Sahabat

tidak sempurna (Sumber: http://jiaeffendie.wordpress.com/)

“Jangan dekati Selvie kalau kau tak mau mati!” ujar Roy. Ia menggebrak mejaku. Aku tak bergeming. Hanya menoleh ke arahnya. Sekilas. Lalu kembali melanjutkan aktivitasku, membaca buku Fisikaku.

“Hey, kau dengar tidak?” bentaknya lagi.

Aku diam.

“Rupanya kau sudah tuli, ya??” Ia mulai kesal. Darahnya mulai mendidih. “Selvie itu milikku. Aku yang pertama kali melihatnya!”

Aku berdiri. Lalu menatapnya dengan tatapan mata elangku.

“Apa? Kau lihat apa? Jangan sombong, Dick!” serunya.

“Kita lihat saja nanti siapa yang akan dipilih oleh Selvie!” kataku. Aku maju selangkah mendekati Roy. “Kau… Atau aku…,” kataku sambil menunjukkan bahunya, membuat ia mundur selangkah. Lalu aku pergi meninggalkannya.

* * *

“Kau tahu, kan, siapa aku?” tanyaku pada sahabatku, Prita.

“Ah, semua orang tahu siapa aku. Aku ini pria paling tampan di kampus. Aku juga paling pintar di Fakultasku. Dan, aku paling populer di jurusan Fisika. Mana mungkin aku kalah dari Roy! Dia ingin mengambil Selvie? Tidak akan bisa! Aku lebih keren dari dia!” lanjutku. Aku menoleh ke arah Prita yang sedang duduk tak jauh dariku. Ia diam. Aku tahu, ia pasti bosan mendengarku berceloteh tentang kehebatanku. Tapi, aku tahu dia selalu mendengarkannya.

“Hey, Prita. Kau tahu, kan, wanita manapun pasti akan bertekuk lutut padaku. Termasuk Selvie tentunya. Pasti dia lebih memilihku daripada si Roy yang besar omong itu, kan?” tanyaku pada Prita.

Aku memandang wajah Prita dari kejauhan. Ia tersenyum. Manis.

“Ya, dan aku tahu kau pasti juga sebenarnya mengagumiku. Hanya saja….,” aku tak melanjutkan kalimatku dan memandangnya lagi. Ia tersenyum. “Hanya saja kau tak mau mengakuinya, kan?”

Prita diam.

“Jangan salahkan aku kalau aku beralih pada Selvie. Jangan menyesal kalau aku akhirnya akan jadian dengan gadis Teknik Sipil itu. Itu salahmu karena kau menolakku,” kataku lagi pada Prita. Dan ia tetap tersenyum. “Selvie pasti lebih memilihku. Dan Roy akan menangis tersedu-sedu karenanya!”

Aku memang suka sekali bercanda dengannya. Segala hal yang aku ceritakan akan didengarnya. Itu yang membuatku nyaman berbagi cerita dengannya. Prita, sahabatku, aku sudah mengenalnya sejak aku SMP.

“Hey, Dicky! Sedang apa kau di sini? Sebentar lagi kelas Fisika Kuantum akan dimulai!” Tiba-tiba seseorang menegurku. Aku menoleh.

“Oh, aku sedang membaca!” jawabku pada Rizal, teman sekelasku.

“Apa itu?” tanyanya sambil menunjuk sesuatu di dekatku. Aku tak menggubrisnya dan buru-buru membereskan barang-barangku lalu memasukkannya dalam tas.

“Ayo, jangan sampai terlambat masuk ke kelas,” kataku sambil menarik lengan bajunya, membawanya kembali ke kelas dari taman tempat nongkrong favoritku.

* * *

“Jadi, apakah kau mau jadi pacarku?” tanyaku pada gadis di hadapanku.

Gadis manis berambut ikal sebahu itu itu tersenyum. Ia menatap lurus ke mataku. “Aku…”

Aku memajukan badanku untuk mendengar kelanjutan kalimatnya. Sungguh menyebalkan rasanya memilih tempat yang salah seperti ini. Cafe ini terlalu ramai! Aku bahkan tak bisa mendengar suaraku sendiri dengan jelas. Aku menyesal tidak merencanakan kencan ini dengan matang.

“Aku tidak bisa… Maaf,” ujar Selvie akhirnya.

