Apa yang Mama Pikir Lucu Belum Tentu Baik Buat Si Kecil

Beberapa waktu yang lalu, saya mengobrol dengan psikolog anak dari Universal Megabrain Center, Palembang, Bu Ani. Beliau datang ke tempat kerja saya karena ada undangan. Nah, kami pun ngobrolin tentang hubungan gadget dan anak-anak usia Taman Kanak-kanak.

Bu Ani bercerita tentang seorang mama yang mempunyai anak usia 2 tahun. Mama ini sebenarnya hanya iseng menyuruh anaknya memegang hp. Eh ternyata si anak pintar sekali, ia bisa langsung mengerti cara membuka hp. Lama-kelamaan bisa buka ini-itu: lihat video dan main game. Awalnya mama si anak ini menganggap anaknya lucu sekali bisa main hp. Ia merasa anaknya pintar bisa main hp tanpa diajari. Tapi lama kelamaan anaknya jadi kecanduan main hp. Kalau tidak dikasih hp ia akan mengamuk. Lalu, anaknya yang tadinya ceria dan bisa mengajak ngobrol orangtuanya sekarang jadi pendiam, bahkan sulit komunikasi. Akhirnya mama ini mendatangi tempat kerja Bu Ani untuk berkonsultasi, menanyakan apa yang terjadi dengan anaknya.

Setelah melewati serangkaian tes, ditemukan bahwa si anak mengalami autis ringan. Akhirnya si anak harus mengikuti terapi. Kasihan banget kan anak yang tadinya normal malah jadi harus diterapi cuma gara-gara kecanduan main hp. Sayang ke psikologis anaknya, juga sayang uangnya. Biaya terapi anak tuh nggak murah, lho!

Bu Ani mengatakan gadget sebenarnya bagus asal tahu cara pemakaiannya. Aplikasi di gadget banyak yang bagus untuk belajar, misalnya belajar alfabet.

Sebaiknya orangtua mendampingi anak saat mau mengajari anak menggunakan gadget. Jangan sering-sering memberikan gadget ke anak, harus dibatasi pemakaiannya.

Efek negatif dari gadget terhadap anak balita adalah sebagai berikut:

1. Anak terlambat bicara. Ini jika diberikan ke anak yang usianya di bawah 2 tahun, yaitu usia di mana anak seharusnya belajar bicara. Karena keseringan melihat gadget, anak bisa malas untuk berkomunikasi. Akibatnya ia jadi telat bicara. Kalau anak telat bicara, kasihan kan nanti dia tidak bisa memberitahukan apa yang diinginkannya. Anak yang telat bicara biasanya juga nggak mengerti apa yang dikatakan orang lain padanya.

2. Anak sulit bersosialisasi. Karena terbiasa fokus ke gadget, maka anak jadi tidak bisa berteman dengan anak lain. Ia bisa jadi penyendiri dan punya dunianya sendiri. Untuk tingkat kecanduan gadget yang parah, anak bisa ngomong sendiri. Biasanya yang diomonginya adalah suara atau bunyi-bunyian yang didengarnya dari gadget. Nah, anak yang tidak bisa bersosialisasi ini bisa jadi egois lho. Soalnya dia tidak mengerti cara berbagi dengan teman, ia bisa jadi seenaknya sendiri dan tidak peduli dengan lingkungannya.

3. Mata rusak atau rabun. Kebanyakan main gadget bisa membuat anak jadi rabun. Di tempat kerja saya, ada beberapa anak TK yang pakai kacamata. Minus 2, lho! Duh, kasihan banget kan masih kecil sudah pakai kacamata. Kalau tidak pakai kacamata, mereka sulit melihat, apalagi melihat tulisan di papan tulis di kelas. Kalau melihat tulisan saja nggak bisa otomatis mereka jadi sulit mengikuti pelajaran. Akhirnya nilainya berpengaruh juga kan.

4. Mempengaruhi perilaku anak. Di dalam gadget, ada konten-konten yang tidak sesuai untuk anak-anak, misalnya game tembak-tembakan atau game kekerasan. Kalau orangtua tidak mendampingi anak saat anak memakai gadget, anak bisa membuka konten-konten yang tidak sesuai umurnya. Anak sekarang kan canggih, secanggih hp. Mereka bisa buka Youtube, lho! Di Youtube ada apa? Banyak kan yang nggak sesuai untuk anak? Anak yang melihat film atau game tentang kekerasan, perilakunya akan terpengaruh dari apa yang dilihatnya itu. Apalagi kalau orangtua tidak mengajarinya, mereka bisa jadi anak yang suka memukul atau suka berteriak atau memanjat ke sana-ke mari, seperti apa yang mereka lihat. Nggak mau kan punya anak yang dicap sebagai anak nakal yang suka memukul?

Nah itulah efek negatif dari gadget. So, apa yang Mama anggap lucu tuh nggak semua baik untuk anak. Harus pandai-pandai dan bijak memberikan sesuatu untuk anak.

Menurut saya, daripada memberikan gadget untuk anak lebih baik memberikan mainan asli untuk anak yang bisa mengasah kreativitasnya. Contohnya:
1. Mainan blocks atau balok-balok kayu atau plastik. Anak bisa membuat rumah-rumahan dari kayu. Untuk yang dari plastik, bisa dibentuk jadi robot-robotan.
2. Mainan lego.
3. Mainan masak-masakan. Siapa tahu nanti anak bisa jadi chef handal.
4. Mainan dokter-dokteran.
5. Mainan pertukangan.
6. Boneka. Dari boneka, anak bisa belajar tentang warna juga, yaitu dari warna-warna bonekanya.

Oh ya, yang perlu diperhatikan dalam membelikan mainan ini adalah bahan dan usia anak. Biasanya di box mainan tertera usia yang dianjurkan. Jadi jangan asal membeli mainan, ya. Jangan belikan playdough untuk anak usia 2 tahun, kalau dimakannya bisa bahaya, tuh! Berikanlah mainan yang sesuai dengan usia anak.

Sekian tips dari saya. Ada yang mau menambahkan tentang gadget dan mainan anak? Mari silakan isi kolom komentar. Thank you!

Advertisements

12 thoughts on “Apa yang Mama Pikir Lucu Belum Tentu Baik Buat Si Kecil

  1. setujuuu,
    jaman sekarang banyak ortu yang kasih gadget ke anaknya demi anaknya bisa anteng. terus kemarin ada anak umur sekitar 3 atau 4 tahun, ga dikasi gadget sama emaknya sampe marah-marah gitu mbak, mukul-mukul juga ..

  2. iya anak itu disket kosong belajar apa aja cepat mba…nambahin saja di anak fungsi otak bagian depan yang tugasnya menahan diri belum berfungsi sempurna..kalau biasa tanpa sampai dewasa dia hilang kemampuan utk menyetop, semua diabaikan…

  3. Postingannya bagus sekali! Saya suka miris kalo lihat banyak orangtua yang buat alihkan anaknya langsung dikasih gadget saja 😦 padahal apapun yang seperti itu pastikan nggak bagus buat anak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s