Ceritera Juli #20: Dunia Ilusi

Kubaca lagi kalimat terakhir di surat yang baru kuterima. “Jika kau tidak melakukan apa yang kami minta, maka kebohonganmu akan kami bongkar!”

Oke, ini surat kaleng. Aku tahu. Tak ada nama maupun alamat pengirimnya. Ini hanya selembar surat di dalam amplop yang kutemukan di bawah pintu apartemenku. Surat ini berisi ancaman dan permintaan yang aneh.

Siapa yang tahu apa yang kulakukan saat aku pertama kali aku datang di perusahaan tempat kerjaku? Mengenai surat lamaran itu… Apakah pihak HRD menyelidikinya? Tapi, itu 5 tahun yang lalu. Sekarang posisiku sudah tinggi. Dan seseorang ingin membongkar kebohongan itu? Dia pastilah orang yang iri akan kesuksesanku!

Oke, apapun itu. Sekarang mengenai permintaan yang tertera dalam surat itu: “Ambil segenggam tanah dari kuburan orang yang baru saja dikubur. Lalu letakkan tanah itu di halaman Kopitiam Halimun. Sesegera mungkin!” Yang melintas di pikiranku saat membaca itu adalah: “Apa-apaan ini? Mengambil tanah kuburan?” Sepertinya tidak berbahaya. Tapi…

Ini tak masuk akal! Meletakkannya di halaman Kopitiam Halimun? Itu adalah kopitiam saingan tempat aku bekerja sekarang. Kenapa harus Kopitiam itu? Apakah yang mengancamku ini ingin agar saingan kami itu bangkrut? Lalu, kalau aku tidak melakukannya, aku dijadikan kambing hitam? Gila! Ini benar-benar gila!

Aku kepikiran dengan surat kaleng itu. Sialnya beberapa hari kemudian, surat itu ada lagi di bawah pintu apartemenku. Isinya sama. Siapa sih yang iseng mengerjaiku?

Aku tak ingin menceritakan hal ini pada siapapun. Jika aku cerita, kebohonganku tentu saja secara langsung akan terbongkar. Aku tak ingin itu terjadi. Karena itulah, malam ini aku berada di sini. Ya, di kuburan. Untuk mengambil tanah basah. Dan aku bisa gila karena hal ini!

Aku menyalakan senterku dan mulai menyusuru nisan-nisan yang letaknya rapat-rapat. Tadi siang aku melihat mobil jenasah melintas di depan tempat kerjaku. Mobil jenasah yang melintas pastilah menuju ke pemakaman ini karena tempat inilah yang terdekat.

Di mana ya? Aku sedikit bingung mencari. Dan sedikit takut juga. Tentu saja! Malam-malam seperti ini sendirian di tengah kuburan. Siapa yang tak takut? Rasanya seperti ikut acara Uji Nyali saja! Aku berdoa dalam hati semoga tak ada makhluk tak tampak yang menampakkan diri.

Aku kembali berjalan, semakin jauh dari jalan kendaraan. Suara burung hantu sedikit mengagetkanku. Aku hampir saja jatuh terpeleset. Tapi, aku bersyukur karena suara burung hantu itu membuatku berhasil menemukan tanah basah yang kucari.

Ketemu! Nisan itu hanya berjarak 2 meter. Taburan bunga-bunga di atasnya adalah tandanya. Aku bergegas menuju ke sana. Baru beberapa langkah aku berjalan, tiba-tiba aku mencium bau wangi melati. Kata orang tua jaman dulu, kalau tiba-tiba tercium bau wangi saat di tempat seperti ini, jangan sesekali kau berhenti atau menoleh jika ada yang memanggil. Jika tidak, kau tak akan selamat. Makhluk itu akan mengikutimu selama yang ia mau.

‘Oke, aku tak mencium bau itu! Tidak! Aku tidak peduli! Tak ada bau!’ kataku dalam hati, mencoba meyakinkan diriku agar tak mencium bau itu walau kenyataannya wanginya semakin menyengat.

“Mas… Mas… Tolong aku…,” tiba-tiba aku mendengar suara bisikan seorang wanita.

