Ceritera Juli #18: Cinta yang Dipaksakan

sumber gambar

Akan kupastikan ‘tuk dapatkan tiket ke hatimu, walau kutahu kuakan tersesat di sana dan tak akan kembali lagi menjadi diriku yang seperti dulu. Apapun itu, asal demi kamu, akan kulalui dan kuhadapi.

* * *

“Hei, Bro, pagi-pagi sudah melamun! Bangun! Bangun! Sadar, Bro!”

“Apaan, sih? Gue nggak melamun, tau!”

“Kalau bukan melamun, jadi apa, Bro? Bengong?”

“Aish! Reseh, loe!”

“Mikirin apa, sih, Bro? Cerita-cerita, dong! Siapa tahu bisa bantu.”

“Gue bukan lagi melamun atau bengong, Bro. Gue lagi liatin tuh cewek yang lagi duduk di seberang sana.”

“Iisssh, pagi-pagi ternyata loe liatin gebetan loe si Lani itu. Aih, nggak nyangka gue, Bro! Gue nyangka loe udah bosan sama dia!”

“Nggak mungkin itu, Bro. Gue cinta mati sama dia!”

“Hoi! Loe sadar nggak sih, Bro, apa yang dia lakukan ke loe? Loe masih nggak kapok? Sekarang malah bilang cinta mati sama dia pula!”

“Mau bagaimana lagi? Gue emang cinta mati sama Lani. Gue udah maafin dia, Bro. Pokoknya gue bakal kejar dia sampai dapat!”

* * *

“Eh, Lan, liat tuh si Alit! Dari tadi dia mandangin loe terus dari jauh!”

“Biarin aja, An! Gue nggak peduli dia mau liatin gue sampai melotot atau sampai badannya meleleh.”

“Si Alit itu bener-bener bandel ya. Sudah tahu loe nggak suka sama dia. Masih saja dia ngejer-ngejer loe, Lan!”

“Iya, sih! Gue sebenarnya udah risih sama sikapnya itu. Padahal gue sudah kerjain dia beberapa waktu lalu. Tapi masih aja dia kayak gitu!”

“Ya, udah, loe kerjain lagi aja si Alit itu!”

* * *

“Hei, hei, Bro! Lihat tuh, si Lani jalan ke mari! Mau menghampiri loe kali! Cepat siap-siap, Bro!”

“Wuih, bener, Bro! Dia jalan ke mari!”

* * *

“Hai, Alit! Apa kabarnya?”

“Eh, hai, Lan! Kabarku baik. Ehm! Gimana kabarmu?”

“Baik juga, Lit.”

“Mau ke mana?”

“Ke kelas.”

“Oh, kalau begitu boleh aku antar?”

“Cuma beberapa meter lagi, Lit. Nggak usah diantar. Ntar ngerepotin kamu.”

“Ah, nggak, kok. Aku antar ya.”

“Ya, udah kalau kamu maksa.

“Hehehe. Aku senang kok, Lan, bisa nemenin kamu biarpun cuma ke kelas.”

‘Anjir sialan nih cowok gombal banget!’

“Oh, ya, Lit. Sabtu besok kamu sibuk nggak? Temenin aku ke toko buku, yuk!”

“Beneran, nih, Lan? Aku nggak sibuk, kok! Ntar aku temenin, deh! Jam berapa?”

“Sehabis pulang sekolah aja. Gimana?”

“Oke, deh!”

* * *

“Mau beli buku apa, Lan?”

“Hmmm… Sebentar. Buku ini kayaknya bagus, deh!”

“Oooh. Iya kayaknya.”

“Lit, kamu pernah baca buku ini nggak?”

“Enggg… Bukunya tebal banget, Lan. Aku nggak pernah baca buku setebal itu. Buku tebal yang pernah kubaca cuma kamus Bahasa Inggris.”

“Ah, masa, sih, kamu nggak pernah baca buku kayak gini. Ini seru, lho! Buku ini ada empat seri!”

“Hah? Empat seri? Semuanya tebal begitu?”

