Prompt #97 – Mantu

Artwork oleh @julialillardart – The Picnic

“Beibh, lagi di mana? Sudah makan belum?” begitu bunyi pesan singkat dari Amira, selingkuhanku.

“Lagi di rumah, nih, Say. Ada istriku. Nanti saja smsnya, ya,” balasku.

Amira… Dia gadis cantik yang baru kukenal dua bulan terakhir ini. Ibuku pernah memergokiku sedang berjalan dengan Amira beberapa waktu lalu. Apa yang dilakukan Ibuku saat itu sangat mengejutkan.

“Kau selingkuh dengan gadis itu?”

“Bu, maaf. Aku tak akan mengulanginya,” kataku.

“Tapi… Setelah ibu pikir dia lebih baik dari Tiara yang cuma bisa mengurus rumah tangga. Amira itu anak pengusaha yang sangat berpengaruh! Jika ia menikah denganmu, itu akan menguntungkan perusahaan kita karena dia banyak koneksi.”

Kupikir aku salah dengar saat itu. Namun apa yang dikatakan ibuku selanjutnya begitu mengejutkan. “Ceraikan Tiara dan menikahlah dengan Amira!”

Dua bulan kemudian, aku resmi bercerai dengan Tiara. Aku pun mulai sibuk mengurus pernikahanku dengan Amira yang akan dilangsungkan bulan depan.

* * *

“Kenapa kau mau menikah dengan lelaki yang baru saja bercerai itu, Amira?”

“Tentu saja karena ada sesuatu yang menguntungkan untuk keluarga kita. Mereka pun ingin aku menjadi keluarga mereka karena ada sesuatu yang mereka incar!”

“Ah, ya betul juga! Mereka ingin kau jadi mantu mereka karena menginginkan sesuatu. Siapa yang tidak tahu dengan perusahaan kita, kan? Tapi, apa yang menguntungkan untuk keluarga kita?”

“Tumbal. Sudah cukup mengambil tumbal dari karyawan perusahaan kita setiap tahunnya. Jangan sampai ada yang curiga pada perusahaan kita. Dengan adanya pernikahan ini, sekarang kita bisa mengambil tumbal dari keluarga pria itu.”

“Aha! Itu ide yang sangat cemerlang, Amira!!”

‘Lagipula, anak yang ada dalam perut ini tak diakui ayahnya yang melarikan diri begitu tahu aku mengandung. Tentu menguntungkan sekali ada pria yang mau menikahiku. Hanya dengan sedikit rayuan dan beberapa butir obat tidur malam itu, ia masuk perangkap!’

Advertisements

18 thoughts on “Prompt #97 – Mantu

  1. Coba diperhatikan lagi EYD-nya sebelum di-publish πŸ™‚
    Untuk penggunaan kata ibu pada sapaan, maka digunakan huruf kapital di awal.
    Lalu penulisan tanda tanya dua, mungkin tidak perlu kecuali bila merupakan sms.
    Idenya menurutku udah keren, cuma eksekusinya yang masih terlalu kasar. Twist-nya jadi kurang jedar. Salam kenal πŸ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s