Ceritera Juli #15: Cenayang

“Bagaimana? Sudah dapat hasilnya?”

“Belum… Sedikit lagi.”

“Baiklah, coba lagi kalau begitu.”

Dua orang kasak-kusuk di sebuah tempat yang gelap. Sebuah lilin dinyalakan di dekat tempat mereka duduk. Yang satu, lelaki berusia tiga-puluhan, menunggu dengan cemas. Kacamatanya naik turun, tangannya sibuk membetulkan letak kacamatanya. Yang satunya lagi lelaki paruh baya berjenggot putih panjang komat-kamit dengan mata terpejam.

Selang beberapa menit, pak tua berjenggot membuka matanya.

“Bagaimana? Dapat sesuatu?”

“Hmmmm….,” gumam pak tua. “Besok bawakan ayam hitam, bunga tujuh rupa, dupa, kopi pahit, dan pisang mas.”

“Oooh, baiklah! Baiklah! Kalau saya bawa itu, nanti bisa berhasil?”

“Tidak dijamin. Berdoalah semoga bisa.”

“Ya, ya. Besok akan saya bawa barang-barang itu. Pokoknya besok harus berhasil!”

* * *

Keesokan harinya mereka bertemu di tempat yang sama di malam hari. Semua barang permintaan pak tua telah tersedia.

“Ini semuanya sudah siap. Bisa kita mulai?”

“Hmmm… Baiklah,” gumam pak tua. Ia kembali memejamkan matanya. Mulutnya mulai komat-kamit. Tak jelas apa yang dikatakannya. Sementara itu si kacamata memandanginya sambil sesekali membetulkan letak kacamatanya.

Beberapa saat kemudian pak tua membuka matanya.

“Sudah dapat?”

“Hmmm…,” gumam pak tua. Ia mengambil secarik kertas lalu menuliskan sesuatu di atasnya.

“Itu… Itukah?” tanya si kacamata, tak sabaran ia merebut kertas itu dari tangan pak tua. Namun tangan pak tua tak kalah gesit.

“Eits!” katanya. Sambil memegang kertas di tangan kirinya, tangan kanannya membuat tanda ia meminta sesuatu. Si kacamata menganggukkan kepalanya. Ia merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah amplop putih.

Pak tua mengambil amplop itu, membukanya, dan memeriksa isinya.

“Baiklah. Ini…,” kata pak tua sambil menyerahkan secarik kertas yang tadi ingin direbut si kacamata.

Si kacamata memandang tulisan di kertas itu dengan mata berbinar.

“Dengan ini aku akan kaya-raya!” teriaknya.

“Ssshhh!! Pelankan suaramu!” bisik pak tua.

“Oh, maaf,” ujar si kacamata.

Setelah itu si kacamata pamit. Tinggalah pak tua duduk sendiri di tengah kegelapan yang tidak begitu gelap karena ada sebuah lilin dan nyala api dari sebuah dupa.

Dua hari kemudian…

Di sebuah rumah terjadi perang antara suami dan istri.

“Bapak ini gimana? Katanya kita bakal menang lotere! Tapi, apa ini??” jerit sang istri.

“Tenang dulu, Bu…,” kata sang suami.

“Mau tenang bagaimana?? Uang kita sudah habis untuk membayar cenayang itu!! Sekarang, tambah habis karena Bapak beli lotere sebanyak itu!”

“Iya, Bu… Maaf… Pak tua itu bilang dia bisa mendengar suara arwah. Katanya nomor itu diberikan oleh si arwah dan pasti menang. Mana tahu ternyata meleset!!”

“Aaah, pokoknya aku nggak mau tahu! Cepat minta kembali uang kita sama cenayang itu, Pak!”

Sementara itu di pinggir sebuah pantai yang indah, duduklah seorang pak tua sambil bersantai menikmati pemandangan matahari terbenam dan deburan ombak.

“Bos, kenapa kau menuliskan angka yang salah pada lelaki dua hari yang lalu?” tanya sesosok makhluk tak tampak pada pak tua.

“Hmmm…,” gumam pak tua. “Kalau mau kaya, ya, kerja!!” jawabnya pada makhluk yang hanya bisa berkomunikasi dengannya melalui kontak batin.

* * *

Ceritera Juli #15 oleh Kampung Fiksi. Tema: JIKA AKU BISA: Membaca pikiran orang lain, dalam sehari saja, apa yang akan terjadi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s