“Iya, Lit. Tapi dijamin nggak bakal ngecewain kalau baca buku ini. Aku sudah baca reviewnya di internet!”

“Ooh, begitu. Jadi kamu mau beli semuanya?”

“Iya, dong! Buku ini kan keren!”

“Oh, oke.”

“Nah, ayo ke kasir!”

“Iya, Lan.”

….

“Mari silakan letakkan di sini bukunya.”

“Waduh, dompetku ketinggalan, Lit! Gimana dong! Nggak enak, nih, kalau batal beli bukunya.”

“Hah? Ketinggalan dompet?”

“Iya, Lit. Aduh, gimana, dong?”

“Ya udah, ntar aku yang bayarin. Berapa harganya?”

“Semuanya tiga ratus dua puluh ribu, dik.”

“Oh, oke. Ini uangnya, mbak.”

“Makasih, ya, Lit.”

“Oke, deh, Lan. Ini bukunya. Eh, aku yang bawain, ya.”

* * *

“Hei, Bro! Ngapain loe senyum-senyum sendiri?”

“Ah, apaan sih loe merhatiin gue terus!”

“Kalau lihat senyum loe begitu, pasti ada kabar baik, nih! Coba cerita-cerita, Bro! Bagikanlah kabar baik itu!”

“Bro, loe tau nggak? Akhir-akhir ini Lani makin deket sama gue!”

“Ah, yang bener loe, Bro!”

“Suerrr sumpah mati disamber burung bangau, Bro! Si Lani itu sekarang sering ngajakin gue jalan!”

“Jalan? Yang bener aja, loe, Bro! Si Lani itu sedang pedekate sama anak IPS!”

“Nggak mungkin itu, Bro! Dia sering ajak gue jalan. Sabtu yang lalu dia ajak gue ke toko buku. Minggunya ngajak nonton. Trus dua hari yang lalu ngajak makan sama belanja baju di mall.”

“Oke, Bro. Gue paham. Trus pas ngajak loe jalan itu, siapa yang bayar?”

“Ya, gue lah, Bro! Masa dia yang bayar, sih?”

“Beli bukunya loe yang bayar?”

“Iya.”

“Beli baju juga loe yang bayar?”

“Iya.”

“Makan sama nonton juga loe yang bayar?”

“Iya, Bro. Kenapa sih loe??”

“Sudah habis berapa duit loe, Bro?”

“Nggak tau, Bro. Gue nggak hitung. Ratusan kali!”

“Itu modus namanya, Bro! Sadar nggak sih kalo si Lani itu cuma manfaatin loe!”

“Nggak mungkin itu, Bro! Nggak mungkin banget!”

“Tapi duit loe habis gara-gara dia, Bro!”

“Namanya juga cinta, Bro! Cinta itu butuh pengorbanan! Asal si Lani senang, gue bakal lakukan apapun buat dia!”

“Gila loe, Bro! Sadar hoi!”

* * *

“Eh, Lan. Si Alit kok kayaknya malah tambah demen sama loe?”

“Biarin aja, An! Biar sampai dia sadar sendiri kalau gue nggak suka sama dia. Biar dia sadar juga kalo selama ini gue cuma ngerjain dia”

“Tapi, kayaknya dia bandel banget, deh! Gimana kalo dia nggak sadar-sadar?”

“Pokoknya tinggal tunggu waktu aja, An. Dia bakal menjauh sendiri. Tenang aja.”

“Trus, gimana sama gebetan loe, si Reyhan?”

“Reyhan tau kok gue sama Alit nggak ada hubungan apa-apa.”

* * *

“Alit! Ke mari! Mama mau ngomong!”

“Iya, Ma. Ada apa?”

“Tadi Mama ke bank cetak buku tabungan kamu. Mama lihat uang tabunganmu berkurang drastis dalam dua minggu ini. Kamu beli apa saja sampai sebanyak itu, Lit?”

“Nnggg… Anu, Ma. Alit beli barang-barang keperluan sekolah.”

“Sampai satu juta lima ratus dalam dua minggu? Barang apa saja yang kamu beli, Lit?”

