Bulan Purnama di Hari Kemerdekaan

Hari ini, 17 Agustus 2016, adalah Hari Kemerdekaan Indonesia. Hari ini juga, bulan purnama bersinar. Cantik? Apik? Iya. Namun… ada sesuatu yang kurang…

Hari merdeka itu… mestinya jangan sebutannya aja yang merdeka, tapi hatimu tak merdeka, mentalmu juga. Merdeka itu bebas. Bebasnya ya dalam artian positif, bukan yang bebas sebebas-bebasnya sampai melanggar aturan dan merugikan orang lain. Bebas itu… jika tak ada lagi belenggu dalam dirimu. Bisakah? Entah ya…

Di malam ini, ada bulan purnama yang sangat bagus. Kutatap bulan penuh itu lekat-lekat, berharap sesuatu terjadi. Keajaiban tentunya. Sedetik. Dua detik. Tiga detik… Lima menit. Bulan masih di langit sana. Ia tak jatuh, pun bergeser. Putus asa, kututup pintu dan masuk ke kamar. 

Huft! Tak ada yang spesial! Aku masih seperti ini, tidak berubah menjadi artis sekelas Song Hye Kyo. Helaan napas kembali kuhembuskan. ‘Sampai kapan??’ tanyaku dalam hati.

Jam berdentang sepuluh kali. Malam begitu sepi. Bahkan suara jangkrik pun tak terdengar. Namun beberapa menit setelah dentangan jam itu terdengar sesuatu bergemuruh. Angin berhembus kencang, nyaris membuat pepohonan tercabut dari akarnya dan seng-seng penutup rumah lepas dari bautnya. Seberkas cahaya muncul di tengah-tengah kamar. Sungguh menyilaukan! Membuatku harus menutup mata. Dan begitu aku membuka mata… keadaan disekelilingku berubah!

Rumah-rumah bata dengan halaman yang asri… Taman bermain… Jalanan mobil yang rata… Nampak beberapa orang berambut pirang sedang bercakap-cakap di sudut jalan. Ini… apa??

“Nona, sedang apa di sini? Ayo masuk ke dalam. Sudah waktunya acara minum teh!” Seseorang menepuk pundakku.

Aku menoleh. Wajahnya tampak asing. Siapa dia? Kenapa memanggilku nona? Apa dia kenal aku?

“Minum teh?” tanyaku. “Anda siapa?”

“Ah, Anda lupa lagi rupanya! Kapan ingatan Anda bisa pulih sepenuhnya?” kata wanita paruh baya itu.

“Aku pelupa? Tapi… aku benar-benar tak tahu di mana ini? Dan, siapa Anda?”

“Oh ya, tentu saja nona tidak ingat. Beberapa waktu yang lalu kepala Anda terbentur hingga tak sadarkan diri. Anda lupa semuanya. Itu wajar. Dan saya akan mengingatkan Anda kembali bahwa Anda adalah pemilik beberapa butik dn restoran terkenal di kota ini. Anda adalah juga majikan saya.”

“Benarkah? Anda tidak salah orang, kan?”

“Bagaimana mungkin saya bisa salah mengenali majikan sendiri? Ah.. Ayolah kita masuk sekarang, Non. Nanti teh dan kuenya dingin.”

Rumah yang kumasuki begitu luas dan megah. Semua perabotannya nampak mewah. Harganya pasti sangat mahal. Hidangan minum teh dan kue yang disediakan Bibi Ann, orang yang membawaku masuk, pun sangat enak dan terlihat terbuat dari bahan berkualitas tinggi. Barang-barang elektronik yang ada di dalam rumah ini sangat canggih dan mungkin harganya juga selangit.

Aku pemilik beberapa butik dan restoran terkenal di kota …. Kota apa ini? Luar negeri? Amerika? Belanda? Australia? Ah… kuharap ini bukan mimpi. Dan jika mimpi pun kuharap nantinya akan menjadi kenyataan.

Siapapun… tolong bangunkan aku agar tak lama-lama terbuai dalam mimpi.

Selamat Hari Merdeka, mbak sis dan mas bro! Bersyukur banget ya negara kita sudah merdeka.

Advertisements

4 thoughts on “Bulan Purnama di Hari Kemerdekaan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s