Meledak

“Lihat! Lihat tanganku!” serumu.

“Sakit! Ini sakit sekali! Kau harus melihatnya!” serumu lagi dari luar ruangan.

“Sepertinya di sini sedang ada masalah. Kalau begitu saya permisi dulu,” ujar tamuku.

“Oh, maaf. Kita lanjutkan pertemuan ini di lain waktu,” jawabku.

Setelah mengantarkan tamuku, aku menghampirimu dengan perasaan kesal karena tamu pentingku merasa tak nyaman dengan teriakanmu.

“Apa lagi sekarang? Kau berulah lagi! Tak tahukah kau bahwa aku sedang ada tamu penting??” cecarku.

“Lihat tanganku!! Lihat!!” katamu sambil memperlihatkan tanganmu yang berdarah. Darah segar mengalir di telapak tangan kirimu. Menetes-netes di lantau.

“Kau!! Apa yang terjadi?” tanyaku.

“Aku memotong buah. Tapi pisaunya terkena telapak tanganku,” jawabmu.

“Kau bercanda, bukan? Jangan membohongiku!!” seruku. Bagaimana mungkin memotong buah sampai memotong tangan sendiri seperti itu?

“Sungguh! Aku tak berbohong! Sumpah!” jawabmu.

“Tidak mungkin! Kau pasti bohong!” kataku sambil memperhatikan tanganmu yang lukanya sangan dalam di bagian dalam telapak tangan kirimu. Darah segar terus-menerus mengalir.

“Aku tak percaya!” kataku lagi.

“Sumpah! Aku tak berbohong. Lihat ini!” pintamu lagi, merengek-rengek supaya aku melihat tanganmu.

Untuk apa kau memperlihatkan tanganmu yang berdarah itu padaku? Kau mau aku mengasihanimu?” tanyaku.

“Aku hanya ingin kau tahu bahwa aku tak bisa bekerja karena luka di tanganku ini,” jawabmu.

“Apa? Jadi kau datang ke kantorku hanya untuk memperlihatkan tanganmu itu? Apa kau sudah gila??” tanyaku, sambil mempertanyakan logikamu. “Bukannya ke rumah sakit untuk mengobati lukamu, malah pergi ke kantorku dan mengacaukan pertemuanku dengan klien penting??”

“Maaf. Aku hanya ingin kau tahu kejadian ini,” jawabmu dengan polosnya.

“Sampai kapan kau akan mempertontonkan kisah pilumu padaku? Sampai kapan kau akan terus merusak suasana kerjaku, membuat klien-klienku lari karena ulahmu, dan mempermalukan aku di depan semua orang??” hardikku.

“Berhentilah berakting seolah-olah kau makhluk paling menderita di dunia ini! Sudah cukup aku melihat bualanmu! Kau pikir aku tak tahu kejadian yang sebenarnya?” lanjutku.

“Aku berani bersumpah, ini sungguh karena pisau bodoh itu!” katamu sambil menangis.

“Pergilah! Pergi ke rumah sakit! Dan jangan datang lagi padaku untuk mengemis-ngemis perhatian!! Cukup sudah!” kataku.

Kau pun berlalu meninggalkanku. Di luar sana aku melihat pacarmu menunggumu lalu membawamu pergi dari hadapanku. Ya, pacarmu yang katamu pemakai narkoba, pemalak, dan tukang menghabiskan uangmu. Tapi tetap saja kau bertahan dengannya. Kau lebih memilih dia yang sudah menyakitimu daripada orang yang selama ini baik padamu. Kau lebih membela dia yang selalu menghancurkan hatimu daripada orang yang selalu mendengarkan keluh-kesahmu. Dan aku meledak! Aku merasa sesak!

Advertisements

3 thoughts on “Meledak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s