Ceritera Juli #10: Kotak Pandora

Sumber gambar: www. kampungfiksi.com

“Hai, kenalkan. Namaku Pandora,” sapa seorang anak perempuan yang tiba-tiba berdiri di depanku. Ia mengulurkan tangannya padaku.

Aku mendongak, memperhatikannya sesaat. Jadi ini anak baru kelas sebelah yang menghebohkan itu? Ia sangat cantik. Bola matanya cokelat terang. Rambutnya agak pirang. Kulitnya putih. Ia tinggi. Kata teman-teman sekelasku ayahnya bule sedangkan ibunya orang Indonesia asli.

Aku menyambut uluran tangannya. Setengah hati aku menjawabnya, “Aku Riska.”

“Kamu selalu sendirian?” tanyanya.

Aku tak menjawabnya. Memang, aku selalu sendirian. Aku bukan anak populer yang cantik dan pintar. Aku biasa-biasa saja. Karena itulah aku menutup diri. Aku malu berteman dengan golongan elit. Lagipula, golongan high-class tak akan mau bergaul dengan orang sepertiku.

“Aku mau jadi temanmu. Temanku juga belum banyak,” kata Pandora lagi.

‘Hmmm… Apa maunya anak ini?’ pikirku. Orang seperti dia seharusnya bergaul dengan anak-anak golongan elit lainnya. Tak mungkin ia tak mendapat teman dengan mudah. Apalagi jika melihat parasnya. Baru satu minggu di sekolah saja ia sudah jadi idola. Masa orang seperti dia mau jadi temanku yang biasa-biasa saja?

“Duduklah,” kataku akhirnya, dengan terpaksa tentunya. Aku mempersilakan dia duduk di bangku kosong di sebelahku.

“Teman-teman di kelasmu belum ada yang datang?” tanyaku.

“Iya. Mungkin mereka akan tiba sebentar lagi,” jawabnya.

“Ooh,” sahutku.

“Apakah kau selalu seperti ini setiap hari? Berkutat dengan novel-novel teenlit hingga lupa bergaul dengan yang lain,” katanya sambil menunjuk tumpukan novel teenlit di mejaku.

‘Apaaa?? Lupa bergaul? Bahasa apa itu? Kasar sekali!’ pikirku. Aku memandang Pandora dengan tatapan tajam. Pandora jadi salah tingkah.

“Maaf, maksudku kenapa tidak mengobrol dengan teman-teman saja daripada terus-terusan membaca. Membaca, kan, bisa di rumah saat ada waktu senggang,” ujarnya.

“Aku suka membaca,” kataku ketus.

“Baiklah. Aku tak akan mengganggumu. Tapi, bolehkah aku minta nomor ponselmu?” tanyanya.

“Untuk apa?” aku balik bertanya.

“Yeah, siapa tahu nanti aku perlu bertanya tentang sekolah ini atau tentang ulangan. Aku perlu juga berteman dengan anak-anak kelas lain, supaya bisa menanyakan tentang soal ulangan atau pe-er,” katanya sambil mengedipkan sebelah matanya padaku.

Aku memberitahu nomor ponselku pada Pandora. Ia segera menyimpan nomorku di ponselnya lalu menyuruhku menyimpan nomornya.

Hari-hari berikutnya aku dan Pandora menjadi semakin akrab. Ia sering mengunjungi kelasku di pagi hari. Akupun sudah mulai berani mengunjungi kelasnya di jam istirahat siang – satu hal yang tak pernah kulakukan sejak aku bersekolah di sekolah ini. Pandora mau berteman denganku karena ia merasa risih jika harus bergabung dengan klub elit. Ia merasa dirinya biasa saja dan merasa bergabung dengan klub elit hanya akan menghabiskan uang jajan saja. Dan rupanya ia juga suka membaca novel teenlit! Hobi kami sama sehingga obrolan kami jadi selalu nyambung.

Suatu hari aku menerima sebuah sms dari Pandora: “Cepat kemari. Aku menemukan sebuah kotak. Ada tulisan RAHASIA di atasnya. Bantu aku membukanya.” Apa isi kotak itu? Aku menjadi sangat penasaran. Segera saja aku menuju ke tempat yang disebutkan Pandora di smsnya.

