CeriteraJuli #19: Bukan Cuma Iseng Semata

sumber gambar

Aku ingin menjadi penyanyi terkenal. Ya, terkenal seperti John Lennon dari The Beatles yang melegenda atau seperti Andy Lau dari China, atau seperti penyanyi Indonesia yang spektakuler, Ahmad Dhani. Karena itulah di sekolah aku mengikuti ekstrakurikuler olah vokal seperti Paduan Suara dan Vocal Grup. Selain itu aku juga mengikuti ektrakurikuler Band.

Selain menyanyi, aku juga bisa main gitar dan piano. Memainkan alat musik bagiku hanyalah selingan. Walaupun kemampuan memainkan alat musikku jauh lebih baik daripada kemampuan olah vokal, namun aku lebih suka menyanyi. Kalau menyanyi, aku lebih bebas berekspresi.

“Hai, Josh! Masih menunggu hasil audisi?” tanya temanku, Rafael, yang juga ikut audisi menyanyi.

“Iya, nih, Raf. Kamu sudah dapat hasilnya?” tanyaku.

“Sudah, Josh!” jawab Rafael sambil menunjukkan selembar kertas berwarna emas.

“Selamat, ya, Raf! Akhirnya bisa lanjut ke babak berikutnya!” kataku.

“Terima kasih, Josh. Mudah-mudahan kamu juga bisa lanjut ke babak berikutnya. Jadi aku akan ada kawan!” katanya. Setelah menepuk pundakku, ia keluar dari ruang tunggu audisi.

Aku menunggu dengan cemas. Satu per satu peserta audisi mulai berkurang. Akankah aku dapat tiket ke babak berikutnya? Kuharap iya. Kalau tidak, percuma saja aku ikut ekstrakurikuler olah vokal selama dua tahun di SMA dan tiga tahun di SMP.

“Oke saudara-saudara sekalian, tiket ke babak berikutnya telah dibagikan semua. Bagi yang mendapatkannya, saya ucapkan selamat! Lalu, bagi yang tidak mendapatkannya, jangan berkecil hati. Coba lagi tahun depan. Dan semoga beruntung!” kata PIC acara audisi menyanyi yang kuikuti.

Sejenak aku diam untuk mencerna kata-katanya. Acaranya sudah selesai? Jadi aku tidak dapat tiketnya? Artinya aku tidak lolos ke babak selanjutnya? Aku kalah di babak pertama? Yang benar saja!

‘Oh, ya ampun!’ Ini benar-benar di luar dugaanku. Masa aku bisa kalah dari Rafael? Padahal suaranya biasa-biasa saja. Dia bahkan tidak bisa teknik vibrasi suara! Dan… Range vokalnya lebih pendek dari range vokalku! Apa ini tidak salah?

“Sebentar, kak!” seruku memanggil PIC acara audisi saat ia mau masuk ke ruang juri.

“Ya? Ada yang bisa saya bantu?” tanyanya.

“Apakah nama Josh benar-benar tidak ada dalam list penerima tiket ke babak berikutnya?” tanyaku.

“Namamu Josh?”

“Iya.”

“Sebentar… Saya cek dulu…,” katanya sambil meneliti daftar nama di tangannya.

“Maaf, Dik. Tidak ada,” katanya.

“Tapi, Kak. Apa tidak salah? Atau mungkin juri salah menilai?”

“Maaf, nama-nama di list ini merupakan hasil keputusan bersama para juri dan tidak dapat diganggu gugat.”

“Tapi…”

“Coba lagi tahun depan ya. Semoga beruntung!”

Aku benar-benar tak percaya ini. Aku kalah! Kalah sebelum berperang yang sesungguhnya! Kalah di babak pertama!

Aku pulang dengan langkah gontai. Hari sudah malam saat aku pulang. Semua anggota keluargaku sudah asyik bermain di alam mimpi mereka masing-masing. Tinggallah aku yang masih merenungi nasib malangku hari ini.

Kuambil gitarku lalu kupetik dawainya. Lagu tak jelas yang kumainkan. Aku hanya memainkan beberapa kunci dasar. Bermain nada-nada tak jelas ini cukup untuk mengurangi rasa galauku. Aku pun tertidur sambil memeluk gitar kesayanganku.

Esok paginya ibuku menggedor-gedor pintu kamarku.

“Josh! Josh! Bangun! Ada tamu untukmu!” panggil ibuku.

