[Parenting] Seminar Kecerdasan Anak

Hari ini saya mengikuti seminar parenting di sekolah. Menurut saya materinya bagus. Jadi akan saya bagikan rangkumannya di blog ini.

————
Judul Seminar: Pengaruh Pola Asuh Orangtua terhadap Kecerdasan Emosional dan Intelektual Anak

Pembicara: Ibu Ir. Esti Rahayu, CFc, S.Psi, M.Psi., kepala dari Psychological Consultant Corporation (LPT Grahita Indonesia) cabang Palembang. LPT Grahita adalah lembaga khusus psikologi untuk pendampingan anak.

Dalam seminar, ibu Esti mengatakan bahwa tidak semua anak yang malas belajar solusinya adalah diberikan les. Orangtua harus mengetahui penyebab mengapa anak-anak malas belajar.

Untuk anak-anak usia TK, orangtua tidak bisa memaksa anak untuk belajar. Karena sesuai namanya, TK adalah Taman Kanak-kanak. Di usia ini adalah waktunya anak-anak bermain. Hanya saja, jika ia disekolahkan di TK, maka anak-anak diajarkan bermain sambil belajar. Metode belajarnya tentunya yang menyenangkan, misalnya dengan nyanyian, kartu-kartu bergambar, dan lain-lain. Masa bermain untuk anak-anak biasanya sampai ia berusia kelas 2 SD.

Ada 5 aspek yang perlu diketahui untuk melihat tingkat kecerdasan anak:

1. Mengenal Kepribadian Anak.
Anak usia 6 tahun lebih cepat menyerap pelajaran membaca dan berhitung. Ketika usia anak masih di bawah 6 tahun, katup brainnya belum terbuka sehingga ia akan sulit diajarkan calistung. Jadi jangan memaksa anak yang usianya di bawah 6 tahun untuk belajar calistung. Orangtua juga jangan menganggap anaknya bodoh kalau ia belum bisa calistung di usia kurang dari 6.

Selain itu, ada anak-anak yang senang dikasih jempol. Untuk anak-anak, jangan malah memberi telunjuk. Contohnya jika anak mengatakan di sekolah ia mendapat nilai nol. Orangtua seharusnya menghargai kejujuran si anak, bukan malah menunjuk si anak dan mengatakan ia bodoh. Berikan pujian lalu berikan semangat agar untuk berikutnya ia bisa mendapat nilai yang lebih baik.

Pribadi seorang anak biasanya mengikuti kepribadian mamanya. 80% karakter mama turun ke anak selama usia anak sampai dengan kelas 3 SD. Setelah itu, akan banyak faktor yang mempengaruhi kepribadian anak.

Anak usia di bawah kelas 3 SD sebaiknya diajarkan sendiri oleh orangtuanya. Tidak perlu diberi les. Anak lebih cepat mengerti jika diajarkan oleh orangtuanya.

2. Orangtua harus mengetahui IQ anaknya.
Orangtua perlu mengetahui berapa IQ anak, normal atau tidaknya anak, sehingga orangtua bisa menentukan mekanisme belajar anak. Yang perlu diketahui, jika anak memiliki IQ normal tapi belum bisa calistung, itu tidak apa-apa. Karena bisa atau tidaknya calistung juga tergantung dari kematangan usia anak. IQ penting diketahui untuk bisa menentukan cara mendidik dan mengajar anak.

Di antara membaca, menulis, dan berhitung, yang paling penting adalah menulis. Kalau anak bisa menulis, ia pasti bisa membaca dan berhitung. Tapi jika anak bisa membaca, belum tentu ia bisa menulis.

Dari nilai IQ, orangtua bisa mengetahui kebutuhan mana yang anak diperlukan anak, apakah belajar ataukah bermain. Jika kebutuhan bermainnya lebih tinggi, biarkan anak lebih sering bermain.

75% anak tidak suka sayuran. Fase anak menolak sayuran biasanya di usia ia masuk TK. Padahal sayuran sangat penting bagi anak. Sayuran berfungsi sebagai pelumas pada otak yang membuat anak mempunyai ingatan yang baik.

