Harapan Terakhir

Vanessa:
Mungkin seharusnya dulu aku tidak mengakhiri hubunganku dengan Yoshua. Buktinya, sampai sekarang aku masih mengingat segala hal tentang dirinya. Aku bahkan belum bisa membuka hatiku untuk pria lain. Mungkin salahku juga telah mengambil keputusan terlalu cepat untuk mengakhiri hubungan jarak jauh kami.

Masih kuingat ketika dia memohon agar aku mengubah keputusanku.

“Apa kau yakin akan mengakhiri hubungan kita?” tanyanya waktu itu.

“Ya. Keputusanku sudah bulat. Aku tak bisa menjalani hubungan seperti ini lebih lama lagi,” jawabku.

“Kumohon pikirkanlah lagi. Tak bisakah kau menunggu untuk beberapa waktu lagi?”

“Sampai kapan? Aku capek, Yosh!”

“Sabarlah, Van. Kuharap dua bulan lagi aku bisa mendapat surat pindah ke kotamu.”

“Itu sudah kau katakan sejak satu tahun yang lalu. Tapi mana realisasinya? Kau selalu menyuruhku menunggu, bersabar, lihat bulan depan….”

“Maafkan aku, Van. Kumohon… Ini yang terakhir. Tunggulah dua bulan lagi…”

“Maafkan aku juga, Yosh. Aku tidak bisa.”

“Tapi… Kita masih bisa bertemu, kan? Kita masih bisa saling menelepon dan mengirim pesan, kan?”

“Itu maumu. Aku? Tidak. Kita akhiri semua sampai di sini. Maaf.”

Dan, akupun meninggalkannya sendiri di tepi pantai tempat kami pertama kali bertemu. Saat aku berjalan menjauhinya, Yoshua meneriakkan sebuah kalimat padaku.

“Kuharap kita masih berjodoh, Van! Mari bertemu lagi setiap tahunnya di pantai ini!”

Itulah sebabnya aku kembali ke pulau tempat aku bertemu dengan dirinya, di tanggal yang sama saat kami berpisah. Karena kalimat itu… Setelah dua tahun aku mengabaikannya. Dan karena aku berharap kami masih berjodoh. Tapi… Apa yang kudapat? Aku sama sekali tak bertemu dengannya! Nomor ponselnya pun sudah tak aktif lagi.

“Dokter Yoshua sudah tidak praktek lagi di sini sejak satu tahun yang lalu,” kata seorang suster saat aku mengunjungi tempat prakteknya sesudah aku mencarinya di pantai. Padahal aku sudah menanggalkan semua gengsiku demi untuk bertemu dengannya. Awalnya, aku sempat ragu untuk menemuinya. Memangnya siapa aku? Setelah dua tahun meninggalkannya tiba-tiba datang hanya untuk berkata ‘Hai!’. Rasa rindu yang membuncah inilah yang berhasil membuatku melepaskan topeng rasa maluku untuk bertemu dengannya. Aku benar-benar ingin tahu bagaimana kabarnya. Aku ingin tahu apakah dia sudah dapat pengganti diriku walaupun itu akan menyakiti diriku. Aku ingin tahu apakah dia bahagia atau tidak. Aaahh, pokoknya aku ingin tahu segalanya tentang dia setelah dua tahun tak pernah saling menghubungi.

“Huffttt…,” aku menghela napas panjang. Kulihat orang-orang yang berdiri di dek kapal, ada yang merokok, ada yang berfoto, ada yang mengobrol, ada yang duduk-duduk, dan ada yang membaca koran. Tak ada wajah yang kukenal di kapal ini. Kualihkan pandanganku ke sisi lain. Sejauh mata memandang, hanya hamparan ombak yang ada di sekelilingku.

Aku menghela napas lagi. “Selamat tinggal, Yoshua. Mungkin kita memang tak berjodoh. Mungkin ini saatnya aku melupakanmu,” bisikku pada ombak yang menerjang badan kapal. Ya, aku akan melupakanmu bersama kenangan kita di pulau itu.

Yoshua:
Ombak menari-nari di sekitarku. Birunya laut seharusnya menentramkan hatiku. Tapi ia tak mampu menghapus kegalauanku. Langit yang cerah dan camar-camar yang berkicau ceria seharusnya dapat menghiburku. Tapi mereka juga tak bisa mengobati rasa sedihku.

