Ceritera Juli #21: Kena Batunya

Tahukah kalian bagaimana rasanya saat terdampar seorang diri di pulau tak berpenghuni bersama dengan seorang lelaki aneh? Akan kujawab. Rasanya sangat menyesakkan, bete, kesal, marah, semua bercampur menjadi satu dan dinamakan gado-gado rasa.

Aku tak kenal siapa lelaki yang saat ini sedang bermain pasir. Oke, tepatnya sebelum aku merasa kesal aku tak tahu siapa nama lelaki ini. Sekarang aku sudah tahu siapa dia setelah mengobrol panjang lebar sekitar satu jam.

Oh, ya, aku belum menceritakan kenapa aku bisa terdampar di pulau asing tak berpenghuni ini. Ceritanya begini… Minggu lalu pamanku yang seorang pebisnis minyak mengadakan tur maritim. Ia mengundang beberapa orang terdekatnya untuk mencoba naik ke kapal barunya. Aku juga diundang karena aku bekerja padanya.

Lalu, dua hari yang lalu, berangkatlah kami menggunakan kapal baru pamanku itu. Kami berangkat dari Lampung dan rencananya akan berhenti di Kepulauan Riau, menginap di sana dua hari, dan berangkat kembali ke Lampung.

12 jam pertama, semuanya oke-oke saja. Tak ada masalah. Kami semua di kapal yang dapat menampun sekitar 20 orang ini sangat bersenang-senang. Ada yang berfoto, ada yang santai di dek kapal, dan ada yang sekadar duduk-duduk menikmati pemandangan.

Malam harinya, muncullah musibah itu. Kapten kapal menyalakan alarm darurat, menyuruh semua penumpang kapal untuk naik ke sekoci penyelamat. Beberapa awak kapal menyuruh kami semua memakai jaket pelampung sebelum naik ke sekoci. Waktu itu, semuanya sangat panik tak terkecuali aku.

Ada tiga sekoci. Dua sekoci penuh. Saat ini aku benar-benar mengutuk sifat leletku. Kalau saja aku tidak lelet dan bertele-tele saat mengenakan jaket pelampung, aku pasti masih bersama pamanku dan beberapa orang temannya. Namun, saat ini aku bersama lelaki tak dikenal gara-gara kedua sekoci sebelumnya sudah penuh, dan tinggal satu sekoci. Mau tak mau aku harus naik. Dan di sekoci itu hanya ada aku dan si lelaki ini.

Malam sangat gelap. Kami tak tahu jalan, tak tahu arah, dan terombang-ambing di tengah lautan luas. Begitu pagi menjelang, terlihatlah pulau yang sedang aku duduki sekarang. Si lelaki yang bernama Sadam ini berteriak kegirangan.

“Ada pulau! Ada pulau! Kita selamat!”

Aku ikut berteriak. “Yeay, akhirnya selamat!”

Lalu ketika kami tiba di pulau ini, perasaan gembira itu seketika lenyap. Ternyata tak ada siapapun di sini. Sungguh menyedihkan. Dan lebih menyedihkan lagi adalah pertanyaan-pertanyaan Sadam yang membuat perutku mulas.

“Maria, jika saat ini aku adalah lelaki terakhir di muka bumi ini, maukah kau menjadi pendampingku?”

Aku mengernyitkan keningku dan berkata dalam hati, ‘Apa?? Ngarep kali ye! Nggak nyadar siapa elo?’ Tapi yang keluar dari mulutku adalah kata-kata ini, “Mau bagaimana lagi?”

“Kalau begitu lebih baik kita berdua menikah saja!” seru si Sadam sambil mendekatkan badannya padaku. Aku mundur selangkah.

“Tidak!” tolakku. “Aku kan baru mengenalmu beberapa jam!”

“Itu sudah cukup bukan?” katanya sambil mencoba memegang tanganku. Aku menepis tangannya.

“Hentikan itu! Apa yang kau pikirkan, hah?” bentakku.

“Nggak ada. Hanya saja saat berdua dengan seorang wanita cantik sepertimu ini, jantungku jadi berdebar-debar,” katanya. Kali ini ia menarikku ke dalam pelukannya, mengelus kepalaku dan mencoba menciumku.

Aku mendorongnya. “Jangan macam-macam!” teriakku.

Sadam mundur. “Ayolah, Maria sayang. Jangan marah begitu. Aku cuma bercanda saja, kok.”

Menjijikkan bukan? Lelaki yang baru dikenal sudah mencoba macam-macam dan langsung memanggil dengan kata sayang walaupun cuma bercanda sama saja dengan tidak menghargai wanita. Itu yang ada dalam kepalaku. Mana mungkin aku mau dengan lelaki seperti itu.

Setelah aku mendorongnya, ia menjauh dan mulai memainkan pasir pantai. Aku mengambil ponselku lalu mencoba mencari sinyal yang entah sekarang hilang ke mana.