Fase-fase perkembangan anak setelah kelas 2 SD:
– kelas 3 SD: fase bermain mulai menurun. Pada usia ini sudah boleh memberikan les pada anak.
– kelas 5 SD: fase membangkang. Jika pada usia ini orangtua sering memarahi anak, maka anak akan semakin tidak menurut. Lakukan pendekatan pada anak agar ia bisa menjadi anak yang baik.
– kelas 6 SD: fase puber (heteroseksual pertama). Pada fase ini anak hanya mempunyai rasa suka terhadap lawan jenis, tapi ia tidak mempunyai rasa ingin memiliki.
– kelas 1 dan 2 SMP: fase norak. Anak mulai suka merapikan kuku, memberi warna, suka memakai wangi-wangian.
– kelas 3 SMP: fase bakat. Di usia inilah anak mulai menemukan bakatnya. Orangtua harus jeli melihat apa yang disukai anaknya, lalu arahkan ia agar bisa mengembangkan bakatnya.
– kelas 1 dan 2 SMA: fase heteroseksual kedua. Anak tidak hanya mempunyai rasa suka, tapi juga punya rasa ingin memiliki terhadap lawan jenis. Ia mulai suka dipegang, bergandengan tangan, dekat-dekat dengan lawan jenis. Dan mulai ‘mencoba’. Ada juga yang mulai mencari tahu dan menonton film porno. Di sinilah pentingnya sex education untuk anak. Orangtua pun harus berperan mengarahkan anak di usia ini.
– kelas 3 SMA: fase fakultatif. Pada fase ini anak mulai menentukan pilihan mau masuk ke universitas mana, atau apakah mau bekerja, atau mau menikah.

Pemantauan psikologi perlu dilakukan setiap tahun.

Anak yang bermasalah tidak harus dihukum dengan pukulan atau emosi. Pembentukan pertama yang paling penting bagi anak kecil adalah cerdas emosional.
Untuk anak TK dan SD tidak perlu dicerdaskan IQ nya. Ortu berperan penting dalam kecerdasaan emosional anak, bukan guru, teman, kakek nenek atau lingkungan.

IQ bisa berubah setiap tahun tergantung pola asuh ortu. Semakin perfect ortu memberi materi kepada anak maka semakin turun IQnya. Tapi jika anak semakin enjoy belajar, tidak ada paksaan, maka IQnya semakin tinggi.

Jangan karena anak mempunyai IQ tinggi, sudah bisa membaca, menulis, dan berhitung maka mendaftarkannya ke SD padahal usianya belum cukup. Anak masuk SD harus cukup umur, 6 atau 7 tahun. Jika kurang dari 6 tahun, jangan dimasukkan ke SD karena perkembangan psikologisnya belum matang.

Ibu Esti mencontohkan anaknya sendiri. Dulu ketika anaknya berumur 5 tahun 6 bulan, anaknya sudah bisa calistung sehingga langsung didaftarkan di SD. Dari kelas 1 sampai kelas 6 semester pertama, nilai si anak bagus. Tapi begitu masuk ke semester 2, nilainya anjlok. Bahkan anak sempat mogok sekolah. Ini semua karena psikologisnya belum matang.

Lalu ibu Esti membandingkan dengan anak keduanya. Anak kedua didaftarkan di SD pada usia 7 tahun. Ternyata perkembangan akademiknya bagus sampai sekarang. Ia tidak perlu dipaksa-paksa untuk belajar. Ia juga mempunyai motivasi yang tinggi untuk belajar.

3. Motivasi Belajar.
Menumbuhkan motivasi belajar itu mudah, yaitu jangan bilang “jangan”, karena itu membunuh motivasi mereka. Bagaimana anak bisa pintar kalau semua tidak boleh? Jika menyangkut kebutuhan sehari-hari, misalnya membereskan mainan, membereskan piring sehabis makan, membantu orangtua mencuci piring, biarkan anak melakukannya, jangan dicegah yang penting diarahkan.

Motorik anak perlu dikembangkan. Motorik kasar perlu dilatih misalnya dengan cara belajar menulis. Jangan mencegah anak jika ia mau membawa tas sekolahnya sendiri. Apapun yang mau dilakukan anak, dibolehkan saja karena dia belajar dari melihat dan mendengarkan maka ia ingin juga melakukan yang dilihatnya itu. Orangtua hanya perlu mengarahkan, mana yang baik dan mana yang tidak baik.

Anak desa biasanya mempunyai orangtua yang permisif sehingga motorik kasar dan halusnya baik. Orangtua di desa seringkali memberi tugas kepada anaknya, misalnya mengambil rumput, mengisi air di bak penampungan, mencuci piring, dan lain sebagainya. Karena sering diberi tugas oleh ortunya, maka anak tumbuh dengan baik. Ia tidak mudah lelah. Biasanya tulisannya bagus.

4. Pola Kebiasaan
Kebanyakan orangtua mengajak anak belajar di malam hari karena pekerjaan orangtua sudah selesai di malam hari. Kalau bisa anak TK dan SD jangan diajak belajar di malam hari. Malam hari adalah waktu efektif untuk anak tidur. Mereka harus tidur minimal 9 jam di malam hari. Kalau tidak mau tidur siang tidak apa-apa. Anak yang kurang tidur konsentrasinya kurang. Untuk mengetahui anak mempunyai konsentrasi yang baik atau tidak bisa dilihat kedipan matanya, yang baik 1 menit 1 kali kedipan. Jika 1 menit ada lebih dari 1x kedipan maka konsentrasinya tidak baik. Waktu tidur orang dewasa adalah 7 jam. Kalau kurang tidur bisa menyebabkan emosian.