Aku tak mau menoleh ke manapun. Di tanganku sudah siap kantong kresek untuk diisi dengan tanah basah. Aku mempercepat langkahku. Namun sial. Aku tersandung batu. Aku pun terjatuh. Saat aku mencoba bangun, entah bagaimana caranya kepalaku menoleh ke belakang. Dan saat itulah aku melihat dia.

“Aaaaaggghhh!!! Setan!!” teriakku sekencang-kencangnya.

Aku mencoba mundur beberapa langkah. Namun kakiku tersangkut tanaman rambat. Aku mencoba melepaskan kakiku dari tanaman rambat itu.

“Mas… Jangan takut… Aku tidak akan mengganggumu…”

“Jangan mendekat! Jangan mendekat!” teriakku lagi. Saat ini aku sudah mulai lupa misi awalku ke mari. Aku sungguh ketakutan. Mungkin saat ini mukaku sudah pucat pasi. Apalagi aku melihat dengan mata kepalaku sendiri seperti apa rupa wanita yang melayang di hadapanku ini.

“Aa-aa-ampun… Pergi! Pergi!” kataku. Dalam hati aku mencoba mengingat-ingat ayat-ayat yang pernah diajarkan padaku. Tapi, entah kenapa pikiranku serasa kosong. Otakku melompong.

Wanita itu semakin dekat. Sedangkan aku merasa semakin sekarat. Tak bisa bergerak! Sekujur tubuhku kaku dan aku merasa ngilu.

“Mas, aku cuma mau jadi temanmu…,” kata wanita berparas menakutkan itu. Ia menyeringai memperlihatkan giginya yang sudah menghitam. Rambut panjang awut-awutannya melambai-lambai.

Aku seperti terhipnotis setelah mendengar kata-katanya. Lalu aku berjalan kembali ke mobilku. Kantong yang tadi kubawa entah berada di mana. Aku menghidupkan mobilku lalu mengendarainya kembali ke apartemenku.

“Aaahh… Akhirnya aku bisa merasakan kembali ke sebuah rumah. Tempat tinggal…,” bisik wanita pucat yang duduk di kursi penumpang di sampingku. Setelah itu ia terkikik.

* * *

Dua bulan kemudian…

Seorang karyawan Kopitiam mengantarkan sesuatu pada suster di rumah sakit.

“Ini barang-barang lelaki itu. Tolong berikan padanya,” kata karyawan itu.

“Baik, Pak,” jawab si suster.

“Apakah dia masih mengingau tentang wanita menyeramkan yang mengikutinya ke mana pun?”

“Iya, Pak. Kami sudah menaikkan dosis obat penenangnya. Tapi itu tidak mempan. Ia terus saja meracau minta diselamatkan dari wanita yang katanya sangat menyeramkan. Aneh sekali! Padahal tidak ada siapa-siapa di kamar ini.”

“Kasihan sekali nasibnya. Setelah ketahuan ulah bohongnya pada perusahaan, sekarang ia mengigaukan sesuatu yang tidak-tidak…,” kata si karyawan sambil mengeleng-gelengkan kepalanya.

* * *

Fiksi ini diikutkan dalam event Ceritera Juli #20 oleh Kampung Fiksi.

Tema: PEMERASAN. Lima tahun yang lalu, aku memperoleh pekerjaan yang seharusnya tidak kuperoleh karena aku berbohong tentang banyak hal dalam surat lamaranku. Saat kedudukanku sudah tinggi, aku mendapat surat kaleng yang menyatakan mereka mengetahui kebohonganku dan memintaku melakukan beberapa hal yang aneh, sepertinya tidak berbahaya, tetapi…

Advertisements

6 thoughts on “Ceritera Juli #20: Dunia Ilusi

  1. Yang mengirim surat kaleng itu adalah si wanita setan. Wanita setan ini sakit hati gara-gara gagal memperoleh jabatan yang dipegang oleh si tokoh. Sebelum meninggal dia bersumpah akan membuat hidup si tokoh sengsara. *by analisa ustad sholeh pati*

    1. Boleh juga analisanya ustad sholeh pati (rizzaumami). Dan berdasarkan analisa tersebut saya menyimpulkan cerpen ini ada yg kurang, kurang jelas keterangannya sehingga menimbulkan beberapa tanda tanya seperti siapakah pengirim surat kaleng itu. =_=”

      Bat eniwei en bai de wei, makasih udah kasih komentar analisinya. 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s