Prompt #129 – Di Bawah Bulan Sabit

mage via OGQ background
Image via OGQ background

Orang bilang cinta itu butuh pengorbanan. Memang benar demikian. Dan pengorbanan itu akan lebih besar jika dua hati yang saling jatuh cinta itu berbeda. Begitulah nasib yang yang kualami saat ini.

Aku dan dia bertatap muka dua tahun yang lalu. Cinta bersemi begitu saja, tanpa diundang. Aku menyadari banyak sekali perbedaan di antara kami. Tapi, aku harus memperjuangkannya. Jika tidak… Akan sia-sialah pertemuan diam-diam kami selama ini.

Hari ini, seperti biasa kutuliskan surat untuknya jika ingin bertemu dengannya. Lalu akan kuminta bantuan merpati kesayanganku untuk mengirimkannya.

Amyra, mari bertemu di tempat biasa di malam bulan sabit. Aku merindukanmu.
P.S.: Berhati-hatilah saat keluar untuk menemuiku. Pastikan tak ada yang melihatmu.

* * *

“Diego!” panggil Amyra. Aku menoleh. Ia berlari menyerbuku dan menghempaskan satu pelukan.

“Aku merindukanmu!” lanjutnya. Aku menepuk-nepuk punggungnya.

“Aku juga,” kataku.

Belum lama aku melepaskan rasa kangenku, kudengar suara ribut-ribut dari jauh. Suara itu semakin dekat. Aku menyuruh Amyra berlindung di balik punggungku.

“Amyra, tutup wajahmu dengan selendangmu dan berdirilah di belakangku! Jangan sampai ada yang tahu kau di sini!” perintahku.

“Mereka di sini!” seru seseorang bertubuh besar. Di belakangnya ada sekitar 20 orang membawa tombak dan pedang.

“Ya! Itu mereka!” seru yang lainnya.

“Mau apa kalian?” tanyaku.

“Tentu saja kami akan membawa Putri Amyra kembali ke kerajaan!” jawab si besar. Seingatku dia kepala pengawal. “Dan kau… akan kami seret ke pengadilan kerajaan!”

“Tidak!! Jangan bawa dia! Cukup bawa aku saja!” seru Amyra, berjalan maju ke depanku.

“Tuan Putri, kami tak ingin menggunakan kekerasan. Mohon dengarkan perintah dari Baginda!”

Aku menatap Amyra yang masih memohon-mohon. Tak tahan rasanya melihatnya menangis seperti itu.

“Baiklah, aku akan ikut dengan kalian!” ujarku.

“Diego! Kau tahu, kan, apa yang akan dilakukan ayahku? Ia akan menghukummu! Hukuman penggal!” seru Amyra.

“Tak akan terjadi apa-apa. Tenanglah…,” kataku, berusaha menenangkannya walau dalam hati aku sendiri takut akan apa yang akan terjadi nanti.

* * *

“Jadi… Kau yang bernama Diego… Kau adalah Panglima dari negeri seberang yang dengan gagah berani datang ke sini untuk menemui putriku….,” kata ayah Amyra.

“Benar. Aku mencintai putri Anda dan kami telah menjalin kasih selama dua tahun,” tambahku. Sekalian saja kukatakan semuanya.

“Hahaha! “Sungguh berani! Apa kau tak tahu hukuman yang akan menantimu?”

“Aku tahu. Tapi… Aku mencintainya. Kami saling mencintai. Dan aku akan memperjuangkan hubungan kami!”

Ayah Amyra mendekatiku. Ia menatapku lekat-lekat. Cukup lama hingga membuatku gugup dan berkeringat dingin. Ia tersenyum sambil mengeluarkan sebuah amplop putih. Amplop itu ia serahkan padaku. Aku merasa duniaku berakhir.

“Bacalah!” perintahnya.

Aku mengeluarkan selembar surat dari dalam amplop dan membacanya dengan tangan gemetaran.

Sudah lama aku ingin putriku yang berusia kepala tiga menemukan pasangan hidupnya. Lalu aku mengetahui ia menjalin hubungan dengan pria yang jauh lebih muda darinya dan dari kasta berbeda. Aku ingin ia bahagia di sisa hidupnya yang tinggal beberapa bulan lagi… Akan kulakukan apa saja untuk membuatnya bahagia, termasuk merestui hubungannya.

Advertisements

9 thoughts on “Prompt #129 – Di Bawah Bulan Sabit

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s