Little Fia

Fia namanya. Dia baru kelas satu SD. Fia ini anaknya seorang kenalan yang bekerja di tempat yang sama dengan saya. Cuma beda divisi.

Sebenarnya mamanya Fia dan saya nggak terlalu dekat. Kami bukan teman akrab. Awalnya. Tapi karena kami terlibat dalam suatu acara di tempat kerja, lama-kelamaan kami jadi lumayan akrab.

Sekolahnya Fia bersebelahan dengan tempat kami kerja. Karena mamanya Fia kerja di bagian yang selalu sibuk, Fia kadang suka ngikutin saya. Baru beberapa minggu ini saya dan Fia jadi akrab.

Suatu hari ada acara di tempat kerja. Fia seperti biasa ikut/dibawa mamanya ke tempat kerja. Waktu itu mamanya sangat sibuk. Jadilah saya menemani Fia.

Siang hari, waktunya makan pun tiba. Semua peserta acara mulai mengerumuni meja hidangan. Saya masih agak sibuk saat itu. Jadi ketika saya mau ambil makanan bersama Fia, lauk-pauk sudah banyak yang habis. Tinggal nasi, kerupuk, dan sedikit sayuran gado-gado. Sayurnya kira-kira cukup untuk dua orang. Di belakang saya ada beberapa ibu tua yang juga lagi ngantri ngambil makanan. Saya memutuskan batal mengambil makanan dan hanya mengambilkan makanan untuk Fia.

Setelah mengambilkan makanan untuk Fia, kami mencari tempat duduk. Ada sebaris kursi yang masih kosong. Saat Fia makan, saya ke kantin sebentar untuk membeli nasi uduk. Begitu kembali ke tempat Fia duduk, ternyata kursi di barisan kami sudah penuh.

Fia menyuruh saya mendekatkan telinga saya setelah saya duduk di sebelahnya.

“Miss, Fia mau ngomong,” katanya.

“Ngomong apa, Fia? Kok bisik-bisik?” tanya saya.

“Miss, lihat deh piring ibu yang duduk di sebelah Fia.”

Saya melihat ke piring ibu yang disebutkan Fia. Piringnya penuh. Bisa dikatakan nasi dan sayurannya segunung.

“Memangnya kenapa Fia?”

“Masa ambilnya sampai segunung? Memangnya habis dimakan semuanya?” tanya Fia.

“Mungkin ibu itu lapar,” jawab saya.

“Miss, nanti kita lihat ya habis atau nggak itu. Pasti nggak habis!”

Beberapa saat kemudian, benar yang dikatakan Fia. Ibu itu tidak menghabiskan makanan yang diambilnya. Masih sisa banyak.

“Tuh, kan, Miss. Makanya jangan serakah. Ambil jangan banyak-banyak kalau nggak habis! Miss lihat kan tadi ada yang nggak kebagian makanan. Termasuk Miss juga, tuh! Coba kalau nggak ambil banyak-banyak, kan makanannya bisa untuk yang lain,” bisik Fia.

Saya cuma senyum-senyum saja. Dalam hati saya bertanya-tanya, darimana anak ini belajar? Kok pintar sekali! Dia tahu tentang serakah dan berbagi walaupun masih kelas 1 SD. Dan lebih mengejutkan, setelah makan, Fia mencuci sendiri piringnya di tempat cuci piring. Dia bahkan membantu ibu-ibu lain yang sedang mencuci banyak piring. Benar-benar salut! Saya nggak menyangka aja ada anak kecil seperti Fia. Jarang-jarang ada anak seperti dia.

Advertisements

7 thoughts on “Little Fia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s