Setengah sadar aku mengangkat kepalaku. Tamu? Pagi-pagi begini? Kulirik jam weker yang berada di meja samping tempat tidurku. Pukul 10. Aku terlonjak bangun. Astaga! Aku kesiangan!!

Oke. Ini bukan hari sekolah. Ini libur! Tapi, tetap saja bangun jam 10 itu sudah sangat kesiangan bagiku. Aku bergegas mengganti pakaianku, menyisir rambutku dan turun ke lantai satu.

“Maaf, siapa yang mencari saya, Bu?” tanyaku pada ibuku yang baru saja berjalan dari arah ruang tamu.

“Nggak tahu, tuh! Seorang bapak-bapak. Katanya ada pesan penting yang harus disampaikan padamu.”

Aku bergegas ke ruang tamu. Di sana kudapati seorang bapak berkumis dan berkacamata tebal. Ia mengenakan setelan jas hitam lengkap dengan dasi yang berwarna senada dengan setelan jasnya. Di tangannya ada sebuah tas kantoran. Ia tersenyum padaku saat aku masuk ke ruang tamu.

“Selamat pagi, dik Josheph Manuel!” sapanya.

“Selamat pagi, Pak!” jawabku. Bingung. Bagaimana dia tahu nama lengkapku? Aku tak ada ide tentang siapa sebenarnya orang ini. Aku tak pernah bertemu dengannya sebelum ini.

Bapak itu sepertinya tahu apa yang kupikirkan. “Saya adalah Mathew. Saya adalah orang yang mengenalmu. Well, mungkin kamu tak percaya ini…” Ia tak meneruskan kalimatnya. Aku menatapnya, berharap ia menyelesaikan kalimatnya.

“Aku adalah seorang pelintas waktu yang datang dari masa depan. Tepatnya dua ratus tahun dari sekarang,” lanjutnya.

Aku menganga. Apa-apaan ini? Apakah sekarang aku berada dalam film Doraemon di mana seseorang bisa datang ke masa lain dengan mesin waktu?

“Ooh…,” kataku. “Hahaha!” lanjutku. “Yang benar saja! Bapak jangan bercanda, dong! Ya kalau bercanda juga jangan kelewatan seperti ini, Pak. Kita kan bukan lagi syuting film Doraemon!”

“Mungkin Adik tidak percaya. Tapi saya tahu semua yang dialami adik sejak adik kecil hingga sekarang. Soalnya saya sedang meneliti kehidupan adik. Dan sekarang, saya ingin tahu apakah ada pengaruhnya terhadap kehidupan adik di masa depan jika saya memberitahukan apa yang sudah terjadi di masa yang akan datang.”

“Wah, ribet, Pak! Saya nggak ngerti apa maksud Bapak,” kataku. “Tolong bapak jelaskan yang sesimpelnya.”

“Maksud saya… Dua ratus tahun lagi, nama adik akan menjadi sangat terkenal!” ujar Pak Mathew dengan berapi-api.

“Hah? Terkenal? Masa, sih, Pak? Dua ratus tahun lagi saya pasti sudah di alam mana gitu. Nggak mungkin ada lagi di dunia ini, Pak!” kataku.

“Iya, saya tahu. Tapi namamu akan menjadi sebuah legenda! Mengalahkan seorang Mozart, Chopin, Bach, bahkan Beethoven! Kamu akan menjadi seorang komposer terkenal!!”

“Wah! Hahaha!” Aku tergelak mendengarnya. “Ini sudah kelewat batas bercandanya, Pak. Bapak nggak sakit, kan?” tanyaku. Aku tahu ini pertanyaan yang tidak sopan. Tapi, mungkin saja Bapak ini sakit, kan?

“Mana mungkin saya sakit! Ini betulan, lho, Dik Josh! Saya nggak bohong!”

“Oke. Tapi bagaimana saya bisa seterkenal itu?” tanyaku. Sebetulnya aku mulai malas meladeni bapak yang bercandanya nggak ketulungan ini.

“Kemarin dik Josh ikut audisi menyanyi, kan? Tapi adik kalah di babak pertama. Saat pulang ke rumah, adik main gitar di kamar, main lagu yang nggak jelas. Cuma kunci dasar.”

Aku mulai mencermati kata-kata Pak Mathew. Kok dia tahu apa yang kulakukan? Apakah dia memang benar-benar dari masa depan? Tapi, aku masih ragu. Jadi kubilang saja begini padanya, “Bapak memata-matai saya, ya?”

