Pikiran Anak vs Ortu

Seorang anak ditinggal orangtuanya sendirian di rumah pada suatu malam karena ortunya mau menghadiri acara makan malam.

Setelah kedua orangtuanya pergi, yang ada di pikiran si anak kira-kira begini: “Yesss, Mami Papi pergi! Bisa nyetel TV sekenceng-kencengnya, bisa main game selama mungkin dan nggak usah belajar, bisa nyetel musik keras-keras, bisa makan kripik sepuasnya!! Hore!!”

Satu jam berlalu… Si anak masih asyik dengan game.

Dua jam berlalu… Si anak mulai bosan. Sekarang mulai nyalain TV, mainin remote, ganti-ganti channel TV karena nggak ada acara yang bagus.

Hampir tiga jam berlalu… Anak mulai mikir: “Mami Papi lama banget, sih! Memangnya makan batu apa sampe jam segini belum pulang?” Trus si anak langsung nelpon salah satu ortunya. “Mak, lagi ngapain? Kapan pulang? Lama banget, sih?”

Setelah empat jam… Orangtuanya pulang dan menemukan anaknya sudah molor di kamar. Besok paginya dia baru sadar ortunya sudah pulang.

* * *

Pada suatu malam seorang anak diajak teman-temannya pergi jalan-jalan ke mall, nonton, dan makan. Pokoknya hepi-hepilah. Alasannya bermacam-macam, mulai dari karena suntuk sehabis ujian sampai ngilangin stress karena banyaknya kerjaan.

Setelah si anak pergi, ibunya duduk di ruang tamu, ambil buku lalu baca. (Biasanya, sih, ibu yang suka nungguin anak) Yang dipikirkan si ibu sambil baca: “Mudah-mudahan anakku aman-aman saja di jalan.”

Satu jam berlalu… Sang ibu masih nungguin anaknya sambil baca buku.

Dua jam berlalu… Ibu ini mulai gelisah. Buku ditutup trus nyalain TV. Matanya melihat acara di TV, telinganya mendengar suara dari TV, tapi pikirannya melayang-layang mikirin anaknya.

Tiga jam berlalu… Ibu mulai was-was, “Kok, lama banget, ya. Sudah jam berapa ini… Sudah malam kok belum pulang juga.” Si ibu mau menelepon tapi takut ganggu kesenangan anaknya. Akhirnya beliau cuma bisa bolak-balik antara pintu dan jendela, ngintip ke luar siapa tahu anaknya pulang. Trus tiap dengerin suara motor atau mobil langsung mengira anaknya pulang.

Empat jam berlalu… Si anak akhirnya tiba di rumah. Tanpa ada rasa bersalah karena pulang sampai larut, langsung aja masuk kamar. Ibunya yang tadinya nungguin pura-pura bertingkah seolah-olah semua baik-baik saja, seolah-olah beliau nggak nungguin. Tapi dalam hati beliau merasa lega anaknya pulang dengan selamat.

* * *

See? Itu bedanya anak sama ortu. Kalau ortu pergi anak cuek aja. Jarang banget ada anak yang nungguin ortunya. Tak jarang ada anak yang lebih suka tinggal jauh sama ortu, senang saat ortunya pergi dan dia bisa sendiri di rumah, dan merasa lebih bebas kalau nggak ada ortunya. Tapi kalau orangtua, ke manapun anaknya pergi pasti selalu was-was, gelisah, dan mendoakan anaknya supaya di jalan aman-aman saja dan pulang dengan selamat. Kalau anaknya sudah tinggal jauh darinya, ortu masih saja suka mikirin anaknya. Dan walaupun anaknya sudah menikah pun, ortu tetap mendoakan anaknya supaya hidup mereka aman-aman dan sejahtera.

Ya, mungkin di sini ada anak yang tidak merasa dirinya seperti cerita di atas dan mungkin ada yang merasa orangtuanya tidak seperti cerita di atas. Apapun kisah hidup kita – bagaimanapun kisahmu menjadi anak dan bagaimana sifat orangtuamu, semoga kita semua bisa jadi anak yang baik dan sayang orangtua. Dan semoga para orangtua di dunia ini diberkati dan memiliki anak-anak yang baik dan berbakti. Love our parents!

Advertisements

2 thoughts on “Pikiran Anak vs Ortu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s