“Itu… Banyak, Ma. Buku… Baju…”

“Mana barangnya? Tunjukin ke Mama!”

“Nggak ada, Ma. Kan sudah dibawa ke sekolah.”

“Awas kalau kamu bohong, ya. Besok Mama akan cek ke sekolah kamu!”

‘Aduh, mati aku! Pliss deh Mam jangan tanya ke sekolah! Aissh!! Matilah aku!’

* * *

“Hai, Lit! Lagi sibuk nggak?”

“Eh, Lani. Nggak sibuk. Ada apa?”

“Jalan-jalan lagi, yuk. Aku mau beli bedak, nih! Bedakku sudah habis!”

“Nggg… Wah, gimana, ya?”

“Kenapa? Nggak bisa?”

“Bukan begitu, Lan. Masalahnya….”

“Ya, udah, nggak apa-apa kalau nggak bisa. Aku nggak maksa, kok.”

“Aduh, bukan begitu maksudku Lan…”

“Iya, ngerti, kok Lit. Nggak apa-apa kalau kamu nggak bisa. Aku pergi sama temanku aja.”

“Sama siapa?”

“Sama Reyhan.”

“Reyhan? Anak IPS itu?”

“Iya. Memangnya kenapa?”

“Nggak. Nggak apa-apa.”

“Oke, deh! Aku ke kelas dulu, ya. Bye!”

“Oh… Iya… Bye…”

* * *

“Hei, Bro! Kenapa murung begitu? Ada masalah apa, Bro? Cerita-cerita, dong!”

“Cowok IPS yang loe maksud waktu itu si Reyhan, ya?”

“Reyhan?”

“Iya! Yang loe bilang lagi pedekate sama si Lani!”

“Wah, iya, Bro! Kok loe tau?”

“Si Lani bilang mau jalan sama Reyhan gara-gara gue ragu-ragu pas dia ngajak jalan.”

“Ya ampun, Bro! Gue nggak salah berarti, kan? Benar kan yang gue bilang!”

“Kenapa loe nggak bilang dari awal, sih, Bro! Sialan loe!”

“Hei, hei! Dari awal juga sudah gue bilang sama loe. Nggak usah ngejar si Lani. Dia itu nggak suka sama loe!”

“Iya, sih. Tapi… Kayaknya mereka cuma jalan aja, Bro. Lani pasti nanti masih cari gue!”

“Astaga, Bro! Mau pakai apa lagi buat bikin loe sadar!!”

* * *

“Alit! Ke mari! Mama mau ngomong!”

“Iya, Ma. Ada apa?”

“Kamu bohongi Mama, ya? Kamu bilang duit kemarin dipakai untuk keperluan sekolah. Mama sudah tanya ke sekolah kamu. Nggak ada apapun yang harus dibeli. Dasar anak nggak sopan!”

“Ampun, Ma. Ampun! Alit minta maaf.”

“Jadi untuk apa duit itu kamu pakai??”

“Itu.. Anu… Buat bayarin keperluan cewek yang Alit suka, Ma…”

“Alit… Alit… Masa untuk ngedeketin cewek sampai sebanyak itu uangmu habis?? Jangan-jangan kamu cuma dimanfaatin aja sama tuh cewek!”

“Nggak, kok, Ma. Alit yakin cewek itu suka juga sama Alit.”

“Tapi kalau dia beneran suka sama kamu, dia nggak bakal ngabisin duitmu, Lit!”

“Alit benar-benar yakin dia suka juga sama Alit, Ma. Buktinya dia selalu ngajak Alit jalan.”

“Astaga, Nak! Semoga saja kamu cepat sadar dan bisa membedakan mana cewek yang benar-benar suka sama kamu dan mana yang cuma manfaatin kamu.”

“Pokoknya Mama nanti pasti akan lihat Alit jadian sama cewek itu. Mama tunggu saja.”

“Oke, Nak! Pastinya Mama nggak setuju kamu jadian sama cewek yang suka habiskan uangmu. dan, pokoknya uang jajanmu Mama kurangi sebagai hukuman karena membohongi Mama. Terus, semua kartu ATM dan kartu kreditmu Mama sita!!”

