Prompt #111 – Jungkir Balik

sumber gambar: Monday Flashfiction

Langit mulai gelap menandakan sebentar lagi malam tiba. Namun suamiku belum juga pulang. Anak-anak mulai merengek-rengek karena kelaparan. Sejak siang mereka belum makan. Aku menunggu kepulangan suamiku dengan cemas.

“Bu, kapan Ayah pulang? Kenapa lama sekali?” tanya anakku yang tertua.

“Sebentar lagi, Nak. Kita tunggu saja, ya,” jawabku.

“Sebentar lagi itu kapan, Bu. Perut adek sangat lapar,” keluh anak ketigaku.

“Iya, Bu. Perutku juga rasanya sakit sekali,” lanjut anak keduaku.

“Sabar, ya, Nak. Sebentar lagi Ayah pasti tiba di rumah,” hiburku sambil menahan lapar.

Tak lama kemudian terdengar seruan dari kejauhan.

“Hai, semua! Ayah pulang!” seru suamiku sambil berlari-lari menuju rumah dengan membawa bungkusan di tangannya.

“Ayah pulang! Hore!!” teriak ketiga anakku, kompak. Bibir mereka yang tadinya melengkung ke atas kini berubah lengkungannya jadi ke bawah. Ketiga anak yang usianya masih di bawah 10 tahun itu berlarian menyambut ayah mereka. Lalu mereka mengiringi langkah sang ayah masuk ke dalam rumah.

“Apa yang Ayah bawa untuk makan kita?” tanya anak sulungku.

“Ini…,” jawab suamiku sambil meletakkan bungkusan besar di atas meja.

Ia membuka bungkusan itu. Bau-bauan menyebar ke seluruh penjuru ruangan sesaat setelah bungkusan itu dibuka.

“Ini lagi?” kata anak keduaku.

“Maaf, cuma ini yang bisa Ayah bawa. Ayah janji besok akan membawa yang lebih enak untuk kalian.”

Ketiga anak kecilku kembali melengkungkan bibir mereka ke atas.  Celotehan mereka lenyap seketika begitu melihat makanan yang dibawa suamiku. Namun karena perut mereka lapar, mereka mengabaikan napsu makan mereka yang tiba-tiba lenyap. Dengan terpaksa mereka memakan makanan yang baru saja diletakkan di atas meja.

Beberapa menit setelah mereka makan, tiba-tiba si sulung tersedak. Ia terbatuk-batuk. Aku berusaha membantunya namun di saat yang bersamaan si bungsu memegang perutnya dan berteriak kesakitan. Si tengah pun tiba-tiba memuntahkan makanan yang baru saja dimakannya ke lantai.

“Oh, tidak!” teriakku, panik.

“Cepat bawa mereka ke rumah sakit!” seru suamiku.

Ia memanggul si sulung di bahunya dan menggendong si bungsu di tangannya. Sedangkan aku menggendong anak keduaku dan berlari mengikuti suamiku ke rumah sakit.

Di rumah sakit, setelah melakukan pemeriksaan yang begitu banyak, dokter menyarankan agar ketiga anak kami dioperasi. Kamipun menyetujuinya. Lalu kami menunggu operasi yang berlangsung kurang lebih tiga jam.

“Bagaimana hasilnya, Dok?” tanyaku saat melihat dokter keluar dari ruang operasi.

Dokter menggeleng-gelengkan kepalanya. “Maaf, kami tidak berhasil menyelamatkan mereka,” katanya. “Di dalam tubuh ketiga anak Bapak dan Ibu ditemukan banyak sekali limbah plastik, potongan kaleng dan sampah tak terurai lainnya. Itu yang meracuni mereka,” lanjut dokter.

Seketika aku ambruk. Ingin rasanya aku menyalahkan hewan-hewan yang membuang sampah ke laut tempat kami tinggal dan mencari makan.

——————

418 kata. Fiksi ini diikutkan dalam tantangan Monday FlashFiction: Dunia yang Sebaliknya.

Advertisements

6 thoughts on “Prompt #111 – Jungkir Balik

  1. Hanya ada secuil informasi mengenai ‘dunia jungkir balik’ dalam cerita ini yaitu di bagian terakhir. Itu pun masih menimbulkan tafsir lain : apakah kalimat ‘…hewan-hewan yang membuang sampah ke laut’ berarti memang yang membuang sampah adalah hewan ataukah semacam kalimat perumpamaan, sebagai kata lain untuk makian?

    90% cerita terbaca seperti dunia yang normal, sementara 10% sisanya masih meragukan : dunia normal ataukah dunia jungkir balik?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s