Prompt #136 – Sepatu Pesta Cinderlela

sumber gambar: quotesgram.com
sumber gambar: quotesgram.com

Aku Cinderlela, si putri cantik yang diasuh Mamak dan Ayuk angkat karena kedua orangtuaku sibuk bekerja. Aku selalu bermimpi bisa bertemu dengan pangeran tampan gagah perkasa bermobil sport putih. Aku akan berdansa dengan Sang Pangeran di malam pergantian tahun. Lalu saat jam berdentang dua belas kali, aku akan berlari pulang dan meninggalkan sepatu kacaku agar ditemukan Sang Pangeran. Keesokan harinya Sang Pangeran akan mencariku. Setelah ia menemukanku, kamipun menikah dan hidup bahagia selamanya dengan anak dua. Ya, cukup dua saja karena aku adalah warga negara yang baik yang mendukung salah satu program pemerintah: KB. Itu!

“Lela! Lela! Bangun!” teriak Mamak angkatku sambil menggedor-gedor pintu kamarku. Aku membuka mataku. Kesadaranku masih belum kembali sepenuhnya. Masih terbayang di otakku wajah tampan Sang Pangeran.

“Lela, cepat bangun! Bukankah kamu harus bersiap-siap untuk ke pesta malam ini?” giliran Ayuk angkatku memanggil.

Aku melirik ke jam dinding di kamarku. Pukul 5 sore! Kesadaranku langsung pulih sepenuhnya. Astaga, aku kelamaan tidur!

“Mamak! Ayuk! Kenapa nggak bangunkan aku jam 3 tadi? Duh, aku pasti telat ke pesta, nih!” jeritku.

“Maaf ya, Lela. Mamak dan Ayuk sudah membangunkanmu. Tapi kamu sepertinya larut dalam mimpi,” jelas Mamak angkatku.

Duh, bagaimana ini? Waktu dua jam tak akan cukup untuk mandi, berdandan, membuat tatanan rambut, dan pergi ke tempat pesta yang jauhnya di ujung langit. Seandainya Mamak Peri datang lagi…., pikirku.

Tringgg!! Tiba-tiba seberkas cahaya muncul dan berdirilah Mamak Peri di hadapanku.

“Ada yang bisa Mamak bantu, Nak Lela?” tanyanya.

“Mak, aku bakal telat ke pesta, nih! Lagian aku nggak punya sepatu yang cantik untuk ke pesta. Sepatuku yang lama nggak enak dipakai,” keluhku.

“Tenang, Cinderlela. Apa, sih, yang nggak bisa Mamak lakukan untukmu? Eh, kecuali masalah jodoh, ya,” katanya sambil terkekeh-kekeh.

Dalam satu ayunan tongkat sihirnya, mendadak aku sudah jadi seseorang yang cantik dengan gaun, dandanan, dan tatanan rambut kekinian yang tak kalah dari Syahrini.

“Mak, mana sepatunya?” tanyaku.

“Oh, iya. Sebentar!” katanya. Lalu diucapkannya mantra dan dalam sekejab sepatu pesta muncul di hadapanku.

“Yahhh… Kok sepatu kulit biasa, Mak? Mana sepatu kaca atau sepatu glamor berglitter seperti yang Mamak beri sebelumnya?” tanyaku, kecewa melihat sepatu kulit biasa yang penampakannya begitu sederhana dan tinggi haknya cuma 3 cm.

“Lela, Lela, …. Kamu itu, lho… Di pesta pertama, Mamak kasih sepatu kaca berhak 10 cm. Tapi belum usai pestanya kamu sudah ribut mau pulang karena kakimu sakit. Di pesta kedua, Mamak kasih sepatu perak berglitter yang haknya 6 cm. Kamu pun mengeluh kakimu pegal dan cepat pulang sebelum pesta usai. Bagaimana kamu mau mengharapkan pangeran tampan mengajakmu berdansa kalau untuk berjalan saja kamu kesusahan? Jadi, sekarang Mamak putuskan kamu pakai sepatu sederhana ini saja. Biar kamu tidak sakit kaki lagi dan bisa menikmati pestanya sampai selesai. Siapa tahu kali ini kamu bertemu jodohmu.”

———

Fiksi ini diikutkan dalam tantangan Monday FlashFiction Prompt #136: Memulai Kembali.

Catatan:
Mamak = ibu
Ayuk = kakak perempuan (dalam bahasa Palembang)

Advertisements

One thought on “Prompt #136 – Sepatu Pesta Cinderlela

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s