“Aaahhh, jangan Ma. Pliss! Ntar Alit kelaparan, dong, Ma! Trus si Lani kalau mau jajan, gimana?? Aduh, Mama, jangan gitu, dong….”

* * *

Fiksi ini diikutkan dalam event Ceritera Juli #18 oleh Kampung Fiksi

Tema: TIKET KE MANA SAJA. Tokoh ceritamu memenangkan sebuah tiket ke mana saja yang dikehendakinya, tetapi tidak dapat menentukan jalan kembali. Apa yang terjadi bila ia setuju untuk menerimanya?

Advertisements

10 thoughts on “Ceritera Juli #18: Cinta yang Dipaksakan

  1. Wah moga moga menang. Ceritanya sederhana. Bagus. Saya suka. Saya suka.

    Lanjutannya gimana ini cerita. Kemungkinan terbaik yang saya idamkan Si lani jalan ama reyhan. Tapi kemudian menyadari bahwa reyhan tidak pernah benar-benar suka sama lani. Reyhan hanya tipe cowok yang senang mempermainkan perasaan cewek. Terbukti, beberapa kali lani memergoki reyhan jalan sama cewek lain.

    Dalam keadaan menangis, lani mulai mengerti apa yang namanya cinta. Ia telah menyia-nyiakan seseorang yang telah banyak berkorban untuknya,alit. Ia ingin meminta maaf atas segala kejailannya selama ini. Ia takut untuk minta maaf. Lagi pula beberapa hari terakhir alit terlihat menjauh darinya.

    Sementara itu di tempat lain alit benar-benar kebingungan. Ia takut bertemu lani. Takut untuk menolak semua ajakan lani. Jujur, ia tidak pernah merasa terbebani ketika membelanjakan uangnya untuk lani. Lagipula itu uang tabungan yang diberi ayah bulan lalu. Dalam waktu sebulan ia pasti bisa menutup “kerugian” yang diakibatkan oleh lani. Alit termasuk anak orang kaya dan untuk itu ia mempermasalahkan tindakan lani.

    Masalah terbesar adalah mamanya. Mamanya bukan tipe perempuan yang mengijinkan anaknya menghabiskan uang begitu saja. Tipe mama yang selalu mengajarkan untuk menabung. Percayalah, alit sudah terlalu jenuh dengan sikap mamanya.

    Dalam menjalani hukuman dari mamanya membuat alit benar-benar hidup hemat. Ia sudah terbiasa hidup sederhana. Jadi, hukuman dari mama bukanlah perkara besar.

    Alit terus menghindari lani. Takut membuat lani kecewa. “Lebih baik aku menghindari lani dulu sampai hukuman mama berakhir. Nanti baru ngajak lani keluar lagi” pikir alit dalam hati.

    Alit ingin memanjakan lani. Ia tipe cowok yang tidak ingin mengecewakan kekasih hatinya itu. Hanya beberapa juta tidak akan menguras uang jajannya. Hanya saja alit tidak pernah tahu bahwa sikapnya disalah artikan oleh lani.

    Waduh kesel ngetiknya. Pokoknya nanti setelah salah paham berakhir lani sama alit harus jadian suer…, saya gak suka akhir yg ga’ bahagia. Novel-novel yang saya baca harus berakhir bahagia he he he. Kalau bisa ceritanya diselesain donk

    1. wah, cerita yang kamu bikin menarik banget!! ayok ikut juga event ini, belum telat kok kalo mau ikut. kan eventnya sampai tgl 31 Juli. ayo, ayo, ikut juga.
      makasih ya udah mampir dan kasih komentar yg oke banget. 🙂

      1. Saya malu klo nulis cerpen. Kurang kreatif. Lain kali saja ikutan. Mau bertapa dulu mengasah kemampuan menulis he he he

      2. Wkkkww ada sih keinginan buat cerpen nanti 3 tahun lagi. Sekarang fokus menulis dulu. Mudah-mudahan dalam 3 tahun bisa menerbitkan novel.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s