Aku merasa sesak. ‘Tidak bisa? Kenapa? Apa yang salah dariku? Apa jurus pedekateku selama ini kurang hebat? Atau… Apakah karena aku salah memilih tempat?’ tanyaku dalam hati.

Buk! Seseorang menepuk pundakku dari belakang.

“Sudah kubilang, kan? Dia milikku! Dan jangan coba-coba dekati dia lagi!” kata suara yang sangat aku kenal.

Aku menatap Roy dengan emosi. Bagaimana bisa??

Selvie bangkit dari tempat duduknya. Lalu ia menggamit lengan Roy dan berjalan meninggalkanku.

* * *

Aku, sambil membawa ranselku berjalan ke taman favoritku. Taman itu tak jauh dari rumahku juga tak jauh dari kampusku. Aku sering ke sana untuk melepaskan lelah. Jika ingin membaca atau sekadar bersantai, aku pasti ke sana. Aku juga selalu nongkrong bersama Prita di sana.

Aku menghempaskan ransel yang selalu kubawa ke mana-mana ke hamparan rumput Jepang. Aku mengeluarkan beberapa isinya dan berbaring di atas rumput.

“Aaaahhh…,” aku menarik napas panjang dan memejamkan mataku.

Beberapa detik kemudian aku membuka mataku. Aku melihat Prita duduk tak jauh dariku.

“Kau datang tepat pada waktunya…,” kataku padanya.

“Tahukah kau? Aku baru saja ditolak Selvie! Sungguh mengesalkan! Masa aku bisa kalah dari si besar omong itu? Selvie lebih memilihnya! Bisakah kau percaya itu? Apa hebatnya si Roy itu? Dia bahkan hampir di-DO oleh universitas!”

Prita diam mendengarkan. Lalu aku mulai bercerita lagi setelah mengatur napasku.

“Lihat aku! Apa kurangnya aku? Apa? Dia bahkan tak lebih tampan dariku! Dia itu… Dia….,” aku tak bisa melanjutkan kalimatku. Rasanya aku ingin menangis. Menangis? Aku pasti sudah gila sekarang! Seorang pria menangis? Aku ingin melakukannya sekarang. Prita sudah sering melihatku menangis. Selalu dia yang jadi tempat curhatku saat aku sedang sedih. Kurasa dia tak keberatan jika aku mengangis lagi di hadapannya. Tapi, ini di taman. Bukan di kamarku, tempat biasanya aku menangis di hadapan Prita. Ya, Prita kan sahabatku, ia sudah sering masuk kamarku. Aku menganggap itu hal biasa. Karena kami sahabat.

Dan, akupun tersedu-sedu di hadapan sahabatku itu. Aku benar-benar tak tahan. ‘Kalah! Kenapa aku kalah? Apa salahku?’ Aku mulai mengutuk diriku sendiri.

“Hey, bro! Lagi-lagi aku melihatmu di sini! Sedang apa kau sampai tengkurap seperti itu?” Seseorang menegurku.

Aku bangkit dan buru-buru mengambil saputanganku dari dalam saku bajuku. Segera kuhapus air mataku. Wajahku kutolehkan ke arah lain, tak berani melihat ke wajah si pemilik suara.

“Apa itu?” tanyanya lagi.

Aku tak menggubrisnya dan buru-buru memasukkan kembali semua barang yang tadi kukeluarkan dari dalam tas.

“Boneka??” katanya. “Kau bawa boneka??”

Aku berdiri, berjalan ke arah laki-laki bernama Rizal itu. Saat berada tepat di hadapannya aku menatapnya lekat-lekat. “Ya. Memangnya kenapa kalau aku bawa boneka? Dia sahabatku. Namanya Prita. Jangan pernah beritahukan ini pada siapapun kalau kau tak ingin mati!” kataku sambil mengibaskan tanganku ke leher, membuat tanda menebas leher. Setelah itu aku berjalan meninggalkannya.

—–

Fiksi ini diikutkan dalam [tantangan menulis] membuat karakter yang hidup oleh Jia Effendie.

Advertisements

5 thoughts on “Sahabat

  1. Aaaaah Grant, serem bener dah. Entah kenapa dah kerasa aura seremnya dari awal cerita. Good one! 😀
    Btw suka banget fakta dirimu menggunakan v di kata aktivitas..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s