Pandora telah menungguku di bawah sebuah pohon cemara di taman dekat rumahnya. “Riska, cepat kemari!” panggilnya begitu melihatku tiba.

Aku berlari ke arahnya. Kulihat sebuah kotak berwarna emas tergeletak di dekat kakinya.

“Di mana kau menemukan kotak itu?” tanyaku padanya.

“Di bawah semak-semak di situ,” jawabnya sambil menunjuk ke semak-semak yang tak jauh dari tempat kami berdiri.

Aku mengernyitkan dahiku. ‘Untuk apa Pandora jalan ke semak-semak itu?’ Belum sempat aku bertanya, ia kembali berkata,”Tadi aku sedang bermain bola dengan Bleki. Waktu aku melempar bola, bolanya mengenai dahan pohon ini dan terpental ke semak-semak itu,” jelasnya seperti tahu apa isi kepalaku.

Aku melihat Bleki, anjing hitam Pandora sedang mengendus-endus kotak aneh tersebut. Ada ukiran-ukiran di sisi-sisinya. Di beberapa bagiannya nampak sudah berkarat. Pandora menunjukkan tulisan RAHASIA yang tertera di atas kotak itu. Tulisan itu sepertinya dibuat menggunakan pisau.

“Aku sudah mencoba membuka kotak ini, tapi ia tak mau terbuka,” kata Pandora.

Mendengar itu aku mengambil kotak itu dan mengguncang-guncangnya. Kotak yang terbuat dari besi itu agak berat. Namun aku tak merasakan ada sesuatu di dalamnya. Tak ada barang yang mengguncang. Kuperhatikan kotak itu lekat-lekat. Di sisi penutupnya sudah berkarat. Mungkin itu yang menyebabkannya susah dibuka.

“Mungkin kotak ini kosong,” kataku. “Aku tak merasakan ada sesuatu yang berguncang. Mungkin ini cuma kotak kosong biasa yang dibuang oleh orang iseng,” lanjutku.

“Tapi, ada tulisan RAHASIA di atasnya. Mungkin kita akan menemukan sesuatu jika membukanya,” ujar Pandora. Ia ngotot agar bisa membuka kotak itu.

Aku mengalah. Lalu kucari ranting yang besar dan batu yang dapat kugunakan untuk membuka kotak itu. Setelah mendapatkannya, aku mengetuk-ketukkan sebuah batu ke kotak itu. Lalu aku mencoba menyongkel penutup kotak dengan ranting. Krakkk! Ranting patah, namun kotak tetap tak bergeming.

Akhirnya, karena kesal, aku menepis kotak itu dengan tanganku. Kotak itu terpental mengenai batang pohon cemara. Dan… Kreekk! Penutup kotaknya terbuka. Saat penutup kotak itu terbuka, bumi bergetar beberapa saat mengakibatkan daun-daun berguguran, ranting-ranting kering berjatuhan dari pohon, dan burung-burung berkicau histeris.

“Apa yang terjadi??” tanyaku, panik.

“Entahlah,” jawab Pandora. Tiba-tiba ia menunjuk kotak, “Lihat! Akhirnya kotak itu bisa dibuka!!” serunya.

Aku terbengong-bengong sekaligus girang. Kami mendekati kotak tersebut untuk melihat apa yang ada di dalamnya. Saat kami mendekati kotak tersebut, tiba-tiba muncul asap hitam dari dalamnya. Asap itu semakin lama semakin banyak. Dengan semakin banyaknya asap, langitpun kemudian berubah menjadi gelap.

“Apa yang terjadi??” teriak Pandora.

“Aku tak tahu!” kataku sambil berusaha menghalau asap-asap yang menghalangi penglihatanku.

Sementara itu, si Bleki terus-terusan menyalak.

“Huahahahahahaha!!!” tiba-tiba terdengar suara tawa yang berat. Bersamaan dengan itu, muncullah makhluk menyeramkan di antara kepulan asap. Asap berangsur-angsur menipis hingga membuat penampakan makhluk tersebut semakin jelas.

