Tak Berkesudahan

image

Pernahkah kalian merasa benci pada seseorang padahal itu adalah kali pertama kalian bertemu? Pernahkah kalian merasa tidak suka pada seseorang padahal kalian sama sekali tak kenal pada orang itu? Atau, pernahkah kalian merasa tidak asing saat berada di suatu tempat padahal kalian sama sekali belum pernah mengunjungi tempat itu sebelumnya? Sekali waktu, kalian pasti pernah merasakannya. Teori mengatakan, itu adalah akibat dari ikatan karma masa lampau. Kalian bereinkarnasi dari satu kehidupan ke kehidupan yang lainnya.

Mungkin pada kehidupan yang sebelum sekarang kalian bermusuhan dengan seseorang. Akibatnya pada kehidupan sekarang ketika kalian bertemu lagi dengan musuh masa lalu maka kalian akan merasa tidak suka atau benci pada seseorang walaupun kalian sama sekali tak mengenalnya di kehidupan ini. Mungkin, pada kehidupan yang lalu kalian pernah tinggal di suatu daerah. Akibatnya pada kehidupan saat ini kalian tidak merasa asing ketika berkunjung ke tempat itu walaupun kalian sama sekali belum pernah ke sana di kehidupan sekarang. Dan kalian akan merasa pernah berada di sana.

Ya, itu teori reinkarnasi. Jika mau percaya, ya silakan. Jika tidak, ya nggak apa-apa. Aku? Aku tidak begitu percaya dengan hal semacam itu. Tidak sampai aku mengalami kejadian yang tak mengenakkan itu.

* * *

“Kau suka tinggal di sini?”

“Iya, suasananya nyaman. Udaranya segar. Pantas saja kamu betah tinggal di sini,” kataku.

“Kalau begitu pindahlah ke kota ini. Aku akan membantumu mencari pekerjaan. Jika kau tinggal di kota ini, kita akan bisa bersama terus.”

“Ya, kau benar. Dua tahun berjauhan itu rasanya lelah. Jarang bertemu… Hanya bisa mendengar suara melalui telepon….”

“Permisi… Ini pesanannya, Mbak, Mas,” kata seorang pelayan menyela pembicaraan kami. Ia mengantarkan makanan pesanan kami.

Melihat pelayan wanita itu jantungku serasa berhenti berdetak. Ada sesuatu yang menyesakkan dada. Aku tak tahu kenapa. Aku terus memandangi wajah si pelayan yang sedang meletakkan piring-piring berisi makanan pesananku dan kekasihku. Apakah aku mengenalnya? Rasanya tidak, pikirku. Setelah ia selesai mengatur piring-piring di atas meja, ia balas memandangku. Tatapan matanya seakan lebih tajam dari pisau. “Ada lagi yang bisa saya bantu?” tanyanya.

“Tidak ada. Terima kasih, ya. Jika kami butuh sesuatu, kami akan memanggil. Seperti biasa, dengan melambaikan tangan, kan?” jawab pacarku.

“Iya, benar,” kata si pelayan.

“Kamu kenal dia?” tanyaku setelah si pelayan pergi.

“Nggak. Tapi, aku biasa makan di sini. Jadi aku tahu cara memanggil pelayan-pelayan di sini.”

* * *

“Jangan pernah dekati pacarku!” bentakku pada gadis pelayan yang kutemui minggu lalu.

“Siapa yang mendekati pacarmu. Dia sendiri yang mendekatiku!” katanya.

“Kalau kau tak menanggapinya ia tak akan peduli lagi!”

“Salahmu sendiri sudah lama tak bertemu dengannya. Dia kesepian. Aku hanya membantunya!”

“Apa? Membantu? Kau bukan membantu tapi merebutnya dariku!”

“Dia masih milikmu. Tapi sebagian hatinya tentu saja sudah dibagi padaku!”

“Kau ini… Benar-benar…!!”

“Tinggal tunggu waktu saja ia akan berpaling padaku.”

“Apa katamu?? Berani benar!!”

Gadis pelayan itu tersenyum sinis padaku, membuat hatiku bertambah panas. Cuaca mendung di pinggir tebing pantai tak mampu membuat kepalaku dingin. Aku geram dengan sikapnya. Seketika tanganku tak mau berkompromi dengan akal sehatku. Aku mendorong gadis itu ke tepi jurang.

“Aaaagghh!!” ia berteriak. Aku pun ikut berteriak ketika tangannya menarik lenganku. “Aaaaaaaaa!!!”

* * *

Gelap.

Seberkas cahaya menyilaukan muncul di hadapanku. Seseorang berjubah putih dengan tubuh bersinar gemerlapan mendekat padaku.

“Ah, kalian lagi!” katanya.

‘Kalian?’ tanyaku dalam hati. Aku melihat sekelilingku. Mataku jatuh pada sosok perempuan itu, perempuan yang aku dorong di tebing!! Ia memelototiku saat mata kami bertemu.

“Lagi-lagi kalian ke mari karena masalah yang sama, memperebutkan pria yang sama. Dari satu kehidupan ke kehidupan berikutnya….”

“….”

* * * Selesai * * *

Fiksi tema Reinkarnasi. Temanya diambil dari blog MondayFlashFiction. Tapi ini bukan Flash Fiction. Nggak ikut peraturan sekali-sekali nggak apa-apa, kan. 😀

Advertisements

2 thoughts on “Tak Berkesudahan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s