When The Gankshee Come

Ketika gengsi datang, ia akan membuat bingung dengan statement-statementnya yang terasa masuk akal. Namun, kubu un-gengsi pasti tak akan tinggal diam. Hingga… tinggallah penonton yang akan memilihnya, kubu gengsi atau kubu un-gengsi.

Ketika gengsi datang, ia akan menghasut dan mengatakan: “Lo cewek, ngapain duluan ngechat cowok? Biarpun dia cowok yang lo suka, tetep aja lo mesti jaga jarak buat tau apakah cowok itu nyariin lo! Jangan sampe lo dibilang agresif ngejer-ngejer cowok. Gengsi kan kalo ketauan lo suka dia trus dianya cuma anggap lo teman. Sudahlah, nggak usah chat duluan. Biarkan lo tau bagaimana perasaannya saat lo nggak chat dia. Apakah dia nyariin lo ato nggak.”

Di saat penonton ragu-ragu, kubu un-gengsi unjuk bicara. “Lha, terus gimana lo tau dia suka sama lo ato nggak kalo lo nggak ngechat dia duluan? Chattingan lo dibalasnya cepat ato nggak kan bisa menandakan sesuatu. Atau apakah dia banyak alasan ato nggak, itu juga merupakan pertanda. Kalo lo cuma diam aja menunggu, sampai kapan lo bisa tau perasaan orang tersebut? Dengan lo ngechat dia duluan, lo bisa ambil keputusan apakah lo bakal mundur ato lanjutkan perjuanganmu.”

Penonton pun makin bingung. ‘Mau pilih yang mana, nih? Semua kelihatan masuk akal!’ katanya dalam hati. Lalu ia pun menimbang untung dan ruginya. Sayangnya perhitungannya sama saja antara untung dan rugi dari kedua kubu.

Di saat pikiran kacau dan ruwet ini, si penonton melihat bunga matahari. Lalu, dicabutnyalah satu per satu kelopak si bunga matahari yang tak bersalah itu demi melihat perhitungan siapakah yang akan menang di antara kubu gengsi dan un-gengsi. Gengsi… un-gengsi… gengsi…  un-gengsi… gengsi…

Baru tiga per empat jalan-jalan di kepala si bunga matahari, tiba-tiba hapenya berbunyi. Ting! Ada BBM masuk! Sang penonton segera mengecek hapenya.

Tadaaa!!! Ternyata itu BBM dari sang penakluk hati!! Penonton girang bukan kepalang. Tak perlu lagi ia menghitung gengsi dan un-gengsi. Tak perlu juga mencabuti kelopak si bunga matahari. Apalagi setelah membaca pesan dari sang penakluk hati. Ternyata si penonton diajak pergi jalan-jalan ke mal, nonton di bioskop, dan makan-makan. Cuma berdua dengan si penakluk hati, lho!

Tinggallah kubu gengsi dan un-gengsi gigit jari. Sedangkan si bunga matahari berdoa memohon agar menjadi bunga bulan saja supaya kelopaknya tak dicabut untuk menghitung menang-kalahnya dua kubu yang berseteru.   

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s