Makhluk tinggi besar gemuk dan berwarna ungu pekat itu rupanya muncul dari dalam kotak. Ia melotot ke arah kami. Aku dan Pandora berpegangan tangan karena ketakutan.

“Si-si-siapa kamu?” tanya Pandora.

“Huahahahaha!! Aku adalah jin penunggu kotak ini! Karena kalian telah membuka kotak ini, maka aku telah bebas!! Sekarang saatnya aku mencari mangsa!” katanya. Kemudian makhluk itu melirik ke kanan dan ke kiri. Lalu ia kembali memelototi kami. Saat itu aku dapat merasakan tangan Pandora yang berkeringat dingin.

“Ayo kita lari!” bisikku pada Pandora.

Pandora menoleh padaku dan mengangguk. “Sekarang!” serunya. Aku menurutinya dan kami pun berlari sekencang-kencangnya menjauhi jin menyeramkan itu. Si Bleki ikut berlari bersama kami.

“Tunggu, anak manusia!! Jangan berlari!! Akan kutangkap kalian!!” teriak jin menyeramkan itu. Setelah teriakannya itu, muncullah angin yang sangat kencang yang menerbangkan debu-debu.

Mataku perih terkena debu. Aku tak dapat melihat. Pegangan tanganku ke tangan Pandora lepas. Setelah itu aku merasakan tubuhku tersedot ke belakang. “Aaaagghh!!!” teriakku. Dan setelah itu semuanya menjadi gelap.

* * *

“Riska… Riska… Bangun!” bisikan seseorang membangunkanku.

Aku membuka mataku lalu berusaha duduk. Saat mataku terbuka semuanya gelap. “Di mana ini?” tanyaku. Aku tak dapat melihat apapun.

“Entahlah. Bisakah kau melihatku?” tanya suara samar-samar itu lagi.

Aku berusaha melihat dalam gelap dengan mengerjap-kerjabkan mataku. Setelah mencobanya akhirnya aku bisa melihat samar-samar wajah itu. “Pandora!!” teriakku.

“Iya, ini aku. Sepertinya kita terperangkap di sebuah ruang gelap,” katanya.

“Aduh, bagaimana ini?” keluhku.

“Aku juga tidak tahu. Maaf, ya. Gara-gara aku memaksamu membuka kotak rahasia itu, kita jadi terperangkap di sini,” kata Pandora.

Aku mengangguk. Sesaat kemudian, aku merasakan hawa panas di tanganku. Lalu sesuatu yang basah menempel di tanganku. “Aaaghh!” teriakku. Bersamaan dengan itu aku mendengar suara, “Guk!”

“Ah, rupanya Bleki ikut bersama kita!” seru Pandora.

“Bleki nakal sekali menjilat tanganku. Dia tak tahu kita sedang ketakutan!” rajukku.

“Bleki! Kau harus membantu mencari jalan keluar dari ruang gelap ini,” perintah Pandora pada anjing kesayangannya. Bleki mengibas-kibaskan ekornya. “Guk!” sahutnya. Kemudian ia mengendus-endus lantai. Kami berdua berdiri dan mengikutinya.

Ruangan gelap ini rupanya adalah terowongan yang sangat panjang. Bau apak dari ruangan ini membuatku mual. Beberapa menit berjalan aku sudah kelelahan. Napasku tersengal-sengal karena pengapnya udara di sini.

“Sepertinya… Aku tak sanggup lagi…,” kataku pada Pandora.

“Riska, kau harus kuat! Kita percayakan semuanya pada Bleki. Kita pasti bisa keluar dari sini,” bujuk Pandora.

Saat itulah terdengar gonggongan Bleki dari kejauhan. “Guk! Guk! Guk!”

“Sepertinya Bleki menemukan sesuatu! Ayo, kita susul dia!” seru Pandora.

Setengah berlari aku mengikuti Pandora ke arah suara si Bleki. Dan tibalah kami di sebuah ruangan besar dengan setitik cahaya yang masuk dari lubang kecil di sisi ruangan.

