Prompt #87 – Dunia Kelabu

sumber gambar: www.pablopicasso.org

Duniaku biru. Yang kulihat hanya biru dan semua gradasinya. Hari-hariku kelabu. Lalu, petikan jari sang kakek tua renta berwajah sayu ini menambah suramnya hidupku.

Hari ini, entah untuk yang ke berapa kalinya ia memaksaku mengeluarkan nada-nada sendu. Mungkin yang kelima puluh. Eh, tidak, sepertinya yang keseratus. Pokoknya, tak terhitung. Dan itu membuatku lelah.

Aku memelototi kakek itu. Namun matanya yang sayu membuatku luluh. Aku mengurungkan niatku untuk memelototinya lebih lama. Ia menatapku dengan pandangan kosong. Jari-jarinya yang keriput memaksaku untuk mengeluarkan nada-nada yang penuh dengan kegalauan. Lagi dan lagi.

Aku bergetar. Aku mengikuti apa yang diperintahkan jari-jemari si kakek. Jari-jari kirinya menekan kunci A minor. Aku bergetar dan mengeluarkan nada A minor. Ia menekan kunci E, aku pun mengikuti perintahnya dan mengeluarkan nada E. Begitulah seterusnya. Lagu yang dimainkannya selalu sama.Β Lagu yang sama dimainkan berulang-ulang. Lagi. Lagi. Dan lagi. Tak bosan-bosannya.

“Hai, Kek. Apa engkau tak bosan dengan lagu ini?” tanyaku.

Si kakek tak menjawabku.

“Bisakah engkau mengganti lagunya, Kek?” tanyaku lagi.

Namun si kakek tetap diam membisu. Tatapan matanya tetap kosong.

“Kek, cobalah untuk memainkan nada-nada yang ceria! Setiap kali kau memainkan lagu sendu, hidupmu akan bertambah sendu,” kataku setengah berteriak.

Si kakek tak menggubrisku. Ia tetap memainkan nada-nada sendu dan memaksaku bergetar.

Aku bosan. Benar-benar bosan! Aku tak ingin mengelurkan nada-nada sendu itu lagi. Dan… Tiba-tiba terlintas suatu ide. Ya, aku akan memberontak!

Saat si kakek menekan kembali kunci A minor, tubuhku menegang. Mata si kakek terbelalak saat ia mengetahui gitarnya tak bisa dipetik. Ia memaksakan jari-jemarinya untuk memetik dawai. Saat itulah aku semakin mengencangkan tubuhku. Dan ketika jari si kakek menyentuh tubuhku… Ctasss!! Tubuhku terbelah dua. Salah satu bagiannya mengenai wajah si kakek. Menghempas dari udara dan mendarat di pipinya bagaikan menamparnya.

Si kakek seakan bangun dari tidurnya yang sangat panjang. Ia terpaku memandangku. Gitar kesayangannya tak lagi dapat digunakan.

“Hai, Kakek. Sebelum aku meninggalkanmu, ijinkan aku mengucapkan salam perpisahan. Kembalilah ke dunia nyata. Hapus lembaran birumu dan gantilah nada-nada sendumu menjadi lagu ceria yang baru.”

Setelah mengucapkan kalimat perpisahan itu, kututup mataku. Perlahan-lahan dunia kelabuku tak lagi biru.

Advertisements

12 thoughts on “Prompt #87 – Dunia Kelabu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s