The Girl at The Bus Stop

“Apa yang dilakukan perempuan berpakaian motif kotak-kotak itu?”

“Tentu saja menunggu. Dia kan sedang duduk di pemberhentian bus.”

“Tapi sedari tadi tak satupun bus yang dinaikinya. Padahal beberapa bus sudah lewat.”

“Kenapa kau begitu memperhatikannya? Itu bukan urusanmu, kan?”

“Tentu saja. Aku hanya merasa heran. Tidakkah kau juga merasa demikian?”

“Ya… Tapi, itu terserah dia, kan? Mungkin dia menunggu bus dengan nomor plat tertentu? Atau mungkin dia sedang menunggu seseorang.”

“Mungkin juga. Tapi bagaimana kalau dia stress? Atau mungkin sedang larut dalam kesedihan sehingga tak satupun bus yang dinaikinya? Atau bagaimana kalau dia mau bunuh diri? Dia sudah satu jam lebih di sana!”

“Lalu kita bisa apa? Tak mungkin mengajaknya masuk ke cafe ini dan mendengarkan uneg-unegnya, kan? Kita sedang bekerja! Sudahlah, biarkan saja! Mungkin dia sedang menenangkan diri di sana. Berdoa saja supaya tak terjadi apa-apa dengan dirinya.”

* * *

Sudah berapa lama aku menunggu? Satu jam? Dua jam? Sebenarnya lebih dari beberapa jam itu. Ya, jika dikalkulasikan berapa banyak waktu yang lewat begitu saja, itu bisa lebih dari beberapa jam. Oh, atau mungkin bulan dan juga tahun! Bosankah? Jenuh? Lelah? Ingin marah? Mungkin sesekali iya.

Berapa banyak bus yang lewat? Berapa banyak angkot yang berhenti menawarkan diri untuk mengantar ke suatu tempat? Berapa banyak motor ojek menghampiri menawarkan jasa? Satu… Dua… Tak terhitung jumlahnya. Semua lewat begitu saja. Menyesalkah? Mungkin iya. Kadang rasa itu bisa datang kapan pun dia mau. Dan dia akan membuatmu menangis hingga letih.

Berapa banyak tatapan mata mengiba? Berapa banyak pula nasehat-nasehat yang keluar dari mulut orang-orang bijak? Lalu… berapa pasang mata yang menatap penuh curiga, penuh prasangka, dan menghina? Tak perlu dihitung. Tak ada gunanya menghitung. Sakitkah menghadapi itu semua? Ya sesekali. Lalu harus bagaimana? Mereka pasti ada di mana-mana!

Menunggu…
Di sini kumenunggu
Untuk sesuatu yang tak pasti
Kadang untuk sesuatu yang bisa membuat sakit hati
Dan terkadang untuk sesuatu yang bikin hepi
Kapankah akhir dari semua ini?
Tak ada yang tahu
Karena hidup tak lepas dari menunggu

Menunggu…
Di sini kumenunggumu
Akankah kau tahu
Tentang rasa yang mungkin akan segera berlalu
Tentang asa yang kian menipis
Akankah kau menyadari
Tentang arti sebuah hati
Atau akukah yang salah mengerti

* * *

“Hey, lihat bus merah yang baru saja berhenti itu! Bus rute itu memang jarang lewat.”

“Wah, benar! Perempuan itu akhirnya naik bus itu, ya! Syukurlah!”

“Makanya jangan berprasangka!”

“Yeee, siapa yang berprasangka?? Hanya mengutarakan pendapat aja, kok! Nggak boleh?”

“Ah, sudah! Sudah! Ayo kerja lagi!”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s