Beberapa jam kemudian, ada satu garis di indikator sinyal di ponselku. Langsung saja aku menekan tombol panggil ke nomor pamanku. Terdengar bunyi nada panggil. Detik berikutnya pamanku menjawab panggilanku.

“Maria! Di mana kau? Paman mencarimu. Kami sudah diselamatkan tim SAR!”

“Paman, aku tak tahu di mana aku. Aku terdampar di pulau tak berpenghuni bersama seorang lelaki brengksek bernama Sadam. Tolong selamatkan aku Paman. Secepatnya, pliss… Aku sudah tak tahan lagi dengan kelakuan si gila ini!”

“Baiklah Maria. Tenang, ya. Paman akan segera menyelamatkanmu.”

Begitulah… Akhirnya aku menunggu datangnya bala bantuan. Sadam sendiri masih saja melirik-lirikku. Untungnya aku menemukan sebuah kelapa tua yang jatuh dari pohonnya. Ini untuk berjaga-jaga jika Sadam mau macam-macam lagi. Awas saja jika ia berani, akan kulempar kelapa ini ke kepalanya. Biar saja dia benjol. Kalau perlu biar dia tak sadarkan diri saja.

Tak lama kemudian muncul dua buah speed boat dari kejauhan. Aku mengambil pelepah pohon pisang dan melambai-lambaikannya.

“Di sini! Di sini! Selamatkan aku!” teriakku.

Speed boat itu bergerak ke pulau tempatku terdampar. Saat mereka sampai, beberapa orang turun dan berjalan ke arahku.

“Anda nona Maria?” tanya salah satunya saat menuntunku naik ke speed boat.

“Iya, Pak,” jawabku. “Oh, ya, apakah aku bakalan satu speedboat dengan lelaki itu?” tanyaku sambil menoleh ke arah Sadam yang saat ini juga sedang dituntun beberapa orang dari tim SAR.

“Tidak, tenang saja. Pamanmu sudah menceritakan bagaimana kondisimu. Karena itulah kami datang dengan dua speedboat. Kalian akan dibawa terpisah,” jelas orang dari Tim SAR itu.

Setelah beberapa jam di speedboat, akhirnya aku tiba di sebuah dermaga. Pamanku dan beberapa orang lainnya menunggu di pinggir dermaga.

* * *

Enam bulan kemudian…

Hari ini aku ada janji bertemu dengan sahabatku, Anita. Karena kesibukan masing-masing, kami jarang sekali bertemu. Kami janjian bertemu di sebuah cafe dekat rumahku.

“Hai, Maria! Bagaimana kabarmu? Kau tampak ceria sekali!” sapa Anita saat tiba di cafe.

“Kabarku luar biasa baik, Nit! Bagaimana kabarmu? Apakah kau masih menulis di blog?” tanyaku pada sahabatku yang mempunyai hobi yang sama denganku, menulis di blog.

“Tentu saja masih. Aku selalu menyempatkan diri untuk bercerita di blog,” katanya. “Oh, ya, ada gosip baru, lho! Apakah kamu mau mendengarnya?”

Aku memajukan badanku. Ini saatnya bercerita panjang lebar. “Tentu saja! Aku selalu suka mendengarkan cerita darimu,” jawabku.

“Seorang rekan kerjaku menawarkanku untuk berkenalan dengan seorang laki-laki. Setelah beberapa hari BBMan, kami janjian bertemu. Laki-laki ini rupanya sangat menyebalkan. Di pertemuan pertama kami itu, dia langsung main pegang-pegang dan bilang sayang-sayang! Tentu saja aku risih. Aku langsung meninggalkannya dan tak mau lagi menggubris semua sms maupun telepon darinya.”

Mendengar cerita Anita pikiranku langsung melayang pada kejadian terdampar di pulau enam bulan lalu. Kejadian yang hampir sama.

“Dan… Kau tahu siapa nama lelaki itu?” lanjut Anita.

Aku menggelengkan kepalaku sambil menyeruput Lemon Tea hangatku.

“Namanya adalah Sadam!” seru Anita.

Seketika aku langsung tersedak. “Hah? Sadam? Orang yang sama dengan orang yang macam-macam denganku?” tanyaku tak percaya.

“Iya, Mar. Tadinya aku tak percaya itu Sadam yang pernah kau ceritakan. Kupikir itu Sadam yang lain karena kau tak pernah ceritakan bagaimana rupa si Sadam. Lalu, kupikir jika itu Sadam yang kau ceritakan, mungkin saja dia sudah tobat!”

“Yeah, tapi ternyata tidak, kan?”

“Begitulah. Mungkin memang tabiat aslinya seperti itu. Tak mudah mengubah tabiat yang sudah mendarah-daging.”

“Setuju, Nit. Jadi, apa yang akan kaulakukan sekarang? Bagaimana dengan si Sadam?”

