#FFRabu – Guru

“Kamu kuliah di jurusan apa, Nduk?” tanya Eyang lima tahun lalu.

“Jurusan Matematika, Eyang,” jawabku. “Tapi bukan di FKIP. Saya kuliah di MIPA supaya bisa kerja di bank,” buru-buru aku melanjutkan. Aku tahu, Eyang tidak suka kalau ada anggota keluarganya yang menjadi guru.

“Ngapain jadi guru? Jadi guru itu nggak bisa membuatmu jadi kaya. Gajinya hanya segitu-segitu saja. Kerja sudah banting tulang, tapi tidak ada yang menghargai,” begitulah kata Eyang saat aku masih SMA.

Sekarang? Beda.

“Coba baca korang tentang pemenang Olimpiade Matematika ini. Guru pemenang lomba yang mengharumkan bangsa itu adalah cucuku, lho!” kata Eyang, membanggakanku pada para tetangga.

Advertisements

7 thoughts on “#FFRabu – Guru

  1. Biyasak, wisbiyasak… :haha. Kalau seandainya si guru gagal membawa siswanya menuju olimpiade, saya berani yakin kalau dirinya yang akan disalahkan :hehe. Kecuali memang neneknya baik banget dan pengertian sih… doh kok saya jadi nyinyir begini sih :haha. Mungkin karena saya terlalu terhanyut dengan ceritanya :hoho.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s