[FanFiction] I’m Sorry I Make You Fall In Love With Me (part 2)

Starring:
1. Minah
2. Kung Min
3. Mr. Joo

Base on K-Drama Beautiful Gong Shim

Mr. Joo:

Hari itu, aku diam-diam datang ke rumah Minah untuk memberikan kejutan padanya. Aku ingin menghiburnya yang baru saja berhenti dari pekerjaannya. Namun aku sebelum aku sampai di depan pintu rumahnya yang terletak di lantai 2 bangunan ruko, aku mendengar pembicaraannya dengan Kung Min. Bukannya aku mencuri dengar atau kepo, tapi… pembicaraan mereka cukup menarik bagiku.

“Aku suka padamu,” begitulah yang kudengar saat itu. Minah menyatakan cintanya pada Kung Min!

Aku benar-benar tak percaya! Minah yang pemalu dan selalu nampak tak percaya diri itu bisa mengatakan hal tersebut. Tapi… tunggu dulu…

“Maaf, aku tak bisa menerima cintamu. Mohon jangan menyukai aku,” sahut Kung Min.

Jadi… Minah telah ditolak setelah sebelumnya menerima kebaikan-kebaikan Kung Min. Laki-laki macam apa itu? Beraninya ia mempermainkan perasaan wanita! Apalagi wanita itu adalah Minah, gadis baik hati dan selalu menghibur orang-orang di sekitarnya dengan lelucon-leluconnya.

Setelah itu aku mendengar langkah kaki yang tergesa-gesa diiringi dengan isak tangis. Lalu terdengar pintu dibanting. Pastilah Minah segera masuk ke rumahnya karena sedih. Akupun mengurungkan niatku untuk menemuinya. Ia pasti ingin sendiri.

“Sedang apa kamu di sini?” seseorang menegurku. Kung Min!

“Aku ingin menemui Minah. Tapi… sepertinya suasana hatinya sedang tidak baik,” jawabku.

“Oh.. begitu,” ujar Kung Min. Ia melewatiku tanpa banyak bicara, turun ke bawah, mungkin ingin pergi ke minimarket di lantai dasar.

Aku menghentikan langkahnya. “Aku tak akan membiarkanmu membuat Minah menangis. Walaupun kita bersahabat, tapi untuk urusan hati… tak akan ada toleransi,” kataku.

“Baiklah. Silakan lakukan apa saja sesuai keinginanmu,” jawabnya.

“Oke. Bagus kalau begitu. Aku akan menunggu saat yang tepat untuk menyatakan cintaku pada Minah,” kataku.

Kung Min menatapku, tajam. Ia tak mengatakan apa-apa. Kemudian berlalu begitu saja. Rasanya aku ingin meninju wajahnya, membantingnya ke tanah, dan… Aku tahu aku pasti kalah jika bertanding beladiri dengannya. Jadi, yah… aku hanya bisa menatap punggungnya yang kian menjauh. Persaingan secara sehat. Itu baru benar!

* * *

Satu minggu berlalu. Aku tak pernah melihat Minah berkeliaran di kantorku untuk mengantar makanan pada kakaknya yang juga bekerja di kantor yang sama. Kupikir mungkin ia masih berduka. Jadi, aku mengirim pesan singkat pada Minah. “Minah, bisa kita bertemu hari ini? Aku butuh bantuanmu untuk mengerjakan slide presentasiku. Aku tunggu di cafe biasa jam 5 sore, ya,” begitu tulisku. Kupikir ia perlu diberi kegiatan yang agak berat supaya dia bisa melupakan kesedihannya.

Tak lama kemudian Minah membalas, “Oke, aku akan ke sana nanti sore.”

Dan kamipun bertemu jam 5. Minah sama sekali tidak telat. Ia sudah menunggu di cafe tempat kami biasa bertemu.

“Hai Mr. Joo, di sini!” panggilnya saat melihatku. Di wajahnya tak tampak tanda-tanda kesedihan-ia-baru-saja-ditolak-cintanya. Ia tampak baik-baik saja bahkan terlihat ceria, membuatku bertanya dalam hati, apakah ia adalah artis yang hebat hingga bisa menyembunyikan kesedihannya? Atau… apakah Kung Min berubah pikiran dan menerima cintanya? Apa aku ketinggalan berita? Ah, aku penasaran!

“Sudah lama di sini? Maaf aku terlambat,” kataku padanya.

“Oh tidak lama, aku juga baru saja sampai. Tidak telat, kok. Tenang saja,” katanya.

“Mau pesan apa? Hari ini aku yang traktir, ya,” tawarku.