“Lihat! Ada cahaya!” seruku. “Apakah ini artinya kita bisa keluar dari sini?” tanyaku.

“Mungkin saja! Ayo kita lihat apa yang ada di balik lubang itu!” ajak Pandora.

Kami bersama-sama menuju lubang berdiameter kira-kira 10 senti meter itu. Sementara itu, si Bleki mengendus-endus sekeliling ruangan lalu mengais-kaiskan kakinya di sebuah sisi.

“Silau,” kataku saat melihat dari lubang itu. “Aku tak bisa melihat apa-apa.”

Pandora gantian mencoba melihat dari lubang itu. “Iya,” katanya. “Bagaimana caranya kita keluar dari sini?”

“Hei, lihat apa yang dilakukan Bleki!” seruku saat melihat Bleki sedang mengais-kais sisi dinding yang ada lubangnya.

“Mungkinkah dinding ini bisa roboh jika digali seperti itu?” tanya Pandora, bingung melihat tingkah si Bleki.

“Guk! Guk!” gonggong Bleki.

“Mungkin saja begitu!” kataku lalu mendekati si Bleki.

Dinding yang ada lubang cahayanya itu rupanya terbuat dari tanah. Tanahnya lembut dan agak basah. Aku mencongkelnya sedikit. Tanah dinding itu meluruh.

“Ini bisa digali!!” seruku. “Ayo kita ikut menggali!”

Mendengar teriakanku Pandora mulai bersemangat. Ia ikut mencongkel dinding dengan tangannya. Kami tak peduli dengan kuku-kuku kami yang jadi kotor oleh tanah. Yang penting, kami terus menggali dan menggali.

Lama kelamaan dinding itu pun mulai roboh. Aku tak tahu sudah berapa lama kami menggali. Tapi, hasilnya mulai kelihatan. Kami berhasil membuat sebuah lubang sebesar tubuh si Bleki.

Kemudian si Bleki keluar dari lubang. Tak lama kemudian ia masuk lagi dan mengonggong dengan sangat keras. Ekornya bergoyang-goyang.

“Ayo keluar dari lubang itu!” kata Pandora. Setelah itu ia langsung merangkak ke lubang. Aku melihatnya menghilang. Bleki mengibas-kibaskan ekornya. Nampaknya ia menyuruhku mengikuti majikannya. Dengan ragu aku mengikuti Pandora merangkak melalui lubang itu. Sementara itu si Bleki mengikuti dari belakang.

Kulihat hamparan rumput. Sinar mentari sore menerpa wajahku.

“Kita berhasil!” teriak Pandora sambil menghampiriku.

“Ini, di mana?” tanyaku.

“Apa kau lupa? Ini di taman tempat kita membuka kotak rahasia tadi!” jawab Pandora.

Aku berusaha mengingat-ingat. “Oh, iya. Kau benar!”

Kamipun bergegas menjauhi taman itu. Kami tak peduli lagi dengan ke mana perginya makhluk jin menyeramkan itu. Yang penting kami selamat dan dapat kembali ke rumah kami. Saat kami berlari dari tempat itu, seekor tupai menyenggol sebuah kotak keemasan yang sudah berkarat. Di atasnya tertera tulisan ‘RAHASIA’ dan di dalamnya ada secarik kertas bertuliskan:

“Jangan main-main dengan rasa penasaranmu. Karena rasa penasaranmu itu akan membunuhmu. Perlahan, tapi pasti. Dan ketika kau menyadarinya, semuanya telah terlambat. Namun hanya ada satu hal yang dapat menolongmu. Itu adalah HARAPAN!”

* * *

Fiksi ini diikutkan dalam event Ceritera Juli #10 oleh Kampung Fiksi.

Advertisements

6 thoughts on “Ceritera Juli #10: Kotak Pandora

  1. Wahaha kan, Mbak Grant nih. One day one post banget :’ bisa banget bikin cerpen ngikutin aturan kampungfiksi ini :’ kayak nglanjutin kalimat yang ada di gambar itu ya mbak πŸ˜€ aaaah, cerdassss :3 sukaaa mbak :))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s