“Aduh, dik! Saya ini memang meneliti tentang kehidupan adik, kenapa adik bisa jadi komposer terkenal dan apa resepnya.”

“Jadi, apa resepnya, Pak?”

“Adik bisa main gitar dan piano. Gunakan itu untuk mencipta lagu. Adik kalau mencipta lagu pasti lagunya bagus! Semua teman-teman adik menyukainya. Mereka bahkan menyanyikannya terus-terusan. Betul, kan?”

Dalam hati aku mengakui aku memang suka iseng menciptakan lagu. Beberapa teman sekolahku suka menyanyikan lagu yang kuciptakan. Mereka bilang keren. Tapi, bapak ini bisa tahu darimana? Apakah dia agen FBI atau CIA?

“Pak, tahu dari mana saya bisa ciptakan lagu bagus?” tanyaku penuh selidik.

“Lha, kan sudah saya bilang dari awal. Saya ini seorang pelintas waktu dan peneliti tentang kehidupan adik.”

“Oh, baiklah. Anggap saja saya percaya perkataan bapak. Lalu sekarang apa lagi yang bapak ingin lakukan?”

“Yah… Misi saya cuma menyampaikan hal itu saja. Saya akan kembali ke dua ratus tahun yang akan datang dan melihat hasil kerja saya sekarang, apakah nama adik tetap terkenal ataukah menghilang menjadi seseorang yang biasa-biasa saja. Itu saja.”

Setelah mengucapkan selamat tinggal, Pak Mathew pergi. Ibuku bertanya-tanya tentang apa maksud kedatangannya. Aku menceritakan semua yang dikatakan bapak aneh itu. Ibuku pun sepakat denganku dan mengatakan bahwa dia sangat aneh.

Setelah itu, aku masuk ke kamarku dan kembali bermain dengan gitarku. Kupetik keenam senarnya bergantian hingga menghasilkan sebuah lagu baru yang bagiku tak jelas. Apa mungkin aku akan menjadi komposer terkenal mengalahkan Beethoven? Apakah bapak itu hanya menghiburku karena ia tahu aku kalah di audisi kemarin? Lalu… Bagaimana jika memang aku akan menjadi komposer terkenal? Haruskah aku mengubur dalam-dalam cita-citaku menjadi penyanyi dan mengubah haluan jadi seorang pencipta lagu?

Yah, apapun yang akan terjadi di masa yang akan datang, terjadilah… Lalu aku mengambil kertas partitur kosong dari laci meja belajarku. Iseng-iseng kutuliskan setiap nada-nada yang baru saja kupetikkan di gitarku lengkap dengan jenis rhythm dan kuncinya.

* * *

Dua ratus tahun dari sekarang… Di masa depan.

Di sebuah kota, ratusan orang tumpah ruah di sebuah gedung serba guna. Ada acara lelang di sana. Semua yang ada di sana nampak antusias mengikuti acara lelang itu.

“Oke, siapa lagi yang mau menawar untuk kertas-kertas partitur bertuliskan tulisan tangan asli komposer terkenal Josheph Manuel?” tanya pembawa acara lelang. “Lelang partitur ini akan ditutup dua menit lagi!” teriaknya.

“Enam ratus juta!” teriak seseorang.

“Delapan ratus juta!” sambut yang lainnya.

“Satu milyar!” kata yang lainnya.

“Dua milyar!” seru seorang yang lain.

Teng! Teng! Tiba-tiba terdengar bunyi bel tanda waktu lelang telah habis.

“Oke, waktunya habis!” teriak pembawa acara.

“Jadi, partitur ini terjual dengan harga dua milyar!! Dan, uang hasil penjualan partitur ini akan disumbangkan kepada yayasan sosial Joseph Manuel di Afrika untuk membantu warga kurang mampu di sana. Beri tepuk tangan!!” lanjutnya diiringi oleh tepuk tangan meriah para penonton di ruangan itu.

* * *

Fiksi ini diikutkan dalam event CeriteraJuli #19 oleh Kampung Fiksi.
Tema: MASA DEPAN. Seorang pelintas waktu mengetuk pintu rumahmu. Ia sengaja datang dari masa depan untuk mencarimu sebab dua ratus tahun dari sekarang, namamu menjadi sangat terkenal. Mengapa?

Advertisements

2 thoughts on “CeriteraJuli #19: Bukan Cuma Iseng Semata

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s