Ceritera Juli #11: Jangan Dibaca

Sumber gambar: http://www.kampungfiksi.com

Melupakan kenangan dalam ingatan, tuh, sangatlah sulit. Entah itu kenangan manis, ataupun kenangan buruk, dua-duanya akan sangat sulit dilupakan. Apalagi jika kenangan itu adalah kenangan bersama orang-orang yang disayangi. Begitulah yang kurasakan saat ini.

Sudah tiga tahun berlalu. Namun kenangan itu masih saja membekas. Aku tak tahu harus bagaimana melupakannya -melupakan dia yang telah menyakitiku, rasa sakit, sekaligus kenangan yang sekarang kuanggap pahit. Semua itu membuatku takut memulai hubungan yang baru. Karena itulah aku di sini sekarang, di sebuah tempat bernama pantai.

Berdasarkan pengalaman dari teman-temanku, pantai adalah tempat terbaik untuk menyegarkan pikiran. Setelah pikiran segar, bersiaplah untuk memulai hidup yang baru. Lupakan semua yang telah berlalu. Tinggalkan kenangan-kenangan pahit itu dalam jejak-jejak kaki yang kaubuat di pasir pantai. Ya, begitulah kata mereka. Tidak ada salahnya untuk mencoba, kan?

Aku mengambil sebuah ranting yang tergeletak di bawah sebuah pohon yang tak jauh dari pantai. Kemudian aku mulai membuat beberapa tulisan dan gambar. Sungguh menyenangkan mencoret-coret di atas pasir seperti ini. Apalagi tak ada yang melihat. Pantai masih sepi di pagi hari seperti ini. Jadi, aku bisa dengan bebasnya membuat coretan-coretan abstrak, istilah keren dari coretan tak karuan.

Saat aku sedang asyik-asyiknya menjadi seniman pasir dadakan, tiba-tiba kakiku menyenggol sesuatu yang keras. Aku melihat benda itu. Sebuah botol yang setengahnya terbenam dalam pasir. Penasaran, kuangkat botol itu. Sebuah botol bening seukuran botol kecap rupanya. Di dalamnya ada sebuah gulungan kertas.

‘Apa ini?’ pikirku. Nampaknya seperti sebuah surat. Aku merasa seperti berada dalam film saja, menemukan sebuah pesan dalam botol, setelah membaca pesan itu hidupku akan berubah selamanya. ‘Ah, itu hanya ada dalam film!’ tampikku. Namun, tetap saja aku mencabut sumbat penutup botol untuk melihat apa isi di dalamnya. Rasa penasaran akan membunuhku perlahan-lahan. Dan aku tak mau nantinya jadi hantu penasaran.

Plop! Sumbat terbuka. Aku mengeluarkan gulungan kertas dari dalamnya dan membukanya.

“Siapapun yang membaca pesan ini, tolong transferkan pulsa 100 ribu ke nomor 089012345678. Penting, cyin! Ane lagi nggak ada pulsa, nih! Makasih sebelumnya eaaa. Semoga aja yang transferin pulsa dibanyakkan rejekinya, dientengkan jodohnya, dan disukseskan usahanya. Muaachh!! XOXO”

Aku menatap tak percaya pada pesan itu. ‘Astaga!’ teriakku dalam hati. Hari gini, apapun dilakukan orang untuk mendapat pulsa gratis, ya. Tak ada rotan, akar pun jadi. Tak ada sms, botol pun jadi. Hmmm… Menyesal karena tak mendapatkan apa yang kuinginkan seperti dalam film, aku melempar kertas berikut botolnya ke tempat sampah yang tak jauh dari tempatku berdiri. Dalam hati aku berkata, “Jangan lagi mencoba-coba untuk mengambil botol berisi kertas di pantai!”

Lalu, bagaimana dengan kenangan-kenangan pahitku yang ingin kulupakan? Kurasa aku akan ke pantai lain saja. Moodku sudah rusak gara-gara botol berpetuah tadi.

* * *

Fiksi ini diikutkan dalam event Ceritera Juli #11 oleh Kampung Fiksi.

Advertisements

2 thoughts on “Ceritera Juli #11: Jangan Dibaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s