Anak usia 4, 5, dan 6 tahun tidak boleh diberi baby walker. Pemberian baby walker menyebabkan proses merangkak dan merambat jadi terlewati, sehingga akhirnya konsentrasi anak menjadi kurang.

Ketika anak kecil mau belajar, kapan pun waktunya, ijinkan ia belajar. Untuk anak usia TK, tidak perlu ditargetkan waktu belajarnya, misalnya 1 jam atau 2 jam. Belajar selama 10 menit pun tidak apa-apa. Ajarkan anak memegang gunting yang besar dan memegang pisau untuk melatih motoriknya.

Anak usia SD tidurnya harus dipisah dari ortunya supaya melatih kemandiriannya. Ia perlu dilatih untuk mematangkan fase heteroseksualnya. Ini juga untuk pembentukan pola kebiasaan. Jika anak terus dibiarkan tidur bersama orangtua sampai ia duduk di SD, maka masa pubernya bisa lebih datang lebih cepat. Ada kasus anak mendapat haid di kelas 2 SD. Hal ini tidak baik karena nantinya ia akan cepat mengalami menopause juga. Anak yang puber sebelum waktunya akan mempersulit orangtua untuk mengajarkan apa arti pubertas karena usianya belum matang.

Mengajak anak yang usianya di bawah kelas 3 SD untuk belajar sebaiknya jangan di malam hari. Nanti kalau anak sudah kelas 3, 4, 5, dan 6 dia bisa menentukan sendiri pola belajarnya. Anak TK sebetulnya tidak boleh ada PR. Anak TK jangan dibebani dengan PR. Memaksa anak TK belajar bisa membuatnya jadi takut untuk belajar.

Jangan memberi sugesti pada anak dengan mengatakan: “Kalau tidak belajar nanti papa marah!” atau “Kalau tidak menurut nanti dimarah papa!” Hal ini bisa membuat anak menjadi takut kepada papanya dan menganggap papanya jahat.

5. Gaya Belajar
Tiap anak gaya belajarnya beda, ada yang memakai imajinasi, ada yang memakai panca indera (belajar pakai musik). 1 panca indera hanya bisa dipakai untuk 1 konsentrasi. Misalnya, mata belajar sambil mulutnya makan itu bisa, mata belajar sambil telinganya mendengarkan musik juga bisa, tapi mata belajar sambil matanya melihat televisi itu tidak bisa (konsentrasinya pecah). Jadi kalau anak belajar sambil menonton TV itu tidak boleh karena merusak konsentrasi. Anak TK tidak baik diberi gadget dan TV, karena tidak baik untuk mata.

Main bola dan sepeda baik untuk anak. Main sepeda fungsinya untuk melatih insting anak. Untuk anak berumur 2 tahun, berikan sepeda roda 3. Untuk anak berumur 3 tahun, berikan sepeda roda 4. Untuk anak umur 4 tahun, berikan sepeda roda 2. Bermain sepeda juga bisa melatih logika anak. Misalnya, jika nanti anak diberi soal: sebutkan angka puluhan dan satuan dari bilangan 75. Ia akan mudah menjawabnya.

Anak otak kanan rajin menghapal.

Kematangan akademis anak tidak bisa dilihat dr kacamata kita. Hal itu tergantung umur anak dan tergantung kematangan psikologisnya.

Semakin banyak beban yang diberikan pada anak TK maka motivasi belajarnya semakin turun. Yang boleh diberikan pada anak TK adalah les bahasa, misalnya bahasa Inggris atau Mandarin. Bimbel tidak perlu.

Kejiwaan seorang anak bisa dilihat dari gambar. Untuk orang dewasa bisa dilihat dari tanda tangannya.

Untuk masuk SD harus dilihat kesiapan mental anak. Jangan mamanya siap anaknya tidak siap.

Kemampuan dan kemauan anak untuk belajar hanya bisa dilihat dr tes psikologi.

Materi Tambahan:

* proses belajar motorik
Ajak anak membereskan mainannya, membereskan piringnya, atau mencuci baju. Biasanya anak kecil suka diajak dalam kegiatan yang ada airnya.

* anak-anak yang punya masalah bisa dibawa ke psikolog.

Psikolog : ahli jiwa.
Psikiatri: ahli penyakit jiwa.

Advertisements

12 thoughts on “[Parenting] Seminar Kecerdasan Anak

  1. Baru baca stengah. Good parenting guide…. aku pernah dengar juga yg masalah fase merangkak mempengaruhi stumulasi otak..

    Tq for sharing

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s