#FiksiRabu – I Miss U

Aroma kopi ini… Begitu harum… Suasana di cafe ini… Begitu tenang. Semuanya mengingatkanku pada satu orang.

“Kalau lo kangen, kenapa nggak bilang saja?” tanya sahabatku saat itu.

“Bilang saja? Lo pikir akan semudah itu?” balasku.

“Ya, iyalah! Apa susahnya cuma bilang kangen? Tinggal ambil hape trus ketikkan pesan. Kirim. Selesai!” balasnya lagi.

“Nggak semudah itu, Non! Memangnya aku ini siapa? Pacarnya? Gebetannya?” seruku.

“Hmmm… Iya juga, sih! Kalian itu… Dikatakan teman, tapi kalian lebih dari itu. Dibilang pacar, tapi status kalian masih teman.”

Dan beginilah aku, mendatangi cafe ini hampir setiap hari hanya untuk mengembalikan kenangan persahabatanku dengan seseorang yang sebenarnya kusuka – seorang sahabat yang memilih bekerja di kota lain, sahabat yang setiap hari bertemu untuk berbagi cerita…

Persahabatan antara laki-laki dan perempuan… Apa itu mungkin tanpa menumbuhkan rasa cinta? Entahlah, aku tak tahu. Karena yang kurasakan berbeda. Dan aku sudah siap untuk mendengarkan langsung darinya jika ia mengatakan sudah punya pacar yang dikenalnya dari kota sana.

Tapi… Saat ini aku benar-benar kangen padanya. Aku ingin bertemu dengannya, tertawa bersama, dan mengobrol panjang-lebar tentang segala hal.

“Sudah, deh, lo kirim pesan aja ke dia. Bilang lo kangen. Siapa tahu dia juga kangen lo!” lanjut sahabatku saat itu.

“Apa? Lo gila kali, ya? Nggak mungkin dia kangen sama gue! Dunia bisa kiamat!!”

“Kan, lo belum tahu nantinya bagaimana. Dicoba saja dulu apa salahnya, sih??”

“Tapi gue cewek, Non… Gengsi, ah, bilang kangen sama cowok yang jelas-jelas cuma ngganggap gue temen!”

“Ya, bilangnya jangan to the point kangen gitulah! Pura-pura aja nanya kabar atau nanya apa, kek!”

“Tapi gue takut ntar ganggu dia kirim-kirim pesan kayak gitu.”

“Lha, selama ini memangnya gimana? Sebelum dia berangkat memangnya kalian nggak pernah saling kirim pesan?”

“Pernah, sih, tapi cuma buat janjian untuk ketemuan aja!”

“Ya, sudah kalau begitu. Makan sendiri aja rasa kangen dan gengsi lo itu!”

“Jiah! Kok lo gitu sih sama gue??”

“Habisnya, lo dikasih saran nolak melulu sih!”

“Saran lo susah banget buat dijalanin, tau! Apa nggak ada saran lain?”

“Ada!”

“Apa?”

“Nih, baca yang keras!” pinta sahabatku sambil menunjukkan sesuatu di hapenya.

“Whaattt?? Gila kali!” seruku sesudah membaca tulisan yang ada di hapenya.

Setelah kupikir-pikir lama sekali tentang tulisan di hape sahabatku itu, kupikir itu ide yang bagus!

Aku mengambil tasku dan keluar dari cafe. Lalu aku berjalan ke taman yang lagi-lagi adalah tempat yang biasa aku kunjungi bersama seseorang itu. Aku berjalan ke tempat yang biasa kami hampiri dan duduk di salah satu bangku yang menghadap ke rerimbunan tanaman.

Setelah puas menghirup udara segar, aku mengambil sebuah batu koral yang berukuran sekepalan tanganku. Lalu kukeluarkan spidol dari dalam tasku dan mulai menuliskan sesuatu di atas batu itu.

Huft… Aku menarik napas dalam-dalam dan melempar batu itu ke rerimbunan tanaman di depanku.

“Aaaww!!” teriak seseorang dari balik rerimbunan tanaman.

Apa? Apa batu itu mengenai seseorang? Bisa gawat kalau itu yang terjadi!

Aku bangkit dari tempat duduk dan berjalan ke arah suara orang yang berteriak untuk meminta maaf.

Dan… Aku tertegun memandang orang yang memegang batu yang kulempar tadi.

“I miss you??” kata orang itu sambil menatapku.

“Iya…,” jawabku.

“Sekangen itukah kau pada seseorang sehingga kau menuliskannya di atas batu, Arina?” tanya orang itu lagi – seseorang yang memang ingin kulempari batu bertuliskan I Miss You itu agar dia tahu betapa sakitnya merindukannya.

“Kenapa kau ada di sini?” tanyaku.

“Apa aku tak boleh pulang kampung?” dia balas bertanya.

“Bukan begitu… Tapi, kenapa tak memberitahukannya padaku? Lalu, apa yang kau lakukan di balik rerimbunan itu?”

“Karena…,” ia menghentikan kalimatnya lalu melirikku. “Aku kangen kota ini… Aku kangen melihat matahari terbenam dari balik rerimbunan itu… Dan aku memang tak ingin mengabarkan kepulanganku pada siapapun. Bukankah ini kejutan??”

“Oooh… Ya, begitulah. Kejutan…,” kataku. Kuharap dia akan mengatakan ia kangen juga padaku dan kejutan itu untukku. Tapi, ah! Aku terlalu berharap!

“Jadi, siapa orang yang kau kangeni itu?” tanyanya.

“Oh, itu… Hmmm… Rahasia!” jawabku.

“Baiklah kalau kau tidak mau memberitahukannya padaku sekarang,” katanya sambil mengetikkan sesuatu di ponselnya.

Aku mengintip sekilas. Pesan singkat yang dibuatnya ditujukan untuk seorang gadis yang namanya sering muncul di akun medsosnya.

Mungkin… Untuk sementara ini biarlah kami menjadi sahabat saja. Aku sudah cukup senang karena ia tiba-tiba kembali ke kota ini. Ya, aku sudah cukup senang hanya dengan melihat wajahnya dan bisa mengobrol dengannya.

image
Sumber gambar: instagram 8fact flirt
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s