihat beberapa kuntum bunga aster merah telah mekar. Sungguh cantik!

Kupetik setangkai aster. Kubersihkan tangkainya yang sedikit berdebu. Setelah itu kuperciki dengan sedikit air supaya bunga itu terlihat segar. Lalu aku membawanya ke dalam rumah.

Aku menuju kamar dekat tangga di lantai dua. Kuketuk pintunya. Perlahan. Tak ada jawaban. Sekali lagi kuketuk pintu. Agak keras.

“Siapa?” tanya seseorang dari dalam kamar.

“Ini… Aku…,” jawabku. Namun sebelum kuselesaikan kalimatku, ia menghardikku.

“Mau apa pagi-pagi begini? Pergi!” serunya.

Aku terdiam beberapa saat. Yah, beginilah nasibku setiap kali aku ingin masuk ke dalam. Boleh dikatakan aku sudah terbiasa dihardik dan diusir. Setelah ia memaki-makiku, aku akan membuka pintu kamar yang memang tak pernah dikunci itu. Lalu aku cepat-cepat meletakkan aster merah di vas bunga yang ada di atas meja rias dalam kamar.

Sekilas kulihat laptop di meja dekat tempat tidur menyala. Layarnya menampilkan slide foto-foto seorang laki-laki, dari kecil hingga dewasa dan berumur.

Ah… Lagi-lagi foto itu dipandanginya. Tak bosan-bosannya…,’ kataku dalam hati.

“Keluar! Keluar! Siapa yang menyuruhmu masuk?” teriak wanita paruh baya dari dalam kamar. Ia sedang duduk di atas ranjang. “Pergi!” serunya lagi.

Tiba-tiba dari arah tangga terdengar suara langkah kaki yang tergopoh-gopoh naik.

“Ada apa lagi? Kenapa ribut-ribut, Bu?” tanya seseorang yang baru masuk ke kamar. Ibuku.

“Singkirkan anakmu itu! Singkirkan dia! Aku tak ingin melihatnya!”

“Memangnya apa lagi yang dilakukan Jason, Bu?” tanya ibuku, sementara aku diam saja, menunduk dan menatap lantai.

“Aku benci dia! Tingkahnya selalu mengingatkanku pada mendiang ayahmu! Kenapa dia bisa mengikuti semua kebiasaan ayahmu? Bocah empat tahun ini… Dia meletakkan cangkir minumanku di meja rias setiap malam. Dia merapikan selimutku, membereskan sandal kamarku, dan pada pagi hari meletakkan aster merah di vas bunga itu. Lagu-lagu yang ia senandungkan… Kau dengar? Itu lagu kesukaan ayahmu!”

Aku meneteskan air mata mendengar teriakan nenekku. Aku sudah tak tahan lagi.

“Tapi orang yang di foto itu memang aku!” seruku sambil menunjuk layar laptop yang sedari tadi menampilkan slide foto tanpa henti.

“Itu aku. Kenapa kalian tak percaya? Aku dilahirkan kembali ke rumah ini karena aku ingin menepati janjiku,” kataku.

“Janji… Janji a-pa?” tanya nenekku terbata-bata.

“Bukankah aku pernah berjanji akan selalu melindungi keluarga ini? Karena itulah aku dilahirkan kembali di keluarga ini.”

Kedua wanita di dalam kamar terdiam.

“Juga karena ingin memenjarakan ayah yang selingkuh dengan wanita lain. Bukankah perselingkuhan ayah yang menyebabkan aku yang dulu meninggal karena mendadak kena serangan jantung?” lanjutku.

Seketika ibuku pingsan.

* * *

420 kata. Fiksi di atas berdasarkan video dari lagu Photograph – Ed Sheeran dan diikutkan untuk meramaikan #PestaFiksi06-nya Mbak Carolia Ratri. Link lomba bisa dilihat di sini.