Aku melihat para penumpang kapal yang memenuhi dek kapal. Mereka sibuk dengan kegiatan masing-masing. Ah, seandainya saja wanita yang kucinta itu masih bersamaku saat ini… Pastilah kami akan memandangi laut dari puncak kapal sambil membentangkan tangan seperti yang dilakukan oleh Leonardo DiCaprio dan Kate Winslet dalam film Titanic.

Kutepis semua khayalan dalam kepalaku. ‘Gila, Yosh! Kau benar-benar gila! Selama dua tahun ini kau masih juga tak dapat melupakan dirinya!’ kataku dalam hati. Sungguh aku tak dapat melupakannya. Kenangan akan Vanessa terlalu indah untuk bisa dilupakan begitu saja.

“Untuk apa kembali ke sana? Bukankah tahun lalu ia tak datang?” tanya Rio, sahabatku saat aku mengatakan akan kembali ke pulau ini.

“Aku pernah mengatakan padanya untuk bertemu di sana setiap tahunnya,” jawabku.

“Dia tak akan datang, Yosh! Dia sudah melupakanmu. Ingat, tahun lalu saja dia tak datang. Bagaimana mungkin kau mengharapkannya ada di sana tahun ini?”

“Namanya juga usaha. Kalau tahun ini dia tak ada lagi di sana, aku akan melupakannya.”

Akhirnya aku pergi ke pulau itu, ke pantai tempat kami pertama kali bertemu sekaligus juga tempat kami berpisah. Dan Rio benar. Vanessa tak ada di sana. Penantianku sia-sia. Begitu juga dengan kepindahanku ke kotanya. Susah-payah aku mendapatkan surat tugas pindah praktek ke kotanya. Namun usahaku untuk kembali bersamanya tak ada hasilnya.

Saat aku tiba di kota tempat Vanessa tinggal, seseorang mencuri ponselku. Aku tak bisa menghubungi siapa-siapa. Semua nomor ponsel orang-orang terdekatku hilang. Aku mengutuk diriku sendiri saat itu, menyesal karena tak menuliskan nomor-nomor ponsel orang-orang penting di buku telepon, termasuk nomor ponsel Vanessa. Padahal saat itu aku ingin memberi kejutan padanya. Tapi, ternyata aku yang mendapatkan kejutan. Berdasarkan informasi dari teman-temannya, Vanessa rupanya pindah ke kota lain. Aku tak bisa menghubunginya, sejak saat kami berpisah sampai saat aku sudah berada di kotanya. Sepertinya ia memblokir namaku dari akun media sosialnya dan juga dari hidupnya. Aku tahu ia pasti tak mengharapkan aku lagi. Tapi tetap saja aku berharap ia masih memikirkanku.

Apapun perlakuan Vanessa terhadapku, aku tetap tak bisa melupakannya begitu saja. Aku berharap kami masih bisa bertemu. Aku berharap kami masih berjodoh. Tapi… Mungkin tidak setelah hari ini, setelah aku tak menemukan dirinya lagi di pantai itu. Mungkin ini saatnya aku melupakannya. Mungkin ini saatnya aku membuka hatiku untuk wanita yang lain.

* * *

“Tolong! Tolong! Istriku pingsan! Apa ada dokter di sini? Tolonglah istriku!” teriak seorang bapak dari pinggir dek kapal.

Seorang wanita bertopi tergopoh-gopoh mendekati bapak yang meminta tolong. “Saya bukan dokter. Tapi, saya akan coba bantu. Ini ada minyak kayu putih. Saya akan mengoleskannya ke leher dan dahi istri Bapak.”

“Saya dokter. Ijinkan saya memeriksa istri Anda,” kata seseorang memecah kerumunan orang yang mengelilingi si ibu yang pingsan.

Dokter itu memegang pergelangan tangan si ibu. Setelah mengatakan sesuatu pada suaminya, matanya tertuju pada wanita bertopi yang sedang mengolesi dahi si ibu dengan minyak kayu putih.

“Vanessa?” tanya dokter itu, ragu.

Wanita itu mendongakkan kepalanya. “Yoshua??”

 

* * * Selesai * * *

Fiksi ini diikutkan dalam tantangan #KaramDalamKata oleh @KampusFiksi

Advertisements

7 thoughts on “Harapan Terakhir

  1. Kalau jodoh takkan ke mana ya Grant. Btw, yg pas: “Vanessa?” Tanyanya dokter itu, ragu.

    Ini ada salah ketik ya?

    Goodluck ya buat lombanya. Ceritanya manis.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s