Ceritera Juli #16: Tanpa Penyesalan

“Lihat apa yang kau lakukan! Menyedihkan!” kata sebuah suara.

Aku tak menggubrisnya. Pandanganku fokus kuarahkan pada kerumunan di jalan tak jauh dari bukit tempat aku berdiri. Dari balik rimbunnya semak-semak, aku menatap keributan di seberang sana.

“Ah, seandainya tak kaulakukan itu…,” kata suara itu lagi.

“Diamlah! Semua ini benar! Memang begitulah seharusnya!” kata suara yang lainnya.

Aku masih diam membisu. Tak menggubris suara-suara itu. Tapi, makin lama suara-suara itu makin seru saja berdebat, membuat kepalaku pusing.

“Diam! Diam!” teriakku. “Aku pusing! Diamlah!”

Hening. Sesaat. Tak berapa lama kemudian suara-suara berisik itu kembali terdengar.

“Ya, ini salahnya, kan? Seharusnya ia tak melakukan itu…”

“Tapi, dia harus! Kalau tidak…”

“Berhenti! Jangan berdebat lagi!” Tiba-tiba terdengar suara ketiga menengahi. “Begini saja, kita biarkan anak muda ini kembali ke masa lalu. Lihat apakah yang akan ia lakukan sebelum kejadian ini.”

“Ya, itu ide bagus!” sahut suara pertama.

“Boleh juga. Ayo kita lihat!” jawab suara kedua.

Kemudian, kepalaku terasa pusing. Sangat pusing. Aku jatuh terduduk di bawah pohon. Kemudian gelap.

* * *

“Mas, iya… Iya… Aduh, ampun! Tolong jangan pukul lagi!” teriak seorang wanita.

Melihat wanita itu dipukul lagi, hatiku memanas. Sudah berkali-kali aku melihatnya babak belur sejak berhubungan dengan lelaki itu. Tanganku kukepalkan. Geram rasanya.

Plak! Plak! Tangan lelaki itu kembali memukuli sang wanita. Sang wanita jatuh tersungkur.

“Kau! Sudah berapa kali kubilang jangan pernah berhubungan dengan lelaki manapun tanpa sepengetahuanku!” bentak si lelaki.

“Tapi, Rendy itu sahabatku. Mas juga sudah kenal dia, kan. Aku hanya meminta bantuannya menyerahkan bingkisan Lebaran untuk sahabatku Linda. Kemarin aku minta tolong Mas, tapi Mas sibuk,” bela sang wanita.

“Aku tak mau tahu! Itu masalahmu! Jangan pernah minta tolong pada lelaki mana pun! Titik!” hardik si lelaki. Ia mengangkat tangannya lagi hendak memukul sang wanita.

Melihat itu, aku langsung menghampirinya dan memegang tangannya sekuat tenaga. “Jangan pernah memukulnya lagi!” perintahku.

“Hei! Hei! Lihat siapa yang datang!” ejeknya. “Mau sok jadi pahlawan, eh?”

“Kau… Sudah berkali-kali memukul Elina. Aku tak akan memaafkanmu!” bentakku.

“Heh, memangnya kau siapa sok mengatur hidup orang lain??” kata si lelaki sambil mendorong tubuhku.

“Elina itu sahabatku. Aku tak ingin ia disakiti siapapun termasuk pacarnya!” kataku, balas mendorongnya.

“Kau cuma sahabat! Aku pacarnya. Ini caraku mendidiknya! Aku mendidiknya karena aku sayang padanya, tau! Aku tak ingin ia salah langkah! Jangan ikut campur urusan kami!” bentaknya sambil mencengkeram leher bajuku.

“Cukup! Jangan bertengkar!” teriak Elina. Ia berlari ke antara kami lalu berusaha memisahkan kami. Tapi, tangan si lelaki menepisnya. Elina terdorong. Tubuhnya menabrak lemari. Ia jatuh tersungkur hingga tak sadarkan diri.

“Elina!!” teriakku. Aku berusaha melepaskan cengkeraman tangan si lelaki dan berlari ke arah sahabatku. Namun si lelaki menarikku dan memukuliku. Aku jatuh.

“Lihat akibat perbuatanmu!” bentak si lelaki.

“Kau yang membuatnya seperti itu! Itu salahmu! Dasar gila! Itu bukan cara mendidik!! Kau menyakitinya!!” teriakku sambil bangkit dan dengan sekuat tenaga mendorong tubuh si lelaki sampai ke luar pintu rumah Elina.

Aku tak tahu kekuatan dari mana yang kudapatkan. Lelaki itu tak bisa mengelak dari doronganku. Ia terus terdorong sampai ke jalan. Tiba-tiba terdengar suara klakson mobil truk. Aku melepaskan tanganku. Si lelaki terhuyung-huyung. Detik berikutnya terdengar bunyi tabrakan.

Si lelaki roboh ditabrak truk. Aku terdiam. Ketakutan. Tubuhku bergetar.

“Cepat lari! Lari dari sana!” Terdengar sebuah suara berteriak dari dalam kepalaku.

Aku mengikuti perintah dari suara itu. Lalu aku berlari ke sebuah semak-semak yang tak jauh dari rumah Elina. Napasku tersengal-sengal. Aku pusing. Tiba-tiba semuanya gelap.

* * *

Aku membuka mataku. Saat kubuka mataku, beberapa pasang mata memandangku. Oke, lebih tepatnya kerumunan orang menatapku.

“Anak muda ini yang mendorong lelaki tadi ke jalan hingga ditabrak truk!” teriak seseorang.

Aku bangkit namun tak berkata apa-apa. Seorang bapak berpakaian seragam cokelat dengan rompi hijau menyeretku dari kerumunan. Lalu aku dimasukkan ke dalam mobilnya. Sirene bergaung membelah keramaian.

“Yeah, anak muda ini tetap saja melakukan hal yang sama seperti sebelumnya walaupun ia sudah dikembalikan ke kejadian yang lalu,” kata sebuah suara.

“Ya, bagaimanapun juga dia harus melakukannya,” kata suara yang lainnya.

“Apakah dia menyesal telah membunuh si lelaki pacar sahabatnya itu?” tanya suara pertama.

“Kurasa tidak. Walaupun dia diberi kesempatan berapa kalipun untuk kembali lagi ke saat itu, ia tetap akan membela sahabatnya.”

“Walaupun harus membunuh si jahat?”

“Begitulah!”

Aku diam sambil menatap lurus ke depan, ke jalan yang penuh sesak oleh kendaraan dan orang-orang yang lalu-lalang.

‘Ya, aku tak menyesal. Suara hati yang baik, maaf aku tak mendengarmu. Suara hati yang buruk… Ya, aku memang harus melakukannya. Dan… Aku tak menyesal!’ kataku dalam hati.

sumber gambar

* * *

Fiksi ini diikutkan dalam event Ceritera Juli #16 oleh Kampung Fiksi.
Tema: JIKA AKU BISA: Kembali ke masa lalu dalam sehari saja, apa yang akan terjadi?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s