“Aku punya ide yang bagus, Mar. Bagaimana kalau kita membuat cerita tentang si Sadam ini di blog. Ini bisa menginspirasi para wanita agar berhati-hati pada lelaki yang baru dikenalnya,” saran Anita.

“Ide yang bagus! Aku akan membuat cerita versiku. Kau juga buat cerita versimu, tapi dengan inti yang sama.”

“Sepakat!”

Setelah pertemuan itu, aku merealisasikan apa yang sudah kusepakati dengan Anita. Aku membuat artikel tentang lelaki seperti Sadam. Beberapa pengunjung blogku setuju denganku. Lelaki macam Sadam adalah jenis lelaki yang tak menghargai wanita. Sahabatku juga membuat artikel yang sama dengan caranya sendiri. Rata-rata pengunjung blognya juga tak suka dengan sikap Sadam.

Di bagian bumi yang lain, seorang lelaki kembali melancarkan aksinya. Ia mengeluarkan kata-kata rayuan mautnya untuk menjerat wanita. Selain dengan kata-kata, ia pun menggunakan tangannya untuk menyentuh sang wanita. Namun kali ini ia terjebak. Wanita yang dirayunya ternyata seorang polisi. Ia ditangkap dengan tuduhan melakukan pelecehan dan mendapatkan hukuman kurungan penjara. Lelaki yang kena batunya itu bernama Sadam.

* * *

Fiksi ini diikutkan dalam event Ceritera Juli #21 oleh Kampung Fiksi.

Tema:Terdampar. Karena sebuah kapal karam, seorang pria dan wanita terdampar di sebuah pulau kecil tak berpenghuni. Mereka tidak saling mengenal. Ceritakan bagaimana kehidupan mereka enam bulan kemudian.

Advertisements

16 thoughts on “Ceritera Juli #21: Kena Batunya

  1. Eh, ehem… pertamanya saya kira ini akan jadi kisah romantis, dengan si cewek ternyata diam-diam suka dengan tingkah laku si cowok, ternyata malah sebaliknya, si cowok ternyata memang agak bejat dan akhirnya malah ditangkap polisi :haha, jadi ingat adegan film Warkop DKI yang juga akhirnya si cowok ditangkap polisi karena kegatelan :hihi. Twist yang bagus soalnya sama sekali tidak terduga :)).

  2. Eh, ini curcol beneran mbak?

    Eh, tanya juga dong, emang beneran ya mbak? Cewek suka njelekin cowok yang nggak dia suka tau yang udah nyakitin dia, biar nantinya si cowok itu nggak laku?

    Mbak Grant banyak ide banget -_- rutin terus nulisnya :3

    1. Ini fiksi feb.
      Kalo masalh cewek jelekin cowok yg nggak dia suka/udah nyakitin itu… tergantung orangnya jg sih. Nggak smua gitu kok.
      Trus masalah dia jelekin tu cowok jg motifnya blom tentu supaya si cowok nggak laku.
      Biasanya cewek tuh hobi cerita, ngerumpi bareng temen2, gosip2. Gitu deh.
      Kalo ada cewek yg nyebar2in cerita ttg cowok, ditanya aja deh kenapa dia gitu. πŸ˜€

      1. Kan biasanya fiksi itu dari non fiksi mbak :p kayak aku, kadang kalau bikin fiksi, ya dari yang non fiksi :p wkwkwk

        Iya juga ya, cewek kebanyakan ngrumpi sih ya jadi, aib cowok kadang tersebar -_- ya, aku nanya karena kadang pernah jadi korban, kenapa si A bisa tau aku gini-gini, ternyata diceritain sama si B. Oh my… wkwkw

      2. Mgkn maksudmu fiksi berdasarkan reality ya Feb. Kalo aku nggak mesti berdasarkan reality sih. Biasanya mengkhayal ini cerita mau dibikin kayak apa trus endingnya gimana, udah itu baru ditulis. Tapi ada jg yg berdasarkan reality. Cuma jarang. πŸ˜€

        Ya cewek gitu Feb, obrolannya bisa nyebar ke mana-mana. Wkwkwk. Cowok gitu nggak? πŸ˜€

      3. Nah, itu maksudku ._. reality wkwkwk πŸ˜€
        Kayaknya enak khayal ya mbak, jadi bebas gitu nulisnya, dan gampang. Tapi koksusah ya buat aku πŸ˜€ keren deh persiapan nulismu mbak πŸ˜€

        Obrolan cewek bisa nyebar kemana-mana ya brati -_- bahayaaaaaaaa, kalau cowok nggak seheboh itu sih mbak :p

      4. aku masih latihan juga Feb, kadang buntu ide juga mau nulis apa. tapi ya dicoba, biarpun kadang fiksinya agak gak jelas dan gak dimengerti pembaca. πŸ˜€

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s