Prompt #113 – Jamuan Terakhir

sumber gambar: mondayflashfiction.com

Lagi-lagi aku mendapat makan gratis. Tak perlu bersusah-payah bekerja, makanan telah disiapkan. Sungguh senang sekali rasanya. Walaupun demikian, ada sesuatu yang mengganjal di hatiku. Aku tak kenal dengan orang yang memberikanku makanan ini. Yang kutahu dia sangat baik karena sudah lima bulan ini memberiku makan.

“Ayo ambil makanannya. Jangan malu-malu!” kata orang itu.

Aku berjalan dengan kaku. Walaupun sudah lima bulan ini aku mendapat makanan darinya, tetap saja aku merasa canggung ketika dia memanggilku.

“Aku tahu kau pasti lapar. Tak perlu takut! Ayo ambil makanannya,” katanya lagi.

Lalu ia melambaikan tangannya ke arahku. Aku mendekat perlahan-lahan. Begitu berada di dekatnya, kuambil makanan yang sudah disiapkannya.

“Terima kasih,” kataku sambil menganggukkan kepala.

“Yaaa, bawa sana makanannya!” katanya sambil menyuruhku pergi.

Begitulah tingkahnya setiap hari. Ia melambaikan tangannya untuk memanggilku dan menyuruhku mengambil makanan darinya. Setelah kuambil makanannya, ia akan mengibaskan tangannya agar aku pergi.

Beberapa hari kemudian, aku mendapati si dermawan makanan begitu bersemangat. Wajahnya tidak seperti hari-hari sebelumnya yang selalu dihiasi oleh bibir yang melengkung ke bawah. Kali ini bibirnya melengkung ke atas.

“Ah, kau sudah datang rupanya! Ini, ayo makan semuanya!” katanya.

Aku memandang makanan di hadapanku. Tak percaya rasanya ia memberiku makanan sebanyak itu. Biasanya ia memberi seadanya saja.

“Hei, tak usah sungkan. Ambil semuanya. Bagikan pada teman-temanmu kalau kau tak habis memakannya sendiri!” serunya dengan bersemangat.

Aku mengambil sedikit makanan.

“Ini hari terakhirku di sini. Kuharap kau tidak bersedih karena tak ada aku lagi. Semoga ada orang lain yang akan memberimu makanan. Terima kasih juga karena telah menemaniku di sini,” katanya lagi.

‘Jadi, kau akan pergi?’ teriakku dalam hati, tak percaya. Kalau tak ada dia artinya tak ada makan gratis lagi. Nasibku pun tak akan berakhir manis bagai dongeng semusim yang dibuat dalam pelajaran mengarang. Aku… Bisa saja mati akibat pelampiasan kekesalan para penghuni hotel prodeo ini, seperti beberapa keluargaku yang lain.

Ciiitt!! Ciit… citttt! Baru saja aku memikirkan tentang kematian tragis keluargaku, terdengar lagi cicitan keluargaku yang lain di seberang ruangan. Pasti ada lagi yang tewas!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s