“Hmm… sandwich dan jus jeruk sepertinya enak,” jawabnya.

Setelah memanggil pelayan dan memesan makanan, aku mengeluarkan laptopku.

“Presentasi apakah itu, Mr. Joo? Apakah untuk besok? Atau untuk kapan? Berapa lama kau akan presentasi?” tanya Minah dengan bersemangat.

“Presentasinya minggu depan. Paling lama satu jam. Deadlinenya masih lama, tapi beberapa hari ke depan aku akan sangat sibuk, jadi ini harus diselesaikan sekarang. Kalau bisa hari ini selesai,” jawabku.

“Oke, baiklah! Ayo kita kerjakan!” seru Minah.

Beberapa jam kemudian, kami larut dalam tugas menyelesaikan slide presentasiku. Setelah berdebat sedikit tentang background dan animasi yang akan dipakai dalam slide, file presentasiku pun selesai. Tak terasa hari sudah malam. Aku mengantar Minah pulang ke rumahnya. Di jalan dekat rumahnya, kami melihat Kung Min duduk di bangku taman. Ia seperti sedang memikirkan sesuatu. Di tangannya ada minuman kaleng bersoda.

“Itu Kung Min! Sedang apa dia di sana, ya? Sepertinya ia sedang memikirkan sesuatu. Apakah dia punya masalah keluarga, ya? Atau pekerjaannya bermasalah?” gumam Minah.

Aku menatap wajah gadis yang kusukai. Dia masih ada rasa peduli pada laki-laki yang telah mencampakkannya itu. Aku heran mengapa ia masih saja peduli. Jelas-jelas Kung Min telah menolaknya. Aku tak menanggapi gumamannya dan terus menyetir.

“Mr. Joo, bisa tolong berhenti di sini? Aku ingin menghampiri Kung Min,” pintanya.

“Kau ingin menemuinya?” tanyaku sambil menghentikan mobil.

“Ya, aku ingin menemuinya,” jawab Minah. Ia menganggukkan kepalanya.

“Baiklah. Aku akan menemanimu. Kebetulan ada sesuatu yang ingin kubicarakan,” kataku.

Kamipun bersama-sama turun dari mobil dan menghampiri Kung Min. Aku berharap ia terkejut melihat kami jalan berdua malam ini. Tapi, ia tidak menampakkan raut wajah habis mendapat surprise. Datar. Dan itu membuatku benci setengah mati.

“Kung Min, kenapa kau di sini sendirian?” tanya Minah.

“Tidak apa-apa. Aku hanya sedang mencari angin segar,” jawabnya.

“Oh, begitu,” kata Minah. Ia diam. Mungkin tak tahu harus mengatakan apa lagi. Jadi aku mencoba mencairkan suasana yang dingin tersebut.

“Minah, ini sudah larut. Pulanglah,” kataku padanya sambil menatap Kung Min. Wajahnya masih saja datar. Ia juga diam saja. Tak ada basa-basi menanyakan sesuatu. Padahal tadinya ia dan Minah sangat akrab. Ia selalu menyapa Minah dan bercanda dengannya. Tapi kini… Dasar tak berperasaan!

Minah berpamitan pada kami. Setelah ia menjauh, aku menatap wajah si pembunuh berdarah dingin yang sedang menenggak minuman bersodanya. Ya, julukan pembunuh berdarah dingin cocok sekali untuknya. Ia memang tak berperasaan.

“Kau tidak pulang?” tanyaku pada Kung Min.

Ia menatapku sejenak. Lalu berkata, “Sebentar lagi. Kau?”

“Sebentar lagi juga,” jawabku.

“Oh,” jawabnya singkat.

“Aku akan berusaha mendapatkan hatinya. Dan aku yakin aku pasti bisa,” kataku.

“Oh,” jawabnya, lagi-lagi dengan singkat.

“Aku tahu kau menolaknya!” seruku.

Ia tersenyum. Tapi tak mengatakan apapun.

“Jika kau tak punya perasaan apapun padanya, jangan pernah memberi harapan padanya. Awas kalau kau sampai menyakiti hatinya lagi,” ancamku.

Ia tersenyum lagi. Dan tak mengatakan apapun juga.

Aku kesal. Kutinggalkan dia tanpa berpamitan lagi. Dalam hati aku bersumpah untuk menjauhkan dia dari Minah, selama-lamanya.

 

… to be continued

* * *

Baca Part 1

Advertisements

3 thoughts on “[FanFiction] I’m Sorry I Make You Fall In Love With Me (part 2)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s