Biskuit Tak Kenal Maka Tak Sayang

Ini cerita ibu-ibu ngumpul di sore hari sehabis beres-beresin rumah.

Ibu 1 : “Duh, hari ini mendung. Cucian nggak kering… Makin numpuk deh jemuran besok!”

Ibu 2 : “Iya, nih! Kalau musim hujan ya gini… jemuran numpuk.”

Ibu 1 : “Ho-oh!”

Ibu 2 : “Oh, ya ini ada biskuit. Mari dicicipi.” *sambil buka bungkus biskuit. Biskuitnya baru beli dan baru mau dibuka.

Ibu 1 : “Eh, itu biskuit merk apa? Kok mirip sama biskuit merk A?” *sori nggak sebut merk karena tak baik menyebutkannya πŸ˜€

Ibu 2 : “Oh, iya, memang mirip sama biskuit merk ‘itu’. Lihat nih warna bungkusnya aja sama. Beda namanya aja. Model biskuitnya juga sama.”

Ibu 1 : “Aduh… Ya ampun, nih pabrik nggak kreatif bener, ya. Masa model dan bungkusnya juga ditiru! Yang begini pasti rasanya nggak enak, secara nurut-nurut, sih!”

Ibu 2 : “Dicoba dulu atuh! Kalo menurut saya sih enak. Anak-anak suka, sih.”

Ibu 1 : “Ah, yang bener? Barang tiruan gini bisa enak??” *nyomot satu biskuit trus masukin ke mulut.

Kruk kriuk kriuk. Si ibu 1 lama banget makannya. Bikin penasaran aja.

Ibu 2 : “Gimana rasanya?” *sambil condongin badan ke si ibu 1 saking penasarannya.

Ibu 1 : *nyomot lagi 1 biskuit. “Iih, kok biskuit ini enak banget, ya??” *sambil makan biskuit kedua ambil lagi 1 biskuit

Ibu 2 : “Tuh, kan…. Apa gua bilang. Enak kannnn??”

Ibu 1 : *mukanya merah padam tapi masih nyomot 1 biskuit lagi

πŸ˜€

image

Advertisements

10 thoughts on “Biskuit Tak Kenal Maka Tak Sayang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s